Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
65. Misteri Terpecahkan


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Tari selesai berwudhu, lalu dia mendudukkan tubuhnya di atas kasurnya bersiap menuju pulau kapuk. Sementara Wardah dia sudah berbaring sedari tadi, meringkuk menghadap tembok memunggungi Tari. Tidak biasanya diam seperti itu, jadi begitu dia diam jadi sangat terlihat. Sedang tidak enak badan hanya itu yang dia katakan. Sedangkan Tari belum berniat untuk tidur dia sedang berbalas pesan dengan Rina.


✉️ Besuk ngak jadi pulang kan ? Aku sedang di Kediri, di rumah Bulik.


✉️ Iya Mbak, ada kesibukan lain disini ?.


✉️ Baiklah, besuk ikut denganku.


✉️ Kemana ,?


✉️ Ada kajian dirumah Bulik, nanti biar dijemput.


✉️ Tidak usah biar aku ke sana sendiri, atau aku bisa pergi dengan Wardah beri tahu alamatnya saja.


*************


" Piye nduk ? "


" Sampun Bulik, Insyaallah bisa datang. "


" Alhamdulillah, kebetulan besuk kan banyak saudara kita yang datang. "


" Enggeh Bulik, "


" Saiki aku wez marem nduk, wez plong Ra nduwe pikiran aneh - aneh eneh. " Terlihat binar bahagia pada wajah wanita paruh baya itu.


" Enggeh Bulik tinggal menunggu waktunya saja. "


Sejak kedatangan Gus Reyhan dan Rina beserta Mikhail si bayi gembul itu kerumahnya, suasana rumah terasa lebih ramai. Apalagi dengan kabar yang disampaikan Gus Reyhan kepada Kiyai Baharudin dan Bunyai Salamah membuat suasana terasa lebih bahagia menghilangkan kekhawatiran dari sepasang paruh baya itu.


" Sana nduk, sampean keloni tole Mika di kamar sekalian sampean istirahat. "


" Enggeh Bulik. " Ucap Tina seraya berdiri dari duduknya seraya pergi menuju kamarnya.


*************


Malam berlalu dengan cepat, akhir akhir ini cuaca terasa lebih dingin dari sebelumnya. Air terasa seperti es apabila disentuh kan di permukaan kulit. Dan apabila terlalu lama bersentuhan dengan air kulit akan terasa kebas dan mati rasa. Tari selesai dengan sholat subuhnya. Dilihat teman sekamarnya itu masih bergeming dibawah selimut.


Dibukanya, korden yang menutupi jendela, meskipun matahari pagi belum menyongsong. Baginya melihat langit suasana subuh di iringi suara murotal adalah sebuah nikmat yang tiada duanya. Dia berjalan menghampiri Wardah, kemudian mengusap bahunya pelan.


" Dah, sebentar lagi subuh habis. "


Gadis kurus itu hanya meregangkan tubuhnya, kemudian menghadap arah lainnya. Tampak sekali tidak ada keinginan darinya menyudahi tidurnya.


" Wardah, putus cinta boleh tapi lalai kewajiban itu yang jangan. "


" Siapa sih Mbak yang putus cinta. " Jawabnya dari balik selimut.


Gadis kurus itu nampak duduk, mengucek kedua matanya mencoba mencari kesadarannya. Di lihatnya ke jendela, begitu tau langit sudah mulai terang. Dengan segera dia masuk ke kamar mandi, dan selalu lupa untuk membawa handuk. Tari yang melihatnya hanya tersenyum, kemudian mengambil handuk milik Wardah dan menggantungnya di gagang pintu.


" Dah handuk sampean tak taruh di gagang pintu "


" Terimakasih Mbak Tar. " Jawabnya dari dalam kamar mandi.


Pagi ini suasana cukup sepi di asrama, karena tinggal beberapa orang saja yang tidak pulang. Tari sudah di dapur membantu Bu Tini memasak hal yang selalu dia lakukan. Sementara Wardah dia baru saja masuk ke dapur, sepertinya suasana hatinya masih tidak baik terlihat dari wajahnya yang masih nampak murung.


" Dah, hari ini sampean sibuk apa tidak ? "


" Tidak Mbak. "


" Mau menemaniku, ? "


" Boleh Mbak. "


" Mau kemana to nduk ? " Tanya Bu Tini yang baru masuk dapur.


