
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Tari POV
Apalah daya kita sebagai manusia, untuk menolak ketetapan yang telah digariskan. Sungguh bukan kuasa kita untuk menolaknya bahkan hanya sekedar untuk menghindarpun kita tidak punya hak. Ada dua hal yang bisa kita lakukan mengikhlaskan dan bersabar ketika ketetapan itu berbentuk sebuah ujian. Bukankah keihklasan dan kesabaran itu adalah dua hal yang berbeda tapi harus berjalan beriringan dalam satu irama.
Setiap apa yang dia lakukan sedikit banyak sudah membuat celah dalam dinding hatiku. Dinding yang ku buat untuk melindungi hati yang teramat rapuh ini ketika dihadapkan dengan sebuah kata CINTA. Semenjak peristiwa itu aku menutup hatiku untuk mengenal kata itu, karena bagiku masih teramat sakit ketika aku teringat peristiwa yang merenggut senyum di hidupku. Dinding yang selama ini aku pupuk dengan rasa yang lebih indah, yaitu rasaku kepada Sang pemilik kehidupan.
Tapi apalah dayaku karena aku hanyalah manusia, yang mempunyai hawa nafsu yang kadang tidak bisa ku kendalikan. Dinding yang dulu kokoh dalam hatiku perlahan tercipta beberapa celah kecil yang setiap hari bertambah karena perlakuannya kepadaku. Dan sekali lagi hawa nafsu menguasai ku sehingga tembok itu benar - benar runtuh dibuatnya. Semua begitu indah dibuatnya, diperlakukan aku seolah - olah hanyalah aku yang bertahta dihatinya. Tatapannya yang selalu memujaku, kata - kata manisyang senantiasa terucap dari bibirnya benar - benar menyesatkan aku. Saat - saat itu ku nikmati dengan hati yang sangat bahagia seolah aku tak pernah sakit karena suatu hal yang disebut CINTA. Entah mulai kapan pastinya aku tidak tahu kapan aku mulai mengisi seluruh hatiku dengan namanya.
Semua orang larut dalam kebahagian yang kami ciptakan, terlebih lagi kedua malaikatku tak henti - hentinya senyum tersungging di wajah keriput mereka. Sungguh pemandangan yang lama tak dapat ku nikmati, senyum bahagia tanpa guratan beban dari mereka. Tiada ada kata lain selain kata syukur yang tak henti - hentinya aku ucapkan dalam hati ku, saat ku lihat senyum mereka. " Ya Allah jangan kau cabut nikmat yang kau berikan padaku, kebahagian dan ridho mereka adalah tujuan hidupku. Sungguh kau Dzat yang mampu membolak - balikkan hati umatmu " ucap ku dalam hati.
Sampai suatu ketika aku memantapkan hatiku untuk benar - benar dimiliki seutuhnya oleh dia. Aku menerima pinangannya dan menyanggupi menjadi makmumnya selama sisa hidupku berdasarkan atas menyempurnakan agama ku dan kecintaanku Pada- Nya. Bukankah sebesar apapun cinta kita pada seorang mahluk haruslah tidak melampaui kecintaan kita pada-Nya. Itulah prinsip yang akhir - akhir ini aku pegang teguh, yang membuatku tetap berdiri sampai saat ini.
Ku tapakkan kaki ku dimana tempat kami dulu pernah disini, ditempat dia berjanji akan menghalalkan aku. Dadaku berdesir ketika mengingat peristiwa itu, ku gigit bibir bawahku mencoba menyalurkan rasa perih ini. Semua tergambar jelas seperti kejadian yang sudah terjadi hampir 6 tahun lalu itu, seketika rasa sesak memenuhi dadaku.
Dituntunnya tangan ku lalu dibawanya aku duduk disebuah gazebo yang berada di pantai berpasir putih ini.
" Dek, "
" Iya Mas, "
" Entah apa yang sampean fikirkan, tapi aku rasa tak sepatutnya sampean memikirkan suatu hal yang sudah berlalu. "
" Maaf Mas, "
__ADS_1
" Saya tidak tahu sedalam apa luka sampean tapi yang jelas, saat sampean sudah melangkah ke depan seharusnya sampean sudah meninggalkan luka lama sampean. "
Kata - katanya sungguh bagaikan sugesti dalam fikiranku, kenangan yang semula tergambar jelas begitu saja hilang seiring ombak yang menghantam pantai berpasir putih itu. Segala kenangan itu seperti terbawa oleh ombak yang kembali kelaut, angin sepoi - sepoi serasa ikut pula menghempas semua rasa sakit itu dari tubuh ini. Ku langkahkan kakiku mengikuti kemana angin itu membawaku, tubuh terasa ringan karena sudah tidak ada beban di dadaku.
