
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
POV. Setyo
Pesawat yang ku tumpangi sudah landing beberapa menit lalu, dan kini langkahku sudah keluar dari area pintu keluar salah satu bandara yang berada di Jawa Timur. Entah mengapa kepulangan sekarang terasa berbeda dari kepulangan ku yang sebelum - sebelumnya. Apa karena sebuah kepuntusan penting yang harus ku buat untuk hidupku atau adakah hal lain yang menungguku disana.
Seperti biasa wanita yang dekat ku beberapa tahun terakhir ini sudah menunggu seperti biasa di depan pintu keluar penerbangan domestik. Wajahnya selalu berseri dihiasi senyuman serta tatapan penuh kagum padaku, yang sejujurnya sedikit membuat hatiku merasa ngilu.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam, "
" Apakah sudah lama menunggu ? "
" Lumayan. " Jawabnya singkat sambil mengulum senyuman di wajahnya.
Kami pun berjalan menuju mobil travel yang sudah kami pesan sebelumnya, yang akan membawa kami ke kota yang terkenal dengan tahu taqwanya. Selama perjalanan tidak ada obrolan yang berarti diantara kami, kecuali pertanyaan biasa bertukar kabar dan kesibukan yang kami lakukan.
Mobil travel yang kami tumpangi pun sampai di kota tujuan kami, aku terlebih dulu mengantarnya ke asrama tempatnya tinggal. Setelah sampai aku turun untuk mengantarnya sampai ke dalam asrama, rasanya tidak etis jika aku hanya mengantarnya sampai gerbang. Kami berjalan berlahan karena jalan yang kami lewati basah karena sisa hujan yang sudah reda dengan beberapa genangan air disana - sini.
Entah mengapa, tiba - tiba jantungku berdebar kencang sekali tak biasanya aku merasakan hal ini selain dengannya. Aku mencoba menepis perasaan yang coba kusembunyikan selama ini, ataukah aku sudah memulai membuka hatiku untuk wanita yang sedang berjalan bersamaku.
Kuarahkan pandanganku ke depan tepat kearah teras asrama yang sudah terlihat, kenapa jantungku semakin tak karuan. Tak berselang lama gerimis pun datang tanpa di duga, kami melangkah dengan tergesa bergegas ke arah teras. Sampai ku dapati siluet wajah yang tak asing bagiku yang terlihat samar dibawah cahaya lampu teras yang temaram.
" Kuat sampai sini saja ya, ini sudah malam "
" Iya Mas, "
" Besuk ku jemput pagi, Assalamualaikum. "
" Baik Mas, Walaikumsalam. "
Kaki seakan berat untuk melangkah lebih jauh, terlebih jantungku benar - benar tidak bisa diajak berkerjasama. Apalagi sosok di teras itu benar - benar bisa mengacaukan pikiranku untuk saat ini. Dari kejauhan sosok itu tampak menyambut kedatangan wanita yang menjemputku tadi dengan akrab, mereka memasuki asrama bersama - sama. Dan sebelum masuk sosok itu menoleh kearahku, hatinkumencelos saat wajah wanita itu terlihat jelas.
Ku yakinkan diriku sendiri, tidak mungkin dia wanita yang selama ini berusaha ku tutupi keberadaan nya dihatiku dari siapapaun. Tidak mungkin dia, aku sangat yakin itu bukan dia, mana mungkin dia disana, pasti bukan dia. Mungkin hanya karena aku terlalu lelah dan karena penerangan yang kurang jelas saja.
Ku lemparkan tubuhku ke atas kasur ku, yang sudah 3 bulan ini tidak ku tempati tanpa berniatembersihkan tubuhku yang cukup berkeringat. Pikiranku tidak bisa teralihkan dari peristiwa yang ku alami tadi, benarkah dia ? itu pertanyaan yang selalu hadir di benakku. Dengan cepat aku bangun dan mencari ku sesuatu yang ku sembunyikan di sisi terdalam lemariku, terlihat betapa bodohnya aku.
Setelah cukup lama mengaduk - aduk lemariku, karena kotak yang aku cari ternyata berpindah tempat dari terakhir kali aku menyimpannya. Ku buka berlahan kotak kecil berwarna coklat itu, hati ku berdesir tat kala tanganku mulai mengeluarkan satu persatu isi dalam kotak itu.
Tok ...... tok ...... tok ......
" Le, sampean ngak mandi dulu " Suara ibuk dari luar.
