Ex Bastard

Ex Bastard
Ratunya Papa Edward


__ADS_3

Queen tiba dirumahnya disore hari berjalan gontai memasuki rumah tanpa semangat, ia tak tau di rumah sakit ada Raja dan itu menjadi kejutan tersendiri untuknya, sudah hampir satu tahun ia tak bertemu Raja, Queen masih terus berdebar saat ia bisa mengobrol dengan Raja, meski disana ia lebih banyak mendengarkan obrolan Raja dan adik adiknya Rona dan Aqila..tapi,Queen cukup senang.. namun Raja tetaplah Raja, yang menganggapnya anak kecil dan tak pantas berdampingan dengannya, bahkan sepanjang Queen berada disana Raja hanya sesekali menjawab Queen,sisanya ia hanya di acuhkan.


Queen menghela nafasnya begitu tiba di kamarnya lalu mematut dirinya di depan cermin, tubuhnya memang tak setinggi model bahkan ia sudah memakai sepatu setinggi 7 senti, tapi tetap saja dia tak terlalu tinggi.


Mau bagaimana lagi ia mengikuti gen mamanya Anina yang bertubuh mungil, meski wajahnya cenderung rada bule mengikuti Edward, Queen memang cantik bahkan hampir setiap pria di kampusnya menatapnya kagum, namun tetap saja itu tak berarti untuknya, karna ia hanya mengharapkan pujian dari Raja. tapi malang yang di dapat, dengan postur tubuhnya yang seperti sekarang ia tak masuk kedalam kriteria Raja, bahkan dulu saat hari pertama Queen masuk SMP Queen memberanikan diri menyatakan cinta pada Raja yang saat itu sudah di bangku kuliah,dan dengan jahatnya Raja berkata "Tipe ku bukan anak kecil bertubuh mungil sepertimu, aku suka wanita tinggi,dewasa dan cantik"


Queen mendesah apa dia harus menyerah saja, lagi pula mau bagaimanapun Raja tetap tidak akan melihat kearahnya.


Tiba tiba pintu kamar nya diketuk membuyarkan lamunan Queen "Kak, dipanggil papa" Queen mengeryit.


"Papa udah pulang?" Edward memang sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, dan Queen kira papanya baru pulang besok.

__ADS_1


"Udah tadi siang"jawabnya, saat adiknya hendak kembali menutup pintu Queen kembali berbicara.


"Jo..menurut kamu kakak cantik gak?"


Jovan mengeryit lalu melihat Queen dari atas ke bawah lalu menarik sudut bibirnya "Enggak"


"Ih Jo.. jahat banget sih"Jovan tertawa melihat tampang kakaknya yang cemberut.


Jo terlihat berfikir sebentar lalu berkata "Cantik, baik, manis, penyayang.." Queen bersorak ia juga masuk di dalamnya,namun kata terakhir membuat langkah Queen terhenti "Juga tinggi" Jo menyeringai jahat saat Queen menghentakkan kakinya mendahului Jovan yang terkekeh, ia sengaja mengerjai kakak nya yang selalu mengeluh karna memiliki postur tubuh yang pendek, padahal menurut Jovan kakaknya tak terlalu pendek 155 cm tak terlalu pendek, itu tinggi normal untuk orang indonesia, setidaknya.. iya kan?


Dengan masih berwajah muram Queen menghampiri Edward dan Anina yang sedang bersantai di ruang keluarga "Hallo pah?"

__ADS_1


"Oh, ratu papa, papa rindu sekali.." Edward memeluk Queen seperti tak bertemu selama berabad abad, padahal mereka hanya berpisah selama empat hari karna Edward harus melakukan perjalanan bisnis, Queen bisa melihat sang mama hanya tersenyum sambil menggeleng.


Itulah mengapa Queen selalu dianggap anak kecil dan manja oleh Raja,karna Edward selalu memanjakan Queen, meski Queen selalu menolak di perlakukan seperti itu tetap saja Edward menganggapnya anak kecil yang rapuh dan lemah, dan Mamanya bilang itu karna rasa bersalahnya karna dulu papanya pernah mengabaikan mereka, ya jika Queen di jadikan ratu oleh Edward, maka Anina dijadikan permaisuri paling bahagia oleh Edward,tentu saja Edward melimpahi mereka tak hanya dengan harta tapi juga dengan cinta yang besar.


"Ayolah pa, papa cuma pergi empat hari bahkan gak satu minggu" Jovan merasa jengah, bahkan tadi ia juga mendapat pelukan yang sama eratnya dengan Queen.


"Papa benar benar kecewa pada kalian ternyata hanya papa yang merindukan kalian, bahkan hingga papa bekerja seperti kuda agar papa bisa cepat pulang" Edward menampilkan wajah murung.


Jovan memutar matanya, sedangkan Queen menghela nafasnya merasa bersalah "Kata siapa Queen juga rindu papa" Queen mengampit lengan Edward lalu membawa pria paru baya itu duduk kembali di sofa. "Iya kan ma?" Anina tersenyum lalu mengangguk.


"Tentu saja mama juga, rindu papa" Anina merebahkan kepalanya dibahu Edward, kini tersisa Jovan yang masih duduk di sebrang mereka "Jo.." dan tatapan Anina seolah mengatakan 'Ayo kemari peluk papa mu' Dengan pasrah Jo menuju Edward dan langsung memeluknya, kini mereka seperti Teletubbies yang sedang berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2