Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
85. Penyempurna hidupku


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


POV. Tari


Kemarin entah karena apa aku harus sampai ketemu lagi dengannya, sejujurnya aku kurang menyukai hal itu. Bukan karena akun masih menyukainya, atau sekedar berharap dia akan kembali padaku sama sekali tidak pikiran seperti itu di benakku. Aku hanya manusia biasa yang juga punya rasa sakit hati bila ada orang yang menyakitiku.


Setiap melihatnya, aku ingat penghianatan yang dilakukannya, dan dia masih saja tetap mengharapkan ku. Aku sudah memaafkannya namun entah mengapa bila melihatnya membuat rasa sakit di kepalaku ini kembali berdenyut.


Pagi ini rasa sakit itu masih ku rasakan, bahkan sekarang terasa berputar - putar malahan yang mengakibatkan rasa sedikit mual. Namun karena kewajiban aku tetap pergi mengajar, karena di kelas ku belum ada pengganti Mbak Lenni. Bicara tentang Mbak Lenni sejak kejadian itu dia benar - benar menghindari ku, bahkan dari berita yang aku dengar lebih tepatnya ketika aku tidak sengaja teman asrama ku membicarakannya. Dia sekarang di mutasi ke Surabaya, aku menyayangkan sifatnya yang seperti itu. Seharusnya dia bertanya langsung padaku, dan minimal mau mendengarkan penjelasan ku. Bukan lari seperti ini, bagaimanapun aku merasa kehilangan sosok teman, yang sudah ku anggap seperti kakak perempuan bagiku.


📞 assalamualaikum


📞 walaikumsalam


📞 Yah sampun minum obat ?


📞 Sudah nduk, belum pulang sampean ?


📞 Sebentar lagi yah,


📞 Ada apa nduk, kok suara sampean terdengar serak.


📞 Tidak apa - apa yah, hanya saja Ijah kurang tidur, Oiya besuk Insyaallah Ijah pulang.


📞 Iya nduk, hati - hati kalau pulang.


📞 Baiklah Yah, Ijah tutup dulu, Ijah akan kembali ke asrama. Ayah baik - baik dirumah, Assalamualaikum.


📞 Sampean disana juga hati - hati ya nduk, Walaikumsalam.


Ku akhiri panggilan telefon dengan Ayah, entah mengapa akhir - akhir ini aku merasa ada yang aneh aku begitu mengkhawatirkan beliau. Padahal jelas-jelas keadaan beliau sekarang sudah baik, tapi wajar saja bila aku mengkhawatirkan beliau karena aku putrinya. Segera ku rapikan barang milikku dan kembali ke ruang guru, ternyata suasana masih ramai. Ku putuskan untuk terlebih dahulu menginput data karena aku berencana sesampainya aku di asrama aku akan langsung tidur.


Aku disana cukup lama karena data yang aku input cukup lumayan banyak. Begitupun guru - guru lain juga melakukan hal sama denganku, diselingi dengan canda gurau diantara mereka. Berita pernikahan Pak Rizki dan Wardah ternyata sudah cukup tersebar, padahal undangannya saja belum selesai dicetak. Yah begitulah berita hal seperti itu akan cepat tersebar, apalagi seorang Pak Rizki yang menikah.


" Jangan - jangan habis ini Bu Tari yang menikah. " Ucap salah satu dari mereka.


Aku hanya mampu tersenyum kecut, saat ada perkataan seperti itu. Di usiaku sekarang seharusnya aku sudah berumah tangga. Bahkan temanku ada yang sudah memiliki anak, namun aku masih sendiri. Apalagi akhir - akhir ini aku dihadapkan dengan masa lalu yang datang. Ironi itu hal yang sekarang aku rasakan, ingin seperti yang lain dengan bebas bisa mengungkapkan perasaan dengan lawan jenis. Namun aku memegang teguh dengan apa yang Allah perintahkan kepada kami sebagai umat-Nya. Bahwa tidak ada cinta sebelum adanya ikatan yang suci, dan aku percaya di balik semua ini Allah sedang menyiapkan jodoh terbaik untukku.


" Tidak Bu, saya masih lama." Jawabku.


