Gadis Tomboy Pindah Ketubuh Gadis Cupu

Gadis Tomboy Pindah Ketubuh Gadis Cupu
Pesan kakak ku


__ADS_3

Sudah seharian ini Fiko mencari pinjaman sana sini kepada temannya, tapi satupun tak ada yang mau memberikanya membuat ia ingin menangis tua. Semua temanya tak ada yang ingin memberikan Fiko uang barang sepeserpun, bahkan sahabatnya sendiri.


Begitu juga Daren. Semua temannya tak ada yang mau memberikanya uang pinjaman, barang hanya seperakpun, pacar mereka bahkan sekarang tak lagi ingin bersama mereka dan tak lagi ingin membantu mereka membuat mereka ingin menangis serentak.


Dita dan Dara? Jangankan ingin meminjam, menginjakkan kakinya dirumah temannya saja sudah diusir apa lagi meminjam uang? Mereka dicap sebagai keluarga penipu dan tak berperi kemanusiaan, bagaimana bisa dengan anak sendiri saja mereka siksa hingga sebegitu kerasnya?


Riko? Ia hanya menemani ibunya diHallte bus, karena memang ia tak ingin menemui teman temanya, ia malu dengan keadaanya yang cacat seperti ini, ia tak ingin bertemu dengan sahabat sahabatnya. Untungnya ia tak memiliki kekasih jadi ia biasa saja jika dengan perempuan.


Sudah seharian dan sekarang sudah malam tapi semuanya belum ada yang mendekati Riko, sedangkan Riko dan Dita sudah kekaparan, sudah sedari pagi mereka belum makan sama sekali, karena memang mereka tak punya uang, jangankan makan, menyewa teman tidur untuk malam ini saja mereka bingung. “ Umm.. Dimana sii mereka? Gue capek, laper...” Gumam dari Riko dengan lesuhnya. Sedangkan Dita sedari tadi pun juga merasakan apa yang dirasakan Riko hanya saja ia tak mampu bicara dan mengatakanya.


Riko menelan saliva kering dikalah melihat orang orang lewat dengan meminumkan minum minumannya dan sebuah roti. Sungguh ia sangat lapar sekarang. Tapi apa daya? Ia tak punya uang sama sekali. Lalu matanya menemui sosok tiga orang saudaranya membuat ia dengan cepat berdiri karena memang sudah lama menanti. “Gimana? Dapet?” Tanyanya langsung kepada saudara saudaranya.


Dengan kompak dan lesuhnya mereka menggeleng, dan itu cukup membat Riko diam dengan taapan nanar. Lalu matanya menatap keadaan mereka, sangat mengenaskan. Apalagi Dara, diututnya berdarah dan pipi yang memerah.” Pipi loe kenapa Dar? Lutut loe juga kenapa?” Tanyanya dengan khawatir.


Dara menitihkan cairan andalanya itu karena tak kuat.” Ini tadi gue diusir sama temen gue. Ando juga... Hiks hiks..” Ia menangis dengan sedihnya. Ia tak bisa membayangkna mimpi buruk ini terjadi. Tunangan dan sahabatnya tak ada yang mau membantu dan meminjamkan uang. Apakah selama ini ia jahat kepada mereka? Karena tu mereka tak ada yang ingin membantu?’


“Gimana bisa mereka nggak ada yang mau bantu kita? gimana bisa? Bukannya selama ini kita selalu bantu mereka? Dimana mereka? Jadi kacang lupa kulit semua ha?!!” Bentak Riko frustasi. Ia meremas rambutnya karena memang ia tak sanggup memikirkan semua hal ini.


Daren menggeleng.” Mereka katanya nggak mau berurusan sama kita. mereka eggak mau berurusan sama keluarga penipu dan penjahat.” Ujarnya dingin, sebenarnya dalam lubuk hati Daren ia sangat lelah dan sedih melihat kelarganya. Tapi bagaimana lagi? Ia tak punya pilihan lain.


“Kita lupa satu rumah lagi yang belum kita mintai tolong. Dia saudara kita sii, mungkin aja kan dia bisa bantu kuita..!” ujar dari Fiko dengan beratnya. Ia menatap keluarganya yang menatapnya penuh harap membuat ia mengerutu, kenapa bisa ia memberikan harapan pada keluarganya?


“Ayo kita kesana..” Ujar dari Dara cepat..” Gue laper banget kak..” Ujarnya lagi jujur sembari meremas perutnya. Perut yang selalu dimanjakan dan diberi makan tepat waktu itu dengan harga fantastis itu. Ia menatap kakaknya lemas.


