
Dengan malas Dara menyuaoi ibunya yang makan tapi mengunyah saja sangat sulit membuat kesabaranya harus diuji. Tapi ia tetap saja diam dan tak masalah, dia sesekali memainkan hp setelah menyuapi ibunya.
“Udah mi...” Ujarnya setelah nasi dipiringnya habis. Sedangkan Dita hanya menggumam tak jelas saja. Dia bagai mayat hidup saat ini.
Setelahnya ia melihat kakaknya Fiko masuk dengan wajah yang lesuh. Kancing baju atasnya sudah dibuka karena hawa panasnya. "Kaka dapet kerjanya?" Tanya Dara.
“Lagi nyari tapi belum masuk kantor mereka aja gue diusir. Boro-boro diterima kerja..” Aduhnya saat mengingat kejadian siang tadi dan itu cukup menguras emosinya.
On Flasback..
Dengan baju berwarnah putih dan celana dasar berwarna hitam rapi itu Fiko gunakan dan map satu buah yang berisi ijaza dan juga riwayat hidupmya ada beberapa file juga yang gunanya untuk melamar pekerjaan membuat ia percaya diri memasuki beberapa perusahaan. Berbekal ijazah managemennya ia yakin ia bisa mendapatkan pekerjaan cukup mudah.
Tapi baru saja ia mau memasuki satu perusahaan terbesar dikota ni ia dihadang oleh satpam didepanya, tatapan satpm itu menatapnya dengan meneliti dari atas sampai bawah membuat ia risih. “Ada apa ya pak? “ Tanyanya memecahkan keheningan.
Satpam itu menatap wajah Fiko dengan tatapan tajamnya.” Ada perlu apa bapak kemari?” Tanyanya dengan nada tegasnya layaknya pekerjaannya sii. Jadi wajar.
Tapi Fiko merasa pernyataan dari bapak scurity itu bagaikan mengusirnya saja membuat perasaannya terasa tak enak saat ini. ia memaksakan diri untuk tersenyum.” Gini pak. Saya mau melamar kerja diperusahan ini. apakah ada lowongan pak?” Tanyanya dengan nada sopannya. Ia harus sadar jika sekarang dia butuh pekerjaan. Jadi tak boleh sombong.
“Maaf pak. Tapi kami sedang tidak menerima karawan. Jadi bapak bisa pergi dari sini sekarang juga..!” Ia mengarahkan jempol tanganya kearah jalanan membuat Fiko menelan saliva kering.
Nah kan. Benar.. diusirkan gue..’ Batinnya Fiko mengerutu. Apa yang difikirkan dan dirasakaya tadi memang terjadi dan itu sangat sakit baginya.” Tapi pak. Saya lihat dikoran disini sedang membutuhkan manager baru untuk perusahaan cabang pak dan saya memiliki ijaza managamen lo pak. Bahkan saya memiliki pengalaman kerja menjadi manag—“
“Maaf pak. Tapi disini tak membutuhkan karyawan jadi bapak bisa pergi dari sini sesegera mungkin..” Ujar dari sang scurity itu memotong uacapan Fiko dengan cepat. Ia bahkan sedikit mendorong pinggangnya Fiko dengan sedikit sopan...
“Tapi p—“
“Pergi dari sini secara baik-baik atau mau secara kasar?” Satpam itu menaikan satu alisnya dengan mata tajamnya saat memotong uacapn Fiko membuat Fiko diam mati kutu lalu mengangguk pasarah. Ia pergi dari sana.
Setelah ia pergi dari sana ia juga mendapatkan penolakan diperusahaan prang ain, bahkan menginjakkan kaki disana saja ia tak diperbolehkan membuat ia ingin sekali membakar ijazanya saat ini. ia bahkan sudah dua kali diusir secara paksa dan secara memalukan membuat ia harus sabar.
Of Flashback..
__ADS_1
“ Yang sbar ya kak...” Ujar Dari Dara menatap iba kakaknya. “Mau minum?” Tawarnya dengan manis. Ia tau pasti kakaknya sangat kacau pikirannya saat ini.
