
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Enggeh Bulik amah, Tari memang gadis baik. "
" Apakah dia tidak bekerja Ning ? "
" Sebelumnya dia bekerja di tempat saya mengajar Bulik, tapi sudah hampir 4 bulan dia berhenti. Dan sekarang membantu mengajar di PAUD dan membantu pekerjaan orang tuanya. "
" Oalah, apa sudah berumah tangga ? "
" Belum Bulik, sebenarnya 4 bulan yang lalu dia akan menikah tapi batal karena ada satu hal. "
" Kok kasihan ya sudah mau nikah kok batal. "
" Mau bagaimana Bulik, sudah takdir mungkin. Padahal kurang 2 hari saja pernikahan itu dilakukan. Tapi kalau namanya belum jodoh mau bagaimana lagi. "
Dua wanita beda generasi itu terus saja berbicara di sepanjang perjalanan mereka menuju kota Malang. Bunyai Salamah terus menanyakan tentang gadis mungil yang dia temui tadi yang sepertinya sudah menarik perhatiannya. Belum lagi Nafisa yang juga ikut bertanya, karena baginya Tari bisa menjadi teman yang menyenangkan untuknya.
*******
Sementara di rumah kecil itu semua penghuni sedang menantikan adzan Maghrib dengan duduk di ruang tamu sembari mengobrol. Setelah seharian sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing, malam hari adalah waktu yang tepat untuk istirahat dan berkumpul dengan keluarga. Bu Fatma yang teringat sesuatu menghampiri meja tv yang berada di sudut ruangan itu, diambilnya sebuah map coklat. Kemudian dia berikan map itu kepada Tari, karena map itu ditujukan kepadanya.
" Dari mana buk, ? "
" Ngak tau nduk, tadi yang ngantar pak pos siang tadi. "
Tertulis dari sebuah yayasan pendidikan, dia teringat satu bulan yang lalu dia mengirim surat lamaran kerja untuk sebuah yayasan pendidikan. Dan mungkin saja ini jawaban dari surat yang dikirimnya, yang sudah sangat dia nanti hasilnya. Dibukanya amplop coklat itu dan benar saja, isi didalamnya adalah hasil dari surat lamaran yang dia kirim sebelumnya. Terus dibacanya lembaran yang ada di tangannya itu, dan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
" Alhamdulillah, "
" Bagaimana nduk hasilnya ? "
" Alhamdulillah yah, Sesuai harapan kita. Tari diterima yah, tapi masih belum ditentukan penempatannya dimana. "
" Tidak apa - apa nduk, itung - itung menambah pengalaman. Sampean harus siap itu memang sudah konsekuensinya nduk. "
Satu bulan yang lalu Tari melihat lowongan pekerjaan di sebuah yayasan pendidikan ternama yang memiliki cabang di kota - kota besar di seluruh Indonesia. Dia tidak ingin menyia-nyiakan keadan yang ada, dan mengirimkan lamaran pekerjaan ke yayasan pendidikan itu. Dan setelah satu bulan mendapatkan balasan dan hasilnya sesuai dengan yang dia harapkan.
" Disyukuri saja nduk kan ini rezeki datangnya dari Allah, "
" Enggeh buk, cuma kalau terlalu lama dirumah begini mau pergi itu berat buk. "
" Halah kayak mau kemana saja nduk, berdoa saja semoga ditempatkan disekitar sini. "
__ADS_1
" Enggeh buk, semoga saja bisa di Malang lagi buk. "
" Amien. "
" Seumpama ngak di Malang juga ngak papa nduk, biar nambah pengalamannya. " Ucap Pak Rahmat.
Bedug Magrib pun berkumandang, ketiga orang itu segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mereka melaksanakan sholat berjamaah di rumah, Pak Rahmat sebagai imamnya. Setelah selesai dengan kewajiban mereka, segera Tari menuju dapur. Diambilnya nasi dengan lauk tempe bacem dan pepes ikan sembari menyeduh wedang jahe kesukaannya.
