
Peluhnya sudah menutupi wajahnya yang dulunya putih sekarang sudah tak lagi. Yang awalnya sangat mulus tapi sekarang sudah belang karena matahari. Kalian tau belangkan? lengannya sebelah hitam sebelahnya lagi putih, begitu juga dengan wajahnya. Wajahnya setengah hitam dan setengah putih gara-gara seharian mengunakan masker. Ya..
Disini juga sudah terdampar Virus Corona membuat masyaraat harus mematuhi PPB yang berlaku. Dan danpak Virus ini juga mengenai sosok ini. Para mahasiswa, pengusaha ataupun Dewan perwakilan rayat juga tak masuk kerja membuat mereka tak mendapatkan penghasilan.
Ya...dia adalah Fikoo dan Daren. Daren yang jualan Kuanci dijalanan sedangkan Fiko menjadi tiang semir sepatu. Mereka sunggu tak mendapatkan pekerjaan dimanapun mereka meamar. Bahkan hanya sebatas menjadi tukang cuci piring sekalipun. Pernah dulu Riko menjadi penjaga Toko bangunan, Al hasilnya tokoh itu langsung lenyap esok harinya membuat ia tak lagi bekerja. Ia juga pernah jadi tukang pembersih toilet umum, dan pada akhirnya berhenti kembali dikalah toilet umum itu dbakar dalam satu malam.
Sungguh Fiko tak habis fikir dengan pembuat kehancuran keluarganya itu. Bagaimana bisa mereka setega itu menghancurkan usaha orang lain. apakah mereka tak kasihan apa? Tak ada rasa iba apa? Ia bahkan yakin jika sebenarnya yang membuat keluarganya sepertinya ini itu bukan manusia tapi Iblis.
Sedangkan Daren. Ia sudah dihina habis habisan oleh teman sekampusnya karena menjadi tukang jualan kuaci dan mineral dijalanan lampu merah, sering kali ia bertemu dengan mereka yang dulunya teman tapi sekarang menjadi lawan. Seringya ia dihina dan seagainya belum lagi dulu ia perah bekerja dirumah makan kecil. Kalian tau apa yang terjadi? Bukan rumah makannya yang dibakar. Tapi pemilik rumah makanya yang kecelakaan membuat ia tak kerja lagi. Bahkan ia pernah menjadi Scurity. Iya.. tapi kenyatanya tak seindah yang kalian pikirkan. Toko yang ia jaga malah dicuri habis habisan dalam satu malam dan ia menjadi koban dan dirikan kerumah sakit.
Bagaimana bisa ia melawan, sebab lawannya bukan hanya satu atau dua. Tapi dua puluh orang dan itu menggunakan senjata api semua membuat ia tak bisa berkutik selain dijotos. Untunglah dia tak dituntut masuk penjara, tapi ya itu.. dia dikeluarkan dari pekerjaanya.
Karena semua yang mereka berdua alami membuat mereka berdua berjaualan dijalanan saja. Sedangkan Riko? Ia menjadi kuli bangunan awalnya, tapi tanpa salah ia dikeluarkan dari kerjanya, dan dia juga pernah melamar dimanapun tapi hasilnya nihil. Jadilah sekarang ia jadi tukang angkut barang dipasar. Tapi karena efek coron aembuat ia tak mendapati job. mereka memang hidup dalam kesengsaraan.
“Gimana kak? Dapet pelangan belom?” tanya Daren kepada Fiko yang sampai dan memakai wajah lusuhnya. Wajahnya sekarang koreng mareng, bukan karena dia bukan pembersih, hanya saja itu karena debu polusi udara. Kalian taukan polusi diJakarta itu seperti apa? Jadi tidak usah dijelaskan lagi.
Fiko menghela nafas sembari melepaskan topi bundarnya yang lusuh itu. Bajunya pun tak kalah lusuh membuat ketampanannya harus tertutupi karenanya. “ Hari ini gue nggak dapet satupun pelanggan..” Ujarnya jujur. karena memang sedari pagi ia sama sekali tidak dapat uang penhhasilan.
