
Tuan Lexi menarik Himma masuk kedalam ruangan VVIP yang terletak tak jauh dari toilet.
"Hei apa yang anda lakukan...?" Teriak himma
" Maaf ,maaf Nona ada yang ingin saya berikan kepada Anda....!" kata Tuan Lexi kepada Himma dengan sangat gugup
" Tapi kenapa harus disini ...?" Himma menghentakkan tangan tuan Lexi yang masih mencekal pergelangan tangannya.
Tuan Lexi mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dan menyerahkannya kepada Himma
" Nona ,saya mencintai anda, saya jatuh cinta pada anda pada pandangan pertama.Maukah anda menerima cinta saya.Setelah itu saya akan berikan apapun yang anda mau bahkan lebih banyak dari yang anda terima dari suami Anda.Aku mohon terimalah cinta saya." Tuan Lexi berusaha memohon agar Himma mau menerima perasaannya.
" Apa maksud Anda Tuan ,apa anda sedang menguji cinta saya pada suami saya.Maaf dengan sangat tegas bahkan tanpa ragu sedikitpun saya nyatakan" SAYA MENOLAK TAWARAN ANDA." Tak ingin berbasa-basi Himma dengan tegas menolak perasaan dari pria bule itu.
" Yah Nona saya sangat mencintai anda.Tolong janganlah tolak rasa ini Nona aku mohon."
__ADS_1
". Terimalah ini Nona,Aku mohon."Sekali lagi Tuan Lexi memohon pada Himma.
" Maaf Tuan , biarkan saya pergi." Tegas Himma dengan sorot mata yang sangat tajam
Penolakan dari Himma membuat Tuan Lexi semakin merasakan penasaran terhadap wanita itu.Tanpa disangka dan tanpa di duga Tuan Lexi melahap bibir Himma dengan kasar.
Mata Himma terbelalak,dia semakin membenci pria Italia itu.Dengan amarah yang sudah memuncak himma pun menendang bagian sensitif pria itu.Tentulah Tuan Lexi melepaskan tautan bibir itu.Pria itu meringis sambil memegang bagian bawahnya yang baru saja ditendang oleh wanita mungil di hadapannya itu.
" Anda sangat kurang ajar Tuan.saya bukan wanita murahan seperti yang anda kira." Nafas Himma tersengal.
" Ingat sampai kapan pun saya tak pernah Sudi menerima anda meski nyawa anda berikan kepada saya.Ingat tuan mulai detik ini juga saya sangat membenci anda." Himma melangkah ingin meninggalkan pria itu.
" tunggu Nona ,cinta saya tulus untuk anda...!" pria itu menahan tangan himma
Himma tersenyum sinis.Senyuman itu begitu menakutkan membuat nyali si Bule semakin menciut.
__ADS_1
" Tulus anda bilang ,hei Tuan tau kah anda definisi tulus....?" Ucap Himma menyipitkan matanya
" Cinta tulus itu tak pernah memaksakan kehendaknya sendiri ,apa lagi memaksa saya untuk menghianati suami saya.Apa anda tau suami saya bahkan seratus kali lebih tulus dari anda.Sekali lagi tuan harus ingat meski anda berikan dunia dan seisinya buat saya.Sampai mati pun saya tak akan pernah menghianati suami saya." Himma merapikan hijabnya yang berantakan lalu melepaskan tangan kekar Tuan Lexi dengan kasar.
" Permisi tuan terimakasih atas jamuan anda." Himma berusaha menetralkan gejolak hatinya.
Sebenarnya ingin sekali dia marah dan menghajar pria kurang ajar itu namun mengingat bahwa semua itu hanya akan memperburuk suasana maka himma pun urung melakukan hal itu.
" Terima kasih sayang aku juga sangat mencintaimu." Tiba - tiba Gus Rokhim datang.Awalnya Gus Rokhim ingin menyusul Himma dikamar mandi namun saat berada di depan ruangan itu langkahnya terhenti karena mendengar seseorang merintih dan ternyata suara itu adalah suara Tuan Lexi yang baru saja ditendang oleh Himma dan untuk memastikan apa yang terjadi Gus Rokhim pun berdiri didepan pintu ruangan yang sedikit terbuka.
Gus Rokhim tak melihat Himma karena tubuh istrinya itu tertutup oleh tubuh tuan Lexi.
Setelah mendengar suara himma barulah Gus Rokhim tau jika pria bule yang telah menjadi temannya itu kini sedang terlibat adu mulut dengan istrinya.
" Mas...." Lirih Himma dengan mata berkaca-kaca.Himma merasa bersalah terhadap suaminya itu.
__ADS_1