
"oh ya aku melihat mu bersama Liza kemarin, aku tak yakin apa Anina juga melihatmu, aku kesana untuk menjemput Kanaya yang sedang makan dengan Anina dan Queen" perkataan Bagas membuatnya tertegun.
"Sial.." Edward mematikan poselnya lalu menghubungi Anina.
Tunggu ini tak bisa di bicarakan lewat ponsel, tapi Edward harus memastikan apa Anina melihatnya dengan Liza kemarin, seketika ia merasa bersalah menyalahkan Anina pergi dengan Roni, padahal Anina menemui Kanaya, lalu kenapa Anina tak menjelaskannya dan malah menerima semua tuduhannya tanpa menyangkal.
"Hallo.." Anina mengangkatnya ,Edward jadi bingung sendiri akan bicara apa sekarang. "Ada apa?" Anina tak kunjung mendengarkan suara Edward
"Itu... aku.. Queen sedang apa?"
"Bermain.." jawaban pendek Anina membuatnya bingung lagi mencari topik.
"Ah,, itu aku..."
"Ya.."
"Aku sedang dikantor.." bodoh kau Ed..
"Lalu..?"
"Aku.. aku.. merindukanmu.. "
Hening..
"Maksudku.. aku merindukan Queen" Edward memukul kepalanya.
__ADS_1
"Akan ku sampaikan.."
"Baiklah.. aku hubungi lagi nanti..Da.. dah" Edward mematikan ponselnya lalu membenturkan kepalanya di atas meja.
"Bodoh.. bodoh.. "
Disebrang sana Anina mengeryit lalu mengulum senyumnya,kenapa Edward terdengar gugup,Anina melihat Queen yang sedang bermain, lalu senyumnya hilang.
Edward menghubungi Roni dan mereka akan bertemu di sebuah taman, dekat kantor Bagas, karna Roni sedang sibuk mengurusi perusahaan Bagas yang sedang ditinggal bulan madu direkturnya.
"Aku butuh bantuanmu"
"Ya tuan Bagas sudah memberitauku, aku akan memintanya menemui anda nanti"
"Apa dia bisa dipercaya"
Hening..
Edward dan Roni tengah duduk di kursi taman, memandangi beberapa orang yang bermain bahkan, beberapa keluarga juga sedang bermain sekedar menghabiskan waktu bersama.
"Apa anda mencintai Anina" Roni memberanikan diri untuk bertanya.
"Bukan urusanmu"
Roni terkekeh "Jika anda tidak mencintainya sebaiknya lepaskan Anina"
__ADS_1
Rahang Edward mengeras "Apa maksudmu?"
"Anina sudah sangat menderita selama ini,sudah saatnya dia bahagia, jadi jika anda tak sungguh sungguh biarkan dia pergi"
"Dan membiarkan mu masuk dalam hidup Anina, tidak akan ku biarkan"
"Anda tau, kehidupan seperti apa yang dijalani Anina selama ini?" Edward terdiam "Dimasa ia mengandung ia hanya sendiri, tak ada yang memijit tengkuknya saat ia muntah, tak ada yang mengelus perutnya dimalam hari, juga tak ada yang memberikan keinginannya kala mengidam, dia sampai menangis di depan saya hanya karna saya memberikannya ayam bakar di tengah malam, terus meminta maaf karna merepotkan saya"
"Saatnya melahirkan tak ada yang memegang tangannya untuk memberi kekuatan, bahkan tak ada kecupan di dahi lalu ucapan 'Terimakasih sayang sudah berjuang' dia tak dapatkan itu"
"Saat anak anak seusia Queen mendapatkan kasih sayang, Queen hanya bisa memanggil papa tanpa adanya genggaman tangan dari seorang Ayah, tapi Anina tak pernah mengeluh ia selalu berucap 'Nanti papa datang..' demi Queen, demi status Queen yang terdaftar di kartu keluarga dengan nama seorang Ayah dia tetap bertahan meski tanpa cinta"
"Anina mungkin bersalah karna melibatkan tuan Bagas, tapi dalam hati ia selalu menabung rasa bersalahnya, hingga ia berani mengambil langkah untuk melepaskan dan merelakan semuanya, lalu pergi"
"Maka jika tuan hanya akan menyakitinya biarkan saja dia pergi, biarkan mereka hidup tenang, dan semoga saja Queen mendapatkan sosok Ayah yang ia inginkan nanti"
.
.
.
Like..
komen..
__ADS_1
vote..