Gus ROKHIM,Sang Penutup Luka

Gus ROKHIM,Sang Penutup Luka
BAB 146


__ADS_3

Kini bulan pun telah berganti tahun.


" Bunda , apa kita mau kemakam kakak Akmal..?" Tanya seorang gadis remaja berusia 12 Tahun.


" Ya sayang ,Tapi kita jemput kakak Aufar dulu ya di lapangan.Baru setelah itu kita ke tempat kakak Akmal." Himma yang sedang menyetir berbicara sambil tersenyum.


" Ayah bagaimana Bun,apa tidak ikut kit kesana...?" Tanya gadis cantik itu.


" Hem iya ya ,apa dari lapangan kita kerumah sakit buat jemput ayah dulu aja..?"


" Iya Bun ,jadi kita bisa ke sana berempat.Biar kakak Akmal lebih senang kan kita jadi lengkap." Gadis dengan perpaduan wajah antara himma dan Gus Rokhim itu mengajukan ide.


" Kamu benar sayang..." Himma membelokkan mobilnya menuju lapangan dimana putranya Yang bernama Aufar As - Syarif itu sedang berlatih sepakbola.


Ya dua belas Tahun yang lalu himma melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan yang kini telah beranjak dewasa.

__ADS_1


Aufar lahir sepuluh menit lebih awal dari adiknya yang Bernama Aira Putri As- Syarif .Mereka berdua sama-sama mewarisi wajah perpaduan himma dan Gus Rokhim.


Aufar tumbuh menjadi seorang remaja yang sangat tampan.Memiliki mata indah dan bibir seperti Himma dan memiliki tinggi serta hidung mancung seperti Ayahnya.


Sedangkan Aira tumbuh menjadi seorang gadis canti berkulit kemerah-merahan seperti Himma dengan mata mirip ,hidung ,Serta beralih tebal mirip ayahnya.Dengan tingginya sedikit lebih pendek dibandingkan kakaknya Aufar.Jika Aufar sudah memiliki tinggi 158 cm lebih tinggi dari Himma maka Aira memiliki tinggi 155 cm setinggi himma diusianya yang masih 12 tahun.


Aufar dan Aira sama - sama sekolah dan mengaji di tempat uwaknya tapi tidak setiap hari mereka tinggal di pesantren hanya sesekali saja jika keadaan mendesak mereka untuk tetap tinggal beberapa hari.Dan diusia itu mereka sudah khatam dalam menghafal Al-Qur'an.


Aufar memiliki hobby sepak bola sedangkan Aira hobby nya adalah melukis.Keduanya sama - sama mewariskan suara indah milik sang ayah dan ibunya.Tapi Aufar lebih pendiam dari pada adik perempuannya itu.


" Sudah bunda." Jawab Aufar sambil mengecup punggung tangan ibunya itu.


" Hei Barbie." Sapanya kepada sang adik


Aufar memang memanggil sang adik dengan sebutan Barbie karena Aira sangat cantik.

__ADS_1


" Aira kakak Aira bukan Barbie." Aira manyun.Dia sangat tidak senang dipanggil seperti itu oleh sang kakak.


" Sudah ayo kita ketempat ayah." Himma melerai sebelum Aira lebih banyak bicara lagi.


Tak lama mereka pun sampai dirumah sakit ,dimana Himma lah CEO Nya meski tak secara langsung.Walaupun Rumah sakit itu atas nama himma tapi himma tak mau ikut campur didalamnya seperti kata himma dia hanya mau mentahnya saja wkwkwk


semua pegawai baik dokter maupun staf yang lain sudah sangat mengenal mereka bertiga.


Himma dan kedua anakku dikenal sebagai orang yang baik serta ramah,mereka pun tak segan menyapa keluarga direktur itu.


" Selamat siang ibu dan adek - adek!" Sapa mereka dengan sopan tentu saja tak ada acara membungkuk seperti pada cerita Di novel yang bergenre CEO.


" Selamat siang ." jawab mereka bertiga tak kalah ramah.


Sesampainya di depan ruangan yang bertuliskan Direktur mereka pun mengetuk pintu dan mengucap salam.

__ADS_1


" Assalamualaikum !" Ucap mereka bersama.


__ADS_2