
Kanaya memperhatikan gerak gerik Bagas yang sedang menyalakan film, mengapa kata kata terakhir Bagas terus terngiang di telinganya 'Meski mungkin tidak akan ada aku didalamnya' apa Bagas berniat menyerah? lalu kenapa? bukan kah itu bagus tapi kenapa Kanaya merasa hatinya tak rela , Apa Bagas tak ingin berjuang lebih lagi? apa hanya sampai disini saja?.
Kanaya mengerjap beberapa kali saat Bagas menghampirinya masih dengan senyuman tulus di bibirnya, lalu Kanaya membalas senyumnya "Baiklah ayo duduk kita nonton filmnya" Bagas menuntun Kanaya agar duduk berselonjoran kaki lalu Bagas naik di sebelahnya dan menaikan selimut sebatas pinggang.
Bagas langsung terfokus pada film yang mulai berputar, sedang Kanaya masih melihat raut wajah Bagas yang terlihat biasa saja "Kenapa?" Bagas menyadari Kanaya yang melihat kearahnya.
Kanaya menggeleng lalu mulai melihat kearah layar besar dihadapannya, Bagas tersenyum lalu menggenggam tangan Kanaya dan menonton film nya lagi, Kanaya membiarkan tangannya di genggam lagi pula rasanya nyaman.
Kanaya akan menikmati ini... bolehkah? sebelum memutuskan semuanya harus berakhir, Kanaya ingin merasakan nya lagi seperti saat dulu dirinya dan Bagas masih bersama.
Kanaya mendekatkan dirinya pada Bagas lalu merebahkan kepalanya di bahu Bagas, Bagas tersenyum lalu mengusap lembut rambut Kanaya.
'Nyaman nya..'
Tangan Bagas terus mengusap rambut Kanaya dari belakang, entah sadar atau tidak Kanaya makin menelusupkan kepalanya ke dada Bagas lalu tangannya memeluk pinggang Bagas.
Tentu saja Bagas merasa bahagia akan tingkah Kanaya, dan berharap Kanaya akan luluh dan memberi kesempatan untuk kembali padanya,Bagas berjanji tidak akan menyianyiakan nya lagi.
Satu jam lebih film diputar namun sepertinya keduanya tak peduli akan film tersebut,dan hanya menikmati kebersamaan diantara mereka.
Kanaya tenggelam dalam rasa yang begitu nyaman dipelukan Bagas hingga tak terasa dirinya terlelap.
Bagas menyadari Kanaya tertidur karna mendengar nafas teratur Kanaya di dadanya, jika boleh ia tak ingin ini cepat berakhir dan Kanaya tetap berada dipelukan nya.
__ADS_1
Bagas memberikan kecupan lembut di rambut Kanaya lalu ikut memejam..
.
.
.
Kanaya mengerjapkan matanya berulang lalu menggeliat dan mendongak dan melihat Bagas yang sedang memperhatikannya masih dengan senyum nya, Kanaya sepertinya harus terbiasa dengan sikap Bagas beberapa hari kedepan.
Kanaya menegakkan tubuhnya lalu berdehem untuk menetralkan dirinya yang tiba tiba gugup "Film nya sudah selesai.." Kanaya melihat layar sudah hitam.
"Hmm tiga jam lalu"
"Kamu terlihat nyaman dan nyenyak jadi aku membiarkan saja"
"Maaf.."
Bagas menggeleng "Lagi pula aku suka, ayo mau tidur lagi..?" Bagas menepuk dadanya.
"Nggak" Kanaya langsung bangun dan berlari menuju toilet, sedangkan Bagas hanya menggeleng sambil tersenyum.
Kanaya keluar dari toilet setelah beberapa menit melamun, kenapa ia bisa lupa diri begitu, saking nyaman nya ia tertidur dipelukan Bagas, dan sekarang dirinya malu sendiri.
__ADS_1
Kanaya tak menemukan Bagas lagi saat keluar dari toilet, ia pun keluar dari home teater tersebut dan mencari Bagas.
Terdengar suara dari arah dapur ia yakin itu Bagas, karna sejak tadi ia tak menemukan siapapun, apa Bagas sengaja menyingkirkan semua orang agar bisa berduaan,seingatnya ada koki juga beberapa pelayan yang saat itu membuatkan bubur untuk Queen. dengan segera Kanaya menghampiri Bagas yang kini sedang berkutat dengan masakannya.
"Kamu masak?"
"Iya pasti laper kan?"
Kanaya mengangguk memang lapar kan sudah hampir waktunya makan siang,
"Cuma pasta gak papa kan? cuma ini yang aku bisa, lagi pula kamu selalu suka pasta buatan aku" Bagas mulai menuang saus pada piring pastanya.
"Gak lagi.." Bagas menghentikan gerakan tangan nya. "Aku udah gak suka lagi, apa pun sesuatu yang berhubungan dengan kamu" Kanaya menelisik wajah Bagas yang menegang, tapi tak lama Bagas kembali tersenyum,meski Kanaya tau itu senyum getir.
"Baiklah tidak usah dimakan kalau begitu, kamu mau makan yang lain?, mau apa? aku buatkan, atau kita pesan saja" Tak bisa di pungkiri hati Bagas terasa tertohok, tapi tak masalah ini semua pun karna kesalahannya, sakit hati yang ia rasakan sekarang tak ada apa apanya dibanding dengan sakit Kanaya dulu.
Bagas akan menyimpan piring berisi pasta kedalam wastafel, namun Kanaya menahannya "Jangan buang buang makanan.." Kanaya segera mengambilnya dan menyimpannya di meja dan mulai memakannya. "Aku emang gak suka tapi bukan berarti aku gak mau makan" Bagas menyunggingkan senyumnya lalu duduk di kursi depan Kanaya.
Kanaya memakannya dengan lahap, benar pasta buatan Bagas selalu enak.
Bagas memperhatikan Kanaya "Katanya udah gak suka tapi cepet banget habisnya" Bagas mengusap sisa saus di bibir Kanaya dengan tisu,dan membuat Kanaya tertegun.
"Ck.. itu karna aku laper"Kanaya memalingkan wajahnya saat manik nya dan Bagas bertatapan, Lalu Kanaya ingat sesuatu "Kamu gak makan?" Ia baru sadar jika sejak tadi Bagas hanya memperhatikannya.
__ADS_1
"Hmmm.. niatnya mau makan sepiring berdua biar romantis eh.. sudah habis" Kanaya menelan ludahnya kenapa ia tak sadar jika sudah menghabiskannya, saking enak nya pasta buatan Bagas, ia tak sadar dua porsi yang Bagas jadikan satu ia habiskan sendiri.