
Kanaya keluar dari cafe saat jam kerjanya telah selesai, saat akan menyalakan motor Kanaya mengeryit saat melihat Anina masih disana.
"Aya bisa kita bicara sebentar?"
"Kamu masih disini?"
"Ya aku nunggu kamu, aku mohon kita bisa bicara sebentar"
Kanaya mengangguk "Boleh sebelah sana, anak ku lagi tidur di mobil" Kanaya mengikuti langkah Anina dan masuk kedalam mobil Anina.
"Apa kabar?" Anina memulai pembicaraannya.
"Gak usah basa basi, langsung saja" Kanaya menatap kearah Anina dingin.
"Kenapa kamu kembali Aya?"
"Aya.. bisa.. kah.. jangan muncul di depan mas Bagas" Kanaya mengangkat alisnya, dan masih diam membiarkan Anina berbicara "Aku tau kalian sudah bertemu, terlebih beberapa hari ini sikap Mas Bagas berubah, dia tak pulang juga mengabaikan Queen" Anina melihat anaknya yang terlelap di kursi belakang,bohong ia berbohong bahkan dari dulu Bagas tak pernah peduli pada Anina atau pun Queen "Aku yakin itu karna mas Bagas sudah bertemu kamu, lagi pula cafe ini bersebrangan dengan kantor mas Bagas"
"Aya kamu cantik, baik, dan sempurna aku yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih dari Mas Bagas, sedangkan aku,, aku punya Queen, aku gak mau Queen jadi korban karna ke egoisan mas Bagas yang masih mencintai kamu, bisakah kamu menjauh, dan jangan ganggu kami" Anina meneteskan air matanya.
Kanaya terkekeh "Pertama.. Anina, disini rumahku, keluargaku, lalu kemana aku akan pergi,tentu saja aku akan pulang kerumahku"
"Dan kedua, aku tak pernah muncul di depan Bagas, tapi Bagas yang selalu menggangguku,dan terus menemuiku"
"Ketiga,aku gak peduli tentang anak kalian, jangan pikir setelah kamu bicara tentang kemalangan anak kamu aku akan merasa kasihan, aku gak merasa punya kesalahan sehingga aku harus menjauh."
"Ke empat, tentang Bagas kamu tak perlu khawatir aku bukan wanita perebut lelaki lain seperti kamu,jadi sebaiknya perbaiki diri kamu sendiri Anina ,kenapa selama tiga tahun ini Bagas tak bisa mencintai kamu?dari pada repot repot menemuiku, dan ya, aku akan lebih senang jika aku tak pernah melihat kalian lagi, untuk selanjutnya tak perlu merasa mengenalku jika bertemu, cukup acuhkan aku" Kanaya turun dari mobil Anina dan berjalan kearah motornya,lalu pergi sambil menggerutu "Aku terlalu banyak bicara padanya.."
Anina masih terkejut dengan ucapan Kanaya, setelah beberapa detik berlalu ia menangis tergugu.
__ADS_1
Bagas mendapat laporan bahwa Anina menemui Kanaya dan mengajak Kanaya bicara "Apa yang mereka bicarakan?" gumamnya.
.
.
Esoknya Bagas sengaja masuk ke cafe untuk memesan, padahal ia hanya ingin melihat Kanaya,.Bagas bisa melihat Kanaya yang sedang berbincang dengan lelaki yang ditemui tempo hari di depan mini market, Bagas mengepalkan tangannya saat pria yang ia tau nama nya Bima itu mengusak rambut Kanaya, juga raut Kanaya yang mencebik dan cemberut membuat Bima tertawa 'Sial..' ia cemburu.
Bagas mengalihkan tatapannya dari pemandangan yang membuatnya terbakar saat ponselnya bergetar "Ya.."
"....."
"Tentu tuan dengan senang hati saya akan datang"
Lalu Bagas menelpon seseorang "Persiapkan dirimu, aku akan mengajak kalian makan malam" tak menunggu balasan Bagas mematikan ponselnya.
.
.
Tiba tiba sebuah ide terlintas lalu menghubungi seseorang "Tuan Bagas, untuk jamuan makan malam bisakah saya mengundang anda malam ini?" Edward tersenyum saat mendapat jawaban dari Bagas.
Lalu Edward mengirim pesan pada sang istri bersiap untuk makan malam bersama, berharap Liza bisa tertarik saat melihat Bagas beserta anak dan istrinya, dan memutuskan untuk segera memiliki momongan.
Edward segera pulang untuk mempersiapkan semuanya.
"Kamu sudah siap?" Edward memeluk Liza dari belakang sembari mengecup pundak terbuka Liza, ia baru saja tiba dirumah.
"Ya, kamu suruh aku siap siap, dengan siapa makan malamnya?"
__ADS_1
"Rekan kerja ku, dia akan mengajak anak dan istrinya" Liza mengangguk.
"Baiklah aku akan lihat dulu koki kita apa semua sudah siap, kamu bersiap lah" Liza memberikan ciuman pada Edward sebelum pergi keluar kamar untuk memastikan jamuan makan malamnya tersaji dengan sempurna.
.
.
Pukul 7 malam Roni menjemput Anina dan Queen atas permintaan Bagas, Anina menghela nafasnya benar jangan harap Bagas yang akan menjemputnya karna itu tak akan mungkin, tadi sewaktu Anina mendapat pesan dari Bagas untuk bersiap makan malam ia begitu bahagia dan segera bersiap, namun yang ada di hadapannya adalah Roni asisten Bagas yang membuka kan pintu untuknya "Silahkan nyonya"
"Dimana mas Bagas?"
"Beliau sudah menunggu disana nyonya" Anina hanya pasrah dan masuk kedalam mobil, bersama Queen.
Tiba di depan rumah Edward mobil Roni bertepatan dengan masuknya mobil Bagas "Papa" Queen langsung melebarkan tangannya ingin di gendong Bagas.
Tanpa banyak bicara Bagas membawa Queen kedalam gendongannya,sesaat Anina terkesima dengan perlakuan Bagas, tak seperti biasanya Bagas akan menolak namun hari ini Bagas langsung memenuhi keinginan Quen.
Anina tersenyum lebar meski Bagas masih mengacuhkannya seperti biasa,tak apa asal Bagas bisa hangat pada Queen,namun senyum lebar Anina tak bertahan lama saat masuk mereka di sambut oleh pemilik rumah,Anina terpaku dan menegang jantungnya berdebar kencang saat melihat siapa yang ada di depannya kini.
__________
Yup,, benar Edward adalah Ayah Queen yang sebenarnya, lalu bagaimana bisa Bagas yang harus bertanggung jawab, ada yang tau? biasanya kalian sudah bisa nebak..๐
Like..
komen..
vote..
__ADS_1
๐น๐น๐นโโโ