Daren menghela nafas menatap kakaknya. “ Gue juga kak. cuma dapetnya segini. Belum lagi uang yang kemarin gue pakek buat kebutuhan kita. jadi modal gue habis dan barang jualan kita habis..” Ujarnya menampakkan dua lembarlima ribu dan lima lembar uang dua ribu itu. Ada beberapa recehan juga disana. Sedangkan jualanya hanya ada beberapa mineral saja lagi dan juga tysu. Ada beberapa permen, jika dihitung tidak akan sampai lima puluh ribu lagi.
Fiko memegang perutya yang perih karena sedari semalam ia tak makan, karena memang mereka tak makan kemarin malam, sebab mereka harus membayar hutang diwarung. Dan sekarang ia sudah lapar.”Abang laper?” Tanya Daren menatap kakaknya yang meremas perutnya itu.
Fiko menggeleng senak saja. Karena semang perutnya sekarang melilit karena lapar pedih dan juga sakit semuanya menjadi satu.” Jangan bo’ong bang. Ge juga laper tauk... kalo mau makan kita beli cilok aja yuk disana. Mayan buat ganjel perut aja..” Ujarnya menatap uangnya. Sebenarnya ia mau beli modal untuk jualan, tapi ia tak bisa menahan lapar dan melihat kakaknya kesakitan.
Sedangkan kakaknya mengatap adiknya dengan tatapan sayu.” Mending kamu beliin nasi sayur telor atau tepe aja dek. Seengaknya murah dan perut kita terisih. Kalo Cuma makan cilok nanti kita bukannya kenyang tapi malah sakit perut.” Ujarnya dengan lemah.
Daren menepuk dahinya.” Bener juga..” Gumamnya memikirkan ucapan kakaknya. “Yaudah bang kalo gitu gue cari makan dulu ya. lu tungu disini.” Ujarnya kepada Fiko dan menepuk pundak kakaknya lembut. ia melangkah mencari nasi saja.
__ADS_1
Sebenarnya ada rasa sakit dihati Fiko dikalah ia harus makan menggunakan uang adiknya. Dia kepala keluarga saat ini, dia kakak tertua saat ini. tapi ia bahkan tak bisa berbuat apa-apa membuat ia malu dan juga sakit. apa lagi tadi saat ia bilang pada adiknya untuk beli sayur Tempe atau telur ia bahkan dulu tak perna menyentu makanan yang namanya tempe, tapi sekarang hanya itu saja yang ia makan setiap hari. karena memang haranya murah meria.
Sedangkan Fiko sekarang berada didepan rumah makan, ia terpaksa meneguk air liyurnya karena menatap ayam goreng dan sebagainya disana. Ia sungguh merasa lapar dikalah melihatnya. Namun saat ia bertanya harga makanan menggunakan sayur ayam atau ikan. Harganya dua puluh lima ribu, sedangkan ia harus beli dua bungkus nasi. Jadi ia menggeleng saja...
Ia memesan nasi dua porsi saja tapi banyak banyak. Tempe dan tahu, serta kuah gulai nangka supaya nasinya nanti terasa kalo kata bapak-bapak yang kondisinya tak kalah menyedihkan dengan dirinya membuat ia manut saja. Harganya tak mahal, hanya tujuh ribuh saja membuat ia bisa membeli satu mineral juga. Ia tak boleh boros karena masih ada tiga nyawa yang belum makan saat ini.
“Maaf ya kak.. kita Cuma beli ini..” Ujar Daren yang sampek menenteng nasinya ada juga stau neral. Ia duduk disamping Fiko yang menyender sembari memejamkan matanya karena rasa lapar dan juga sakit.
Fiko yang mendengar sara adiknya itupun menatap kesamping. “ Udah nggak apa-apa. Yang penting kita bisa makan aja Allhamdulillah.” Ujarnya dengan sendu dan menepuk bahu adknya sayang. Ia sekarang menjadi sosok yang sangat bijak. Karena memang tunututan dia seorang anak perama dong.
