Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
1. Harapan Baru


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


"mbak Rina saya duluan ya, takut nanti kemalaman"


"iya, mau aku antar sampai terminal ?"


"Ndak usah mba nanti mbak ditunggu bodyguard embak lagi" sahut tari sambil cengengesan, iya mba Rina temanku satu pekerjaan dengan ku.


"Dia, masih ada rapat"


"ngak mba lagian saya mau kembali ke asrama dulu, mengambil charger hp"


Ini malam Minggu, malam dimana biasanya dia pulang ke kota asalnya untuk pulang menemui orang tuanya. Karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore makanya dia tergesa gesa sekali karena kendaran yang jarang akan menuju rumahnya. Tampak raut wajah bahagia sekali diwajah gadis itu wajah ibunya yg selalu tersenyum dan ayahnya yg selalu memberi kehangatan selalu terbayang dalam fikirannya. Dengan tergesa - gesa dia mengayunkan langkah kakinya untuk menuju depan gang untuk dia menunggu angkot yg membawanya ke terminal. Tapi karena tubuhnya yang kecil selebar apapun langkahnya tetap saja membutuhkan waktu yg cukup lama, dan pada akhirnya dia sampai di depan gang. Tak lama berselang sebuah angkot sudah lewat, dengan senyum sumringahnya dia melambaikan tangannya yang kecil itu untuk memberhentikan angkot tersebut.


"Alhamdulillah, akhirnya" Tari berucap sambil melangkahkan kakinya kedalam angkot tersebut


"Assalamualaikum bang" sapa Tari pada supir angkot


"Walaikumsalam" dengan lugasnya sopir angkot itu menjawab karena jarang sekali ada penumpang yg masuk angkot sambil mengucap salam.


"mau kemana mba ayu ?"tanya bang sopir


"terminal bang"jawab Tari singkat dan padat karena dya tidak suka bertele tele


Tak membutuhkan waktu lama akhirnya Taripun sampai ketempat tujuannya di sebuah terminal. Dengan langkah kakinya yg kecil itu dia berjalan menyusuri terminal yg terlihat sangat sibuk maklum saja karena malam ini malam Minggu pasti banyak orang yg ingin pulang. Sudah cukup lama tari berputar - putar untuk mencari bus yg membawa dia ke arah tujuannya tapi tidak nampak pula bus tersebut padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17:15 dan itu sudah sangat sore. Dengan hati gusar Tari melangkah menuju bus yg terlihat akan berangkat, hatinya sangat gundah antara naik atau tidak.


"Bismillahirrahmanirrahim" aku harus bisa, lirih Tari menyemangati dirinya sendiri untuk menuju bus tersebut.


Dengan langkah yg tidak begitu pasti dia melangkah mendekati bus tersebut, sudah nampak keringat dingin keluar dipelipisnya, langkah kakinya mulai gontai, tulang kakinya seakan tak mampu menopang tubuh kecilnya tepat di depan pintu masuk bus itu langkah kakinya terhenti dengan pandangan nanar dia menatap bus itu. Dipandanginya tulisan bus itu HARAPAN BARU kurang lebih begitu tulisannya


Hatinya masih berkecamuk dengan perasaanya masa lalu yg dulu berusaha dikuburnya mulai menyeruak ingin keluar.


"astaghfirullah" mulutnya terus berucap kata tesebut dan berulang - ulang mencoba menetralkan hati dan fikirannya .


Samar - samar terdengar suara kenek bus tersebut memanggil penumpang untuk segera naik karena bus akan segera berangkat, ternyata hal tersebut tidak mengubah apa yg sedang dilakukannya.


Dia masih saja menentramkan hati dan fikirannya, nampak sekali kegundahan dari hatinya.

__ADS_1


Tanpa disadari ada seseorang yg menatapnya dengan seksama, mencoba mengerti apa sebenarnya yg sedang dilakukan gadis mungil itu yg membuat dia juga terhenti padahal tujuannya dia akan menaiki bus tersebut. Dengan langkah pasti dya menghampiri gadis mungil itu dan semakin mendekat, saat jarak mereka sekitar satu meter jantungnya berdetak begitu kencangnya sampai - sampai dia sangat iba dengan keadaan gadis itu. Dengan sedikit keberanian dia mencoba gadis mungil itu


"Mba," katanya sambil menepuk bahu gadis itu


Tapi gadis itu sama sekali tak bergeming, tapi isakannya malah terdengar semakin keras dengan mulut yang masih beristighfar. Seseorang tersebut tertegun dengan keadaan itu, debaran jantungnya semakin keras dan tak beraturan dalam fikirannya berkecamuk apa yg sebenarnya terjadi tapi dengan pasti dya menggenggam tangan gadis itu dan berkata


"Mba mari masuk, ayo saya bantu" suaranya tegas sekali tapi bernada sangat lembut


Tanpa disadari Tari tangan yg menggenggamnya itu mampu menenangkan gejolak dalam hati dan fikirannya, tanpa dikomando tubuh mungil itu mengikuti langkah kaki seseorang yg begitu tegap didepannya. Dengan mata trpejamnya dya masih saja bergumam tanpa mau membuka mata itu dan hanya mengikuti tangan yg menggenggamnya.


