
Dara dan lainnya dirumah sakit sudah dua haru dan hari ini akhirnya ibunya mereka boleh pulang juga, kaena keadaannya sudah pulih dan membaik.. itu membuat Dara dan lainnya menyiapi semua barang-barang mereka yang ada disini. Apakah ada yang bertanya bagaimana makan mereka? Mereka makan diberi oleh Keyna karena disuruh bik Yanti bawa dari rumah ketika Riko dan lainya itu pulang hanya untuk mengambil pakaian atau untuk melakukan pekerjaan mereka,
Mereka disana menjaga ibu mereka secara bergantian supaya ada yang kerja dan ada yang bantu menjaga ibu mereka. Jika tidak siapa yang berkerja, Riko takut nanti Keyna marah membuat ia membuat jadwal dirinya dan lainya untuk pulang dan bekerja. Ya.. Riko sekarang sangat semangat untuk kerja supaya bisa mendapatkan apa yang ia dengar dari Daren kemarin, kalian masih ingatkan apa yang ditawarkan dan dijanjikan Keyna?
Lagian mereka harus sadar diri ya jadi orang..
Sebagaimana sekarang. Dara membereskan baju-baju nya dan juga suadara-saudaranya yang diruangan ini, dan juga peralatan ibunya itu., disampingnya ada Daren yang membantunya untuk menyiapi semua barang dan sampah yang berserakan..”Kita Kapan jenguk papi?” Tanya Dara. entah dari mana pemikirannnya itu tapi ia merindukan papinya yang sedang sakit itu.
Mereka saling tatap dibuatnya,. mereka tak membenci ayahnya, hanya saja belum ada waktu untuk menjenguk atau apapun itu, ayahnya orang baik, hanya dengan Andi dan Keyna saja ia jahat. Bahkan jika ada orang yang paling baik didunia ini bagi mereka ayah merekalah yang paling baik. Tapi mereka harus bagaimana lagi bukan?
Bagi mereka tapi tidak berlaku untuk Keyla...
Dara menghela nafas dikalah saudara saudara nya itu saling tatap, “Kita sudah lama sekali tidak jenguk papi, semenjak dia masuk rumah sakit jiwa. Kita bahkan sekarang enggak tau apa kabar dia.. gue kangen papi.”Ujar Dara meneteskan air matanya. Ia menyayangi ayahnya yang selalu memanjakanya. Ia bagaikan anak perempuan satu satunya dikalah itu.
Daren disana memnghela nafas lalu mengusap punggung kembarannnya itu lembut.” Mau bagaimana lagi Dar.”Ujarnya sendu,”semua ini karena keadaan.. dan asal loe tau gue juga kangen banget sama papi..”Ujarnya dengan jujur sembari tersenyum perih.
Riko terkekeh dibuatnya.”kalian fikir kalian aja kangen?” Tanyanya membuat Dara dam Daren menatapmnya.” Pliss lah, gue juga kangen, kangen dimana kita bisa bercanda bareng dan ketawa bareng..”Ujarnya dengan kekehan lmirisnya disana.” Tapi bener kata Daren. sekarang udah engak kayak dulu lagi, sekarang semuanya udah berubah, semuanya udah enggak sama..”Ujarnya dengan nanar disana.
“Sekarang....” Daren menatap kakaknya itu sendu.”Memang kita bukan yang dulu, ataupun enggak kayak dulu lagi, tapi kita bisa buat diri kita lebih baik lagi dari yang dulu.. kita mulai dari awal ya.. kita perbaiki apa yang harus kita perbaiki. Dan kita fokus sama mami dan papi supaya nanti kita bisa kumpul bareng lagi..”Ujarnya tersenyum kepada kedua saudaranya itu.
Riko mengangguk disana membuat Dara tersenyum.”Kita jenguk papi ya setelah pulang ini. Mami juga ikut biar papi bisa liat kita, siapa tau papi bisa sembuh kan..”Ujarnya penuh harap, bahkan bibirnya bergetar dikalah itu kepada suadara—saudaranya. Bagi seorang perempuan yang beruntung. Ayah adalah cinta pertamanya bukan? Ayah adalah panutannya bukan?.