Daren tersenyum pada kakaknya. Setidaknya sekarang keluarganya lebih hangat dan lebih dipenuhi kasih sayang satu sama lain, meskipun tanpa sosok ayah dikalangan mereka. “Ini yang abang oke..” Ujarnya memberikan satu buah bungkus nasi.
Fiko yang melihat itu menatap Daren lalu membungkusnya kembali.” Ini simpen aja . nanti kita pulang bawa buat Dara ataupun Riko. Mereka pasti belum makan.” Ujarnya dengan lembut menatap sang adik.
Daren mendengar itu tertegun, ia bahkan melupakan dua saudaranya itu. “ Iya ya.. gue lupa. Maaf.” Ujraya membuat Fiko hanya mengatakan tidak apa-apa. Lagipula ini bukan salahnya Daren kog. Tapi salah dirinya sebagai seorang kakak tapi tak bisa melakukan apapun untuk keluarganya saat ini. ia gagal.
Setelah mereka makan mereka bergegas kerumah karena hari sudah malam, dengan berjalan kaki saja. Jarak tempu perjalanan mereka tak bisa diremehkan, sebab mereka tingga diperkelongan atara desa dan juga kota. Melewati jembatan dan sebagainya. Jika dijarakkan atau diwaktukan maka mereka akan menghabiskan waktu selama dua jam untuk berjalan saja. Jauh ya..
Saat sampai dirumah pun mereka sudah malam, tapi bedanya malam ini Dara tak menunggunya didepan rumah membuat mereka bengernyit bingung. apa mereka terlalu lama pulang? Atau Daranya yang ketiduran? Tapi kenapa rasa tak enak menyergap dada mereka ya? semoga saja tidak ada apa apa. batin mereka.
Namun saat ia mau mengetuk pintu rumahnya ia dikejutkan oleh ibu-ibu yang tak lain tetangganya. Bukan ibu-ibu, tepatnya tante-tante girang yang janda memang suka sekali menggoda Riko dan lainnya. “Duh nak Fiko nak Daren kemana aja sii? Itu Riko masuk rumah sakit tauk sore tadi..” Ujarnya dengan tangan yang mengayun-ngayun lebay. Bibirnya yang berwarna mencolok tu dimanyun-manyunkan layaknya bebek saja.
Dugh... Fiko dan Daren terdiam medengarnya.” Serous buk? Lalu sekarang mereka ada dimana?” Tanya Fiko dengan cepat lagi ketika kesadaranya sudah masuk. Ia terkejut mendengar hal ini. sedangkan Daren mengangguk saja.
“Sekarang mereka ada dirumah skait situ xxx, coba aja cek, soanya tadi Riko sempet dibawa kekelinik, tapi langsung dirujuk kerumah sakit karena katanya sakitnya parah atuh..” Ujarnya sembari berfikir dan mendekat.
“Riko sakit apa?” Tanya Daren yag sedari adi mulai bersuara karena ia blank. Dia tipekan cowok yang mudah anikan, jadi tak tau apa-apa ia langsung saja panik dan tak bisa menahan apapun.
__ADS_1
“Saya enggak tau. Kalian lihat aja sendiri. Kasihan nak Dara...” Ujar bu janda itu membuat fiko dan Daren mengangguk. Mereka tak jadi masuk rumah karena panik dan langsung saja mau pergi kerumah sakit yang sudah ibu itu tadi katakan. Bahkan mereka lupa jika baju mereka begitu lusuh dan bauk.
Setelah berlari-lari menuju jalan lebar mereka menghadang angkpt yang masih ada, karena mereka tak punya uang jika harus memakai Taksi. Mereka panik tapi pakek otak kok. Untung saja mereka ada dijalan yang memang jalananya masih rame meskipun sekarang sudah jam delapan lebih.
Tak sampai empat puluh menit mereka sampai kerumah sakit yang diatakan oleh tetangganya. Fiko dan Daren langsung saja keruang tanya dan menanyakan saudaranya itu. Mereka mengacir menuju ruang kenanga nomor dua tujuh E, Yang tak lain adalah ruangan kelas ekonomi dan juga paling ujung. Jauh sekali sampai-sampai mereka keringatan akibatnya.
