
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sang mentari sudah menunjukkan kegagahannya, memancarkan sinarnya sebagai sumber kehidupan bagi seluruh mahluk di bumi ini. Senantiasa memancarkan sinarnya meskipun tak pernah mendapat imbalan dari mahluk yang disinarinya. Namun dia selalu menjalankan tugasnya tanpa sedikitpun pernah mengeluh, ataupun mengharapkan imbalan akan setiap jasanya.
Pagi di rumah minimalis dengan dua lantai itu lumayan ramai dengan kegiatan semua penghuninya. Rumah yang biasanya sepi itu kini terasa hangat karena dipenuhi dengan obrolan yang disertai canda dan tawa.
Bu Fatma dan Mbak Juriah nampak sibuk memasak di dapur, sedangkan Tari duduk melihat apa yang dilakukan ke dua wanita itu. Nafisa gadis kecil itu senantiasa mengikuti kemanapun Tari berada, mengekor dibelakang kakak iparnya itu yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Mbak Juriah semenjak Tari dirawat di rumah sakit dia diminta Gus Syam untuk menemani Bu Fatma di rumah.
Sementara Gus Syam, Irsyad, dan Irhas mereka bertiga sibuk merawat tabulapot ( tanaman buah dalam pot ) di halaman belakang. Sejak kecil dulu Gus Syam memang sangat senang kegiatan berkebun, apalagi hal yang berbau dengan sawah. Sejak kecil dia akan senang dan berlama - lama bila sudah di sawah, dan itu akan membuat Bunyai Salamah bingung mencarinya.
" Syad, tolong ambilkan pupuknya dicampur sekalian sama tanahnya. " Perintah Gus Syad kepada Irsyad
" Siap Gus. "
Dengan cekatan Irsyad mencampurkan pupuk kandang, dengan tanah humus lalu mengisinya kedalam polibag berukuran kecil.
" Gus ini bibitnya, " Ucap Irhas sambil menunjukkan dua plastik bibit sayur ke arah Gus Syam.
" Hanya itu saja Has ? tidak ada bibit kangkungnya ? " Tanya Gus Syam pada Irhas
" Tidak ada hanya tinggal ini Gus. "
" Ya sudah tidak apa - apa. "
Mereka bertiga segera melanjutkan kegiatan berkebun yang mereka lakukan, memasukkan tanah yang dicampur dengan pupuk tadi kedalam polibag untuk menanam sayur pak choy dan bayam merah.
" Jangan terlalu dalam memasukkan bibitnya, "
" Ok siap, Gus. " Jawab Irhas sambil tangannya seolah sedang hormat.
" Dipisahkan juga berdasarkan jenisnya ya, kalau meletakkan polibagnya yang sudah diisi bibit. "
" Iya, tenang Gus sudah saya pisahkan. "
" Cepat, masak cowok - cowok gagah kayak gini kalau kerja kayak cewek, lambat ngak bersemangat sama sekali. Ayo lebih semangat kok kerjanya kayak anak cewek. " Ucap Gus Syam sambil menepuk kedua kembar itu.
" Ayo cepat diselesaikan dulu, " Ucapnya sambil berdiri berjalan masuk ke arah dapur.
Gus Syam masuk ke dapur melalui pintu belakang yang menghubungkan halaman belakang dan dapur. Menghampiri sang istri yang duduk membelakanginya, sehingga tidak tahu jika Gus Syam yang berjalan kearahnya.
" Kalau menurut seperti ini, sepertinya harus diberi hadiah. " Ucapnya tiba - tiba disertai sebuah kecupan singkat di puncak kepala Tari.
Tari yang kaget pun, refleks memukul wajahnya dengan cukup keras.
" Astaghfirullah, Mas ..... "
" Maaf, sampean mengagetkanku saja. "
" Aduh Dek, sampean itu Lo kok seneng banget KDRT sama suami sendiri. " Ucap Gus Syam dengan nada yang dibuat - buat dan mengusap - usap pelipisnya yang terkena pukulan Tari.
Dengan cepat Gus Syam beralih posisi berjongkok di depan Tari, menaruh kepalanya di atas pangkuan Tari. Tidak cukup begitu saja bahkan Gus Syam menaruh tangan Tari diatas pelipisnya.
" Ayo tanggung jawab, obati ini yang sakit. "
Tari tampak canggung dan malu, karena di dapur tidak hanya ada mereka berdua saja. Bu Fatma dan Mbak Juriah sedang memasak di hadapan mereka, namun kedua orang itu tetap melakukan kegiatan memasaknya seolah tidak melihat apa yang dilakukan sepasang pengantin baru itu. Sedangkan Nafisa yang sedari tadi duduk di samping Tari sudah memasang wajah tidak suka.