Namun hal itu beda lagi dengan anak yang kurang beruntung, ayah bukanlah cinta pertama, melainkan patah hati pertama dan seterusnya sampai akhir hayat hidupnya. Bagi mereka ayah adalah sosok yang membuat luka terdalam dihidupnya.
Riko dan Daren saling tatap lalu mengangguk menatap adik perempuanya itu.”Yaudah, kita cepet cepet beresnya,. Mumpung kita punya mobil dan bisa jenguk papi.. “Ujarnya Riko terkekeh disana menatap adik adiknya nanar,., ia baru sadar jika menjadi kakak itu sungguh berat, ia harus menjadi penengah dan harus menjadi penenang, sedangkan ia adaah orang yang sangat sulit untuk mengontrol emosi dihidupnya.
Dengan segra mungkin mereka membereskan semua peralatan disana, beda hal dengan Dara yang disana menatap langit-langit rumah sakit, bolehkah ia mengatakan jika ia mau mati saja? Jujur saja ia tak mau hidup tapi mati begini, semuanya ini terlalu berat untuk ia jalankan. Ia mau kembali sembuh dan kembali memeluk anak-anaknya. Bukan menjadi mayat hidup seperti ini.
__ADS_1
Dilain sisi Daren disana membereskan semua peralatan tapi pikirannya memikirkan Keyna dan Keynla. Satu sisi ia merindukan adik cupunya dan masih bertanya Tanya, dimanakah Keyla, apakah ia masih hidup atau sudah mati?
Dan lagi ia bertanya Tanya, kenapa Keyna sikapnya bis aberubah ubah, kadang ia baik dan kadang ia jahat., ia bagaikan manusia yang memiliki seribu topeng, ketika jahat ia Nampak sangat menyeramkan, ketika baik ia sangat baik, namun diam diam dia juga sangat memperhatikan orang sekitarnya.
Ia sadar akan hal itu, karena sempat mendengar percakapannya dengan bik Yanti tentang ia menyuruh bik Yanti untuk membuat masakan yang bergizi untuk dia dan kakak adiknya itu. Ia dengar Keyna bilang jika dirumah sakit itu rawan sakit karena banyaknya virus. Itu membuat ia tersneyum dan juga baper akan Keyna. Baginya Keyna sosok yang tak bisa ditembus pandang oleh siapapun..
Sudah sejam mereka bersiap siap dan diperjalanan menuju rumah sakit jiwa yang terpisah, sebenarnya itu satu rumah sakit saja, tapi posisi rumah sakitnya saja berbeda, dirumah sakit jiwa itu ada rumah sakit khususnya dan rumah sakit umum ada tempatnya, itu membuat mereka memakan waktu yang cukup lama.
Dan satu hal lagi yang membuat Daren menyukai Keyna. Keyna selalu memberikan uang bensin kepada mereka. meski selalu diawali dengan kata ’Kalian pasti tak punya uang’ tapi ia selalu memberikan uang atau apapun itu. Ia juga akan mengambil beasiswa yang diberi oleh Keyna kok.
Kaki Darren dan lainnya menginjak rumah sakit itu nanar, mata mereka menatap bangunan yang Nampak tua dan mengerihkan didepan mereka itu, tahh. Yak seindah yang orang lain fikirkan, itu hanya bangunan tua yang dibuat menjadi rumah sakit, entah karena tak terurus atau bagaimana tapi tak tau juga. Tapi didalam terjamin bersi dan steril kok tenang saja..
Daren mengenggam erat tangan Dara membuat Dara tersenyum berjalan menuju ruangan ayahnya berada… disana sungguh banyak orang yang berlalu lalang, mulai dari perawat, penjaga dan juga orang yang mungkin menjenguk keluarga atau kerabatnya membuat mereka tersenyum ramah saja. Iya ramah... tak seperti dulu yang wajahnya yang penuh dengan keangkuh itu.
