
Setelah Gus Rokhim pergi ke masjid himma buru - buru melaksanakan sholat subuh.Tapi sama sekali sholatnya tak kusuk.
Hanya kekhawatiran terhadap putranya.
Himma segera melepaskan mukenanya usai salam ia pun tak berdzikir.
Himma melemparkan asal mukena itu.
Kini ibu muda itu memeriksa kembali putranya di dalam Box bayi.
" Sayang kenapa kamu tak bangun hmm."
Himma mengusap lembut pipi bayinya.Namun betapa terkejutnya himma ketika merasakan panas pada kulit baby Akmal.
Sekali lagi Himma memeriksa suhu tubuh anaknya dengan menyentuh keningnya.
" Astaghfirullah kamu demam sayang, badan kamu panas sekali.Tunggu ya Bunda kompres dulu." Himma berjalan tergesa-gesa menuju dapur.
Himma membawa sebaskom air dingin dan mengambil handuk kecil untuk mengompres si bayi.
__ADS_1
" Mas Akmal demam mas." Himma memberitahu suaminya itu ketika sang suami sudah kembali dari masjid.
" Tapi kenapa dia tidak rewel ya , padahal badannya panas banget loh mas."
Gus Rokhim mendekat lalu memeriksa tubuh bayinya.
" Iya sayang ,apa dia belum juga minta Asi...?" tanya Gus Rokhim ikutan panik.
" Sama sekali belum mas."Mata himma sudah berkaca-kaca
" Aku telfon dokter Anita saja ya sayang,biar dia datang kesini." Gus Rokhim mengambil Hpnya yang ada di atas nakas.
Lima belas menit akhirnya Dokter Anita datang kerumah mereka.Dokter Anita adalah dokter spesialis anak yang bekerja di rumah sakit Gus Rokhim.
" Saya kasih Obat pereda panas dan nyeri ya juga vitamin.Jangan lupa beri makan dulu sebelum minum obat.Dan jika dalam dua hari masih demam juga tolong bawa kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut." Kata dokter Anita
" Terima kasih Dokter." Kata Gus Rokhim
Himma merasa tidak puas dengan hasil pemeriksaan dari dokter itu.
__ADS_1
Entahlah himma merasa anaknya itu tak baik - baik saja,tapi dia berusaha menepis perasaan itu.Semoga saja ini hanya kekhawatiran yang berlebihan saja.
Dua hari telah berlalu demam pada tubuh Baby Akmal memang sudah menurun tapi tubuhnya semakin lemah, nafsu makan putranya itu juga menurun.Bahkan baby Akmal pun sering menolak jika di beri Asi.
" Mas aku mau bawa baby Akmal periksa sekarang juga." Kata Himma sambil menggendong putranya dengan kain gendong.
" Sayang bukankah panasnya sudah turun hmm?" Tanya gus Rokhim yang sedang bersiap untuk berangkat kerja.
" Iya mas, panasnya memang sudah turun tapi dia masih sangat pucat dan lemas.Aku takut ada penyakit yang serius pada tubuh anak kita." Ucap Himma
" Baiklah kita periksakan Baby Akmal secara intensif ya sayang." Akhirnya Gus Rokhim mengalah tak mau berdebat tentang kekhawatiran Himma.
Mereka pun berangkat kerumah sakit bersama.
" Sayang,aku mohon jangan terlalu khawatir,putra kita pasti baik - baik saja." Ucap Gus Rokhim didalam mobil.
" Kita ke dokter anak saja ya." Himma masih diam ,entah kenapa rasanya dia ingin sekali marah mendengar kata " Jangan khawatir yang berlebihan." Sungguh kemana perginya Gus Rokhim sebagai suami yang peka saat ini.
" Sayang,apa kamu marah ...?" Tanya gus Rokhim melihat himma diam saja
__ADS_1
" Aku cuma gak mau berdebat mas, kamu selalu bilang padaku jangan khawatir tapi aku sangat khawatir meski Panas Akmal sudah turun,tapi dia sangat pucat dan lemas,bahkan nafsu makannya turun ,sampai dia tak mau aku susui.Aku Sangat takut." Kata himma dengan mata berkaca-kaca
" Ok maafkan aku sayang." Gus Rokhim meraih tangan himma dan mengecupnya singkat.