Ex Bastard

Ex Bastard
EdAn Edward-Anina (7)


__ADS_3

Anina meringis saat melihat penampilannya piyama tanpa lengan dengan tali di pundak dengan celana diatas lutut berbahan satin,juga sandal rumahan.


Anina tak memikirkannya tadi yang ia ingat adalah ingin segera membawa Queen, pantas saja tadi semua orang menatapnya aneh.. Astaga ia malu, bagaimana tanggapan rekan kerjanya besok, dan juga Edward masih menatap nya dengan.. sialan.


Anina menyambar jas Edward yang ada di sandaran sofa lalu menutupi bagian atas tubuhnya, apalagi bagian atas payu daranya sedikit mengintip. "Berhenti melihatku seperti itu.."Bentaknya. Edward terkekeh lalu meraih pinggang Anina agar merapat kearahnya.


"Kamu se xy mama" Bisiknya.


"Papa.." Edward baru menyadari jika dirinya sedang menggendong Queen yang terjepit diantara dirinya dan Anina.


"Maaf sayang, papa hampir lupa soalnya liat mama se..x.. " Anina mencubit Edward.. "Auuuh.." Edward meringis cubitan Anina benar benar sakit.


"Jangan bicara sembarangan di depan anak ku"

__ADS_1


"Anak kita mama.." Edward memang tak tahu malu, Anina benar benar ingin menghajarnya sekarang.


"Queen ayo kita pulang" Queen menggeleng.


"Ndak mahu mama mo papa" Queen mengerat kan pelukan nya dileher Edward, Edward menyeringai..tak sia sia sejak tadi ia membujuk Queen.


"Mama bobo cini ma papa" Anina berdehem pelan.


"Gak bisa Queen, kasian mbah kalo ditinggal dirumah sendiri nanti mbah nangis.." Queen tetap menggeleng.


Sedangkan Edward tengah membolak balikan badannya di sofa dengan tidak nyaman tubuh jangkungnya harus tertekuk "Kenapa jadi begini.. aku kan mau tidur dengan Queen apalagi jika bonus dengan mamanya" Edward mendengus lalu bangkit, terserah apa tadi kata Anina...


"Baiklah kami menginap tapi jangan dekati jarak dua meter, jangan coba mendekat" Edward berjalan mendekat lalu dengan pelan naik ke atas ranjang di sisi Queen yang tidur dengan memeluk Anina juga Anina yang mendekap Queen.

__ADS_1


Edward meneliti dua perempuan beda usia di depannya, hatinya menghangat mengingat jika mereka kini tidur satu ranjang yang sama,dan bagaimana jika mereka selalu bersama selamanys.. Ah.. Edward sudah tak sabar,bibirnya tersungging, senyuman yang hangat telah diberikan Edward pada dua perempuan itu meski mereka tengah terlelap.


Edward memberikan kecupan di pipi Queen lalu beranjak dan beralih kesisi Anina merangsek dan memeluk perempuan mungil itu "Mimpi indah sayang, dan tidur yang nyenyak" tentu saja Anina harus tidur nyenyak, jika dia tau Edward tertidur dengan memeluknya, Anina pasti murka.


Tangan Edward menelusup pinggang Anina yang berbalut kain satin lembut.. sial Edward malah membayangkan dirinya meraba dan mengelus tubuh itu tanpa penghalang.


Edward menelusupkan wajahnya di ceruk Anina lalu memejam.


Edward tertidur dengan nyaman, apalagi ia merasa rambutnya dielus perlahan, Edward mengerjap beberapa kali lalu matanya membulat saat melihat posisi tidurnya, ia tertidur diatas dada Anina lebih tepatnya diatas payu dara Anina pantas terasa hangat dan... empuk, lalu ia menyeringai saat tangan Anina masih mengelus rambutnya,Edward menengadah dan melihat Anina yang masih memejam mungkin ia kira Edward adalah Queen.


"Morning sayang" sapa nya tanpa rasa malu lalu memberi kecupan di leher Anina yang terbuka.


Anina terjengit lalu melotot tajam "Kau.. apa yang kau lakukan" Anina memberontak memukul dan menendang Edward, hingga Edward jatuh tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Dasar brengsek.." makinya bagaimana bisa ia memeluk Edward seingatnya dia memeluk Queen. "Bajingan mesum, tak tau diri" Anina menjerit sambil memukuli Edward dengan bantal.


"Mama..?"


__ADS_2