Gus ROKHIM,Sang Penutup Luka

Gus ROKHIM,Sang Penutup Luka
BAB 93. Rencana Pulang


__ADS_3

Untuk para suami


jika istri mu sedang mengandung anakmu,bantulah dia dengan do'a dan pengertian.


Jika dia merasa dimengerti,maka dia akan merasa nyaman dengan kehamilannya.


Basa - basi pun dia terima


Kata - kata manis dan perhatian apapun yang enak didengar yang penting bukan caci maki dan kata yang menyakiti hati.


Ingat ya para suami ,yang dikandungnya adalah anakmu ,maka perlakuan lah dia dengan baik.


Dengarlah keluh kesahnya,bersabarlah menghadapinya.


Himma terbangun saat sudah berada didalam rupanya Gus Rokhim tak membangun Himma melainkan menggendong bumil itu dan menidurkankanya diatas ranjang kamarnya.


" Mas....!".panggil himma mencari keberadaan sang suami.


" Ya sayang mas disini." jawab Gus Rokhim yang sedang bersimpuh dilantai , rupanya lelaki itu baru saja seselai sholat ashar.


" Mas kok gak bangunin aku sih." Lagi - lagi himma merajuk kepada suaminya itu.

__ADS_1


" Maaf habis mas gak tega liat kamu pules banget sayang." Gus Rokhim berdiri lalu tangannya mengusap kepala himma yang sudah tak memakai hijab.


" Kamu sholat dulu ya sayang...!" Gus Rokhim meminta himma untuk sholat Ashar terlebih dahulu.Biarlah kali ini mereka tak jama'ah.


Sang istri pun patuh ,dia segera masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu sedangkan sang suami sudah menyiapkan mukena.Himma keluar dari kamar mandi dan melaksanakan sholat Ashar sendirian selesai sholat Ashar, seperti biasa Gus Rokhim selalu mendampinginya istrinya itu untuk murojaah .Kadang dia akan membetulkan hafalan himma jika ada kesalahan.


" Shodaqollahuladzim." Himma mengakhiri murojaahnya lalu meraih tangan Gus Rokhim untuk di ciumnya tanda baktinya kepada sang suami.


" Mas ..maafin aku ya sudah ngrepotin kamu." Akhirnya himma sadar akan kesalahannya tadi yang membuat suaminya kerepotan dengan tingkah lakunya sejak dia sadar dari pingsan.


" Gak ngrepotin kok sayang." Ucap Gus Rokhim sambil tersenyum.


" Kamu mau lagi,ayo kita beli sekarang karena yang tadi udah mas kasih ke anak - anak dijalan .Habis kamunya tidur." Gus Rokhim segera menjawab pertanyaan Himma,ya memang cilok yang tadi dia berikan kepada anak - anak dipinggir jalan.


" Oh aku udah gak berselera sih mas.yuk keluar aku mau liat menemui kakak ipar ku." Ajak Himma kepada Sang suami.


Himma dan Gus Rokhim keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan Kedua orang tua yang sedang bersantai diruang keluarga.


" Dimana kakak dan kakak ipar ....?" Tanya Himma kepada kedua orangtuanya


" Mungkin sedang istirahat,kasian Khusnul sejak kemarin dia belum tidur sama sekali." Jawab sang mama

__ADS_1


Gus Rokhim membantu Himma duduk di sofa disamping mama Humaira.


" Pa ,Ma bolehkah besok kami pulang ke kota J...?" Tanya Gus Rokhim berniat membawa sang istri untuk pulang kerumah mereka yang ada di kota J.karena dia dirinya sudah berada di sini selama tiga hari dan meninggalkan pekerjaan.Kali ini dia harus pulang bersama sang istri.


" Ehm ... sebenarnya kalau boleh biar Himma tetap disini beberapa hari lagi." Sebenarnya Mama masih enggan melepaskan himma


" Ma...jangan egois." Ucap Papa ,meski dia sendiri juga masih ingin himma tetap disini,tapi Papa Tau keadaan mereka.Gus Rokhim harus bekerja,dan menantunya itu jelas membutuhkan sang istri,jadi sebagai seorang ayah dia pun juga harus merelakan anaknya dibawa kemanapun oleh menantunya.


" baiklah Mama gak akan melarang kamu bawa himma pulang." Himma segera memeluk sang Mama,ia pun ikut merasakan sedih.Meskipun bagaimana pun sebagai seorang istri memang harus ikut kemanapun suaminya pergi.


" Ada apa kok sedih - sedihan kayak gini....?" Tanya Kana yang baru saja keluar dari kamarnya dan diikuti oleh Khusnul dibelakang.


Gus Rokhim mengatakan kepada kakak iparnya itu bahwa dia akan membawa Himma untuk pulang,karena sudah hampir dua Minggu Himma berada dirumah ini.Dan tak mungkin ia pulang sendiri tanpa membawa istrinya itu, apalagi sekarang himma sedang mengandung pasti kehadiran sang suami amat sangat dibutuhkan oleh Himma.


Sama seperti sang Mama rasanya Kana juga berat,tapi dia bisa apa dia hanyalah seorang Kakak yang tak lebih berhak daripada Gus Rokhim sebagai suami Himma.


" Kapan kamu akan bawa adikku pulang...?" Tanya Kana kepada Gus Rokhim yang sedang mengupas buah mangga untuk Himma.


" Rencananya besok pagi Bang." Jawab Gus Rokhim sambil menyerahkan potongan buah mangga di piring yang selesai dia kupas dan dipotong agar sang istri mudah memakannya.


" Makasih mas." Ucap Himma berbinar

__ADS_1


__ADS_2