
Anina membawa bungkusan makanan khas Semarang untuk penghuni kamar 302 , entah ia akan suka atau tidak, terserah dia bilang akan makan makanan yang dibawa Anina, tadi saat Anina membeli makanan dia mengirimi lagi Anina pesan untuk membeli dua porsi makanan, entahlah mungkin untuk kerabat atau kekasihnya, atau mungkin juga istrinya.
Anina mengetuk pintu,dan tak berapa lama pintu terbuka, Anina mengeryit saat tak melihat siapa pun "Masuklah.."
Anina merasa pernah mendengar suara itu tapi di mana,Anina segera masuk ingin pekerjaannya cepat selesai dan keluar kamar tersebut.
Jantung Anina berdebar saat mendengar pintu terkunci mengapa pintunya terkunci, Anina membalikkan badan lalu matanya membeliak saat melihat seorang yang di bencinya berdiri dihadapannya, apa tadi dia bersembunyi di balik pintu, mengapa Anina tak menyadarinya "Kamu..?"
"Taruh makanannya di piring" Edward melewati Anina begitu saja seolah mereka baru saja bertemu.
__ADS_1
Anina kembali tersadar saat Edward masuk ke kamar mandi, Anina menyiapkan piring serta menghidangkan makanan yang tadi dibelinya juga menyiapkan minuman yang diambilnya dari kulkas.
Berkali kali Anina menarik nafas panjang.. benar bersikap biasa saja seperti tak pernah mengenal,lagi pula mereka memang tidak saling mengenal hanya karna tragedi satu malam itu.
Edward keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono putih khas hotelnya yang memang di sediakan untuk para tamu,tanpa risi Edward berjalan mendekat lalu duduk dikursi, Anina memalingkan wajahnya apa Edward tak malu mengapa dia tak berpakaian dulu.
"Maaf pak jika sudah selesai bolehkan saya keluar?" Anina tak ingin berlama lama disini, jika dia tau ini kamar Edward dia tak akan sudi menuruti permintaan managernya.
"Maaf pak saya tidak bisa, kami tidak diperbolehkan makan bersama para tamu" alasan,, tentu saja, jangankan untuk makan untuk duduk saja Anina tak sudi.
__ADS_1
"Sekarang aku yang berkuasa disini jadi kamu boleh duduk dan makan"
Anina mengeryit heran "Aku pemilik hotel ini sekarang"Edward sudah membeli hotel tersebut tentu saja karna ada Anina di dalamnya, Mata Anina membeliak apa katanya tadi?. "Duduk dan makan,jika tidak ingin ku pecat.." Anina mendudukan dirinya jika saja mencari pekerjaan tidak sulit maka dengan senang hati ia akan mengundurkan diri, namun ia mengingat Queen dan masa depan putrinya kelak.
Edward menyodorkan piring yang sudah di isi, tanpa kata Anina memakannya matanya masih melihat kearah lain enggan untuk menatap Edward yang hanya mengenakan handuk saja, Anina makan dengan cepat agar semua cepat selesai dan pergi dari kamar Edward.
Edward terus memperhatikan Anina yang makan dengan terburu buru "Pelan pelan kamu bisa tersedak" Edward menyeka bibir Anina, sontak saja Anina yang terkejut menjadi tersedak.. "Ku bilang pelan pelan apa kamu sangat lapar?" Edward bahkan beralih kebelakang Anina dan penepuk punggungnya pelan.
'Sialan kau penyebab ku seperti ini, kenapa dengan si brengsek ini' Anina mengumpat dalam hati tenggorokannya perih, dan mata nya berair, dengan cepat Anina meneguk air didalam gelas lalu berdiri "Saya sudah selesai.. boleh saya keluar pak"
__ADS_1
Edward masih berada dibelakang Anina yang bahkan tak mau melihat kearahnya, Edward kembali duduk dikursinya "Aku belum selesai sudah kubilang aku tak suka makan sendiri" dengan acuh Edward memakan makanan nya pelan "Ini enak, ternyata pilihan kamu bagus, aku suka" Edward melihat Anina yang masih berdiri "Duduklah kamu tidak pegal hanya berdiri?"
Anina memejamkan matanya, meredam amarahnya dan mencoba bersabar.