
"Boleh saya bantu nyonya?"
Anina menengok kebelakangnya "Eh, Roni..apa kabar?"
"Saya baik nyonya, apa kabar nona Queen?"
"Ck, sudah saya bilang jangan panggil saya nyonya saya bukan nyonya kamu lagi, panggil Anina saja ya!"
"Saya.. baik A..nina.." Anina tersenyum "Mari saya bantu.." Roni mengambil makanan dipiring Anina "Ada lagi yang mau di ambil?"
"Hmm.. sama itu deh trus minumnya juga.. maaf loh jadi ngerepotin"
"Gak papa kok.." Anina menuju kursinya di ikuti Roni.
"Eh, sebentar bisa titip Queen dulu gak, aku ke toilet sebentar" Roni mengangguk "Queen tunggu bentar sama om Roni ya"
"Iya ma"
Anina menyusuri koridor menuju toilet, mendadak ia ingin buang air kecil, "Ah, lega nya aku harus cepet cepet kasian Roni nanti kerepotan" Anina keluar dari toilet dan kembali ke aula,Anina menghentikan langkahnya saat mendengar suara perdebatan, rasa penasaran Anina menggelitik hingga ia ingin tau siapa didalam sana, Anina mengendap dan melihat dari celah pintu, tiba tiba matanya membulat lalu dengan cepat ia membalikkan badannya kembali menuju aula dimana Queen menunggunya.
Raut nya masih menunjukan keterkejutan, menyesal... tentu saja, seharusnya ia tak melihat dan mendengar semua itu, Anina bodoh.. rutuknya. Hingga saat sudah dekat dengan Queen Anina kembali menormalkan rautnya "Maaf lama Ron"
__ADS_1
"Gak pa-pa kok An, lagian Queen anteng banget" Roni memangku Queen dan menyuapkan puding strawbery kemulut Queen.
"Itu karna kamu emang udah akrab sama Queen, ingetkan di banding Bagas kamu lebih sering bertemu dia" Roni mengangguk semua hal yang berhubungan dengan Anina,Bagas selalu meminta Roni mengurusnya. "Sampai sampai kamu dikira suamiku sama dokter kandungan"
"Iya mana dimarahin lagi.. Mas nya jangan bikin stres istrinya nanti terjadi sesuatu dengan janinnya bagaimana.." Roni meniru suara dokter yang kala itu memeriksa kandungan Anina, Anina tertawa terbahak saat itu wajah Roni merah malu karna dimarahi di depan suster yang kata Roni cantik.
.
.
.
Edward melihat sekelilingnya mencari Queen dan Anina, sejak tadi ia di hadang rekan bisnisnya hingga tak bisa mencari Anina terlebih ia harus bertemu seseorang yang sungguh ia hindari dan menyita waktunya lebih lama.. Sial ingat itu Edward benar benar ingin mencekiknya hingga mati.
Dengan langkah tegasnya ia menghampiri Anina dan Queen "Ehmm.. sayang aku mencarimu kemana mana" Edward melihat tawa Anina dalam sekejap hilang, ada apa dengannya, segitu tak inginnya kah ia tersenyum kearahnya.
"Aku dari tadi disini" Anina menunjuk nama nya yang terdapat di atas meja.
Sial kenapa ia lupa tamu Vip diberi nama di setiap meja diatasnya, kenapa ia bisa lupa dengan hubungan Anina dan Kanaya.
"Queen ayo sama papa" mengusir secara halus Roni yang menduduki kursinya.
__ADS_1
"Ya sudah kalo gitu aku permisi dulu ya, An, Queen om pergi dulu ya"
"Makasih ya Ron, maaf ngerepotin"
"Gak papa kok An, lagian aku seneng bisa main sama Queen, mari pak Edward saya permisi" Edward hanya bergumam tanpa melihat kearah Roni, entah apa yang akan ia lakukan jika ia melihat raut Roni,mungkin amarahnya akan meledak, karna cemburu.
"Kamu ngapain sama dia?"
Anina mengeryit "Kenapa?"
"Akrab banget kayak nya"
"Dia asisten Bagas, jadi pastilah deket, sejak dulu yang ngurusin aku sama Queen itu Roni, bahkan sampe nemenin ke dokter kandungan" Anina melihat raut Edward yang menegang, namun ia acuhkan.. masa bodoh, pikirnya.
Edward hanya bisa menghela nafasnya benar, saat itu ia bahkan tak tau keadaan Anina dan Queen, ah bukan kah dirinya tak mengakui Queen saat itu "Maaf aku waktu itu.."
"Gak masalah, itu masa lalu.. gak usah diungkit, aku hanya akan fokus pada kebahagiaan Queen sekarang" Tak peduli itu menyakitiku.. lanjutnya dalam hati.
Edward merasakan hatinya diremas mendengar ucapan getir Anina, ia ingin memeluk Anina tapi melihat Anina berwajah datar membuatnya mengurungkan niatnya.
__________
__ADS_1
Hayo masih nungguin MP yaðŸ¤..
Sok atuh tabur bunga, sama kopi dulu biar semangat ngasih yang hot..😅