
Waktu begitu cepat berlalu.Siang menjadi malam ,malam pun berubah lagi menjadi siang dimana orang - orang kembali beraktivitas seperti biasanya.
Hari berganti menjadi Minggu , Minggu pun menjadi bulan.Saat ini Empat bulan telah berlalu.
Kehidupan Himma dan Gus Rokhim semakin bahagia,meski mereka sempat diterpa ujian dengan kematian putra Meraka,Lalu menghilangnya Gus Rokhim serta Himma yang sempat terganggu mentalnya.Terakhir godaan dari seorang pria yang lebih segalanya dari Gus Rokhim berusaha untuk menggoda Himma dengan menawarkan harta serta tahta.
Namun semua itu tak membuat mereka menyerah begitu saja.Himma dan Gus Rokhim mati - Matian memperbaiki semua itu dengan do' a dan usaha serta dengan kekuatan cinta mereka.
Memang sebagai manusia biasa kita hanya harus iklas dalam menerima takdir.
" Huek....Huek...Huek..." Pagi ini setelah sarapan himma merasakan mual dan memuntahkan semua isi perutnya.
" Sayang kamu baik - baik saja...!" Gus Rokhim ikut berlari dibelakang himma ketika himma berlari menuju wastafel yang berada tak jauh dari ruang makan.
Himma tak menjawab tapi dia terus saja muntah Sampai hanya air yang berwarna kuning dan rasanya begitu pahit yang bisa dia keluarkan dari perutnya.
" Sayang,kita kerumah sakit ya...!" Gus Rokhim begitu khawatir dengan keadaan wanitanya itu.
Himma berkumur lalu mengusap mulutnya dengan ujung jilbabnya karena tak ada tisu maupun handuk disana yang ada hanya handuk untuk mengeringkan tangan.
__ADS_1
Lalu himma berbalik dan menatap sang suami sambil tersenyum penuh kebahagiaan.Gus Rokhim yang khawatir hanya bisa mengernyitkan dahinya melihat ekspresi dari istrinya itu.
" I' Have pregnant mas." Bisik Himma meski tak berbisik tepat ditelinga Gus Rokhim,karena perbedaan tinggi mereka sehingga Himma tak sampai untuk menjangkau telinga suaminya meski dengan berjinjit sekali pun
" Hah...are you seriously...?" Tanya gus Rokhim masih belum yakin.Dan himma hanya mengangguk dan mengambil sesuatu dari kantong gamisnya.
" Ini..." ucap Himma .Gus Rokhim menerima sebuah testpack dan melihat ada dua garis biru disana.
" Sayang ini bukan mimpi kan...?" Tanyanya lagi untuk memastikan.
" Sini ." Himma meminta Gus Rokhim untuk menunduk agar wajah mereka sejajar.
Tentu saja Gus Rokhim tak mau rugi dengan hanya dikecup saja.Tanganya segera menahan tengkuk himma dan bibirnya sudah bergerak aktif melahap bibir manis milik Himma.
" Ih mas aku gak bisa bernafas tau." Protes Himma sambil mendongakkan tubuh dua itu.
" Maaf sayang." Sesalnya sambil menggaruk tengkuknya sendiri.
" Apa mas senang...?"
__ADS_1
" Tidak "
" Apa maksud mas...?"
" Tidak hanya senang tapi sangat - sangat senang sayang.Terima kasih." Ucapnya sambil mengangkat tubuh Himma dan membawanya berputar - putar.
" Eh...eh...eh.." Himma yang kaget pun langsung berteriak dan memeluk leher Gus Rokhim dengan erat.
" Aku bahagia sayang,aku bahagia...!"
" Mas aku pusing tau...!" protes Himma ,meski bahagia kalau diajak berputar begini siapa coba yang tidak pusing.
" Maaf ..." Gus Rokhim berhentilah dan menurunkan himma lalu mengajaknya untuk duduk dikursi makan.
" Huek..." Himma kembali mual saat melihatmu makanan yang masih tersisa di atas meja.
" Sayang." Gus Rokhim kembalikan khawatir
" Aku mual liat semua ini mas." Himma menjelaskan kepada Gus Rokhim jika dia akan mulai bila melihat makanan diatas meja itu.
__ADS_1
" Baiklah kita duduk diruang tengah ya." Ucapnya dan membimbing himma untuk pindah keruang tengah.