" Maaf Mas, aku benar - benar tidak sengaja aku lihat tidak berbekas ataupun merah. " Ucap Tari lirih karena malu.
" Tapi aku yang merasakan Dek, dan rasanya itu cukup sakit bagiku. " Ucap Gus Syam mendramatisir, padahal pukulan Tari sama sekali tidak terasa baginya.
Nafisa yang melihat kelakuan sang kakak hanya menggeleng - gelengan kepala, sambil menekuk kedua tangannya di dada. Menunggu waktu yang tepat untuk membuat sang kakak menghentikan aktingnya yang terlihat sangat dibuat - buat di matanya. Sama seperti akting yang selalu Kakaknya lakukan dikala sedang bersama sang Ummi.
" Ayolah dek pijitin, ini sudah mulai terasa pusingnya. " Ucapnya sambil memegang pelipisnya dengan mata yang tertutup seakan - akan saat ini dia benar - benar pusing.
Nafisa yang melihat hal itu, malah semakin geram dengan sang kakak bisa - bisanya dia selalu berakting seperti itu.
" Ayo Mas, kita ke kamar saja biar sekalian aku pijatnya dengan minyak. " Ucap Tari yang mulai khawatir saat melihat sang suami memijat - minat pelipisnya dengan mata terpejam.
__ADS_1
" Ya sudah ayo. "
Saat mereka berdiri aan menuju kamar mereka, dengan sigap Nafisa memegang ujung kaos Gus Syam.
" Tuman. "
" Ngak sama Umi, ngak sama Mbak Tar sukanya akting terus. "
" Mbak Tari, jangan percaya sama Mas Syam itu dia lagi akting. " Ucap Nafisa berapi - api.
" Eh, Pica anak kecil ngak usah ikut urusannya orang gede. Kok ngatain Mas lagi akting, ini itu beneran sakit malahan ini rasanya sudah berputar - putar. "
" Halah akting. "
Tari melihat kedua kakak beradik itu berdebat yang saling mempertahankan pendapat mereka masing - masing. Dan sepertinya apa yang dikatakan Nafisa ada benarnya buktinya tadi sang suami nampak memejamkan matanya dan memegang pelipisnya. Sekarang sudah berdebat dengan sang adik dengan sengit.
Sementara Bu Fatma dan Mbak Juriah menghentikan aktifitasnya memasak demi melihat perdebatan yang sedang terjadi.
" Mas Syam itu artis yang buruk tiap kali akting selalu ketahuan sama aku. "
" Mana ada Pica, Mas itu beneran ngak akting. Aduh Lo Lo ini mulai pusing lagi. " Ucap Gus Syam sembari kembali memegang pelipisnya dan menutup mata.
" Ehmz, masa bodoh Masku tercinta. Tapi maaf ya akting Mas Syam sudah ngak mempan buat aku. " Ucap Nafisa sambil melengos.
Tari yang semula berdiri di belakang Gus Syam sekarang beralih mendekat ke arah Bu Fatma dan Mbak Juriah yang sedang menonton perdebatan itu.
" Sepertinya ini nanti ngak bakalan selesai sampai waktu Dhuhur Mbak Juu. " Ucap Tari sambil berbisik.
" Sudah pasti Mbak Tar. "
" Apa memang sering seperti itu ? " Tanya Bu Fatma.
" Enggeh Buk, mboten akur kalau sedang bersama tapi kalau jauh saling mencari biarpun nanti saling marahan ngak sampai satu menit pasti langsung akur. " Jawab Mbak Juu.
" Sudah ayo kita ke depan saja, mereka berdebatnya biar Istiqomah. "
Ketiga wanita itu beranjak pergi dari dapur menuju ruang tengah, meninggalkan kedua kakak beradik yang sedang berdebat. Karena nampaknya keduanya masih enggan untuk mengakhiri perdebatan mereka.
" Pica ngak nuduh Mas Pica bicara apa adanya. "
" Ngak menuduh gimana, tadi Pica bilang sedang berakting padahal kepala Mas itu Lo benar - benar sakit. "
Keduanya menyadari sesuatu, kenapa tiba - tiba dapur menjadi sepi dan saat mereka menengok ke kanan kiri ternyata sudah tidak ada siapa - siapa di dapur kecuali mereka berdua.
" Mas kita ditinggal sepertinya. "
" Iya Pica, itu ada suara tv nyala mereka pasti sedang di depan. "
Kedua kakak beradik itu segera beranjak meninggalkan dapur, dan lucunya mereka sudah bergandengan tangan dan membicarakan sesuatu yang menyenangkan nampak dari nada bicara Nafisa yang mengiyakan sesuatu dengan suara yang gembira.
" Loh kok mereka sudah bergandengan tangan ,? " Tanya Bu Fatma heran.