Ketika masuk disana mereka dapat melihat pemandangan yang miris, mulai dari perawat yang membujuk orang yang sakit makan, ada yang memukul temannya dan tertawa sendiri, ada yang menggendong boneka dengan sneyumnya menina bobookannya layaknya anaknya membuat Dara dan lainnnya meneguk saliva kering..
“Balikin anakku…!! Balikin,. Jangan culik anakku..!” Dara terkejut dikalah tubuhnya ditarik oleh Daren karena seseorang berlari dari arah berlawanan sembari membawa boneka yang mirip bayi, dibelakangnya ada ibu ibu yang mengejarnya. Itu membuat Dara terkejut dan juga cemas, jantungnya bahkan hamper jatuh terasa melihat ibu ibu yang mengenakan baju rawat itu menatapnya tajam.
Dan disana mereka disuruh untuk mengikuti perawat yang baru saja lewat itu membuat mereka mengangguk menguikuti arah jalannya, mereka harus melewati jalan dimana melewati taman dan juga orang orang disana. Ternyata disana ada ratusan orang yang sakit jiwa. Bahkan ada yang mau membuka bajunya namun ditahan pleh suster yang ada disana dengan nanar.
“Ini Tuan ruanganya..”Ujarnya suster didepanya Riko itu membuka satu pintu yang tak lain adalah ruangan ayahnya. Riko dan lain mendekat lalu menatap kedalam bagaimana keadaan ayah mereka disana, apakah itu benar ayahnya.
Duhgh… mereka terkejut dikalah melihat ayah mereka yang dirantai dengan rantai besar , mata menatap kelangit dengan nanarnya dan bagaikan mayat hidup.”Papi..”Gumam Dara dengan nanar mendekati ayahnya yang disana bagaikan orang yang mati saja.
diikutiu dengan Daren dan juga Riko dari belakang menatap ayah mereka dengan gemetar,. Dibelakangnya ada suster disana menatap mereka yang menangis itu.” Jika boleh tau, kalian siapa nya pasien ya?” Tanyanya dengan lembut, biasalah suster yang berekrja disini memang lembut dan juga sabar biasanya.
Riko menatap suter itu nanar.”Kami anaknya sus.”Jawabnya dengan sendu menatap ayahnya yang terbaring kaku itu.”Ini ayah saya kenapa dok? Perasaan kemarin tidak separah ini? Apa dia haruys dirantai dan diikat begini? Saya lihat diluar sana banyak yang berkeliaran dan juga main dengan yang lain. Kenapa ayah saya tidak dibuat adil sus..”Ujarnya dengan marah disana, mengepalkan tangannya dengan kuat.
__ADS_1
Suster itu terkejut dibuatnya menatap Riko. Kenapa ia yang dibentak? Apa salahnya? Ia meneguk saliva kering lalu menjawab.” Maaf tuan.. tapi saya tidak tau jika tuan tuan dan nona itu adalah anak dari pak Handi..!” Ujarnya dengan sopan disana.”Dan kami tidak bisa membiarkan dia keluar dengan bebas karena beliau berbahaya pak.. karena ayah kalian sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali dan membunuh rekannya yang lain juga beberapa kali ..”Jelasnya disana lagi.
Daren dan Riko menatap suter itu nanar.” Maksud suster apa?” tanya Riko marah.” Kenapa ayah saya jadi gini sus? Kemarin ayah saya tidak begini, apa yang kalian lalukan dengan ayah saya..!!” Teriaknya lalu mendorong bahu suster itu. Suster itu mundur dibuatnya.
Daren turun dengan menahan Riko disana.”Riko tenang..!! jangan emosi.. tenang.. Tanya dengan baik baik..!’”Ujarnya menenangkan kakaknya itu.”Ini salah kita, kita yang tidak pernah menjenguk papi, kita yang enggak pernah nanya kabar papi, mungkin karena kita juga papi kayak gini, dia defresi karena kita enggak ada disampingnya disaat dia sedang butuh..” Ujarnya kepada Riko itu menyadarkan.
