Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
79. Kembali Pada-Nya


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Setiap milik-Nya akan kembali pada-Nya, sesuatu hal yang pasti. Terlepas seperti apa dan bagaimana cara kita pergi itu semua adalah kuasa-Nya. Ketika semua tugas yang dilimpahkan kepada kita usai, hendaknya kita pergi dengan kerelaan dan keihklasan.


Innalilahi wa innailaihi rojiun


Matanya menutup dengan sempurna, wajahnya berseri bibirnya pun seolah sedang tersenyum bahkan tangannya pun sudah bersedekap. Gadis itu membelai wajah Ayahnya, ditatapnya erat wajah sang Ayah. Kemudian di berbisik ditelinga sang Ayah.


" Terimakasih Yah, " hanya kata itu yang mampu di ucapkan.


Kemudian dia mencium wajah yang mulai terasa dingin itu, hatinya berkecamuk melihat ini semua. Terdengar suara pintu terbuka, ternyata Bu Fatma yang baru saja masuk. Wanita paruh baya itu mendekat ke arah tempat tidur suaminya.


" Buk, Ayah telah kembali. "


Seketika wanita paruh baya itu menubruk tubuh sang suami, dia menangis di atas tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Tari hanya bisa mengelus pelan punggung sang Ibu, tanpa bisa berkata.


" Yah sampean kenapa pergi secepat ini, kami masih membutuhkan sampean. "


" Buk ihklaskan, Ayah. "


Gadis itu memencet tombol emergency, dan tidak beberapa lama perawat mulai datang dan memeriksa keadaan Pak Rahmat. Sampai Dokter yang menangani Pak Rahmat pun menyatakan


" Telah berpulang Pak Rahmat pada usia 57 Tahun pukul 10:15 23 April 20xx "


Tubuh yang mulai dingin itu sudah ditutup dengan kain putih, wanita paruh baya itu dengan setia duduk di sampingnya.


Pak Rudi dan Bu Yuli datang dengan nafas yang tersengal, dengan langkah cepat kedua orang tua itu masuk kedalam ruangan itu.


" Mbak Fat, tabahkan hati sampean. " Ucap Bu Yuli seraya memeluk tubuh Bu Fatma.


" Nduk, Tar. Biar Pak Lik yang mengurus kepulangan jenazah Mas Rahmat. "


" Enggeh Pak Lik. "


Suasana hatinya saat ini benar - benar tidak bisa dijelaskan dengan kata - kata. Kesedihannya melebihi apapun, kehilangan cinta pertama dalam hidupnya adalah sebuah pukulan besar baginya.


Yang dirasa awal kebahagian baginya namun berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Kepergian orang terkasihnya yang begitu cepat, membuat hatinya sakit. Berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tegar, melakukan kewajibannya sebagai anak untuk terakhir kalinya.


Dibasuhnya tubuh yang sudah dingin itu karena darah yang sudah berhenti beredar, dengan air. Kewajibannya sebagai anak, mensucikan Ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Dipandanginya wajah yang selalu mampu memberikan rasa hangat untuknya, kemudian mencium kedua pipinya yang terasa dingin.


" Ijah ihklas Yah, " Bisiknya di telinga jenazah Ayahnya.


Dengan tangannya dia ikut membungkus tubuh dingin itu dengan kain putih, dan butiran kristal bening yang berusaha dia tahan sedari tadi akhirnya luruh juga. Dengan secepat kilat pula dia mengusap butiran kristal bening itu. Dengan sekuat tenaga dia menahan sesak di dalam dadanya.


Tanah kuburan ini masih basah, bunga yang ditabur diatasnya pun masih segar. Beberapa orang sudah mulai meninggalkan tempat itu, hanya tinggal beberapa saja yang masih disana.


" Nduk, Ayo kita pulang dulu. Kita temani Mbak Fat dirumah. "


" Sebentar lagi Pak Lik, biarkan Ijah menemani Ayah sebentar lagi. "


Diusapnya pelan nisan yang baru tertancap itu, seakan mengusap wajah Ayahnya. Berusaha menyalurkan rasa sedihnya sedari tadi yang harus dia tahan karena dia tidak ingin tangisnya, menjadi penghalang kewajibannya terhadap Ayahnya untuk terakhir kalinya.


" Maafkan Ijah Yah yang masih belum bisa membahagiakan Ayah, maafkan Ijah. " Ucapnya sembari terisak dengan air mata yang sudah memenuhi wajahnya.