" Mau ke kajian Buk, di ndalem Bunyai Salamah. Tapi saya belum tahu ndalemnya, kalau dari sini enak naik ojek apa angkot ya buk ?. "

__ADS_1


" Loh kenal sama Bunyai Salamah juga to ?, naik becak saja nduk dekat nanti bilang Ponpes Salawiyah gitu sudah pada tahu Kang becaknya. "


" Enggeh Buk, Njenengan ngeh kenal Buk ? "


" Yo kenal to nduk, Beliau kan ketua ranting pengajian Yo mesti kenal semua. Istrinya Kiyai Udin kan ? "


" Enggeh Buk, "


Setelah pekerjaannya di dapur selesai, Tari dan Wardah kembali ke kamar mereka. Acara kajian dimulai selepas sholat Duhur, mereka berencana berangkat sekitar jam 10 karena Rina berpesan untuk datang lebih awal. Masih terlalu awal untuk mereka bersiap karena sekarang masih jam 08:00, sambil menunggu mereka akhirnya membersihkan barang masing - masing.


Tari merapikan lemari kecilnya, yang lebih banyak terisi oleh buku dibanding pakaian. Akhir - akhir ini dia sering mendapat kiriman buku, tanpa tahu siapa yang mengirimnya. Sampai - sampai nakasnya sudah penuh dan sekarang lemarinya pun menjadi rumah baru bagi semua buku - bukunya.


Dddrrrtttt.......... dddrrrtttt.........


📞 Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


📞 Jadi ke kajiannya, jam berapa berangkat ?


📞 Jam 10, ada apa ?


📞 Ku tunggu di bawah.


Tari menutup panggilan itu, kemudian tersenyum ketika melihat nama pemanggil yang berada di layar handphonenya. Pandangannya beralih pada gadis yang sedang membersihkan lemari pakaiannya namun bukannya menata kembali tetapi yang dilakukan hanya memasukkannya sembarangan.


" Dah, kenapa ? "


" Kenapa ? " Jawabnya sambil alis yang berkerut.


" Itu baju sudah rapi kenapa dikeluarkan, bukannya di tata kembali malah ditata asal kayak gitu. " Ucap Tari sembari menunjuk tumpukan baju di depan Wardah.


" Eng .... enggak kenapa - kenapa mbak. "


" Sudah sholat istikharah belum ? "


" Wajahmu tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang sampean alami, barang kali di saat seperti ini bisa membantu sampean dalam memutuskan. "


Setelah pukul 10:00 Tari dan Wardah gadis itu sudah siap untuk mengikuti kajian, Tari menggunakan gamis syar'i berwarna peach dengan kerudung senada. Sedangkan Wardah gadis itu mengunakan gamis syar'i berwarna hijau army dengan aksen list berwarna coklat susu. Mereka segera mengunci kamar mereka dan turun ke bawah.


" Ayo sudah siap. " Ucap Rizki yang melihat mereka sampai pada anak tangga yang paling bawah.


" Sudah, "


Sementara Wardah dia nampak terkejut dengan hal itu, setahunya tadi mereka akan pergi menggunakan becak karena letak ponpes Salawiyah yang cukup dekat. Nyatanya kenapa mereka harus berangkat dengan Rizki.


" Mbak Katanya tadi kita perginya naik becak ? "


" Oh, tadinya sih memang begitu. Maaf ya rencananya sedikit berubah. " Tari menatapnya kemudian mengelus lengannya pelan.


" Mbak Tari kenapa ngak ngomong. "


Rizki pura - pura acuh seakan tidak mendengar percakapan kedua wanita itu, yang jelas - jelas sedang membicarakan dirinya.


" Ayo keburu siang, time is money. " Ucap Rizki sembari menunjuk jam di pergelangan tangan kirinya.


" Sudah mau berangkat to, sama Pak Rizki juga ? Loh bajunya Wardah kok bisa samaan sama Pak Rizki. " Ucap Bu Tini yang datang dari arah belakang.


Tari kemudian menatap kedua orang itu bergantian, yang satu tersenyum puas sedangkan yang satu semakin dalam menekuk mukanya.


" Enggeh Buk, saya tadi kok ngak memperhatikan ya. " Tati terus mengamati mereka berdua seolah - olah baru mengetahuinya.


" Anak muda suka barang yang sama - sama."


" Iya buk, awalnya baju sama buk akhirnya ........... " Tari menjeda jawabannya.


" Ayo mbak, sudah siang. "


" Ya sudah buk, Ki berangkat Assalamualaikum. "

__ADS_1


" Iya ati - ati lo nduk, Walaikumsalam. "


Sampai di mobil pun mereka tidak ada jawaban, Wardah yang biasanya duduk di depan saat mereka bertiga sekarang lebih memilih duduk di belakang. Tari hanya bisa tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu, sepanjang perjalanan biasanya gadis itu banyak bicara sekarang hanya diam. Dan terlihat sangat gugup, apalagi dia ketika Rizki sesekali menatapnya dari rear spion.


