Ex Bastard

Ex Bastard
Memutuskan


__ADS_3

Baru satu hari Kanaya sudah semakin dilema, perlakuan Bagas yang manis bahkan lebih manis jika di bandingkan dulu, kembali membuat hatinya bimbang, Kanaya melihat ponselnya tidak ada pesan dari Bima, Bima berkata ia akan memberi waktu untuk Kanaya dan Bagas agar Kanaya bisa memilih dengan hatinya, tanpa merasa bersalah akan dirinya.


Namun itu membuat perasaan Kanaya semakin dilanda rasa bersalah sekarang,jangan salahkan dirinya, salahkan hatinya yang tak bisa terkontrol, ia sudah berusaha mengelak tapi tetap tak bisa berbohong, semua yang dilakukan Bagas terasa manis,


Bima baik, dengan Bima ia merasa terlindungi tapi kenapa ia hanya merasakan perasaan seperti yang dirasakannya terhadap Azka sang kakak,


Apa perasaannya terhadap Bima hanya seperti perasaan adik terhadap kakaknya.


Sedangkan dengan Bagas ia serasa menjadi wanita yang begitu dicintai dan mencintai, dan itu pula yang membuatnya jatuh cinta pada Bagas dulu, andai dulu Bagas tak mengecewakan nya mungkin mereka masih bersama sekarang.


Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam tapi Kanaya tak bisa memejamkan matanya, ia teringat Bagas yang mengganti malam menjadi jam kerjanya. lalu tiba tiba terfikir untuk menghubungi Bagas, apa dia sudah selesai bekerja atau belum.


Kanaya menekan nomer Bagas setelah tersambung tak berapa lama Kanaya langsung mendengar suara disebrang sana "Naya..?"


"Kamu belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur.."


"Mengapa..? ah kamu memikirkan ku" goda Bagas.


Kanaya mendengus meski sebenarnya memang iya. "Pe de banget sih!"


Bagas terkekeh "Lalu apa?, jangan bilang kamu terpikir untuk segera hari esok, dan menunggu kejutan apa lagi yang akan aku berikan.. begitu?"


"Ng...gak enak aja.." Kanaya tergagap "Aku cuma mau tau apa kamu benar benar bekerja di malam hari, atau hanya berbohong" tak lama kemudian Bagas mengalihkan panggilan menjadi panggilan vidio.


Dan Kanaya bisa melihat Bagas yang memang berada di ruang kerja bahkan kaca mata baca masih bertengger di hidungnya terlihat dua kali lebih dewasa "Lihat kan.." Bagas menyimpan ponselnya disebelah kanan nya agar Kanaya bisa melihat apa yang sedang Bagas kerjakan.


"Wow.. direktur selalu sibuk" sebenarnya fokus Kanaya sekarang pada bingkai pigura yang ada di meja tersebut, itu dirinya dan Bagas semasa kuliah dulu, dan Bagas masih menyimpannya,sedangkan Kanaya sudah merobek semua kenangan itu dan menghadiahkannya di hari pernikahan Bagas dan Anina dulu.


"Ya, kamu sudah percaya..ada beberapa berkas lagi yang harus aku pelajari, kamu tidurlah" Bagas menoleh kearah Kanaya yang sedang berbaring di tempat tidur dengan piyama satin berlengan panjang berwarna pink tidak se xy , namun itu menjadikan Kanaya lebih manis dan Bagas ingin sekali menembus layar ponselnya dan berbaring bersama Kanaya berpelukan dan...., Bagas mengenyahkan fikiran nya dengan mengalihkan pandangan nya pada kertas kertas dihadapan nya.


"Kamu benar benar tidak mengantuk? ini sudah sangat malam Naya"


"Sepertinya aku akan mulai mengantuk melihat kamu yang sibuk sendiri" Kanaya meletakkan ponselnya di sisi Bantal dan dirinya kini berbaring miring menghadap layar.


"Itu Bagus jika membuatmu mengantuk, sementara aku bekerja kamu bisa tidur, aku gak akan matikan ponselnya, tidurlah..!"


"Hmm,.. Kamu masih simpan itu?" tanya Kanaya.

__ADS_1


"Apa?"


"Fotoku.."


Bagas menoleh ke sebelah kiri nya "Tentu saja, sejak tiga tahun lalu aku gak pernah pindahkan ini,hanya ini yang bisa mengobati rinduku,,," Bagas terkekeh "Meski tak bisa ku cium" lanjutnya.


"Dasar mesum.." Kanaya merona. "Baiklah aku sudah mengantuk"


"Hmm selamat tidur Naya".


Esoknya Bagas kembali menjemput Kanaya dan mengajak berjalan jalan sekitaran pantai, mereka menghabiskan waktu bersama bahkan menikmati matahari terbenam.


