
Gus Rokhim menemukan ruangan dimana Baby Akmal dirawat.
Dengan jantung berdegup kencang serta nafas yang tersengal-sengal dia pun masuk kedalam ruangan itu.
Saat pintu baru saja terbuka pemandangan pertama yang dia lihat adalah anaknya yang sedang tidur diatas brankar dengan selang infus menancap di kakinya.Kenapa di kaki karena saat akan memasang jarum infus perawat tidak menemukan pembuluh darah di tangan baby Akmal sehingga para perawat itu memutuskan untuk memasang jarum infus pada pembuluh darah yang ada di kaki.
Sedangkan Himma sedang mengaji di disamping brankar.
Betapa pilu pemandangan didepannya ini,gus merasa sangat bersalah.
"Sayang." Lirihnya tapi himma bisa mendengar panggilan itu.
Himma menghapus air mata yang dari tadi tak mau berhenti keluar dari matanya.Lalu dia menoleh ke sumber suara.
Himma menghelat nafas yang masih terasa sesak, Himma ingin berucap tapi lidahnya terasa Kelu,Dia benar - benar sakit hati pada pria yang ada di depannya ini.
" Sayang aku..." Belum sempat Gus Rokhim berucap ,himma sudah melemparkan kertas yang berisi hasil pemeriksaan darah Baby Akmal.
__ADS_1
" Lihat ,lihat ini mas kan Dokter pasti tau apa maksud dari data itu."
Gus Rokhim membaca isi data itu
" Sayang ini...?"
" Ya demam yang mas bilang demam biasa itu ternyata karena anakmu menderita leukimia.Mas puas hah ,puas sekarang.!" tangisnya kembali pecah.
Gus Rokhim tercenung.
" Bukankah mas adalah seorang dokter,lalu kenapa mas tak tau hah...aku kecewa sama mas, aku kecewa.Mas tau andai aku tak nekad pergi sendiri kesini dan mendesak dokter disini untuk melakukan pemeriksaan lengkap apa yang akan terjadi pada putra kita mas.Apa...?"
" Aku heran kemana perginya suamiku yang sangat peka, Dulu saat aku mendekati hari kelahiran mas sering meninggalkan aku malam - malam sendirian dan akhirnya aku datang sendiri kerumah sakit dengan menahan rasa sakit tapi saat itu aku memakluminya karena tugas mas sebagai dokter,tapi kali ini kalau sampai terjadi apa - apa pada anakku jangan harap aku akan memaafkanmu mas." Sebenarnya ancaman itu bukan dari dalam hatinya,hanya saja karena emosi saja.
Gus Rokhim hanya diam menyadari betapa salahnya dirinya karena telah lalai.Menyesal tentu dia sangat menyesal ,marah sangat marah.
" Kenapa diam mas ,kenapa...?" Himma meraung.
__ADS_1
" Sayang maaf ,maafkan mas tolong.Kamu boleh marah tapi jangan kayak gini sayang.Kita harus tetap bersama demi anak kita." Gus Rokhim memohon pada Himma
" Leukimia mas, kenapa harus anak kita ,kenapa bukan aku saja ....?" Akhirnya Himma menyerah.Dia sadar marah pada suaminya tak akan menyelesaikan masalah, kemarahannya tak akan membuat sang anak sembuh.
" Hiks....hiks...hiks... lakukan yang terbaik buat anak kita mas, lakukan yang terbaik buat dia." Gus Rokhim memeluk tubuh Himma.
" Ya sayang kita akan lakukan yang terbaik buat Anak kita.Maafkan mas ya." berkali kali gus Rokhim menciumi puncak kepala himma.
" Mammmamamma...nda..." Baby Akmal merengek sepertinya dia sangat merindukan ayahnya.
" Sayang, Maafkan Ayah ya ,kamu harus sembilan demi ayah dan Bunda." Kata Gus Rokhim sambil mengangkat tubuh anaknya itu didalam gendongannya.
Diciuminya wajah sang putra.
Malam ini baby Akmal sangat rewel, bayi berusia satu tahun itu tak mau lepas dari gendongan sang ayah sehingga Gus Rokhim tertidur sambil duduk dengan mengendong anaknya itu.Baby Akmal seakan meminta pertanggung jawaban ayahnya atas kesalahan yang ayahnya lakukan.
Sementara Himma tidur di sofa kecil yang berada tak jauh dari ranjang pasien.
__ADS_1