" Memang seperti itu Buk, nanti sebentar lagi pasti akan marahan lagi. " Jawab Mbak Juriah, yang sudah hafal dengan tingkah laku keduanya.
Seolah tidak terjadi apapun sebelumnya, mereka duduk bersebelahan di sofa rumah tengah Nafisa nampak menempel dengan Gus Syam bergelanjut manja di lengan sang kakak.
" Oke, setelah sarapan kita jalan tenang saja semuanya bisa diatur biar Ummi nanti Mas yang ngatur. "
" Janji ya Mas. " Ucap Nafisa, sembari menganggsurkan jari kelingkingnya kearah sang kakak.
" Insyaallah kalau di ACC sama ibu negara. "
Seketika kedua kakak beradik itu melempar pandangannya kearah Tari yang sedang duduk di seberang sofa mereka. Dengan senyum misterius mereka yang mengisyaratkan sedang merencanakan sesuatu.
" Mas, mandi dulu aku siapkan airnya. " Ucap Tari sambil berlalu menuju kamar mereka dilantai dua.
Yang langsung di ikuti Gus Syam di belakangnya, mengekori sang istri menaiki tangga
__ADS_1
" Mas usaha biar diACC sama ibu negara. " Teriak Nafisa dengan lantang.
Yang langsung diangguki oleh Gus Syam sembari mengangkat kedua jempolnya, entah apa yang sedang direncanakan oleh keduanya. Sudah pasti suatu hal yang dilarang oleh sang Ummi untuk Nafisa, namun selalu diberikan oleh Gus Syam kepada sang adik. Saat sampai di kamar mereka segera Tari menyiapkan air hangat untuk sang suami, kemudian menyiapkan handuk dan pakaian ganti rumahan.
" Mas, airnya sudah siap. "
" Dek, "
" Dek, "
" Dek, "
Gus Syam melingkarkan tangannya di perut sang istri memeluk wanitanya itu penuh dengan kemesraan. Menciumi ceruk leher sang istri yang berkulit sawo matang, menghirup aroma tubuh sang istri dalam - dalam sambil memejamkan matanya.
" Dek, "
" Iya Mas. "
" Aku mencintaimu. "
" Aku menyayangimu. "
" Mas cepat, airnya keburu dingin. " Perintah Tari kepada sang suami, yang sedang memeluknya erat.
" Kok ngak di jawab Dek. "
" Ayolah dijawab dulu. "
" Aku mencintaimu Istriku. "
" Aku juga mencintaimu suamiku. "
" Ihklaskan ? "
" Insyaallah. "
" Kok Insyaallah Dek. "
" Mas. "
Dengan cepat Tari menarik kaos sang suami kemudian melepasnya, kalau seperti ini pasti suaminya itu tidak akan jadi mandi. Jadi dia mengambil langkah yang beberapa hari ini selalu jitu membuat sang suami agar cepat mandi.
" Sampean mandi terlebih dahulu ini perintah tidak ada bantahan penolakan. " Ancaman Tari kepada sang suami, hal yang membuat Gus Syam senang karena merasa sang istri memperhatikannya.
" Kenapa sampean sekarang jadi tidak menerima penolakan Dek, kan aku yang seharusnya bicara seperti itu. "
" Tidak menurut peraturan istri ....... " Ancam Tari
" Ya faham, ngak usah diulang - ulang. Tapi Dek ......... "
" Ada apa lagi Mas ? Jangan bilang sudah merencanakan sesuatu dengan Nafisa. "
" Ehmz, iya memang sudah tapi harus ada ACC dari ibu negara terlebih dahulu. Dan aku berharap sampean memberi ACC "
Tari mendorong tubuh sang suami kearah Walking closet dimana kamar mandi mereka berada. Dan membuka pintu kamar mandi, seraya jari telunjuk menunjuk baktubh yang sudah penuh dengan air hangat. Yang mengisyaratkan sang suami agar cepat mandi.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar mandi, Gus Syam keluar dengan masih menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Menghampiri Tari yang sedang menggelar sajadah untuk mereka sholat duha berjamaah.
" Dek, "
" Iya Mas, loh kenapa belum memakai baju ? " Saat melihat sang suami masih berbalut handuk.
" Belum ada **********, "
" Baiklah sampean tunggu, biar aku carikan terlebih dahulu. "
Benar saja Ternyata Tari lupa menyiapkan dalaman untuk sang suami, setelahnya mereka segera sholat Dhuha berjamaah hal yang selalu mereka lakukan bersama. Dan setelahnya Gus Syam mengutarakan apa yang tadi menjadi rencananya dengan sang adik.
__ADS_1
" Apa tidak sebaiknya kita bicarakan dengan Ummi dulu Mas ? "
Bersambung .......