
" Astaghfirullah haladzimm." Ulfa beristighfar
Dengan susah payah Ulfa menyeret tubuhnya yang terasa lemas menuju kamar di dalam rumah yang selama hampir satu tahun ini menjadi tempat tinggalnya.Rumah yang telah menjadi saksi kesetiaan dan kesabarannya menjalani cinta bertepuk sebelah tangan.
Di hempaskan tubuhnya di atas ranjang ukuran sedang yang empuk itu.Ranjang yang tak pernah panas meski ia dan suaminya tidur bersama disana.Ranjang yang selalu menemaninya berharap akan lembutnya sentuhan tangan kekar milik lelaki yang telah mengikrarkan ijab qobul tanda berpindahnya semua tanggung jawab seorang ayah kepada putrinya.Namun harapan itu seolah hancur karena satu fakta yang baru saja ia temukan.
Mungkin jika wanita itu bukanlah himma, sahabat yang sangat ia sayangi dan menyayanginya, sahabat yang selalu ia repotkan, sahabat yang menjadi tempatnya berkeluh kesah dan sahabat yang selalu memberikan semangat untuknya.Ia tak akan sesedih dan sebingung ini .Mungkin ia masih bisa bertahan dan tetap berjuang mempertahankan rumah tangganya ini.
Namun inilah kenyataannya wanita yang sangat di cintai oleh suaminya itu adalah Himma.
__ADS_1
Ulfa benar - benar bingung , ia tak tau harus berbuat apa, keputusan apa yang harus ia ambil.Melepaskan Gus Rohman dan memberikannya kepada nya atau tetap bertahan meski ia tau suaminya tak mencintainya.
Sudah hampir dua jam Ulfa bergelut dengan kebimbangannya hingga ia tertidur di atas ranjang di dalam kamarnya.
"Ul....Ulfa ....!" Teriak seseorang di seberang jalan dengan melambai lambaikan tangan
" Jangan sedih aku sudah bahagia Ul. ....!.". Teriaknya lagi dengan senyuman yang merekah dibibirnya yang mungil,namun orang itu semakin menjauh darinya yang tengah berlari untuk mengejar.
" Himma .....!" Teriak Ulfa seketika matanya terbuka lebar ,tubuhnya basah karena keringat.
__ADS_1
Ulfa mengedarkan pandangannya.
" Ternyata mimpi...!" lirih Ulfa
Entah karena merasa bersalah atau rindu dengan sahabatnya itu Ulfa sampai bermimpi tentang himma.Dalam mimpi itu ia mengejar himma namun ia tak bisa mendekat ,tapi bukan kesedihan yang ia lihat dari wajah himma.Di dalam mimpi itu himma terlihat bahagia.
" Apa saat ini Himma sudah bahagia....?" Ulfa bertanya pada dirinya sendiri.
" Apa aku tanya sama Abah dan Umi di mana himma saat mereka pasti tau."
__ADS_1
" Ya mereka pasti tau ." kata Ulfa pada diri sendiri .Ulfa pun turun dari ranjang lalu keluar dari kamar untuk mencari Abah dan umi.Dalam fikiran Ulfa saat ini ia hanya ingin tau dimana sahabatnya itu berada lalu ia akan menemuinya untuk meminta maaf dulu.Masalah ia akan mempertahankan atau melepas suaminya itu urusan belakangan.Biarla ia tau keadaan sahabatnya itu dulu.Jika saat ini Himma dalam keadaan tak baik - baik saja maka ia akan suka rela mengalah dan melepas Suami yang sangat ia cintai itu untuk sahabatnya untuk apa ia harus bertahan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan, tak apalah ia akan terluka asal orang yang ia sayangi dan orang yang ia cintai bahagia.Bukankah cinta itu tak harus memiliki ,Ia akan berusaha bahagi bila mereka bahagia .Bukankah cinta itu tentang sebuah keikhlasan .Namun sebaliknya ia akan tetap mempertahankan rumah tangganya itu bila keadaan himma baik dan sahabatnya itu telah move on.