Aku memutuskan pulang ketika pekerjaanku sudah selesai, aku berjalan menuju asrama dengan Mbak Rini. Rasa pusing ini kembali menyerang ku, rasanya aku ingin cepat - cepat sampai asrama dan merebahkan tubuhku di kasur.


Ke rumah singgah apa tidak Tar ? "

__ADS_1


" Sepertinya tidak Mbak. "


" Kenapa tidak, Temannya Rizki datang lo nanti. "


" Temannya Pak Rizki Mbak ? "


" Iya, orang yang mendirikan rumah singgah itu Tar. Ayolah Tar, kaan lagi bisa bertemu dengan dia. Dia jarang sekali bisa berkunjung. "


" Insyaallah Mbak. "


" Beneran ya nanti datang, biar sampean tahu orangnya. "


Aku benar - benar tidak baik - baik saja, setelah sampai asrma aku segera melangkahkan kakiku ke tangga, dan disana Pak Rizki mengajakku juga ke rumah singgah yang ku tolak dengan halus. Wardah yang mengetahui keadaanku segera merengkuhku kemudian menemaniku sampai di kamar. Setelah sampai di kamar gadis itu mengambil obatku dan kemudian memberikannya kepadaku. Langsung saja aku terima dan meminumnya.


Aku berbaring, dan rasa denyutan itu mulai terasa menghilang seiring dengan mataku yang juga menutup. Bukan aku tidak memikirkan peristiwa yang baru saja aku alami, namun rasa sakit ini benar - benar tak mampu membuat mataku terbuka. Aku mencoba mengumpulkan kembali kesadaranku ketika aku dengar handphone ku yang berbunyi nyaring sekali. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya aku geser kearah tombol hijau.


📞 Assalamualaikum


📞 Walaikumsalam


Ternyata itu suara Gus Reyhan, ada apa dia menghubungiku. Ke betulkan dudukku untuk mendengarkan semua yang sedang dia sampaikan. Setelahnya suaranya berganti dengan suara yang sangat aku kenal.


📞 Nduk


📞 Maafkan Ayah bila mengambil keputusan ini sepihak tanpa meminta pendapat sampean terlebih dahulu. Ayah harap sampean menerima ini dengan ihklas.


Sampai di sana aku masih belum mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang dimaksud Ayah. Sampai panggilan itu berubah menjadi panggilan Vidio. Nampak disana Ayah, Ibuk, Pakde Sukadi, Pak Dul, Gus Reyhan dan sosok seorang tak tidak jelas namun aku seperti pernah melihatnya.


📞 Bersediakah sampean Nyimas Khodijah Bramastari menjadi satu - satunya istri bagiku ?


Siapakah dia ? Pertama yang muncul alam benakku, kemudian aku menyadari maksud dari semua ini. Ku lihat semua orang nampak menunggu jawabanku. Dan entah karena apa kata itupun meluncur begitu saja.


📞 Ya saya bersedia.


Setelahnya prosesi itu terjadi, dalam satu tarikan nafas dia sekarang sudah menjadi imamku. Aku masih bingung dengan apa yang sedang terjadi, namun rasa bahagia itu terlihat sangat jelas. Gus Reyhan mengakhiri panggilan itu, dan rasa sakit itu kembali datang yang membuat ku kembali terbaring dengan sekuat tenaga aku melawan rasa sakit itu. Namun yang ada aku malah kembali tertidur.


Entah berapa lama aku tertidur, namun aku lihat rasa cukup lama karena saat Wardah membangunkan ku dia berkata itu sudah jam 22:00. Aku sedikit kaget ketika Buk Tini juga berada di kamar kami, mereka berdua tampak khawatir. Aku terlebih dahulu ke kamar mandi, karena aku teringat aku belum menunaikan kewajiban ku. Setelah selesai melakukan kewajiban ku .


" Nduk, tolong sampean temani Mas Rizki sama Wardah pulang. " Ucap Bu Tini.


Dan jadilah kini aku duduk di belakang mobil Pak Rizki menemani kedua orang ini pulang ke Malang. Pikiran kembali kepada peristiwa yang baru saja aku alami, ingin rasanya aku bercerita kepada Wardah namun sepertinya bukan waktu yang tepat karena ku lihat dia sedang terlihat khawatir. Jadi ku putuskan untuk kembali tidur, untuk menepis semua pikiran burukku.