Saat tiba di ndalem suasana sudah cukup ramai, dan tenda besar sudah di dirikan di halaman ponpes. Ternyata Ponpes Salawiyah adalah ponpes modern yang dikhususkan untuk santriwati saja. Kedatangan Tari sudah disambut oleh Rina yang sedang mengendong Mikhail.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam. "


Kedua sahabat itu segera berjabat tangan dan berpelukan, begitu juga dengan Wardah yang berdiri di belakang Tari. Kemudian mereka masuk ke ndalem yang ternyata sudah cukup penuh dengan orang. Jadilah mereka berputar untuk menyalami satu persatu orang yang ada di sana. Setelah itu Tina mengajaknya masuk lebih ke dalam, dan ternyata di sini SMA penuhnya.


Nampak Bunyai Salamah yang duduk paling ujung, begitu mengetahui Tari datang beliau segera bergegas kearah Tari.


" Assalamualaikum Bunyai. "


" Walaikumsalam nduk, "


Tari segera menyalaminya dengan takzim. Entah mengapa, Bunyai Salamah langsung memeluknya erat sembari mengelus pelan bahunya sampai waktu yang cukup lama.


" Terimakasih Yo nduk. " Ucapnya saat mengurai pelukan. Matanya nampak berkaca - kaca.


" Sampun Bulik, " Mbak Rina mengusap pelan lengan Bunyai Salamah sambil tersenyum simpul.


" Nduk Rin, ajak kebelakang saja disini terlalu ramai. sekalian panggil Ning Nafisa. "


" Enggeh Bulik, Mari Tar ikut aku. "


Mereka bertiga meninggalkan ruang tengah, menuju ndalem belakang ruangan yang cukup nyaman dan tersembunyi ruangan yang terhubung langsung dengan halaman belakang. Tari dan Wardah hanya saling memandang mengapa mereka di bawa kesini bukannya kajiannya di depan.


Tari sudah mengendong Mikhail bayi itu sudah bertambah besar sekarang, hidungnya yang mancung sebentar lagi akan kalah dengan pipinya yang gembul. Rina sudah jangan ditanya keberadaannya, karena setelah mengajaknya kemari dan menitipkan Mikhail kepadanya dia menghilang entah kemana. Tak berapa lama ada 2 mbak santri datang kearahnya membawa nampan berisi teh dan makanan.


" Monggo Ning tehnya. "


" Enggeh Mbak, tapi saya bukan Ning. " jawab Tari sambil mengulas senyum.


" Bukannya salah satu dari kalian calonnya Gus ....... ? ucapan dari salah satu Mbak santri terpotong.


" Eh, sudah diambilkan Teh to " Suara Mbak Rina terdengar cukup keras, yang tiba - tiba masuk dari arah ruang tengah yang diikuti Gus Reyhan dan Rizki dibelakang.


" Assalamualaikum. " Ucap Gus Reyhan seraya menangkupkan tangannya di dada kearah Tari dan Wardah. "


" Walaikumsalam Gus, " Jawab kedua gadis itu serempak.


" Ayo Ki duduk, "


" Iya Mas Han. "


Tari terlihat bingung ketika, Gus Reyhan dan Rizki terlihat begitu akrab. Bahkan Rizki tidak memanggil Gus Reyhan dengan panggilan Gus seperti kebanyakan orang.


" Kok pada bengong kenapa ? bingungnya kenapa kami bisa akrab ? " Gus Reyhan seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Tari dan Wardah.


" Kami sudah kenal akrab sejak kecil, saat di Malang. Karena sahabatku adalah adiknya Mas Reyhan, dan kami itu sudah seperti saudara dari kecil aku terbiasa memanggilnya Mas. " jelas Rizki.


" Jadi kami seperti 3 bersahabat, kemana - mana selalu bersama yah meskipun diantara kami bertiga Akau yang paling tua. Tapi nyatanya aku yang paling ganteng diantara kita bertiga. "


" Mana bisa Mas, " Protes Tizki


" Buktinya kalian berdua saja belum laku, kalau aku kan sudah jelas. Sudah menikah dan sudah terjamin kualitas dan kuantitasnya bisa di buktikan dengan hasilnya. " Sambil menunjuk putranya yang sedang digendong Tari.


" Aku juga sebentar lagi mas, hanya tinggal menunggu dia bilang ya saja. Pasti aku langsung mengajak orang tua ku ke rumahnya untuk memintanya langsung ke orangtuanya. " Ucapnya sambil menatap dalam ke arah Wardah ........


Tari menyadari hal itu, sementara Rina yang juga menyadari hal itu langsung menyentuh kaki Tari yang ada di bawah kaki meja.


" Ehem, ehem. Sepertinya misteri sudah terpecahkan Mbak Rina. " Kedua wanita itu nampak menyeringai


Sementara Wardah mukanya sudah pucat, dia tidak berani sama sekali menegakkan kepalanya. Sungguh diluar kebiasaan yang dia miliki.


Bersambung .......

__ADS_1


__ADS_2