
Setiap episode kehidupan yang kita miliki adalah skenario Allah ,kita hanya perlu yakin bahwa setiap episodenya akan berakhir indah.
Tak peduli saat ini kita sedang sedih, kecewa,terluka, gagal atau bahkan kehilangan sekalipun karena pasti setelahnya Allah ganti dengan yang lebih indah dan lebih baik.
Sayup-sayup terdengar suara Adzan subuh dari masjid yang terletak tak jauh dari Rumah sakit.
Gus Rokhim membuka matanya dengan perlahan.Tubuhnya terasa sangat pegal ,tanganya pun kebas sampai mati rasa ,karena semalaman dirinya tidur sambil duduk dengan Baby Akmal didalam gendongannya.
Gus Rokhim berusaha untuk merenggangkan otot- ototnya perlahan agar tak mengganggu tidur bayinya itu.Perlahan dia turunkan Baby Akmal karena dia harus berhajat dan menunaikan sholat subuh.
Pelan ...pelan dan akhirnya sang bayi bisa juga di tidurkan diatas ranjang pasien.
cup
" Sayang bangun ,ayo sholat subuh dulu." Gus Rokhim membangunkan Himma yang masih terlelap di sofa.
" Bagaimana anak kita mas, maaf aku ketiduran.!" Himma sangat menyesal karena telah tertidur dan tak bisa menggantikan suaminya menggendong Anaknya semalam.
" Gak apa - apa sayang,ayo sholat subuh dulu.!' Ajaknya
" Aku masih halangan mas." Jawab Himma
" Baiklah kalau begitu aku bersih - bersih dulu ya.!" Gus Rokhim masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Didalam musholla Rumah sakit , Gus Rokhim menengadahkan kedua tangannya lalu berdoa kepada sang pencipta,sang Maha penguasa, raja dari segala raja.
" Ya Allah Ampunilah segala dosaku dan dosa orang - orang yang aku sayangi,Ya Allah berikanlah kesembuhan kepada anakku Akmal."
" Hanya Kepadamu Ya Allah aku meminta."
Tangis Gus Rokhim pecah diatas sajadah,tiada daya dan upaya selain meminta Kepada sang Maha Kuasa.
Usai sholat subuh di mushola rumah sakit Gus Rokhim tidak langsung kembali kedalam kamar dia berjalan menuju luar rumah sakit untuk mencarikan makanan buat himma dan juga dirinya.
Gus Rokhim menerka jika istrinya itu pasti belum makan apapun sejak kemarin.Dia tau betul jika dalam keadaan sedih seperti ini himma pasti lupa untuk makan.
" Sayang...!" Panggil Gus Rokhim,saat tak melihat himma didalam ruang perawatan Bay Akmal.
" Mas belikan bubur buat kamu sayang." Ucapnya sambil meletakkan kantong keresek berisi bubur kacang hijau hangat yang baru saja dibelinya di depan rumah sakit.
" Mas bisa minta tolong buat belikan aku pembalut gak, pembalutku udah habis." Himma meminta tolong kepada Gus Rokhim untuk membelikan pembalut untuknya.
" Tentu sayang tapi kamu makan dulu ya,mas tau pasti kamu belum makan sejak kemarin."
" Tapi aku gak lapar mas."
" Kamu harus makan Sayang, tolong demi anak kita , bukankah dia masih butuh asi Kamu hmm.kalau kamu gak mau makan gimana ada asi sayang." Gus Rokhim membujuk himma agar mau makan.
__ADS_1
Meski Baby Akmal nafsu makannya menurun bukankah dia masih butuh Asi yang dimasukkan melalui alat.
Meski dengan terpaksa Himma akhirnya mau makan juga.Walaupun dia tak merasakan enak.Gimana mau makan dengan enak jika melihat keadaan putranya yang terbaring lemah dengan alat - alat penunjang kehidupan terpasang pada tubuh kecilnya.
" Sudah mas." Bubur itu Akhirnya habis juga.
" Alhamdulillah." Gus Rokhim tersenyum melihat himma akhirnya mau menghabiskan makanannya.
" Habis ini mas mau pulang dulu mengambil beberapa keperluan kamu sayang." Kata Gus Rokhim, melihat keadaan Himma yang belum ganti baju sejak kemarin.
" Tapi mas jangan lama-lama ya ,aku takut terjadi sesuatu pada anak kita...!" Lagi firasat ibu satu ini merasa akan ada sesuatu hal yang buruk.Tapi semoga semuanya baik - baik saja.
" Iya sayang, mas gak akan lama." Gus Rokhim memeluk Himma agar istrinya itu sedikit lebih tenang, dia tak berani membantah kekhawatiran himma lagi ,saat ini Gus Rokhim sudah sadar akan kesalahannya yang meragukan firasat istrinya itu.
" Mas harus cepat kembali kesini." Ucap Himma ,dia mengeratkan pelukannya seakan tak mau ditinggal.
" Sayang,hei...kenapa menangis...?" Tanya gus Rokhim
" Gak apa - apa pergilah Mas.!"
Gus Rokhim pun pergi meninggalkan kedua orang beda usia itu .
" Ya Allah lindungilah kami." Batin Himma
__ADS_1