Akhirnya bus itupun berjalan meninggalkan terminal menuju tempat tujuannya, pemandangan tak biasa terlihat dibangku paling belakang dengan keadaan gadis yg tertunduk dengan mata terpejam sembari mulut yg terus beristighfar nampak duduk disebelahnya seorang pemuda gagah berlesung pipi yg senantiasa menggenggam tangan gadis itu dengan penuh kasih sayang.


Tak lama, bus itu terhenti karena nampak kemacetan terjadi kemacetan yg terjadi begitu panjangnya entah apa yg terjadi didepan sana yg pasti hal ini akan membuat bus itu berhenti lama.


"Mbak, ini mbaknya minum dulu" sebuah suara memecah keheningan, sambil menyodorkan air mineral yg ada disaku tasnya.


Tapi sama sekali gadis itu tak bergeming,


"ya udah mbak kalau tidak mau, mbak tapi kali ini harus dijawab ya" katanya pelan sambil tersenyum.


"saya turun di kecamatan S maz, di pertigaan P"


"ok, mbak nanti saya akan beritahu mbaknya kalau sudah dekat" seulas senyuman tersungging di bibir manis itu dengan lesung pipi yg selalu mengikuti.


Tak terasa adzan isya berkumandang, sangat nyaring karena memang saat itu bus tepat berada disebelah sebuah masjid dengan kemacetan yg masih belum bisa diurai


"astaghfirullah hal azzim, sudah isya" belahan dia membuka matanya dan betapa kagetnya dia ketika pertama yang dilihatnya adalah tangannya yg tergenggam. Dengan secepat kilat dia mencoba menarik tanngannya,


"maaf mas, maaf sekali" ucapnya lirih mencoba mencerna semua yg terjadi.


"iya mbak gak papa, gimana mbaknya sudah enakan ?" tanyanya dengan suara lembut.


"sampun maz, maaf ngeh" ucapnya lagi.


"gak papa mba, minum dulu ini biar keadaan sampean lebih baik lagi" ucapnya sambil mengulurkan tangannya yg menggenggam botol air mineral.


"terimakasih maz," sambil tangannya meraih air itu, tatapannya beralih pada tangan yg menyodorkan minuman itu dan dilihatnya tangan berarloji hitam dan gelang kayu yg menyerupai tasbih dengan background celana dorengnya .......

__ADS_1


Akhirnya setelah kurang lebih 30 menit dari kejadian tersebut bus melaju meninggalkan kemacetan itu, tapi jalanpun tak sebegitu lancar seperti biasanya karena memang malam ini malam Minggu. Dua orang itupun masih hanyut dalam lamunan masing - masing. Begitu juga Tiara dengan suasana hati dan fikiran yang sudah mulai tenang dia kembali terpejam dengan kepala yang masih tertunduk hanya gerakan mulut saja yg nampak bergumam begitu dya asik dengan dan seolah olah bercinta dengan Kalam Illahi yg sedang dia lafalkan.


Sungguh pemandangan yg luar biasa sekali bagi laki laki disampingnya, dengan tatapan yg penuh tanya dia menatap gadis mungil itu, kenapa wajah yg semula sangat tertekan itu sekarang sangat tenang seolah2 tidak terjadi apapun, tapi hal itu tak terjadi lama karena sekarang terdengar isakan isakan kecil yang membut hati laki laki itu berdebar lagi.


"mba sudah, jangan dipaksakan" ucapnya sembari mencoba menggenggam tangan itu kembali, tapi dengan cepat siempunya tangan menolak.


"maaf maz, kita bukan mahram" ucapnya lirih


"insyaallah mba, aku akan menghalalkanmu"


kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa iya sadari


mendengar kata tersebut Tari semakin bergetar tanpa sadar dya berkata.


"sesungguhnya saya tidak pantas mas untuk dihalalkan" diiringi isakan yg begitu menyayat hati.


"mba bukannya pantas tidak pantas itu urusan yg diatas, bukankah jodoh itu cerminan diri kita ?" tanyanya dengan suara tegas.


"sungguh maz saya tidak sebaik yang sampean kira"


"biarkanlah Allah yg menjadi saksi atas janji saya mba"


Dan seketika keadaan berubah menjadi sangat hening, padahal keadaan di bus itu penuh sesak dengan keramaian orang karena benar saja setiap malam Minggu bus akan selalu sesak dengan penumpang yg menuju tkampung halamannya.


Setelah 25 menit berlalu akhirnya terdengar suara kenek yg berkata.


"pertigaan P, pertigaan P ayo dekat pintu persiapan"


Tak perlu waktu lama Tari pun bergegas berdiri dari tempat duduknya dan menuju pintu belakang yang jaraknya memang dekat dengan duduknya. Tanpa disadari dya meninggalkan sesuatu di bus itu, hanya bayangan wajah ibu dan ayahnya yang ada dibenaknya karena ini sudah jam 8 malam tidak biasanya dya pulang semalam ini.


"Alhamdulillah" akhirnya sampai juga katanya lirih.


"astaghfirullah" tak berselang lama kata kata itu muncul dari bibir gadis mungil itu, dia sadar karena meninggalkan sesuatu di bus tersebut.


bersambung......


halo kakak semua ini tulisan pertama saya semoga berkenan di hati kakak semua ya, 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2