Tak terasa waktu pun berlalu, adzan Isyak pun berkumandang. Ketiga orang itu segera melakukan kewajiban mereka, setelah selesai mereka segera bersiap menghadiri Pengajian di rumah Pak Yudi. Mereka bertiga berjalan kaki menuju rumah Pak Yudi, karena rumahnya tidak jauh, lagi pula bukan hanya mereka saja yang saat ini sedang jalan kaki. Memang di desa seperti ini masih banyak orang yang berjalan kaki apabila jarak yang mereka tempuh dekat.
Hanya membutuhkan sekitar 10 menit mereka sudah sampai dirumah Pak Yadi. Halaman rumah besar itu dipenuhi dengan tenda besar memenuhi seluruh halaman. Kursi - kursi berjajar dan ada sebuah panggung besar terletak didepan. Tamu - tamu yang datang dipersilahkan makan terlebih dahulu, baru setelah selesai makan mereka dipersilahkan duduk ditempat yang disediakan.
Nampak pak Yadi dan saudara - saudaranya berjajar menyambut tamu yang datang di sisi kiri yang diperuntukkan untuk tamu laki - laki. Sedangkan Bu Darmi juga Bu Nurul dan beberapa orang lainya di sisi kanan untuk menyambut tamu wanita. Bu Darmi memeluk Bu Fatma saat bersalaman.
" Sampean juga Dateng nduk ?" sambil merengkuh tubuh gadis mungil itu.
" Enggeh Bude, " Ucapnya sambil membalas pelukan Bu Darmi.
Mata wanita paruh baya itu tampak berkaca - kaca ketika melihat Tari. Kembali dia memeluk tubuh mungil itu, ini pertemuan pertama mereka setelah Tari pulang dari rumah sakit. Terlihat sekali guratan kekecewaan di wajah wanita paruh baya itu.
" Mari Bude Ijah duduk dulu. "
" Iya nduk. "
" Nduk sampean baik - baik saja kan ? "
" Buk, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ibuk tenang saja. " Tari menggenggam tangan ibunya dan menatapnya dengan senyuman.
Suasana mulai nampak ramai, para tamu undangan pun sudah memenuhi halaman besar itu. MC mulai membuka acara malam itu dengan Sholawat Nabi. Dan dilanjutkan beberapa sambutan dari pemilik hajat.
Tanpa disadari Tari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikannya dari pintu rumah besar itu. Matanya tak mau beralih dari sosok gadis mungil itu, ada guratan kekecewaan yang begitu jelas dari matanya. Sampai panggilan MC yang memanggil namanya untuk segera naik ke panggung membuyarkan lamunannya. Dia berjalan kearah panggung dengan digandeng seorang wanita yang perutnya sudah membesar. Tanpa sengaja Tari menoleh kearah sepasang suami istri itu, begitu juga dengan sepasang suami istri juga sedang menatap gadis itu. Seulas senyuman dia sunggingkan beserta anggukan, sepasang suami istri tersenyum tapi banyak hal yang mereka sembunyikan dalam senyum mereka.
Malam ini pengajian di rumah Pak Yadi digelar dalam acara Tasyakuran serta tujuh bulanan kehamilan menantu mereka yaitu Dinda. Semua orang yang hadir tak henti - hentinya menatap kedua pasang suami istri itu, dan yang tak kalah jadi pusat perhatian adalah kedatangan keluarga Pak Rahmat. Setelah apa yang dilakukan keluarga Pak Yadi masih saja keluarga Pak Rahmat mau menghadiri undangan Pak Yadi.
Setelah dua jam berlalu pengajian itupun berakhir, semua tamu undangan pun beranjak meninggalkan tempat itu. Begitu pula dengan Bu Fatma dan Tari sudah keluar dari halaman rumah itu menunggu Pak Rahmat yang tidak kunjung terlihat keluar. Mereka menunggu dalam waktu yang cukup lama tapi Pak Rahmat tak kunjung terlihat keluar. Tiba - tiba Bu Darmi berjalan kearah mereka, dan menghampiri mereka.
" Mbak Fatma mari masuk dulu, Mas Rahmat didalam ayo "
" Tidak usah Mbak, sebaiknya kami menunggu di luar saja. "
" Jangan begitu mbak, malu juga dilihat orang, disini juga dingin. Sudah ayo Mbak kita masuk, ayo nduk " Bu Darmi mengandeng Tangan Bu Fatma untuk masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Tari mengikuti dua wanita paruh baya itu dibelakang mereka.