" Jangan pernah berjalan sendiri lagi, dan jangan pernah pula melepaskan genggaman ini. "
Ucapnya yang seketika membuatku terbang seakan kaki ini tidak berpijak di bumi lagi. Sejenak aku benar - benar lupa batasan - batasan yang akhir - akhir ini ku jaga. Hawa nafsu benar - benar menguasai ku saat ini, sampai aku lupa akan suatu hal yang bisa saja terjadi. Mimpi yang beberapa hari lalu ku dapatkan sejenak terlintas di fikiranku. Tapi karena hawa nafsu benar - benar menguasai ku tak ku indahkan peringatannya.
Membayangkan hari esok akan datang hanya dalam beberapa jam lagi membuatku tak henti - hentinya menyunggingkan senyum terbaikku. Tenda pun terpasang dirumah kecil ku, kebahagian seakan memenuhi relung hatiku. Terlebih lagi saat ku melihat kebaya putih yang tergantung, yang akan aku pakai di hari dimana dia akan mengucapkan janji suci untukku sungguh hatiku sangat bahagia. Masih ku pandangi dan membelainya, bayangan akan pernikahan yang selalu aku impikan terlintas di mataku.
Aku tersadar dari lamunanku saat handphone ku berbunyi lalu ku usap tombol hijau.
📞 " hiks, hiks, Ijah Ijah tolong aku. "
📞" Dinda, ada apa ? kenapa kamu menangis ?"
📞 " Kamu dimana sekarang, aku akan tempatmu "
📞 " Aku dialfa****, hiks, hiks "
📞 " Tunggu disitu jangan kemana - mana aku akan kesana, tunggu akau. "
Dinda teman semasa aku kecil dan bersekolah menghubungiku dengan suara serak dan tangis yang mengiringi. Dengan segera aku menemuinya karena aku khawatir dengan keadaannya. Benar saja kepadanya sangat memprihatinkan, bahkan aku sempat tidak mengenalinya.
Ku ajak dia ke tempat warung bakso favorit kami berdua, tanpa menanyakan suatu hal apapun kepadanya. Karena saat aku tadi memeluknya aku mendengar perutnya berbunyi. Setelah kami selesai makan, barulah ku bertanya apa yang membuatnya seperti ini. Aku mengulang pertanyaanku sampai beberapa kali karena dia tidak mau menjawab. Setelah aku sedikit mendesaknya akhirnya dia mau berbicara apa yang sebenarnya terjadi. Betapa terkejutnya aku ketika, dia sedang hamil.
__ADS_1
Aku tidak habis fikir kenapa dia bisa menyerahkan kehormatannya kepada sembarang orang. Pada saat itu sangat kecewa padanya, bahkan aku sempat menamparnya ketika dia bilang akan meng****rkan janinnya. Kupaksa dia untuk mengaku siapa yang telah menghamilinya. Tapi tangis dan permintaan maaf yang selalu terdengar dari bibirnya.
" Jah maafkan aku karena sudah melakukan ini, Paannn............. Pandu yang melakukan semua ini. "
Dan seketika aku terdiam, aku mencoba memastikan bahwa pendengaran ku salah. Antara percaya atau tidak kini yang sekarang berada dalam fikiranku. Dadaku sesak sekali karena hal ini, sebisa mungkin aku tahan air mataku untuk tidak jatuh. Aku tetap mempertahankan kesadaranku untuk menopang tubuh yang sudah terasa lemas ini. Mulut ku tak henti - hentinya beristighfar berusaha menahan gemuruh di dalam dada, memenuhi seluruh rongga dadaku sehingga begitu sesak kurasakan.
Bayangan mimpi yang kemarin ku alami kembali datang, namun ku rasa itu sangat nyata seolah - olah itu bukan mimpi melainkan kenyataan yang benar - benar terjadi. Karena hal itu kesadaran ku yang semula seakan kini kembali datang, nafas yang semula begitu sesak kini kurasa semakin ringan. Dan aku telah sadar bahwa aku dikhianati sejak pertama aku membuka hati untuknya karena Dinda menceritakan awal mula hubungannya dengan dia. Hati ku sakit , bahkan teramat sakit dia yang selalu memperlakukan aku dengan sangat manis, dia yang menarik ku dari dunia gelap ku, dia yang membawa senyum untuk keluarga ku, dan dia tempat ku menggantungkan harapanku mengkhianatiku.