" Insyaallah Ijah akan selalu menjaga Ibu, dan membawa Ibu kemanapun Ijah pergi. Insyaallah Ijah akan selalu mengingat nasihat Ayah. "

__ADS_1


Dua laki - laki muda tampak menghampirinya, duduk di samping kanan dan kirinya. Mereka terdiam hanyut dalam pikiran mereka masing - masing.


" Mbak, ayo kita pulang sepertinya akan turn hujan. "


" Sebentar lagi Bang. "


Hanya itu yang sedari tadi diucapkannya, dua laki - laki muda itu hanya bisa ikut duduk berjongkok disampingnya. Mengusap punggungnya pelan ketika tangisnya mulai terdengar.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " Jawab Irhas dan Irsyad bersama, namun tidak ada jawaban dari Tari.


Laki - laki yang baru saja datang itu berjongkok di hadapan mereka di sisi kubur yang lain. Tangannya menengadah banyak sekali doa yang beliau ucapkan yang dapat di dengar dengan jelas. Laki - laki itu kemudian mengusap nisan itu pelan seraya berkata.


" Insyaallah Yah, saya akan menjaga apa yang sampean wasiatkan kepada saya dengan sebaik - baiknya. " Ucapnya dengan suara yang tegas mengisyaratkan kesungguhan dalam setiap kata yang diucapkannya.


Kemudian dia berdiri menuju sisi lain kubur tempat dimana Tari, Irhas dan Irsyad berada. Mengulurkan tangannya ke arah Tari.


" Dek, ayo kita pulang dahulu. Ibuk sudah menunggu sampean. "


Entah angin apa yang membuat gadis itu menyambut uluran tangan laki - laki itu dan berdiri dari duduknya. Pandangannya masih tertunduk, dan seketika laki - laki itu menautkan jari - jari mereka. Dan seketika tubuh kecil itu lunglai bagaikan tak bernyawa.


" Mbak Tar. " Teriak Irhas dan Irsyad bersamaan. "


Laki - laki itu sudah membawa tubuh kecil itu dalam gendongannya. Kakinya meninggalkan kuburan yang di iringi dengan tetesan air yang jatuh dari langit.


" Kalian ada yang bisa mengemudikan mobil ? "


" Kami bisa Gus, "


Jarak antara pemakaman dan rumah Tari lumayan jauh, namun tak membutuhkan waktu yang lama untuk mobil SUV itu untuk sampai. Suasana rumah masih banyak pelayat yang datang, dan beberapa tetangga yang ikut membantu.


" Loh kenapa bang, Mbak mu ? Ayo langsung dibaringkan di kamarnya saja. " Perintah Bu Yuli ketika melihat Tari dalam gendongan suaminya.


" Tadi pingsan Buk pas di makam, mari Gus kamarnya Mbak Tari sebelah sini. "


Semua orang tampak memperhatikan mereka terlebih lagi Tari yang pingsan dan sedang digendong oleh seorang laki - laki yang mereka tidak kenal. Sehingga muncul berbagai pertanyaan dari mereka, karena setahu mereka Tari sosok yang sangat menjaga dirinya dari lawan jenis.


Sesampainya di kamar, laki - laki itu membaringkan tubuh kecil itu di kasur. Kemudian Bu Fatma masuk kedalam yang disertai beberapa orang di belakangnya.


" Nduk bangun, " Ucapnya pelan sembari mengelus pipi putrinya.


" Ini mbak di kasih minyak dulu hidungnya. " Kata Bu Yuli sembari memberikan minyak angin ke arah Bu Fatma.


Tidak ada tanda - tanda Tari ingin membuka matanya, padahal segala cara sudah dilakukan. Semua orang nampak mulai khawatir, apalagi badannya terasa dingin sekali dengan titik keringat yang sedari tadi membasahi keningnya.


" Bagaimana Buk, belum sadar juga ? "


" Belum Le, "


Laki - laki yang semula hanya melongokkan kepalanya ke dalam kamar itu, akhirnya memasuki kamar. Dilihatnya wajah gadis itu, wajahnya nampak pucat dengan butiran keringat yang membasahi keningnya. Kemudian segera mengambil tangan kecil itu, terasa dingin di kulitnya yang hangat.


" Bang Irsyad tolong ambilkan Tas saya di dalam mobil. " Ucapnya kepada Irsyad yang pada saat itu sedang berada di dalam kamar itu juga.


" Enggeh Gus, "

__ADS_1


Tak berapa lama Irsyad datang membawa tas yang diminta laki - laki itu dan menyerahkannya.