“Yaudah yuk.. udah malem soalnya..” Ujar Fiko membuat yang lain kembali mengangkat barang barang mereka. Mereka pergi kesuatu tempat yang memang satu satunya sepupu ayahnya, itu adalah rumah adik dari ayahnya dulu. Tetapi semenjak ayahnya dan Andi ribut dan saling membunuh keluarga ini membela, ia tak mau keluarga mereka kena getahnya. Jadilah seperti saat ini.


Penampilan mereka sangat kumuh, bau badan yang terkena debu dan asap sangat pekat ditubuh mereka. Belum lagi hawa tubuh mereka yang terkena panas membuat mereka sangat lah mencolok dari yang lain. membawa barang barang, ada yang iba dan prihatin menatap mereka, dan ada juga yang berfkir aneh aneh, takut didalam tas mereka ada Bom, siapa taukan? Namanya juga pikiran manusia siapa yang bisa mencegahnya?


Setelah satu jam mereka berjalan, mereka sudah sampai dirumah yang tak terlalu besar, tapi cukup bagus. sederhana namun indah. Ya. Adiknya Handi itu hanya seorang guru dan suaminya hanya seorang polisi, adiknya tak meminta harta dan warisan, karena ia tak mau hidup haus akan kekuasaan karena itupula ia pisah dari keluarga. Meksipun begitu, keluarga ini bahagia, satu anak mereka sdah menjadi dokter dan duanya lagi masih melanjutkan study, ada yang masih SMA dan masih Kulia


Hidup igu bukan tentang harta. Tapi bagaimana cara kita membahagiakan diri kita dengan apa yang kita punya...

__ADS_1


Dengan ragu Fiko mengetuk rumah tanpa scurity itu. Rumah yang berada dikomplek kalangan biasa saja itu. “ Permisi.. Tok Tok.. Tok..” Disini tak ada bel, jadi mereka menggunakan manual, yaitu diketok.


“Iya... sebentar,,!” Terak dari dalam membuat keluarganya yang berada diluar pagar menatapnya penuh harap. Mereka tak masuk semua karena cukup tahu diri. Alias takut jika nanti diusirkan tidak rame rame.


“Iya.. siapa ya?” Itu dari anak remaja yang berada didepanya ini, yang mengunakan baju santay menatapnya. Mungkin ponakanya.


“Ibu kamu ada dek?” Tanya Fiko menatap anak itu. Ia memang tak pernah berkunjung kesini. Dulu saat ia masih kecil perah bersama ayahnya karena ingin mengajak adiknya bekerja sama diperusahaan tapi adiknya menolak tegas karena ia tau kakaknya itu hanya memamfaatkanya, supaya perusahaan itu jatuh ketanganya.


Anak itu menatap Fiko menilai dari atas sampai bawah, ia sedikit tak nyaman karena bauh ketek Fiko yang menyengat. Mungkin akibat kerjaannya seharian ini. “Bunda,,,, Ada orang..!” Teriaknya keras didepan Fiko membuat Fiko terkekeh. anak muda ini.


“Siapa sii Gi...? kenapa teriak teriak, enggak sopan tau nggak?” Ketus ayahnya dan ibunya baru sampek dengan baju santay sedangkan ibunya menggunakan daster ala ibu ibu dan rambut yang digulung mengunakan penjepit rambut. Kesan sederhana namun indah ya begini.


“Ini mah ada orang. Egi masuk dulu ya.. temen temen Egi udah nunggu tu..” Ujar anak itu lalu masuk dengan cepat, ia tak mau berdekatan dengan Fiko terlalu lama. jangan mengatakan dia sombong ya..! karena kalian tak tau seberapa menderitanya orang jika didekat seseorang bau ketek. Kalian tak akan tahan ya...


“Malam tante.. Om..” Ujar Fiko kepada orang didepannya sopan. Ia ingin salam namun langsung ditepis oleh tantenya, sedangkan suaminya menatap istrinya dengan tatapan bingung, baru kali ini ia melihat istrinya sekasar ini pada orang lain. sedangkan Fiko? Ia hanya tersenyum kecut. pastinya keluarga ini melihat dia dan keluarga diTV bukan? Acara dimana Dara menikah kemarin.


“Mau ngapain kalian kesini?” Tanya dari tantenya denga bersedekap dada. ia tak mau melihat keluarganya ini.” Dimana keponakan saya Keyla? Udah mati ditangan kalian?” Tanyanya dengan kerasnya didepan mata Fiko. Ia salah satu orang yang menyukai Keyla, “ Kan dulu saya bilang, jika kalian tak suka dengan Keyla biarakn saya merawatnya!! Biarkan dia bersama saya. Tapi kenapa kalian tak memberkannya kepada saya ha?!! Kenapa?!! Kalian siksa dia sampai mati dan kalian bilang dia bukan darah daging kalian..! dimana otak kalian , dimana?!!!" Teriaknya keras sebagaimana ibu ibu berdaster biasa, matanya menjatuhan kristal bening saat ini.


