Gus ROKHIM,Sang Penutup Luka

Gus ROKHIM,Sang Penutup Luka
BAB 134


__ADS_3

Gus Rohman hanya bisa pasrah pada keadaan dimana rasa cinta dan hasrat ingin melindungi himma begitu menggebu - gebu.


" Ya Allah hilangkanlah rasaku ini terhadap dek Himma." Gumam Gus Rohman


Ulfa menangis didalam kamar mandi.Tentulah dia sangat terluka mau bagaimana pun dalam kondisi apapun hati istri mana yang tidak terluka jika suami yang sangat dia cintai malah memikirkan wanita lain apalagi itu adalah sahabatnya serta keluarga sendiri.


Egois memang Ulfa pun sebenarnya tidak mau egois ataupun menyalahkan himma disini.Dia sadar sesadar sadarnya bahwa himma pun tak menginginkan keadaan seperti ini.Tapi dasarnya juga wanita selalu saja terbawa perasaan.


Didalam rumah Himma berlari keluar menuju pintu utama.Langkahnya begitu bersemangat himma sangat yakin jika hari ini Gus Rokhim pulang.Saat tertidur tadi dia bermimpi suaminya yang sangat dia rindukan itu datang dengan tersenyum.


Himma membuka pintu rumah tepat saat sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu gerbang rumahnya.


Himma berdiri terpaku dengan senyuman mengembang.


" Mas....!" Teriaknya saat melihat siulet Gus Rokhim turun dari mobil.

__ADS_1


Papa dan Mama yang mendengar teriakannya itu bergegas menyusul Himma keluar rumah saat pandangan mereka melihat apa yang dilihat Himma, tubuh mereka pun ikut membeku seakan tak percaya.


Papa dan Mama Humaira melihat menantunya yang keluar dari sebuah mobil mewah.Benar itu benar - benar Gus Rokhim suami dari putrinya yang seminggu ini tak ada kabarnya kini pria itu pulang.Tapi kenapa penampilan pria itu compang camping wajahnya kucel , dengan bulu - bulu tampak lebat diwajahnya.Sungguh berbeda dari biasanya, biasanya Gus Rokhim selalu berpenampilan bersih dan rapi.


Wajahnya pucat dengan kantung mata yang terlihat menghitam, sungguh penampilannya saat ini memperlihatkan jika dia tak baik - baik saja.


" Sayang...." Gus Rokhim menangkap tubuh Himma hingga mereka pun saling berpelukan dan menangis bersama.Saling menumpahkan kerinduan.


" Mas Kamu kemana saja mas,aku takut kamu meninggalkan aku sendirian seperti anak kita.Mas....maaf aku tidak bisa menjaga anak kita.Dia ....dia ...dia ah...dia Sudah meninggal mas.Anak kita sudah meninggal hiks...hiks..." Himma histeris.


Himma semakin histeris


" Mas , mas pasti marah padaku kan.Mas maaf ,maafkan aku.Jangan tinggalkan aku mas kumohon tetaplah disini." Himma meracau.


Himma melepaskan pelukannya dari tubuh sang suami lalu dia berlutut

__ADS_1


" Maaf kan aku mas, aku memang tak becus menjadi ibu." Tubuh Himma semakin lemas .Lagi - lagi papa Ahmad harus bertindak dia yang tadinya hanya diam kini berjalan mendekati anak dan menantunya.


" Roy ayo kita masuk , nanti Papa jelaskan apa yang telah dialami istrimu." Ucap papa dengan suara bergetar


" Pa ." Sebelum Gus Rokhim bertanya lebih banyak papa sudah mengangkat tubuh Himma dan bersiap membawanya masuk kembali kedalam rumah.


" Tuan silahkan masuk ,karena ada yang ingin saya sampaikan kepada Anda semua." Meski tak tau dan tak mengenal siapa orang yang mengantar menantunya itu Papa mempersilahkan mereka untuk ikut masuk kedalam rumah.


Mau bagaimana pun mereka adalah tamu yang harus di hormati.


" Ajak mereka masuk Roy." Pinta Mama Humaira.


Akhirnya mereka pun masuk kedalam rumah mengikuti Papa Ahmad yang menggendong Himma.


" Ma tolong ambilkan minyak kayu putih, sepertinya Himma pingsan lagi." Papa Humaira meminta tolong kepada Mama untuk mengambilkan minyak kayu putih untuk membangunkan Himma yang pingsan lagi.

__ADS_1


__ADS_2