
Himma sadar dari pingsan sesaat setelah dia baru saja mendengarkan suara bisikan dari Gus Rokhim.Suara itu seperti sebuah semangat baru bagi Himma.
Meski saat ini dia tau bahwa anaknya telah tiada tapi setidaknya dia harus tetap kuat.Demi menunggu sang suami kembali.
Tak ada yang tau dimana keberadaan Gus Rokhim saat ini.Apa yang terjadi pada suami Himma itu.
" Dek Himma ." Gus Rohman bergumam lirih sangat lirih agar tak ada yang mendengar suaranya.
Mendengar jeritan pilu dari Himma sebuah nama yang masih tersimpan jauh dari dalam lubuk hatinya,rasanya dia ingin mendekat dan mendekap tubuh yang semakin kurus itu.Hatinya sakit sesakit saat dia melihat himma menangis karena dia menikah dengan wanita lain yang tak lain adalah sahabat himma sendiri padahal dia sudah berjanji akan datang untuk himma.Tapi mau bagaimana lagi karena takdir berkehendak lain.
Mau bagaimana pun Gus Rohman harus menahan rasa ingin mendekap dan menenangkan Himma,karena jika itu dia lakukan maka akan ada hati lain yang akan tersakiti.Gus Rohman hanya bisa memandang himma dengan pilu.
" Umi putra ku telah pergi, dan mas Rokhim tak tau dia dimana sekarang.Kenapa semua orang meninggalkan aku Umi.Apa salahku...?" Tangis himma lagi - lagi pecah.
Umi memeluk tubuh menantunya itu.Dan semua orang yang ada disana diam tak ada yang berani membuka suara.
Melihat keadaan Himma saat ini Ulfa sebagai sahabat meski dia sempat cemburu tapi dia pun ikut merasakan hingga dia menangis.
__ADS_1
" Himma dengarkan Umi.Tak ada yang meninggalkan kamu nak.Untuk Putra mu mungkin Allah lebih sayang padanya jadi dia akan menempatkan Akmal ditempat yang indah bersama - nya." Umi berusaha menenangkan Himma.
" Lalu dimana suamiku Umi ,apa yang terjadi dengannya,aku takut ,aku takut terjadi sesuatu padanya." Pilu sekali mendengar tangisan Himma.
Karena tak kuat Gus Rohman pun keluar diikuti oleh Abah.
Sementara Jenazah Baby Akmal sudah di urus oleh kedua santri senior yang datang bersama Abah tadi.
" Abah, semuanya sudah siap tinggal mensucikan Jenazah baby Akmal." Salah satu santri melaporkan bahwa baby Akmal siap untuk dimandikan.
" Himma , Apakah kau sanggup memandikan Baby Akmal....?" Tanya Abah dengan sangat lembut .
" Ya Abah ,saya memang harus kuat.Karena saya ibunya." Jawab Himma sembari menetralkan perasaannya dan menghapus sisa air matanya.
" Ingat Nak ,tahan air matamu ya jangan sampai kau menangis." Ucap umi mengingatkan Himma agar tak menangis saat memandikan jenasah putranya itu.
Himma dituntun Umi dan Ulfa menuju ruang kremasi.
__ADS_1
" Bismillahirrahmanirrahim.....!" sebisa mungkin himma menahan air matanya agar tak menetes diatas jenazah putranya yang ada meja kremasi.
" Umi saya tidak sanggup Umi." Akhirnya Himma tak sanggup lagi untuk meneruskan kegiatannya itu.
" Iya Nak biar Umi saja." Akhirnya kremasi di ambil alih oleh Abah dan Umi.
".Dek Himma....!"Tangan Gus Rohman terulur ingin menyentuh himma,tapi dia urungkan karena sadar akan posisi mereka.
" Hiks.... Sayang Bunda iklas melepasmu.Meskipun belum sempat bunda berkorban buat kesembuhanmu nak.Pergikah dengan tenang.Allah lebih sayang padamu." Himma terduduk kursi besi yang berada diruang kremasi.Kedua tanganya menangkap dimukanya yang semakin tirus.
Rasa lelah letih dan lapar tak ia hiraukan.Fokusnya kini hanya pada Putranya yang sudah selesai di sucikan dan masih dikafani.
" Himma kamu harus kuat." Ulfa datang dan memeluknya dari samping.Sementara Gus Rohman hanya diam berdiri bersandar pada tembok.
Sungguh tidak iklas rasanya melihat himma seperti ini.Tapi apa yang harus dia lakukan buat wanita itu.
Gus Rohman hanya bisa berdebat dengan hatinya.
__ADS_1