Tapi kenapa aku bisa setegar ini, bahkan aku yang mengatur pertemuan keluarga kami untuk membicarakan hal ini. Saat melihatnya pun aku masih sempat terpesona dengan pandangannya yang seolah - olah memujaku. Semuanya telah berkumpul diruang tamu besar itu, dan mulai lah perdebatan demi perdebatan terjadi. Selalu ku genggam tangan keriput ayahku karena beliaulah aku sampai sekuat ini, ku lihat beliau mengangguk lalu tersenyum kepadaku. Dan ku anggap itu sebagai restu ayahku dengan keputusan yang aku buat. Akhirnya sebuah keputusan aku ambil, yang menurut ku ini memang keputusan terbaik untuk kami.
" Maaf mas, sesuai dengan namaku Khodijah. Sebagaimana Siti Khodijah Rhodiallah Huanhu akupun sama seperti beliau aku tidak sanggup untuk dimadu. Karena hatiku belum tentu ihklas karena bagiku menikah adalah menyempurnakan separuh dari agamaku. Bagaimana agamaku akan sempurna bila aku belum bisa ihklas. Biarkanlah aku mundur, karena sesungguhnya sampean bukanlah yang Allah tuliskan untukku. "
Butiran kristal bening yang dari tadi aku coba tahan akhirnya jatuh juga. Bukan karena aku tidak ihklas dengan keputusanku tapi aku sungguh tidak tega melihat raut muka orang tua Mas Pandu, ada rasa sedikit bersalah tapi memang ini jalan terbaik untuk kami bertiga. Dadaku sudah sesak kembali, dan ayah mengerti keadaanku sekarang. Ayahpun berpamitan untuk kami pulang ke rumah. Dengan perdebatan kecil dan tentu saja Mas Pandu yang tidak setuju dengan keputusanku, akhirnya kami pulang.
Sampai dirumah ku dapati semua anggota keluargaku menunggu di ruang tamu rumahku. Setelah menyalami mereka aku berpamitan kepada ibuku untuk melaksanakan kewajiban ku terlebih dahulu. Memang tiada tempat mengadu selain hanya kepada-Nya karena beliaulah obat dari segala penyakit dunia. Perasaanku begitu tenang saat ku sampaikan keluh kesah ku kepada-Nya, beban di pundakku seakan aku letakkan sejenak sehingga nafasku terasa ringan.
*Ya Allah sungguh tiada Tuhan selain Engkau di dunia ini. Terimakasih Engkau selalu merengkuh hamba dalam setiap hal yang hamba lakukan. Terimakasih untuk semua pelajaran yang engkau berikan, terima kasih untuk rasa ihklas ini.
Ya Allah hapuskan rasa sakit ini dengan rasa cinta kasih hanya kepada -Mu. Kuatkan lah kami dalam menghadapi ujian yang sedemikian, sungguh tiada tempat berlindung kecuali kepada- Mu. Hilangkan lah rasa sakit atas peristiwa ini pada keluarga hamba ya Allah . Kuatkan lah mereka, karena mereka adalah sumber kekuatan hamba. Dan tunjukkan jalan terbaik untuk kami semua. Amien Amien Amien*
Wajah mereka sungguh tak pandai menyembunyikan rasa bersalah mereka, karena mata mereka menunjukkan rasa yang berbeda. Dengan demikian "aku harus lebih kuat dari mereka" ucapku pada diriku sendiri.
Aku fikir dia sudah menerima dengan keputusan yang sudah kami sepakati tadi malam, nyatanya tidak. Dengan amarah yang terlihat karena wajahnya yang berubah menjadi warna merah serta kata - kata yang kurang sopan dia mendatangi rumahku. Sepertinya apa yang menjadi keputusan kita bersama tidak dia setujui.
Dan disinilah dia sekarang di ruang tamuku, dia mohon agar aku memberikannya kesempatan. Tapi keputusan ku tetap sama, karena itu sudah menjadi kayakinan ku tak mungkin aku mengubahnya. Setelah ku rasa pembicaraan kami telah cukup dengan segera aku menyuruhnya pulang, tapi sungguh lain yang terjadi dia malah menyeret ku dalam pelukannya. Tidak cukup disitu dia mengendong ku dipundaknya dan membawaku keluar kearah mobilnya. Seolah bisa membaca situasi yang terjadi, beberapa dari tetanggaku menghalangi jalannya untuk masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Bukannya menghentikan aksinya dia malah menjadi, dia sudah menggores pipiku dengan pisau yang dia buat untuk mengancam ku. Sungguh ini bukan Mas Pandu yang aku kenal, dia menjadi sosok lain karena amarah sudah menguasainya. Ku lihat ibuk ku memohon padanya, seketika pandanganku gelap dan ...........
Bersambung........