Fiko menganguk dengan masamnya membuat Dara pergi dari sana.” Kita cuma ada teh kak, Dara bikin teh anget aja ya. Soalnya kita enggak ada lemari pendingin. Nggak apa-apa ya..” Ujarnya saat masuk lagi untuk menemui Fiko. Fiko hanya mangut-mangut saja meskipun rasanya ia sangat lelah dan sesak saat ini
Setelahnya ia mendnegar suara Daren dan Riko yang memasuki rumah membuat ia menatap kedepan. Disana ada adik-adiknya yang penampilanya sama dengannya. Sangat kacau. Bahkan Riko babak belur saat ini. pipinya biru dengan setetes darah matanya tajam dan sudur-sudut matanya membiru, kancing atasnya sudah copot semua dan rambut yang nampak tak disisir selama satu minggu
Dahinya Fiko menyatu dibuatnya.” Loe kenapa Rik? Kena petir tadi atau kek gimana ni? Atau dilempar orang kegod karena ngak keterima kerja?” Tanya Fiko dengan nada bingung sekaligus mengejek. Ia hanya ingin mencarikan suasana meksipun ia tau jika pasti adiknya tadi berkelahi, karena itu adiknya sangat kacau seperti ini.
Riko mendengus lalu duduk dismapingnya Fiko. Duduk dikursi kayu yang sudah sedikit rapuh karena dimakan rayap, warnanya sudah sangat lusuh karena memang tu bukan kayu jati. “Tadi berantem gue sama Tomi..” Ujarnya dengan tanganya yang masih mengepal. Matanya tajam bagaikan menatap musuhnya saat itu juga
“Tomi sahabat loe itu bukan? Yang dulu sering main kerumah? Yang tinggi itu? Rambutnya kriwil-kriwil kek bulu ketek tu?” Tanyanya dengan mengeryit. Ia mengingat sosok Tomi yang suka bermain dengan Riko semenjak masuk Sma itu. Ya sering sii. Bahkan tiap minggu dia main kerumah dengan lancangnya makan apapun yang ada. Riko memang sangat akrab dengannya.
Riko mengangguk cepat.” Dia ngusir gue saat gue pergi keperusahannya dia buat ngelamar pekerjaan sama dia. Dan parahnya dia ngehina gue yang matanya udah buta.. gue dibilang anak bajak laut sialan...!!” Ia memukul meja karena panas dikalah mengingat sosok sahabatnya itu yang sudah menghinanaya. Ia tak menyangka jika sahabat dekatnya menghinanya seperti itu. Sakit sekali rasanya, sampai-sampai ia ingin menghabisi sahabatnya detik itu juga.
Daren menatap kakaknya dengan memutar bola mata. “Terus kenapa pipi loe bonyok?” Tanyanya dengan nada sinisnya.” Bisa nggak nggak usah cari masalah sekarang kak? Kita tu sedang banyak masalah, jadi jangan nambah-nambahin masalah deh. Ntar lukanya infeksi gimana?” Tanyanya dengan nada datar. Ia bukannya tak kasihan dengan lukanya Riko, tapi ia kesal melihat Riko yang bonyok seperti itu. Jika luka dan infeksi, demam atau sakit mereka harus mengeluarkan uang kan? Sedangkan mereka sedang tak mempunyai uang sama sekali saat ini.
Riko menatap Daren tajam.” Bisa ngak jangan cari ribut?” Bentaknya keras membuat Daren mengangkat satu alisnya.” Loe pikir enak digituin sama temen loe sendiri ha? Asal loe tau sebenarnya Tomi bisa buka usahanya itu pakek pinjeman sama gue, gue Cuma mau minta dia balikin uang pinjemannya dan dia bilang dia nggak punya pinjeman sama gue. malah dia blang gue yang punya hutang gede sama dia... Uang gue hangus gara gara temen brengsekk kayak dia.. Loe engak tau apa-apa..!! jadi tutup mulut busuk loe itu..!”! Teriaknya keras,
Daren menghela nafas. “Gue juga digituin sama Geo dam Galang.. katanya dia enggak punya duit buat bantuin gue. Padahal adahal gue Cuma mua minjem uang sepuluh juta buat modal usaha, tapi katanya kartu kredit dan Atm dia ditahan sama bonyok mereka.. Padahal gue selama in kurang baik apa coba sama mereka?” Tanya Daren dengan nada lemasnya.
