
Setelah urusan dirumah sakit akhirnya jenazah baby Akmal bisa dibawa pulang dan disholatkan di pesantren serta akan dimakamkan di pemakaman keluarga besar pesantren.
Himma berjalan pelan dipapah oleh Ulfa dan Umi mereka pulang dengan dua mobil.Mobil satu dikemudikan oleh salah satu santri senior membawa Abah dan Gus Rohman beserta jenazah Bayi Akmal sedangkan mobil ke dua dikemudikan oleh Santri senior yang satunya lagi membawa Umi, Ulfa serta Himma disana.
Selama perjalanan pulang tak ada percakapan diantara mereka hanya kebisuan yang menemani mereka sibuk dengan fikiran masing - masing yang pasti mereka semua sedang sedih karena kepergiaan cucu ke dua Abah dan Umi serta memikirkan dimana dan ada yang terjadi dengan Gus Rokhim yang sampai saat ini masih belum juga belum diketahui keberadaannya.
Padahal Gus Rohman sudah melaporkan ke polisi meski melalui sambungan telepon.
Himma hanya bisa menangis didalam pelukan sang mama, ya sesampainya di kota ini keluarga Papa Ahmad langsung ke pesantren,mereka datang lebih cepat karena menyewa sebuah helikopter.
" Sayang kamu harus kuat.!" Ucap sang mama sambil mengusap punggung himma perlahan.
Sebenarnya Mama juga ikut menangis dengan kejadian ini,bukan hanya Mama Humaira tapi semua keluarga himma turut menangis apalagi Baby Akmal adalah kesayangan mereka.
Setiap ada waktu Baik mama Humaira dan papa Ahmad serta Kana bersama Khusnul selalu mengunjungi bayi bertubuh gembul itu.
__ADS_1
Tapi sekarang kesayangan mereka telah tiada,bayi yang dulunya gembul dan menggemaskan itu kini telah siap untuk dimakamkan di pemakaman keluarga yang lokasinya tak jauh dari pesantren.
Iringan doa menyertai pemakaman itu ,himma kembali terisak menyaksikan tubuh anaknya yang biasa merengek meminta menyusu itu kini ditutup dengan tanah.
Tangisnya semakin pecah kala Adzan serta talkin mayat di bacakan oleh Gus Rohman.Bukankah seharusnya Gus Rokhim sebagai ayah yang melakukan itu.Tapi...
Himma kembali pingsan tepat saat Gus Rohman selesai membaca Talkin karena posisinya dekat dengan himma.Sekali lagi Gus Rohman menangkap tubuh wanita rapuh itu.
Semua orang menghela nafas kasar , suasana yang mengharu kini berubah menjadi canggung .sebenarnya hal itu memang tak pantas tapi mau bagaimana lagi tak mungkin kan Gus Rohman membiarkan tubuh Himma jatuh diatas tanah.
Untuk menetralkan suasana akhirnya papa Ahmad maju untuk membopong tubuh Himma dari dekapan Gus Rohman.
" Sayang,bangunlah ada Mama disini nak." Mama membangunkan Himma dengan nada terisak.Sungguh Mama pun merasakan kesedihan yang mendalam.
Bayangkan saja kita kehilangan seorang anak karena menderita suatu penyakit, sedangkan kita belum sempat melakukan apapun terhadap anak itu terlebih lagi saat ini pasti peran dan dukungan dari suami sangat kita butuhkan.
__ADS_1
Beberapa kali mama dan yang lainnya berusaha untuk membangunkan Himma tapi himma tak kunjung sadar.
" Ma kita bawa saja Himma kerumah sakit, sepertinya dia kehilangan banyak nutrisi." Kana memberi usul sebagai seorang dokter tentulah dia sangat paham jika adiknya ini sangat membutuhkan bantuan medis agar tubuhnya kembali fit.
" Kita tunggu dia sadar dulu Ya." Jawab Mama
" Auh...." Himma membuka matanya yang terasa sangat berat , kepalanya terasa sangat pusing.
" Sayang." Mama Humaira membantu Himma untuk bersandar di headboard ranjang.
" Kak ,cari suamiku kak.Aku merasa saat ini suamiku sedang kesulitan.!" pinta himma kepada Kana.
" Ya sayang,kita sudah melaporkan ke polisi."
Mama Humaira memberi tahu himma jika mereka sudah melaporkan ke polisi
__ADS_1
" Cari Kak, tolong Carikan suamiku." Pinta himma semakin pilu.
Sebagai seorang istri tentulah himma merasakan firasat yang tidak enak.