Sampai didepan ruang itu mereka melihat Dara menangis dikursi tunggu. Keadanya sangat kacau, bahan Dara masih menggunakan Tangtop dan Hotpant saja. Mungkin tadi dia tak sampai ganti baju batin mereka.
“Dara...!” Teriak Fiko membuat sang empu menaap asal suara. Tanpa kata lagi Dara memeluk sang kakak tertuanya dan menagis sesegukan. Ia menangis kerasnya karena memang ia sedari tadi butuh sandaran dan pelukan.
Disela Fiko membalas peluanya Dara dan menatap Daren yang menatap pintu ruang inap itu.” Kakk.. Riko sakit.. dia maghnya kambu lagi.. tapi ini para banget kak, bahkan tadi kata dokter Riko hampir mati kalo aku nggak cepet bawa dia kerumah sakit..” Ujar Dara disela sesegukanya yang dramatis itu.
Memang sii Riko sudah sering terkena maghnya semenjak mereka jatuh melarat ini. ia bahkan sudah dua kali mask Klinik akibat penyakitnya itu. Dan ini adalah penyakit terparah yang Riko derita. “Belum lagi matanya kak Riko bernana karena ngak minum obat. Kak Riko enggak bilang kalo obatnya abis dan ngak pernah beli kak. Dia boong kalo dia seama ini minum obat matanya, selama ini diacuma minum obat pereda sakitnya aja karena obat katanya mahal. Dan dia ngak mampu bayar kak. Hiks hiks. Kak Riko harus negelakuin operasi mata lagi kak supaya atasannya nggak kena kangker. Soalnya matanya bisa berakibat fatal dan menyebabkan kanker kak.. hik shiks..” Dara semakin memeluk Fiko yang berada didepnaya itu dengan sangat sedih tak tertahankan.
“ Terus kak Riko gimana sekarang? Sudah siuman atau gimana?” Tanyanya Daren kepada Dara” Lalu kamu bawah Riko kesini tadi kek gimana?” Tanya Fiko juga serentak membuat mereka saling pandang da diam.
Dara diam mengeleng.” Dia belum sadar sedari tadi kak.. his hiks... dan operaisnya hars dilakukan selama satu mingu mendatang... soal kita kesini itu tadi untungnya mbak Suti bantu aku bawain Riko kesini gunain mobilnya dia. Meksipun Cuma mobil L300 Tapi Riko bisa idbawah keisni..” Ujarnya jujur. l300 adalah mobil kompong itu, yang gunanya untuk jualan atau apapun itu.
Fiko mengelus kepada adiknya.” Kamu yang sabar yah. Riko bakal baik-baik aja. Kakak yakin kok. Kan riko orang yang paling kuat dan paling jago diantara kita...” Ujarnya mengelus bahu adiknya yang masih gemetar dna bergetar akbat terlalu lama menangis itu. Ia bahkan tadis empat pingsan.
“Tapi gimana sama biaya nya kak?” Tanya Dara mendongak menampakkan matanya yang sudah menyipit akibat menangis terlalu lama itu. Mata merah dan hidung yang merah. Belum lagi pipinya dan keringat membanjiri sekitar wajahnya. “Kita bahkan nggak makan beberapa hari ini. rumah kita gelap karena nggak punya listrik. Bahkan kita sampek numpang mandi dirumah mbak Saci.. sekarang dimana kita harus carinya? Dimana kak?” Tanyanya dengan histeris karena buntu. Ia buntu karena kelarganya yang sang kacau tapi sekarang malah ditambah masalah.
,...
Btw... halo para pembacaku.. salam ya.. hehe.
Untuk para aksi Demo untuk penuntutan D3P33R Semengat. semoga kita sama-sma mendapatan keadipannan dan juga hukum kita lebih baik dan lebih benar untuk kedepannya. Semoga selalu dalam lindungan Allah ya. Saya mendukung kalian.
__ADS_1