Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
106. Tetaplah Tersenyum II


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sebuah peristiwa aentah itu yang terasa menyakitkan ataupun membahagiakan akan tetap menjadi sebuah kenangan yang patut dijadikan sebagai pengingat. Tak ubahnya peristiwa pahit yang baru saja mereka alami, meskipun pahit namun tetap akan menjadi sebuah pelajaran hidup yang berharga untuk mereka.


Berdamai dengan rasa sakit, mengihklaskan semua yang telah ditentukan untuk kita adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Sebuah ujian adalah tanda jika kita adalah orang yang terpilih dan mampu, menerima wujud kasih sayang dari Sang Maha Pemilik Kehidupan.


" Mau kemana ? " Tanya Gus Syam kepada Tari, saat sang istri tampak ingin beranjak dari brankarnya.


" Aku ingin ke kamar mandi Mas. " Jawabnya sembari berusaha turun sendiri.


Gus Syam segera berdiri dari sofa tempatnya duduk, dan mendekat ke arah brankar milik sang istri. Segera membantu sang istri untuk turun, dari brankar yang lumayan tinggi sehingga membuat Tari kesulitan.


" Sampean itu belum sesehat itu Dek, masih butuh bantuan jangan suka memaksakan diri. " Ucapnya sambil merangkul tubuh sang istri sembari melangkah menuju kamar mandi.


" Aku sudah sehat Mas, lagian ini kan cuma mau ke kamar mandi hanya sebatas ruangan ini saja. "


Gus Syam mengantarnya sampai ke dalam kamar mandi, membantunya duduk di atas kursi yang tersedia di kamar mandi. Setelahnya Gus Syam menyalakan lampu dan kran air untuk memenuhi bak penampungan air yang tinggal separoh.


" Mas tau Dek, lagian mana ada orang sakit makannya sebanyak itu. Aku tunggu didepan pintu kalau butuh apa - apa sampean langsung ngomong. "


Tari masih kurang nyaman apabila kegiatan di kamar mandinya ditemani sang suami, namun hal itu dipahami oleh sang suami. Dengan sabar Gus Syam menunggu Tari di depan pintu kamar mandi, memainkan handphone miliknya. Selama beberapa waktu dirawat di rumah sakit, Tari mengalami perkembangan yang sangat baik, sehingga hari ini sudah di perbolehkan pulang. Selang infus sudah dilepas dari tangannya beberapa saat yang lalu, hanya tinggal menunggu visit dokter saja.


Saat di rasa sang istri di dalam kamar mandi cukup lama, dan tak terdengar suara apapun dari dalam Gus Syam segera memanggil sang istri.


" Dek, ..... "


" Kenapa lama sekali ? tidak terjadi apa - apa kan ? "


" Aanu Mas, bisa tolong bantu sesuatu. " Jawab Tari dari dalam setengah berteriak.


" Apa yang bisa Mas bantu ? "


Pintu kamar mandi terbuka sedikit dengan kepala Tari yang setengah melongok ke luar. Dengan senyum kikuk dia memandang sang suami.


" Mau minta tolong apa ? " Ucap Gus Syam, sembari mengelus puncak kepala sang istri.


" Tapi aku malu,maaf sebelumnya ya Mas. "


" Terlambat kalau mau malu Dek, memangnya mau minta tolong apa ? "


Tari tidak yakin jika harus mengatakan apa yang sedang ada dalam pikirannya,


" Ada apa Dek ? "


" Anu Mas,......... "


" Kenapa, dari tadi cuma anu - anu terus. " Jawab Gus Syam sembari mencubit pipi sang istri gemas.


" Bisa belikan aku pembalut Mas, aku kedatangan tamu bulanan. " Ucap Tari sembari menunduk menyembunyikan wajahnya karena merasa malu karena menyeruh sang suami melakukan hal yang cukup tabu untuk seorang laki - laki.


Saat mendengar ucapan sang istri, Gus Syam langsung tertawa dan semakin mencubit pipi sang istri gemas.


" Tenyata hanya hal seperti itu saja, ngomongnya kok sampai berbelit - belit dek. Tunggu sebentar ya, Mas akan belikan sampean tunggu sambil duduk dulu. "

__ADS_1


Tanpa menunggu Gus Syam langsung beranjak membeli apa yang diminta oleh sang istri. Setelah mendapatkannya dia segera kembali ke kamar Tari. Dengan segera dia menyerahkan kepada sang istri sebelumnya dia telah membuka kemasannya. Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi Tari segera keluar, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa dekat sang suami.


" Sudah ? "


" Iya, terimakasih Mas. "


Gus Syam kembali di sibukkan dengan Tablet yang berada ditangannya, beberapa hari dia sibuk dengan urusan sang istri. Sehingga pekerjaannya banyak yang terbengkalai, dan baru ini dia mulai membuka laporan yang masuk dalam email-nya yang jumlahnya cukup banyak.