Riko mengusap kepalanya kasarmr menatap nanar sembarang arah membuat suster itu meneguk saliva kering dan pergi dari sana. Bagaimana bisa ia masih disana, bisa bisa ia dijadikan samsak karena kesedihanya Riko batinnya.”Mau kemana? Kamu masih tetap disni..!” Ujar Riko membuat ia memejamkan matanya takut dan berhenti disana nanar.
Daren mengusap kepala ayahnya itu lembut lalu berbisik”Papi ayo liat kami. Kami datang loh liat papi.. ayo papi liat kami. Maafin kami baru datang ya..”Ujarnya nanar kepada ayahnya itu, ia mengusap rahang ayahnya yang sudah penuh dengan jambang itu. Ia mengusap air matanya yang jatuh disana.
Tak ada respon membuat Daren dan Dara menangis ayahnya disana, mengusap tangan ayahnya yang diinfus itu nanar. Riko memukul dinding karena tak kuat melihat keadaan ini, baginya ayahnya adalah pahawanya, hidupnya. Ia mendongak supaya air matanya tak jatuh..
Namun suara suter itu membuat mereka menatap keasal..” Ke kenapa kalian tidak pernah menjenguk? Kakak kalian sepertinya sering menjengik ayah kalian disini.. dia juga sering memberikan makanan dan lainnya disini,,,”Ujarnya disana.
Daren dan Riko saling tatap disana. Kakak mereka? Fiko? Apa iya? Tapi kok dia tidak bilang? Tapi akhh kok janggal ya?
“ Siapa? Fiko kah?” Tanyanya membuat suster itu menggaruk lehernya yang terasa gatal itu. Mengingat siapa yang selalu datang itu dan namanya.
”Saya lupa tuan, tapi ciri cirinya dia tampan dan putih, matanya juga tajam dan mengerihkan.”Ujarnya gugup.
Riko mengerutkan kening, siapa itu? Tapi suara suster itu kembali mengintruksi mereka.” Saran saya bagi kalian untuk bisa datang kesini supaya bisa mengajak komunikasi kepada bapak Handi, saya rasa dia kesepian disini dan membutuhkan kalian disampingnya, kalian harus ada untuk mensupornya..”Ujarnya..”Kadang saya suka kasihan dengan beliau, sebab yang lain aka nada saudara atau keluarga yang menjenguk, sedangkan dia selalu diruangan yang penuh dengan kesedihan dna juga seram seperti ini.”Ujarnya dengan gugup.
“Beliau juga sering mengigau dengan sebutan.. Maafkan saya nak, maafkan saya Keyla.. saya tidak tau itu siapa tapi ia selalu menangis dengan menyebut nama itu.. saya rasa dia orang yang penting bagi bapak sampai sampai dia memukul dirinya sendi------rrii.” Ia tertegun ketika melihat Handi yang menoleh menatapnya dan lainya dnegan tatapan nanar itu ketika nMa Keyla disebut sebut.
“Keyla?” Tanyanya nanar membuat Daren dan lainya mendkat kepada ayahnya itu. Handi sdisana tersneyum menataps emua orang.”Dimana Keyla? Dimana anak saya? Nak maafkan ayah nak.. KEYLA MAAFKAN PAPI NAK..!!” Teriaknya kuat sampai brangkar itu goyang.
“Papi jangan gini..!” Teriak Dara memeluk ayahnya itu kuat. Mengusap dada ayahnya menenangkan.”Disini ada Dara pi, disini ada Dara, jadi papi jangan gini ya Pi. Dara sayang papi..!” Ujar Dara dnegan nanarnya kepada ayahnya itu.
__ADS_1
“ Keyla?” itu membuat Dara tertegun, papinya memanggilnya dengan nama Keyla, ia menatap papinya yang menatapnya dengan air mata pilu itu, tubuh ayahnya sudah kurus kering tak terawatt, bahkan bauh ayahnya amis dan juga tak sedap., apalagi bauh mulut ayahnya, tapi itu semua bukan masalah bagi mereka.
"Keyla? maafkan papi..:” Ujarnya nanar disana namun serak.”Kamu masih hidupkan? Kamu maukan maafin papi nak? Kamu anak papi..”Ujarnya berulang ulang membuat Dara menahan hatinya...