Ex Bastard

Ex Bastard
Keputusan


__ADS_3

Bagas terus mengumpat dan berteriak "Sial dasar brengsek" Bagas begitu murka saat Bima mengatakan apa yang tak terduga, selama empat hari ini ia merasa Kanaya akan kembali padanya tapi nyatanya semua hanya permainan Kanaya saja.


.


.


Bagas berniat untuk mengajak Kanaya makan siang dan pergi ke cafe, namun langkahnya terhenti saat melihat Bima keluar dari cafe diikuti seorang pelayan ke parkiran, Bagas pun mengikuti Bima..


Bagas mendengar semua ucapan dari Bima dan pelayan tersebut, rupanya gadis itu menyukai Bima, Bagas berniat pergi namun suara Bima terdengar lebih keras..


"Dia hanya membutuhkan waktu untuk memutuskan nya, lagipula dia berjanji untuk kembali setelah memutuskannya,dia tak berniat kembali pada Bagas"


Bagas melangkah mendekat pada Bima setelah gadis pelayan itu masuk kedalam cafe.


"Kau bilang apa tadi?"


"Kau sudah mendengarnya harusnya bisa menyimpulkan sendiri bukan" Bima tersenyum menyeringai.


"Aku tak percaya, aku tau Kanaya masih mencintaiku"


"Kamu salah, dia membenci mu, dia hanya ingin kamu merasakan sakit hati yang dia rasakan dulu, dia berniat membalas dendam"


Bagas terkekeh "Kau fikir aku percaya"


"Terserah, lihat saja nanti dia akan tetap bersama ku, kami bahkan sudah siap untuk menikah"


Bagas menegang,"Tidak mungkin"


"Oh iya terserah jika masih belum percaya, tapi hubungan kami sudah lebih dari pacaran biasa, kamu salah jika menyebutku pelariannya saja,bahkan aku sudah menikmati semua yang ada pada dirinya.., "Bima menyeringai ia yakin Bagas sudah mengerti dengan kata katanya.


Saat itulah Bagas murka saat Bima mengatakan hal yang menjijikan tentang hubungannya dan Kanaya.


Bagas memberikan pukulan pada Bima, lalu Bima membalas beberapa kali,,

__ADS_1


Bugh..


bugh..


"Bagaimana rasanya dihianati oleh orang yang kau cintai huh?" teriak Bima,yang sengaja memancing amarah Bagas.


Bagas semakin kehilangan kendali dan terus memukul Bima bertubi tubi.


.


.


.


Bagas menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tak peduli lukanya belum di obati,sebenarnya ia tak ingin percaya apa yang dikatakan Bima, tapi mengapa semuanya terasa masuk akal, benarkan Kanaya hanya ingin balas dendam padanya dan mempermainkannya membuatnya sakit hati lalu meninggalkannya.


Tapi kenapa melihat mata Kanaya Bagas tak percaya bahwa Kanaya tega melakukan itu.


Bagas merasakan perih diwajahnya lalu mengerjap beberapa kali, seingatnya ia tertidur di kamarnya dan hanya sendiri, lalu siapa yang menekan lukanya hingga terasa perih.


"Kenapa gak diobati dulu baru tidur,gimana kalau infeksi" terdengar suara lembut itu..


"Ngapain kamu kesini?" tanya Bagas sambil menyingkirkan tangan Kanaya.


"Aku mau ngobatin luka kamu dulu" Bagas langsung berdiri dan memalingkan wajahnya "Duduk Bagas!"


Bagas menghiraukan saja, lalu tangannya ditarik hingga ia kembali terduduk "Aku bilang duduk ya duduk!" mendapat pelototan Bagas tiba tiba merasa menciut "Lain kali jangan kayak gitu lagi gimana kalau Kak Bima mati gara gara dipukul kamu"


"Kamu kemari hanya untuk bicara itu" Bagas mengepalkan tangannya, apa Kanaya begitu menghawatirkan pria itu,lalu untuk apa dia kemari.


"Tentu saja,kekanak kanakan apa apa main kasar" Kanaya menekan luka Bagas hingga Bagas meringis.


"Apa yang kamu lakukan, sakit tau"

__ADS_1


"Sudah tau rasanya sakit kenapa masih berantem, kamu harusnya bisa menghadapi dengan kepala dingin,dan jangan mudah terpancing" Bagas masih tak mengerti kenapa Kanaya bicara seperti itu,lalu kenapa Kanaya bisa datang dan mengobatinya seolah olah tak terjadi apapun,bukankah tadi dia bilang jangan temui dirinya lagi.


Kanaya menyimpan kotak obat lalu meraba pipi Bagas "Pasti sakit ya tamparan aku keras banget? maaf.." tanyanya dengan penuh penyesalan,Bagas bisa melihat mata Kanaya berkaca kaca.


Bagas menikmati usapan dipipi nya,apa ini mimpi, benarkah Kanaya ada dihadapannya dan mengkhawatirkannya.


"Aku gak ngerti Naya? apa yang terjadi sebenarnya?"


Kanaya menghela nafasnya lalu mulai bicara "Kak Bima sengaja ngomong gitu buat pancing kamu,dan buat kamu marah"


"Lalu untuk apa, dan dia bilang kamu hanya akan balas dendam sama aku, aku sungguh takut, jika itu benar benar terjadi maka kamu berhasil Naya, kamu hanya tinggal menunggu kehancuranku" Kanaya menggeleng lalu memeluk Bagas.


"Itu gak bener, aku sudah memutuskan aku juga sudah bicara sama kak Bima mungkin karna itu kak Bima jadi kesal sama kamu"


Bagas melepaskan pelukan Kanaya "Lalu apa keputusan kamu?"


"Aku ingin memberikan kamu kesempatan lagi, aku ingin kamu kembali, aku gak bisa pungkiri kalau aku masih mencintai kamu"


"Benarkah? sungguh?" Bagas terseyum bahagia, lalu kembali memeluk Kanaya, namun kini Kanaya yang mendorong Bagas menjauh.


"Tapi gak jadi, aku gak mau punya pacar tempramen dan tukang pukul"


"Apa..?"


.


.


.


Like..


komen..

__ADS_1


vote..


__ADS_2