Dengan cepat tanganku memasukkan kembali semua isi kotak itu kembali, dan segera menyembunyikan barang yang sangat berharga itu dari orang lain. Dengan segera aku berjalan kearah pintu, dan membukanya.
" Enggeh Buk, sebentar lagi aku masih meluruskan punggungku yang terasa pegal. "
" Makanya mandi dulu, ibuk sudah menyiapkan air hangat untukmu. "
__ADS_1
" Enggeh Buk, terimakasih. "
Kubuka lemari dan mengambil handuk bersih yang berada disana, segera ku langkahkan kakiku ke kamar mandi. Benar ternyata mandi air hangat cukup membuat tubuhku rileks dan sedikit mengurai pikiranku yang sedang kalut.
Jam menunjukkan pukul 23:00, setelah aku selesai sedikit berbincang dengan anggota keluargaku. Aku berpamitan untuk terlebih dahulu masuk ke dalam kamar karena lelah akibat perjalanan yang ku lakukan. Padahal sejujurnya ada hal lain yang ingin segera aku lakukan, yang coba ku tahan sedari tadi.
Segera ku ambil kotak yang ku lemparkan tadi dibawah kolong tempat tidur karena kedatangan ibuk yang tiba - tiba. Ku usap pelan kotak itu, membuka ini seperti membuka luka lama yang telah sengaja aku simpan rapat - rapat selama ini.
Kembali ku keluarkan isi dari kotak itu satu persatu, tanpa terasa butiran kristal bening jatuh begitu saja ketika tanganku menatap selembar foto. Satu - satunya foto yang tersisa dari ratusan lainya yang telah diambil oleh keluarga. Ku usap perlahan wajah gadis dalam foto itu, senyum cerianya selalu saja masih terasa dalam pandangan mataku. Gadis yang tak pernah tergantikan kehadirannya oleh siapapun di hatiku.
Gadis yang sudah menjadi ratu di hatiku semenjak pertemuan kami pertama kali. Gadis yang mampu meluluh lantakkan kehidupanku, membuat hidupku berputar 180 derajat. Ku ambil lagi satu barang dari kotak itu, dan benar saja hati ku benar - benar sakit dengan semua ini. Semalaman aku hanya bisa menangisi ini semua sendiri sama seperti beberapa tahun yang lalu.
Tanpa terasa aku tertidur dengan memeluk selembar foto berada di tanganku. Samar - samar ku dengan adzan subuh berkumandang, aku duduk mencoba mengumpulkan kesadaran ku apalagi mataku terasa sembab. Sungguh laki - laki macam apa aku ini yang hanya bisa menyesali sebuah keputusan bodoh yang pernah aku buat, andai saja ku dulu memiliki keberanian yang cukup.
Pagi ini aku berencana mengunjungi rumah Lenni, ya dia wanita yang beberapa tahun terakhir ini tengah dekat dengan ku. Kalau di bilang pacar bukan tapi kalau hanya sekedar teman, aku rasa hubungan kami lebih dari teman. Entahlah yang jelas kami dekat karena keluarga ku memaksaku untuk dekat dengannya, sedangkan Lenni sepertinya dia memang menaruh hati padaku.
Kalau soal hatiku jangan pernah ditanya bagaimana perasaanku padanya. Karena sejujurnya hati sudah mempunyai ratunya sendiri, ya dia yang selalu ku sebut dalam setiap doa malam ku. Entah takdir mempertemukan kita atau tidak yang jelas hatiku sudah dimilikinya sepenuhnya.
" Om Yoyo, antar aku sekolah ya ? "
" Iya cantiknya Om, kebetulan Om nanti akan ke sekolahnya Jasmine mau jemput Tante Lenni. "
" Asik hore - hore, "
" Yo, kamu mu jalan sama Lenni ? "
" Enggeh Buk, orang tua Lenni mengundang Setyo untuk kerumah Buk. "
" Insyaallah Buk, " Kucium tangan ibuk mencoba meyakinkannya.
" Ayo Jasmine sudah selesai belum sarapannya ? "
" Sudah Om. "
Kami berdua berangkat meninggalkan rumah menyusuri jalan raya nampak ramai di pagi hari. Sepanjang perjalanan Gadis kecil itu tak henti - hentinya berceloteh khas anak kecil menceritakan semua hal yang dianggapnya menarik. Sesekali akan tertawa terkikik dan sesekali memasang wajah kesal ketika dia menceritakan halayang tidak dikuasainya. Apalagi saat dia menceritakan Ibu Guru barunya dia sangat antusias.