Wardah membangunkan ku ketika mobil Pak Rizki sudah terparkir rapi, dan aku segera bangun dan keluar. Dengan tidur yang lama ternyata cukup membuatku sedikit lebih baik, rasa pusing itu akhirnya hilang juga. Kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai pada sebuah bagian ICU, disana aku mulai merasa ada perasaan yang tidak enak. Langkah kami berhenti di sebuah depan ruangan, dan ketika Pak Rizki membukanya betapa kagetnya aku.

__ADS_1


Dengan langkah yang cepat aku menghampiri brankar pasien, dan wajah teduhnya begitu terlihat tenang namun semua alat bantu yang terpasang ditubuhnya menggambarkan keadaannya sekarang. Aku sudah tak sanggup lagi membendung lagi air mataku yang sudah jatuh sedari tadi.


" Nduk ....... "


" Buk, Ayah kenapa ? Maafkan Ijah. "


" Yang sabar, yang ihklas ya nduk kita sedang diuji. "


Sebisa mungkin aku harus bisa menguasai diriku, sebisa mungkin aku tegar dan menghadapi cobaan yang kami lalui dengan dengan sabar dan ikhlas. Segera ku sucikan diriku kemudian menggelar sajadahku memohon kesembuhan untuk malaikatku.


Entah mengapa sedari tadi aku merasa ada yang mengawasi ku, namun aku tidak mengambil pusing. Aku harus berkonsentrasi dengan Ayah, yang setelah itu beliau sadarkan diri. Dengan cepat aku keluar ruangan untuk memanggil suster atau dokter jaga. Namun aku menyadari kebodohanku,segera aku berbalik dan ......


Bbbrrruukkkkkk


Jantung ku sudah berdebar tak karuan, aku tak mampu mengangkat wajahku untuk menatap siapa orang yang sedang merengkuh ku. Aku berusaha tidak terlihat gugup namun itu percuma, bahkan suara setajam jantung ku bisa terdengar jelas. Namun yang aneh aku juga bisa merasakan debaran jantung milik tubuh yang sedang merengkuhku.


" Aku tak ingin milikku dilihat orang lain. " Ucapnya sembari menutup kepalaku dengan sorban miliknya.


Disana dunia ku seolah berhenti berputar, kami terdiam dengan pandangan yang saling mengunci satu sama lain. Aku masih berusaha memahami kata yang baru saja dia ucapkan, sementara matanya masih memandangku dengan seulas senyum menghiasi wajahnya.


" Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha 'alaihi. Wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi "


Artinya : Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tetapkan atas dirinya."


Diucapkannya sembari mengelus ubun - ubun ku, kemudian mengecup kening ku pelan namun terasa dalam bagiku. Lalu tangannya menggenggam tangan ku, di tatapnya wajahku yang membuat wajahku entah sekarang seperti apa.


" Dek ....... " Ucapnya lembut padaku


Aku sungguh benar - benar masih belum percaya ternyata dia. Dia yang beberapa tahun lalu ku temui di dalam bis, dia yang menabrak ku ketika dirumah sakit, dan dia yang beberapa bulan lalu ku temui.


" Dek Khodijah " Panggilnya lagi.


Yang membawa ku, kembali dari semua lamunanku. Ku beranikan menatap bola mata hitam miliknya, teduh sekali pandangannya sampai - sampai hati ku terasa penuh dengan kelenjar aneh yang ku rasakan.


" Iiiya Mas, ...... " Jawab ku gugup.


" Terimakasih sudah menerimaku, jadilah penyempurna untuk hidupku. " Ucapnya sembari mencium tanganku.


Seketika pipiku memanas, tanpa terasa air mataku jatuh begitu saja. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, entah perasaan seperti apa yang jelas hatiku saat ini dipenuhi dengan bunga yang bermekaran.


Subuh itu ku lalui dengan hati yang membuncah, dia tidak pernah melepaskan genggamannya. Semoga setelah ini hanya kebahagian yang aku rasakan, terlebih dengan adanya dia di sisiku.


Bersambung .........

__ADS_1


__ADS_2