Gadis Tomboy Pindah Ketubuh Gadis Cupu

Gadis Tomboy Pindah Ketubuh Gadis Cupu
Tahan Nafas


__ADS_3

Dengan langah lebar Alvaro membawah Keyna memasuki UKS. Sebenarnya Keyna sudah menolak berkali-kali dengan alasan mau masuk kekelas, tapi pada kenyataannya Alvaro tak menggubrisnya. Ia tetap berjalan dengan aurah dinginnya, jalannya kali ini cukup berat karena menyeret Keyna. Kenapa nggak digendong? Emangnya mau dibuat Keyna mati..!


“Loe duduk disini..” Alvaro memegang bahu Keyna kanan dan kirinya. Ia meletakan Keyna duduk dibrankar. Disini lengkap akan alat medis, tak selengkap dirumah sakit sii, tapi cukup untuk penanganan pertama.


Keyna diam sembari melirik kanan dan kiri, ia ingat dulu ia sering masuk UKS Karena sakitnya suka kambuh. Ia menghela nafas sembari membayangkan betapa sakitnya sakit itu. Ia kembali melihat sekitar, berbrankar hanya dibatasi kain tirai berwarna Biru langit, diujung ruangan ada tiga kasur yang hanya muat satu orang lalu melirik lagi, disana ada bunga dan meja. Namun ia terkejut dikalah ada seseorang duduk disisinya membuat ia mengarahkan tatapannya keasal tempat.


Alvaro menghela nafas. Ia mengambil air hangat lalu mengelap pipi Keyna namun Keyna tahan.” Gue Cuma mau ngobatin, nanti infeksi.” Ujarnya dtar. Itu adalah lebam akibat tamparan yang didapatkan dari cabe-cabean tadi. Disudut bibir Keyna memang merah sedikit kebiru biruan.


Keyna menahan nafas,tau kenapa? Karena ia takut nafasnya bau... apa lagi Alvaro sangat dekat. Sumpah ia bisa katakan baru kali ini bida sangat dekat. Wajahnya dengan wajah Alvaro hanya satu kilan membuat ia bisa melihat mata itu.


Mata hitam itu pokus mengobati lukanya, mulai dari membersikan dengan air dingin, lalu dikasih kompres Es batu supaya hilang memarnya. Nafas Keyna sedikit tertahan dan dihembus secara takut-takut. Dalam hati ia berdoa’ Jangan ajak aku bicara, aku takut mulut ku bau kan malu.’ Ia dapat ,melihat bulu mata lentik itu, wajah putih, ahhh Alvaro memang tampan, tapi masih tampan Marchel kakaknya Mike. Sayangnya Marchel mesum. Namanya juga manusia, pasti ada kekuaranganya kan?


“Udah liatinnya?” Tanya Alvaro, matanya yang tadi pokus melihat sudut pupi Keyna yang memar sekarang menatap manik mata keyna.


Keyna tersadar dari lamunannya, jantungnya Ob Normal membuat ia menahan nafas lalu menggeeng. Masih kuat dalam kekekehannya tak mau bicara, taku malu. Sialan, ia baru kali ini bicara sedekat ini.


“Kenapa diem?” Tanya Alvaro pelan, ia mengangkat dagu Keyna supaya Keyna menatapnya.


Keyna menatap Alvarpo datar lalu menepis tangan kekar itu. “Apa’an sii..” Gumamnya pelan, ia menggeleng tak mengerti. Ingat ia mengucapkan kalimat itu saat sudah berpaling.


Baru kali ini Keyna takut. Lalu matanya membulat saat ingat ciumannya. Lalu matanya menatap Alvaro tajam.”Dasar kau... Kenapa kau mencium ku ha? Ciuman pertamaku,, pakek acara bibir ku digigit lagi..” Gerutunya kesal. Ia menepuk paha Alvaro keras, bisa dipastikan sekarang memerah.


Alvaro tersenyum tipis saat mendengar itu ciuman pertamanya, namujn ta nampak diata Keyna, “ Terus kau harus apa?

__ADS_1


Mengembalikannya? Atau menggantikannya?” Tanyanya. Yang artinya sama saja, ciuman ulang haddew..


Keyna memijit pelipisnya pening, ia mendatarkan wajahnya lagi, “Terserah sama loe aja De Bim Bim... gue mau masuk kekelas dulu., bay” Ujarnya melengang pergi.


“Tak mau ku antar?” Tanya Alvaro pelan menahan pergelangan tangan Keyna.


“Big no... nanti gue kena gampar lagi sama nenek lampir.” Ujarnya menggoyangkan telunjuknya kekanan dan kekiri tanda tak terima. Kepalanyapun ikut kekanan dan kekiri beberapa kali. “Lain ali kalo mau gebet orang jangan tante tante girang, muka serem kayak nenek lampur sipatnya kalah sama kunti. Jyjykz dedek bang.” Ia terkekeh lalu pergi meningalkan Alvaro terkekeh. ia baru tau jika Keyna ada sisi manisnya dan sisi bar-barnya.