“Loe gimana bang? Dapet?” Tanya Riko menatap Fiko yang menghala nafas. Ia meletakkan file yang dibungkus amplop colat itu diatas meja supaya tak membuat ia repot. Ingin rasanya ia jadikan kipas, tapi ia takut filenya akan menjadi lecek nanti. Dia masih ingin mencari kerja.
Fiko menggeleng dengan nafas beratnya. Dan itu cukup untuk jawaban dari pertanyaan mereka. Seelahnya Dara masuk dengan teh yang berada diatas nampannya. “Loh.. kalian udah pulang semua?” Tanyanya sabar meletakkan mangkuk yang berisih minuman Teh panas itu depan Fiko. Lalu berdiri dengan nampan dalam pelukan.
Daren dan Riko mengangguk sambil bergumam, ia menatap Dara dan Teh secara bergantian. “Buatin kita teh juga ya. Kita haus baru pulang ini..” Ujarnya dengan nada memerintah. Orang yang lelah memang suka pakek otot jika bicara.
Dara menatap mereka dengan tatapan nanar. “Gula kita abis bang... Teh juga... Itu gula sama teh terakhir yang kita milikin...”Ia tersenyum miris dengan apa yang diucapkan oleh dirinya sendiri. Ia menatap satu persatu raut wajah kakak-kakaknya itu.
Dare dan Riko mengusap kepalanya kasar.” Air putih aja deh kalo enggak ada.. Haus nii. “ Ujar Riko pasrah. Meskipun sebenarnya ia sedang kesal. Biasanya dia jika pulang minta jus mangga atau jeruk dan sekarang dia hanya minta teh saja tak bisa.
Dara menatap mereka lalu menatap jempol kakinya takut.” Air galon juga abis bang, mau beli nggak ada uang. Jad aku masak aja digas tadi. tapi aku lupa, aku ngak tau gimana caranya masak air. Jadi gosong pancinya, sama gasnya abis.” Akunya dengan nada takut.
__ADS_1
Lalu bagaimana dia buat teh? pakek air termos ya...
Daren dan lainya mengusap wajahnya kasar.” Astaga Dara...!!! Untung nggak rumah ini loe abisin juga., terus sekarang kita minum apa ha? Jangan bilang makan juga enggak ada sekarang..!!” Ujar Riko keras. Nafasnya sudah mengebu gebu sekarang. Amarah yang tadi masih tersisah sekarang kembali menyergap jiwa dan raganya.
Dara mengerjab polos. “ Uang kemarn aku beli lisrik bang jadi kita cuma punya nasi sama telor goreng, tapi maaf ya.. nasinya lembek karena aku nggak bisa masak. Sama telornya gosong...” akunya lagi dengan mengeratkan pelukannya pada nampan. Ia meneguk saliva kering karena takut amukan dari kakak-kakaknya ini.
Dare menatap Dara kembaranya dengan darah yang bergejolak. “Jangan bilang lu juga masak nasi campur garem jadi nasinya keasinan?” Tanyanya dengan penuh seidik.
Dara semakin gelagapan. “Ma ma maaf bang.. aku ngk bisa masak..” Cicitnya dengan takut.
Fiko, Date dn Riko rasanya ingin sekali menenggelam kan Dara kesungai amazon saat ini karena memnag kekesaan sudah mengebu gebu. “Udah udah... Kita cari adek lain aja...” Ujar Daren dengan nada sinisnya menatap Dara. Bisa tak makan dia hari ini jika begini.. ahk kan ia pasti akan kurus jika begini terus.
Dara menatap kakaknya dengan tatapan datar.”Mau cari adek lain kek bisa kasih makan aja.. kerja dulu baru cari sana..!” Ujarnya sinis lalu pergi dari sana meninggalkan kakak-kakaknya menatapnya jengkel.