" Monggo Gus. "


Laki - laki itu membuka Tas ransel bermotif loreng miliknya. Mengeluarkan stetoskop dan tensi meter miliknya. Dengan lihai tangannya mulai memeriksa gadis kecil itu. Dan terakhir mengarahkan senter ke arah mata gadis itu. Dia mulai berdecak ketika hasil dari pemeriksaanya sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


" Kita harus membawanya ke rumah sakit terdekat. " Ucapnya sembari memasukkan alat - alatnya kembali ke dalam tas miliknya.


Bu Fatma yang mendengar hal itu, hanya bisa mengusap dadanya pelan. Satu hari ini dilaluinya dengan berat, kepergian suaminya dan sekarang putrinya yang tidak sadarkan diri. Bu Yuli yang mengetahui hal itu segera memeluk saudara iparnya itu.


" Sebaiknya cepat dibawa ke rumah sakit saja, sampean ganti baju dulu. " Ucap Bu Yuli kepadanya.


Dia segera membuka tas ranselnya mengambil baju ganti yang selalu ada di sana. Celana jeans panjang dan kaos polo putih yang kan dia kenakan menggantikan baju loreng khas kesatuan tempatnya berdinas.


Setelah mengganti baju miliknya, ditatapnya wanita yang sedang berbaring di atas kasur itu. Seulas senyum tersungging di wajah yang berdagang tegas itu. Kemudian dia mendudukkan tubuhnya di sebelah kasur, mensejajarkan badannya yang tegap dengan kasur. Diambilnya tangan yang dingin itu, diusapnya pelan kemudian menciumnya dalam.


" Kita lalui ini semua bersama, sampean harus kuat. " Dikecupnya kening gadis itu dalam.


Sementara diluar orang - orang yang belum tahu siapa sosok laki - laki berseragam loreng tadi tengah bertanya - tanya. Bahkan diantara mereka ada yang langsung menanyakan siapa sebenarnya laki - laki itu.


" Mbak Yuli, yang mengendong Ijah tadi siapa kok saya ngak pernah lihat. "


" Suaminya Ijah itu Mbak, "


" Lah, kapan nikahnya Mbak ? kita kok ngak ada yang tahu. "


" Baru kemarin Mbak, sebelum Almarhum Mas Rahmat masuk rumah sakit. Baru sebatas nikah Siri karena waktu itu Almarhum Mas Rahmat yang mendesak karena ingin menikahkan putrinya sendiri. "


" Berarti Almarhum Pak Rahmat sudah memiliki firasat kalau mau pulang mungkin ya Mbak. "


" Mungkin Mbak. "


" Oalah, Alhamdulillah Ijah sudah ada suami Mbak apa lagi keadaannya seperti ini.


Para tetangga masih banyak yang membantu di rumah itu, karena sesuai adat akan ada selamatan yang harus dilakukan. Tiba - tiba pintu kamar itu terbuka, dan sosok tinggi tegap yang berada di balik pintu itu.


Ibu - Ibu yang semula tengah berbincang, seketika menatap sosok yang baru saja membuka pintu itu. Bahkan diantara mereka ada yang sampai ternganga.


" Buk, saya akan membawa Khodijah ke rumah sakit. Njenengan di rumah saja biar Khodijah saya yang mengurusi. "


" Ibuk, titip Ijah ya Le. "


" Enggeh Buk, Bulik saya titip Ibuk, tolong sampean temani Ibuk selama kami dirumah sakit. "


" Iya Ke, sudah sana bawa istrimu Ibuk dan rumah percayakan pada Bulik dan Paklik. " Jawab Bu Yuli.


Laki - laki itu kembali memasuki kamar, dia kembali mengendong tubuh Tari. Di ikuti Irsyad dan Irhas yang berjalan di belakangnya yang akan menemani mereka ke rumah sakit.


Dek mulai saat ini jangan membawa beban itu sendiri, bagilah setiap beban yang sampean bawa dengan ku. Insyaallah kita akan bisa melaluinya jikalau kita selalu bersama. Percayakan semua yang ada pada diri sampean entah itu bahagiamu maupun sedihmu hanya kepadaku.


Dipandanginya wajah teduh yang berada di pangkuannya itu, dan kemudian mengecup keningnya dalam. .....


Bersambung ......


Assalamualaikum,

__ADS_1


Sudah pada tahu belum siapa suaminya Tari ..... ?


Maaf kalau jalan ceritanya membingungkan, tapi sebentar lagi pasti semua akan jelas siapa laki - laki itu. 🥰🥰


__ADS_2