Fiko diam, ia tak berani menjawab, ia menunduk karena tak tau harus berkata apa.” Karena harta kalian mempertahankanya bukan?!!”Tanya tantenya yang bernama Riya itu. Ia tersenyum sinis. “Karena harta juga kalian takut saya merawatnya. Kalian benar-benar keluarga iblis..” lanjutnya.


Fiko yang diberi kesempatan untuk bicara itupun menatap tantenya, atau bibinya itu dengan tatapan minta tolong.” Fiko boleh pinjam uang tante? Kami diusir dari rumah dan sekarang kami enggak punya uang tante kami mohon, karena Cuma sama tante kami bisa berharap sekarang..” Ujar Fiko tanpa tahu malu, seharusnya dia pergi dari sini bukan? dan ia harusnya tau jika tantenya ini tak akan memberikanya pinjaman barang sepeserpun. Tapi apa daya, ia harus bisa mendapatkan uang malam ini juga.


“Dengan apa yang istri saya bicarakan tadi kamu masih memiliki nyali meminjam uang kepada kami?” Tanya suaminya Riya yang bernama Ade itu tersenyum sinis. Nyali pemuda didepanya ini boleh diacungin jempol. Sugguh besar.


“Kami Cuma punya tante sebagai harapan. Diluar kami sudah pinjam uang sana sini. Tapi tidak ada yang memberi, tidak mungkin kami tidur dibawah kolong jembatan, sedangkan mami sedang sakit..” Ujar Fiko menatap kebelakangnya, disana ada keluarganya yang menunduk dan meremas pakaian masing masing.


Tentunya kenapa sahabat-sahabat mereka, rekan bisnis mereka tak mau memberi bantuan itu karena sudah diacam oleh Mike dan anak galaksi lainya. ‘Anda beri satu rupia pinjaman, maka satu keluarga anda mati, anda beri tumpangan maka rumah kalian yang saya hancurkan, dan jika anda bantu supaya mereka hidup lagi maka hidup kalian yang akan hancur.. bahkan jika kalian peduli saja dengan kehidupan mereka, maka jangan salahan saya jika perusahaan anda akan rata dengan tanah.’ Itulah pesan dari Andes dengan kepulan asapnya didepan orang-orang. Siapa yang berani dengan ancaman ketua mafia?


Suami istri sederhana itu menatap arah pandangnya Fiko membuat mereka mendengus, meskipun suaminya Riya tak terlalu dekat dengan keluarga ini tapi ia juga kesal mendengar penjabaran istrinya tentang keluarga ini yang serakah. “Saya tidak akan memberikan sepeserpun kalian uang..!! pergi dari sini!!” Bentak Riya keras dengan manik mata tajamnya. Telunjuknya mengarahkan jalan raya yang didepannya.


“Tante saya mohon.. beri kami sedikit saja untuk makan kami malam ini, kami belum makan sedari pagi.. saya takut adik-adik saya sakit.." Ujar Fiko dengan memohon, ia tak punya harga diri lagi demi keluarganya. Ia anak pertama.

__ADS_1


“Saya tidak peduli..!! PERGI..!! MAU KALIAN MATI SEKALIPUN SAYA TIDAK PEDULI..! JADI PERGI DARI SINI..!!” Bentak Riya keras dengan urat lehernya kelar, ia kurus membuat urat urat itu gampang menonjol, bahkan tangannya sekarang sudah berurat semua. Amarahnya memucak saat ini, ada banyak yang ingin ia bicarakan dan cacian dan makian kepada keluarga ini tapi apa daya? Ia tak mau mengotori mulutnya itu.


Sedangkan didalam sana aaknya Egi dan teman temanya yang sedang belajar terkejut dan menatap kedepan.” Kenapa tu nyokap loe teriak?” Tanya temanya dengan ketus. setaunya ibunya Egi itu sangat penyayang dan memiliki sifat keibuan yang besar.


“Gue engak tau sii. Tadi ada tamu soalnya. Sumpah bauk keteknya bikin gue enek mau muntah. Karena itu gue langsung masuk..” Ujar Egi dengan muka yang dibuat mual. “Gue nggak kenal sana dia tapi..” Ujarnya lagi dengan meletakkan stikenya.


“Kita liat kedepan aja yuk..” Ujar temannya yang lain. membuat yang lain mengangguk lalu melihat kedepan. Dengan ramai ramai mereka menurunkan tanggah rumah yang hanya uda lantai itu. Karena mereka sedang diruang main. Saat didepan mereka bisa melihat ada yang ingin memohon sampai memegang tangan Raya tapi malah Raya tepis dengan kasar, nampak sekali pria itu sangat butuh.