" Mas, bukankah seharusnya hari Rabu kemarin kita harus ke Jakarta ? bagaimana dengan sumpah dokter sampean ? "


Gus Syam mematikan tablet yang berada di tangannya, kemudian meletakkan di atas meja. Memposisikan tubuhnya menghadap sang istri, kemudian menggenggam tangan sang istri dan menautkan jari jemari mereka.


" Iya, seharusnya kita ke Jakarta tapi mana bisa aku meninggalkan sampean dengan keadaan seperti ini Dek. Melihat sampean seperti itu, hatiku sakit sekali Dek, rasa sakitnya melebihi apapun. Andai saja waktu itu kita bisa bertukar posisi dek, Aku dengan suka rela akan bertukar tempat. "


" Bagaimana dengan sumpah dokter Sampean Mas ? "


" Masih menunggu jadwal Dek, tenang saja suamimu ini akan tetap menjadi Dokter. "


" Maaf ya Mas gara - gara aku, sampean harus menunda hal itu. " Ucap Tari penuh dengan penyesalan.


" Wes ngak usah nangis, piye lek ngeneng - ngeneng ngeneki. Opo njaluk ditumbasne plembungan opo permen cek iso meneng ? " Goda Gus Syam pada sang istri, saat melihat Tari matanya mulai berkaca-kaca.


Tari mencoba menahan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk matanya, namun mendengar godaan Gus Syam padanya membuatnya tertawa. Jadilah dia tertawa dengan air mata yang yang juga menetes dari kedua matanya.


Hatinya dipenuhi dengan bunga - bunga yang sedang bermekaran, memiliki suami seperti Gus Syam yang selalu mengistimewakannya membuatnya tak henti - hentinya mengucap syukur. Seorang imam yang selalu dia dambakan, seorang laki - laki Sholeh dengan ilmu agama yang insyaallah mumpuni yang mampu membimbingnya untuk menjadi wanita Sholehah. Dengan keluarga yang juga menyayanginya layaknya anak sendiri, selalu meminta pendapatnya dalam memutuskan suatu hal karena keluarga Gus Syam menghargai keberadaanya.


" Terimakasih Mas. " Ucapnya tiba - tiba sembari mengecup tangan sang suami dalam.


Ceklek


" Assalamualaikum, "


Segera mereka melepaskan pelukan saat terdengar suara salam yang cukup nyaring ditelinga. Yang mereka sudah hapal dengan siapa pemilik suara nyaring itu.


" Assalamualaikum, Wah pengantin baru ini dimana pun selalu mengumbar kemesraan tapi sayangnya aku sudah khatam terlebih dahulu. " Ucapnya ringan, sambil mendudukkan tubuhnya di sofa seberang Tari dan Gus Syam duduk.


" Walaikusalam Mbak Rin, Mas Rey mana ? "


" Masih mengurus administrasi Shan, bagaimana keadaan sampean Tar, sudah beneran sehat kan ? "


" Sehat Mbak, pengen cepat pulang Mbak kangen rumah. "


" Sehat banget Mbak, makannya banyak sekali Mbak kasihan rumah sakitnya kalau dia dirawat disini lama - lama bisa - bisa bangkrut. Terus jadi sebuah berita di koran dengan judul ' sebuah rumah sakit bangkrut karena sang pesian yang makan terlalu banyak ' kan ngak lucu Mbak Rin kalau kayak gitu. "


Yang membuat Gus Syam langsung mendapat hadiah cubitan di perutnya dari sang istri.


" Dek, jangan KDRT. "


" Mana bisa dibilang KDRT Mas, aku hanya mencubit sampean. "


" Pokoknya hal yang menyakiti kita secara fisik itu KDRT itu juga termasuk. " Ucapnya dengan wajah yang dibuat - buat seolah kesakitan karena cubitan yang dilakukan oleh Tari.


Mbak Rini hanya menggeleng saat melihat tingkah pasangan pengantin baru di depannya, jauh dari sifat mereka selama ini. Tak lama berselang Dokter Tari melakukan visit, menanyakan banyak hal mengenai perkembangan lukanya, Serta memberitahukan beberapa hal yang bisa dilakukan agar tidak terjadi trauma pada bekas luka jahitannya dan juga jadwal kontrol selanjutnya.

__ADS_1


" Sisanya pasti Dokter Syam sudah tau Bu Tari apa yang harus dilakukan, bukan begitu Dokter Syam ? "


" Sepertinya saya belum cocok untuk dipanggil Dokter, Dok. " Jawab Gus Syam saat mengantar Dokter Handoko meninggalkan ruang perawatan Tari.