" Sama Tante Lenni cantik mana ? " Entah mengapa pertanyaan itu terlontar begitu saja.
" Ehms, cantik Bu Tari sih menurutku pokoknya kau sayangnya sama Bu Tari. "
" Benarkah, perasaan cantik Tante Lenni deh ? "
" Big No Om, ahh....... susah ngomong sama om. "
Anak kecil jaman sekarang sudah pandai sekali dalam hal apapun termasuk sudah pandai dalam menilai sesuatu hal. Aku hanya bisa tersenyum dan mengusap kepala keponakan ku itu. Karena hari masih terlalu pagi aku memutuskan untuk ke asrama terlebih dahulu karena jam masuk sekolah Jasmine baru jam 08:00 sedangkan sekarang masih jam 06:45.
Ku tuntun gadis kecil itu bejalan menuju pintu samping yang mengarah ke asrama, setiap orang yang melihat kami pasti mengira kalau gadis di sebelahku ini putri ku. Kalau dilihat - lihat memang sudah pantas lah di usiaku sekarang memiliki putri seusia Jasmine. Sungguh lamunan macam apa ini, sampai kedua sudut bibirku terangkat membayangkannya.
" Ih On yoyo kenapa kok senyum, senyum begitu entar disangkanya om kenapa lagi. ,"
__ADS_1
Duh mulut dari anak adik ku ini kenapa persis sama ibunya, suka ceplas - ceplos.
" Ngak kenapa - kenapa, "
" Yey, Omnya malah senyum lagi seneng ya mau ketemu Tante Lenni, mau pacaran ya ? "
" Hust, ........ anak kecil sok tau pacaran segala. "
" Tau lah, "
Akhirnya kami sampai di teras asrama suasana di asrama nampak sepi. Tiba - tiba saja jantungku berdetak tak karuan, kenapa lagi ini jantungku. Sepertinya aku harus segera check up kesehatan karena dari tadi malam sepertinya ada yang tidak beres dengan jantungku.
"Assalamualaikum "
" Kok ngak ada jawaban om ? " Terdengar suara anak kecil perempuan.
" Kita tunggu sebentar ya. "
Kami hanya menunggu berdiri di depan pintu karena tidak ada sahutan dari dalam. Sampai datang seorang wanita paruh baya dari arah samping asrama menghampiri mereka.
Assalamualaikum, Maaf mas mencari siapa ? "
" Walaikumsalam Bu, saya mencari Lenni. "
" Oh ...... Monggo masuk biar saya panggilkan. Sampean duduk disini dulu. "
Aku pun menuntun keponakan kecilku itu menuju sofa yang letaknya paling dekat dengan pintu. Dan mendudukkan tubuh kami di sana sambil menunggu Lenni yang masih di panggilkan oleh wanita paruh baya tadi. Suasana sudah sepi di asram ini padahal dari cerita Lenni biasanya suasana di sini cukup ramai, tadi sebelum duduk aku hanya melihat dua orang duduk di sofa yang letaknya membelakangi tempat dudukku.
" Ayo mbak Tar berangkat. "
" Iya ayo, "
Suara derapan langkah kaki dari sepatu pantofel yang beradu dengan lantai, seolah berpacu dengan detak jantung ku. Tiba - tiba suasana di sekitarku terasa dingin entah perasaan apa ini.
" Bu Tari " cicit Jasmine dengan keras.
Dua wanita yang lewat di depan kami menghentikan langkahnya. Ku arahkan pandanganku kepada salah satu dari mereka yang kurasa memiliki nama yang dipanggil oleh Jasmine. Dan kebetulan yang sama pandangan kami bertemu sampai beberapa detik.
" Om itu Bu gurunya Jasmine, Jasmine ikut berangkat bersama Bu Tari ya. ? "
" Jasmine ? "
" Iya Bu, Jasmine berangkat sama Bu Tari ya ? "
" Iya, pamit dulu sama Omnya dulu sayang. "
" Om, Jasmine berangkat dulu ya Assalamualaikum....... " Diciumnya tangan ku oleh Jasmine.
Sungguh aku tak mampu mencerna semua yang sedang terjadi saat ini, tiba - tiba lidah ku kelu tulang - tulang ku terasa luruh begitu saja. Sampai - sampai ucapan dari Jasmine pun tak mampu aku jawab.
__ADS_1
" Mari Pak ......... " Ucapnya sambil tersenyum ke arahku .
Bersambung .........