Kanaya merasakan hatinya bahagia, apakah ia sudah boleh memutuskan ia ingin bersama Bagas tapi bagaimana dengan Bima, niat awal yang hanya ingin mengakhiri semuanya dengan Bagas dan membuat awal yang baru dengan Bima meski belum ada cinta, tapi jika Bagas sudah tak berada disekitarnya Kanaya yakin ia bisa mencintai Bima, namun nyatanya ia sungguh tak bisa lepas dari Bagas, Bagas benar Kanaya hanya menghindar maka itu ia minta waktu untuk terus bersama nya dalam satu minggu agar Kanaya tak bisa mengelak lagi, nyatanya belum satu minggu hati Kanaya sudah terjatuh kembali pada Bagas.


Bima benar benar tak pernah menghubunginya, hingga di hari ke empat Kanaya memutuskan untuk pergi ke cafe lagi pula Bagas juga ada rapat penting yang tak bisa diwakilkan,terlebih mereka sudah membicarakannya jika Bagas bisa menemuinya sehabis bekerja tak perlu menyita waktu bekerjanya hanya untuk seharian bersama Kanaya, Bagas keberatan tentu saja dirinya jadi tak seharian bersama Kanaya.


"Kamu masuk, bukannya cuti satu minggu?" Bima baru saja masuk cafe, dan melihat Kanaya sedang membersihkan meja, suasana masih sepi karna cafe belum buka.


"Iya.. kak lagian gak enak cuti kelamaan"Kanaya tersenyum pada Bima.


"Ini cafe kamu Ay, kamu bebas, selagi ada aku.. tapi nanti kalau aku udah gak ada kamu harus lebih profesional" Bima menuju ruangannya diikuti Kanaya.


"Cafe bang Azka,kak" ralat nya.


Bima mengangguk lalu masuk begitu saja, Kanaya merasa ada yang aneh dengan Mima, kenapa ia nampak canggung dan gugup pada Bima, Kanaya meneruskan langkahnya keruangan Bima ada sesuatu yang harus ia katakan.


Begitu masuk Kanaya melihat Bima yang sedang menatap kosong keluar jendela "Kak Bima aku mau ngomong?"


"Kak?" Bima masih tak menjawab.


"KAK" Panggil Kanaya sedikit keras.


"Eh.. iya, kenapa?" Bima sedikit tersentak saat Kanaya berteriak.


"Kakak kenapa? ngelamunin apa, sampai aku panggil panggil gak nyahut"


"Ma.. maaf emang kamu ngomong apa tadi?"


Kanaya menghela nafasnya apa mungkin Bima sedang memikirkan tentang hubungan mereka, hingga Bima melamun seperti itu.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" Bima menggeleng


"Gak pa-pa kok Ay,gimana Bagas bukannya kamu mau cuti satu minggu?"


"Kakak to the point banget ya,Menurut kakak aku harus gimana?" tanya Kanaya takut takut.


"Itu hak kamu Ay, apa pun itu aku terima" Bima tersenyum, menyembunyikan sakit hatinya.


"Lalu perasaan Kakak gimana?"


"Aku udah bilang Ay, kita masih dalam masa percobaan jadi kita sama sama belum mencintai" Bima merasakan tenggorokannya tercekat, ia sudah mencintai Kanaya bahkan sejak dulu.


"Tapi apa itu adil buat kakak?" Adil atau tidak Bima harus menerimanya


"Kamu bicara seperti itu seolah memang sudah memutuskan" Bima terkekeh "Bahkan ini belum satu minggu,tapi aku tau ini akan terjadi"


"Kamu tau, seperti apa pun kamu menghindar hati gak akan bisa berbohong Ay,, jika itu bisa membuat kamu bahagia aku juga bahagia, aku akan dukung kamu"


"Jadi kita??"


"Kita berakhir,pergilah raih kebahagian kamu"


Kanaya memeluk Bima "Maafin aku kak,..maaf aku udah egois"


"Seperti janjiku Ay, jangan jadikan ini beban saat salah satu dari kita tak bisa menerima, kita selesai" Bima mengusap rambut Kanaya.


"Makasih kak, kakak baik pasti bisa dapet yang lebih baik dari pada aku"


"Aku harap begitu.. meski akan sulit"Bagas melepas pelukan Kanaya,dan berusaha menormalkan rautnya.


"Sudah kerja sana, mulai hari ini kamu harus belajar lebih lagi.. dalam satu minggu restoran ku di puncak akan dibuka jadi aku mau pindah kesana, itu berarti kamu harus mulai mengelola cafe ini,jadi kita akan perkenalkan kamu sama semua karyawan dengan resmi sekarang"


"Hah.. kok cepet banget kak? aku belum siap" Bima tersenyum lalu menggeleng.


'Jika tidak cepat aku takut tak bisa melepas kamu Ay'


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2