“Ada apa sii bun? Kenapa teriak teriak?” Tanya Egi dengan keras.” Malu sama tetangga elallaah..” Ujarnya. Ini perumahan sederhana yang pastinya banyak lambetura.


“Ada pengemis.. Kamu ingat dia kan? Ini orang jahat mau ngemis disini tapi bunda gak mau kasih dia malah maksa..!” ujar dari Riya saat suaminya Leo menendang Fiko membuat Fiko terlempar didepan. Keluarganya yang melihat itu mendekat lalu membantu Fiko dengan tangis.


Salah stau teman dari Egi yang menatap itu mendekati Fiko dengan tatapan kasihan. Ia membantu Fiko berdiri “Loe nggak apa-apa bang?” Tanyanya dengan santaynya. Benar kata Egi. Keteknya bau, bahkan tubuhnya bauk tapi ia berusaha tenang dan seperti tak terjadi apa apa.


Fiko menangis. Ia menggeleng.” Jangan deket-deket sama dia. Dia itu jahat... jangan bantuin dia.. nanti kamu kena Virusnya lagi..” Ujar dari Raya melihat teman anaknya itu. Dia sudah menyayangi teman anaknya itu sebagaimana menyayangi anaknya sendiri.


“Tante maafin kami.. sumpah kami enggak tau kalo Keyla itu anak papi dulu. Kami kira dia anaknya om Andi mangkanya kami bales apa yang dulu kami rasain sama Dia.. apalagi nenek meningal karena dia..” Ujarnya Fiko sendu.


“Omong kosong macam apa itu?” Tanya Raya keras. Dia bukan pembunuh, dia hanya difitna keluargamu setan..!! tanpa minta penjelasan kalian bilang dia pembunuh..!! pergi kamu, saya tidak sudih bantu kamu... Sayang, kamu masuk sama Egi sana, jangan bantuin dia..” Ujar dari Raya melihat teman anaknya itu. Ia bahkan menariknya supaya jauh dari Fiko.


Teman anaknya itu menahan tangannya lalu menatap ibu temannya itu.” Maaf bun, tapi kakak saya pernah pesan sama saya, sejahat apa yang dulu seseorang pernah lakukan, sehina apa seseorang itu dan sekejam apa seseorang itu. Mau dia pembunuh, mau dia tukang pukul bahkan perampok sekalipun. Kita harus bantu dia jika dia minta bantuan, sebab kita tidak ada diposisi dia ketika dia melakukan kejahatan bun, kita eggak tau kenapa dia ngelakuin hal itu, apa karena dia mau atau karena sesuatu. Jadi maaf aku bakal bantuin dia karena itu pesan kakakku dulu..” Ujarnya dengan tenang karena kakaknya dulu juga pembunuh, tukang palak, tukang rampok, bahkan tukang pukul. Mafia dan anak geng motor tapi semua yang kakaknya lakukan itu demi dia dan hidup mereka. Demi adiknya ini supaya adiknya itu tetap makan enak, baju bagus, barang-barang sama dengan orang lain.


Raya diam. Dia tau kepribadian teman anaknya ini sangat baik karena didikan baik dari kakaknya. Ia bahkan sangat penasara dengan kakaknya anak ini. sedangkan Fiko menata anak itu penuh tanya, siapa anak ini? “Kamu siapa? Dan siapa kakak kamu? Apa saya kenal?” Tanyanya. Siapa yang sekarang masih ingin membantu seseorang meskipun tak mengenali satu sama lain.


Anak itu menatap Fiko dengan tatapan datar. “Nama saya Reyano... dan nama kakak saya Nana.. dan kakak saya bilang membantu orang bukan dari kita kenal atau tidak, tapi pakek otak dan hati. kalo nolong orang nggak pakek otak ya kita nggak bakal jadi makhluk sempurna dimuka bumi ini. karena yang nggak punya otak itu binatang.”Ujarnya jujur itulah ajaran dari kakaknya, meskipun keras tapi semuanya fakta bukan? Dan fakta itu membuat Fiko diam. apa selama ini ia menyaksikan Keyla disisksa itu adalah sikapnya tak punya otak? Apakah di sudah disamakan dengan binatang?


.


.


.

__ADS_1


Besok gue kasih doble Up kalo banyak yang ngefollow Ig ku #Novivivuspitasr. Oke... hehe.. sogok ini... wkwk


Btw yang nanya kenapa Rindu nggak up up. Maaf ya aku masih makek laptop abang, sedangkan aku bisa makek diwaktu sore aja laptopnya, jadi nggak kekejar kalo harus up tiga novel. Apalagi setiap Up novel tu aku pasti ngabisin 2000an kata yang artinya panjang banget ya... jadi maaf ya.. insyallah awal bulan aku bakal up lagi rutin ya. Lagipula dah mau tamat kok novelnya HSGP hehe,


__ADS_2