" Saya harap anda segera menyelesaikan intership, dan saya harap anda bisa bergabung dengan kami disini. " Ucap Dokter Handoko saat bersalaman dengan Gus Syam sembari menepuk tangannya pelan.


" Insyaallah Dok, saya usahakan secepatnya dan semoga bisa dapat rezeki disini. "


" Siap, saya akan sangat senang bila itu terjadi semoga Bu Tari lekas sembuh."


" Terimakasih Dok, "


" Mari, Assalamualaikum "


" Walaikumsalam. "


Gus Reyhan kembali setelah menyelesaikan administrasi Tari, bertepatan dengan Dokter Handoko yang meninggalkan ruangan itu. Dan mereka saling melempar senyum ketika berpapasan tepat di depan ruangan Tari. Sedangkan Gus Syam masih berdiri di depan pintu, tetap dalam posisi dimana tadi dia mengantarkan dokter Handoko. Keduanya masuk bersamaan ke ruangan itu, dan mendapati kedua istri mereka yang nampak berbicara serius namun langsung terdiam begitu mengetahui mereka mendekat.


" Aku mencium bau - bau persengkokolan yang mencurigakan ini. " Ucap Gus Syam sembari duduk menempel di sebelah Tari.


" Aku pun juga. " Gus Reyhan pun tak mau kalah dia pun duduk di sebelah sang istri dan merangkulkan tangannya di pinggang sang istri.


Sedetik kemudian kedua wanita itu tampak saling berpandangan, dengan sorot mata yang saling melotot. Sementara kedua laki - laki itupun tak mau kalah tetap mengeratkan rangkulan ke tubuh pasangannya masing - masing.


" Mau tetap tutup mulut ini ceritanya ? "


" Iya ..... !!!! " Jawab Rini dan Tari bersamaan.


Upaya kedua laki - laki itu untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan kedua wanita itu gagal, yang menambah rasa penasaran diantara keduanya. Sedangkan kedua wanita itu merasa menang karena sudah bisa membuat kedua kakak beradik itu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


" Ayo kita segera pulang, semuanya sudah menunggu dirumah. Kasihan Mikha kalau ditinggal terlalu lama, nanti Bulik kuwalahan kalau dia sudah mulai mengamuk. "


" Iya Mbak, aku juga sudah kangen banget sama Baby Mikhail. "


" Tunggu ada peraturan baru Dek untuk sampean setelah sampai di rumah, dan seperti biasa tidak ada penolakan ataupun bantahan. "


Ya, Gus Syam sosok pendiam dan cuek itu dia akan berubah menjadi seorang yang posesif dan otoriter jika itu menyangkut sang istri. Apa yang menjadi perintah dan keputusannya tidak bisa di ganggu gugat dan mutlak harus dilakukan. Hal ini semata - mata iya lakukan karena rasa sayangnya yang besar terhadap sang istri.


" Tapi Mas, kalau harus berjauhan dengan Baby Mikhail aku tidak bisa menahan diri. " Jawab Tari dengan wajah yang dibuat memelas, berharap sang suami mau mengabulkan permintaannya.


" Harus menjauh dulu selama masa penyembuhan, kalau perlu jangan menampakkan diri di depan bayi gendut itu. Mas Rey jangan ajak anak sampean ke rumahku dulu nanti sebagai gantinya aku akan memberikan sesuatu untu Baby Mikhail. "


" Heh enak saja menyebut anakku bayi gendut, terserah aku donk mau membawa anakku kemana saja termasuk ke rumah sampean " Jawab Rini ketus,


" Hanya sementara waktu saja sampai Tari benar - benar sembuh, kalian tahu sendiri Mikha itu kalau sudah ketemu Tari maunya cuma digendong sama Tari. Dan aku ngak mau itu terjadi, aku mohon kalian mengertilah. "


" Eh Shan jangan mentang - mentang rumahmu lebih bagus dari rumahku, sehingga sampean seenaknya melarang kami. Ingat dong selama ini siapa yang selalu ada di samping sampean. " Gus Reyhan pun ikut berbicara.


Tari mengerti bahwa sepasang suami istri itu sedang menggoda sang suaminya, mana mungkin mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Melihat wajah Gus Syam sebal dan frustasi menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Seorang Gus Syam yang cuek dan acuh dengan keadaan sekitarnya akan sangat frustasi jika kemauannya tidak dituruti. Seperti saat ini terlihat sekali dia sedang memikirkan suatu hal yang bisa memuluskan jalannya untuk keinginannya agar bisa terpenuhi.


" Makanya cepat buat biar tahu nikmatnya punya anak, jangan dipending terus, nikmat kok ngak disegerakan. " Ucap Gus Reyhan santai


Bersambung .......

__ADS_1


__ADS_2