Ternyata Pak Rahmat sedang berbincang dengan Pak Yudi dan juga Pak Riadi dan beberapa orang lainnya dan juga Pandu yang berada disana. Bu Darmi mempersilahkan Bu Fatma dan Tari untuk bergabung duduk dengan Dinda dan juga Bu Nurul.
__ADS_1
Suasana sejenak menjadi hening dengan kedatangan Bu Fatma dan Tari, mengetahui hal itu Pak Yadi segera membuka percakapan untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi. Obrolan itu terus berlanjut mereka larut dalam percakapan itu, tapi tidak dengan Pandu. Laki - laki itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari Tari. Sedangkan Tari yang sedari dipandangnya hanya tertunduk dan sesekali tersenyum bila isi percakapan itu terdengar lucu.
Handphone bergetar kemudian dia mengambil dari saku gamisnya, tanpa melihat siapa yang menelfonnya. Gadis itu melangkah menuju teras untuk menerima panggilan itu.
" Assalamualaikum "
" Halo ....... "
" Halo ...... "
Kemudian dialihkannya handphone yang sedari tadi di telinganya, lalu dilihatnya layar handphone itu. Senyum tersungging di bibirnya, saat mengetahui nomer yang sudah menelfonnya. Sesuai dengan dugaannya, nomer dengan kode luar negeri yang menelfon tanpa mau berbicara sepatah katapun. Kembali dia tempelkan handphone itu di telinganya.
" Alhamdulillah saya baik - baik saja, dan saya berharap sampean juga baik - baik saja. Walaikumsalam " Tari menutup telefon itu kemudian dia berbalik berniat kembali menghampiri ibunya.
Tanpa dia sadari ketika dia berbalik sebuah tangan besar menariknya dengan cepat. Betapa terkejutnya Tari saat pemilik tangan itu membawa Tari dalam peluknya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha lepas dari pelukan itu, meskipun tenaganya kalah jauh. Tapi akhirnya si pemilik tangan besar itu mau melepaskan pelukannya.
" Tar maafkan aku "
" Saya sudah memaafkan sampean mas. "
" Tar tidakkah ada kesempatan untuk kita kembali ?"
" Maaf Mas saya tidak ingin merusak rumah tangga yang sampean jalani. Saya akan bahagia kalau rumah tangga sampean dan Dinda juga bahagia. "
" Tar, bahagia ku hanya sama kamu, Tatap mataku Tar kalau aku sedang berbicara padamu. "
Sedari tadi Tari hanya menunduk tanpa mau menatap lawannya bicara, badannya sedikit gemetar karena perlakuan Pandu. Ingatannya kembali ke peristiwa tiga bulan lalu saat Pandu mengancamnya, badannya bergetar hebat tanpa dia sadar keringat dingin sudah bercucuran. Sampai terdengar suara wanita setengah berteriak dari dalam rumah.
" Tar jangan kau menggoda suamiku ..... !!!!!!" Wanita berperut besar itu datang menghampiri mereka
" Dinda, ini bukan seperti yang kamu fikirkan. " Ucap Tari ingin menjelaskan kejadian itu.
Sedangkan Pandu sama sekali tidak ingin menjelaskan kejadian itu kepada istrinya yang terlihat marah itu. Dia malah terlihat meraih tangan Tari lalu menggenggamnya, Tari berusaha keras untuk melepaskan genggaman Pandu. Dinda yang melihat hal itu terlihat begitu marah, dalam fikirannya Tari sengaja menggoda suaminya.
" Tar apa kamu memang sengaja datang kemari untuk menggoda istriku hah ...... Beraninya kamu datang kesini, apa kamu tidak punya malu ? "
" Mas Pandu tolong sampean lepaskan tanganku. Aku tidak ingin orang berfikir yang tidak seharusnya kepadaku. Aku mohon mas lepaskan tanganku. " Badan Tari bergetar hebat keringat dingin keluar dengan cepat dan tangannya pun teras dingin.
" Tidak Tar, sebelum kamu menjawab pertanyaannya ku. "
Karena suara diluar sangat ramai, orang di dalam rumah itu pun keluar. Mereka kaget ketika tubuh gadis mungil itu terjatuh kelantai dengan cepat.
Bersambung .........
__ADS_1