Keyna menatap tajam seiapapun menatapnya lama. Ia tak suka dilirik dn dipandang semacam itu. Sesekali ia melewati rombongan orang untuk menendeng kaki orang yang memang sengaja diuluran dan menutup akses jalan. “Jalan ini umum, bukan punya nenek moyang loe. Hidup pakek otak..!” Itulah yang ia ucapkan lalu melangkah.


Ada banyak orang yang tak terima dan mengajak berkelahi tapi Keyna tak peduli dan mengangap angin lalu, ia biasa saja jika ada yang meneriakinya sok lah, inilah itulah. Sudah bosan dan sudah kebal. Hidupmya memang diciptakan tukang biang onar.


Karena keasikan ngobrol dengan Alvaro ia telat, nampak jika pintunya ditutup oleh dosen. Cihh Keyna malas sekali sebenarnya memberi alasan ini ataupun itu.


Nampak didepannya ada dosen pria yang sudah berumur, kulit hitam dan mata yang menyalah. Tepat sekali, dia adalah Sir Kiono. Sir pengajar bahasa inggris sekaligus mata kulia inti. Dia itu kiler dan kata-katanya sangat nyelekit mampu membuat semua orang meneguk saliva kering, “Siapa? Dan ada apa kamu kemari?” Tanyanya dingin dan datar.


Keyna menegakkan kepalanya lalu menyelipkan tubuhnya masuk, masa iya dia harus menyelipkan kepalanya saja. Ia menunduk sebentar.” Maf pak saya mahasiswi disini, saya ter—“


Prang.... Glekk...


Semua orang meneguk saliva kering dan juga mendadak hening. Mata mereka melotot tak menyangka. Pak Kiono melemparkan setumpuk makalah anak kelas kehadapan Keyna, bahkan disana ada tinta-tinta untuk Spidol berhamburan menghitami lantai dan baju Keyna, untunglah baju Keyna tak menjadi jelek, malah membuat seperti pola abstrak. Nafasnya naik turun karena marah. “Keluar...!” Teriaknya


Keyna masih menenangkan dirinya. “Maaf pak, saya tad-“

__ADS_1


“Saya bilang keluar.. Kelas kalian ini kelas primitif, monyet semuanya. Ini makalah nggak ada yang benar dan sekarang kamu telat? Kamu niat tidak kulia ha?!!! Jika tidak kamu bisa jadi lontee diclub sana...!” Teriaknya.


(Pengalaman w)


Brak... Crang....


keyna menedang pintu itu pecah. Pintu itu terbuat dari kata tebal namun pecah akibat benturan itu sangat keras. “Bapak seharusnya nanya kenapa saya telat. Dan jika urusan salah dalam mengerjakan tugas itu adalah suatu hal yang harus terjadi. Jika kelas ini mampu membuat tanpa meminta bantuan bapak, untuk apa kami kulia? Bilang orang primitif segala. Bapak jadi guru pakek otak!” Teriaknya marah.


“Keyla..!” Natan berdiri untuk menenangkan Keyna. Ia takut dan ia tau yadi Keyna bahkan datang duluan sekali, lalu kenapa keyna baru datang dan telat? Kemana dia?


Dosen itu menatap Kryna tajam namun Keyna hanya menatapnya tenang dan dingin, damai dan sejahtera. Namun orang lain bergidik ngeri saat ini, bagaimana bisa?” Kamu boleh pergi dan saya pastikan nilai kamu E Dimata kulia saya.”


Keyna terkekeh” Ohh. Ngancem nilai..! prok.. prokk.. prok...” Ia bertepuk tangan merdu. Ia tersenyum sinis, Natan yang mendekatinya hanya mematung tak mampu berbuat apa. “ Gue enggak takut siii... Tapi loe nggak pantes jadi Dosen...” Ujar Keyna sinis.


“Jadi menurut kamu siapa yang pantas? Kamu?” Dosen itu bangkit lalu mendekati dirinya pada Keyna. Ia menyalangkan bendera perang, malu sekaligus terasa harga diri diinjak-injak membuat ia bangkit dan harus menjajal mulut gadis didepannya ini.


Suasana menjadi sagat panas, canggung dan juga dagdigdug. Namun yang lain hanya diam tak berkutik. Tak bisa bergerak dan juga tak mampu berkata apa-apa. Danil dan Reval sudah siaga jika Keyna terjadi apa-apa. Bukannya mereka tak mau membantu, tapi ini masalahnya dosen dan nilai.


Keyna mengeleng.” Gue engak bilang gue lebih pantes jadi dosen ketimbang loe. Tapi dengan loe ngasih nilai kecil buat gue tapi loe engak tau kemampuan gue, sama aja loe Dosen nggak tau diri... Nggak pantes... pilih kasih..” Ujar keyna dingin.


Dosen itu menahan tangannya supaya tak melayang, padahal jika melayang juga tak akan Keeyna biarkan. “ Jadi...Kamu ngerasa pintar?” Tanyanya, ia memasukkan tedua tanganya kesaku karena menahan amarah.


Keyna menganguk.” Yapp. Gue pinter.” Ujarnya banga pada diri sendiri.

__ADS_1


Dosen itu tersenyum tipis...


__ADS_2