
" Sayang... bertahanlah, sebentar saya kita akan sampai...." Ucap Gus Rokhim kepada Himma yang semakin mendesis , merintih.
Gus Rokhim menghentikan mobilnya tepat didepan pintu masuk rumah sakit.Dia segera turun dan mengangkat tubuh himma yang sudah lemas serta pucat pasi.Masuk kedalam rumah sakit,dia tak peduli jika posisi mobilnya itu menghalangi orang lain untuk masuk kedalam rumah sakit yang ia pedulikan saat ini adalah istrinya.
" Suster tolong...tolong istri saya." teriaknya dengan panik saat sudah masuk di lobi rumah sakit.
Melihat Gus Rokhim,para perawat yang sedang berada di sana segera menghampiri sambil membawa brankar siaga.Gus Rokhim segera merebahkan tubuh himma diatas brankar itu serta ikut mendorongnya menuju UGD.
" Tuan tunggu diluar ya...!" perintah perawat menutup kedua pintu UGD.Tanpa melawan Gus Rokhim berhenti di depan pintu yang ditutup oleh perawat itu.Sebagai seorang dokter tentu dia tau akan hal itu meski cemas dengan kondisinya Himma tapi memang seperti itulah prosedur rumah sakit.
Gus Rokhim mondar-mandir didepan pintu UGD .Sudah lima belas menit berlalu tapi pintu itu belum juga terbuka, rasanya dia ingin mendobrak pintu itu agar dia bisa melihat secara langsung apa yang terjadi dengan istrinya itu.
" Ya Allah... selamatkanlah istri dan anak ku...!"Gus Rokhim hanya bisa berdoa dari luar.
" Dokter .... bagaimana...apa yang terjadi dengan istri saya...?" Tanyanya saat melihat dokter keluar dari UGD.
Sang dokter yang melihat betapa paniknya Gus Rokhim hanya tersenyum.
" Istri Anda baik - baik saja Pak, janganlah khawatir hanya kecapaian dan strees saja.Setelah sadar tolong bawa ke bagian Obgyn ya,untuk memastikan jika semuanya baik." Jawab dokter membuat Gus Rokhim merasa lega.
" Saya permisi"
__ADS_1
" Terima kasih dok...." Gus Rokhim bisa tenang sekarang dia pun masuk keruang UGD dan berjalan menuju disebuah kursi yang terletak di samping Brankar dimana Himma masih menutup mata.
Sebelum duduk dia mengecup kening Himma dengan sayang.
Ya himma hanya capek dan shock,karena melihat dengan mata kepalanya sendiri Ibu Khusnul meninggal,karena selama ini belum pernah sekalipun himma melihat seseorang meninggal dihadapanya.
" Sayang kamu sadar...?" Tanyanya melihat himma membuka matanya perlahan.
" Mas..kita.dimana....?" Tanya Himma sambil menelisik setiap sudut.
" kita dirumah sakit sayang ,tadi kamu pingsan." Gus Rokhim meraih tubuh lemah himma masuk kedalam pelukannya.Dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang serius dengan istri beserta anaknya.
" Tadi perut kamu kesakitan sayang terus kamu pingsan jadi aku bawa kemari,aku takut terjadi sesuatu dengan kalian." Ucapnya seraya mengusap perut himma yang masih rata.
" Mas aku pengen ketemu sama Khusnul,apa kita boleh pulang sekarang.." Tanya himma entah kenapa dia ingin sekali memeluk kakak iparnya itu sekarang.
" Kita tunggu infusnya habis dulu ya sayang." Sebagai seorang dokter tentu Gus Rokhim tau jika mau pulang setidaknya cairan infus itu harus habis dahulu.
" Aku lapar....!" Rengek Himma
Gus Rokhim tersenyum lalu mengecup kening dan terus ke bibir sang istri,dia begitu gemas melihat istrinya merengek manja seperti ini.
__ADS_1
" Mau makan apa Hmmm....?" Tanyanya setelah menyudahi ciumanya.
" Makan rawon daging terus minumnya jeruk anget.Lalu mau nyemil lumpia basah." Himma menyebutkan makanan yang ada dalam otaknya.
"Tentu sayang apapun buat kamu istri ku ,cintaku, belahan jiwaku,tulang rusukku, bidadari surgaku."
" Stop....emang kenyang makan gombalan." protes Himma dengan cemberut.Mana kenyang perutnya makan gombalan dari sang suami.Gus Rokhim hanya terkekeh melihat himma merajuk.
Brtt ..brtt....
Getaran Handphone Himma menghentikan kekehan Gus Rokhim.Tanpa diminta Gus Rokhim mengambil Hp itu dari dalam tas kecil milik istrinya.Setelah itu Gus Rokhim menyerahkan benda pipih itu kepada istrinya.
" Assalamualaikum Mama....!" Ternyata panggilan itu dari sang Mama yang menanyakan keberadaan mereka.Sebab sejak dua jam yang lalu anak dan menantunya itu belum juga sampai dirumah.
" Maaf mama Himma dan mas Roy gak kasih kabar,kami dirumah sakit sekarang." Himma meminta maaf kepada sang mama karena membuat keluarga nya khawatir.
" Gak apa - apa kok himma cuma kecapean aja.Nunggu infusnya habis dulu ma baru boleh pulang." Himma menjelaskan kepada sang mama.
" Tapi himma lapar ma pengen makan Rawon, lumpia basah dan minum jeruk anget." Rangek himma kepada mamanya.
" Ok Himma tunggu ya ma." Mata Himma berbinar tatkala mendengar mamanya bersedia membawakan permintaannya itu.
__ADS_1
Setelah menutup panggilan itu himma mencibir sang suami,dia masih kesal karena permintaannya dikabulkan dengan gombalan.