Wajar saja sii Dara tak bisa masak. Dulu ia orang tak pernah menyenggol dapur sekarang harus berbaur dengan dapir. Jangankan memasak telur atau nasi. Menghidupkan kompor saja ia tak pernah. Perawatan kukunya bahkan jutaan jadi rugi jika nanti rusak. Jika ia lapar maka minta sama pembantu, jika tak suka makanan rumah tingal Delliveri atau kerestoran yang dia inginkan saja. Hidup menjadi orang kaya sejak lahir membuat tulang nya lurus dan tak bertenaga bagaikan jellly. Jika mau ya tinggal keluarkan uang, tak susah kan?
...
Dilain tempat Bima Alvaro yang melamun akan kejadian kemarin, dimana dia disekap dan diminta untuk melupakan Keyla membuat ia berfikir. Bagaimana bisa mereka bilang jika Keyla sudah mati dan yang sekarang itu adalah Keyna? Apakah bisa seperti itu?
“Al... Loe denger ngak apa yang gue omongin?” Avaro mengerjab terkejut dikalah engannya ditarik oleh seseorang disebelahnya. Ia menatap skeitar yang sudah menatapnya dengan tatapan bingung dan juga bertanya. Lalu menatap sosok gadis cantik dsampingnya yang menatapnya dengan tanya.
Alvaro mengeeng lalu menatap yang lain.” Memang apa yang dibahas?” Tanyanya dengan linglung. Ia baru disedot kedua nyata karena sudah terlalu jauh kedunia khayalan dan pikiranya sendiri.
Nampak Dewa berdecap dengan lirih” Loe tu masih niat ngak sii All jadi ketua BEM? Dari kemarin bengong aja. Padahal kita tu lagi rapat..!!” Ketusnya dengan nada nyolot “Kita lagi bahas tema buat PKMTD Yang bakal dilakukan MABA dua mingu lagi. Dan kita lagi sepakat buat bikin bakal outbon sama kema gitu loe.Tapi banyak juga pro sama kontra. Biasa pasti banyak MABA yang nggk disuru sama ortu mereka dan itu bakal menghambat prores kita.. jadi gimana?” Tanyanya dengan ketusnya. Ia bahkan melempar pulpen yang digengamannya dengan keras.
“Loe mikir apa sii? Tolong dong liat kekita. urusan luar jangan dibawa-bawa sama urusan BEM(Badan Eksekutip Mahasiswa) profesional dong.. kita disini udah bicara masalah pendapat kita tentang tema dan progeres kita loe maah bengong dan nggak dengerin kita. loe fikir enak digituin? “ Tanya dari pria lain disana yang tak lain ketu SANAT.
Alvaro menatap mereka dengan tatapan datar. “Bisa ngak sii nggak usah ngegas? Ya maaf gue nggak konsen tadi.. tapi bukan gitu cara ngomongnya... bisakan bicara baik-baik. Gue masih ketua kalian disini ya..!!” Ujarnya dingin dengan nada tegasnya.
Plar... Berkas ditangan Dewa ia lempar kedepan Bima Alvaro membuat bunyi berdecip. “Terserah sama loe... Gue capek ngeluarin imajinasi gue, akal gue dan loe bilang bisa biasa aja enggak? Mulit gue udah berbusah. dan loe masih bilang gue harus tenang?” Ia tertawa sinis.” Loe enggak pantes jad ketua kita..!!! Sama sekali nggak pantes..!!’ Lanjutnya menekan kata akhir lalu bangkit.
__ADS_1
Setelah itu diikuti oleh anak lain.” Kita kecewa sama loe Bim. Kemarin kita B aja tapi hari ini loe masih gini aja padahal proposal kita belom jalan. nggak banget loe!” Ujar yang lain meninggalkan Alvaro ddalam sendirian. Alvaro menatap mereka nanar lalu mengusap wajah kasar. Sialan.. gara-gara selingkuh itu membuat ia menyesal seumur hidupnya.