
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sang mentari belum turun dari peraduannya, titik embun pun bahkan masih senantiasa menghiasi lembaran dedaunan. Hawa dingin masih menelusup sampai ke tulang, suara ayam jago yang dengan gagahnya berkokok tidak mampu membangkitkan sebagian manusia yang masih bergelut dengan alam mimpi.
Tari sudah terbangun dari alam mimpinya, entah memang sudah biasa dia bangun pada jam seperti ini atau memang keadaan yang membuatnya tetap membuka mata. Kegoyahan akan keyakinan pada dirinya sendiri benar - brand tergambar jelas di raut wajahnya sekarang. Pandangannya kosong, sehingga mudah sekali sesuatu yang masuk mampu menggoyahkan keyakinannya.
Alam bawah sadarnya, yang masih ingin membuka hati untuk kenangan masa lalu membuatnya menjadi seperti ini. Jangan pernah salahkan orang yang gamang akan keputusan dalam menghadapi suatu pilihan terlebih pada masa lalu. Yang menjadi sebuah harapan dan cita pada masa itu.
" Cepat bersihkan dirimu, dan gantilah dengan pakaian ini kita akan segera berangkat ke bandara. " Perintah Setyo kepada Tari sembari memberikan baju untuk mengganti bajunya yang sudah lusuh.
Tidak ada jawaban darinya, hanya dia memandang ke arah Setyo cukup lama. Dan tangannya terulur menerima baju pemberian dari Setyo, kemudian dia terdiam lagi dalam waktu yang cukup lama.
" Apa yang sedang kamu pikirkan ? " Ucap Setyo yang sudah berjongkok di depannya
Dia menjawab pertanyaan yang Setyo katakan padanya, dengan hanya menggeleng kan kepala.
" Masih ragu ? " Tanya Setyo lagi.
" Apa yang kulakukan ini benar ? " Tanya Tari dengan mata berkaca ,- kaca
Tiba - tiba tangisnya pecah begitu saja, Setyo segera menangkup kedua pipinya menghapus air matanya dengan kedua jari jempolnya. Diraih bahu wanita yang selalu mengisi hatinya itu, mengusap bahu wanita itu pelan untuk mengurangi rasa sesak wanita itu. Saat punggungnya sudah tidak begitu berhetar, Setyo menuntunnya untuk berdiri.
" Waktu kita tidak banyak, ayo segeralah bersiap. " Ucap Setyo sembari mendorong tubuh Tari untuk ke kamar mandi.
Dia membersihkan dirinya, dan segera berganti dengan pakaian yang tadi di berikan oleh Setyo. Sebuah gamis panjang berwarna hitam dengan kerudung senada. Dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tertunduk. Setyo menghampirinya dan memakaikan jaket jeans miliknya di bahu Tari yang cukup besar untuknya.
" Ayo, kita harus cepat bergegas. Penerbangan kita jam 07:00, dan perjalanan di sini masih cukup lama. " Ucapnya sembari menggendong ransel miliknya di punggungnya sembari menggenggam tangannya menuntunnya meninggalkan ruangan itu
Mereka berdua sampai di lantai bawah di mana mobil Setyo terparkir, Setyo memasukkan Tas ransel miliknya di bagasi mobilnya. Di sana nampak beberapa koper yang lain, dan beberapa barang yang lain. Kemudian Setyo kembali menuntunnya, membuka pintu samping kemudian menyuruhnya masuk dan sebelum menutupnya dia terlebih dahulu mengunci sealt belt miliknya.
" Ingat ini adalah hal yang selalu kita impikan, kamu masih senantiasa memimpikannya kan ? " Tanyanya saat dia sudah berada di belakang kemudi.
" Entahlah. " Jawab Tari lirih.
" Kita sudah sejauh ini tidak ada gunanya jika kamu memilih kembali. "
Mobil yang mereka tumpangi meninggalkan pertokoan tua yang terbengkalai itu. Menyusuri jalanan yang kanan kirinya dipenuhi banyak orang yang sedang menjajakan dagangan mereka yang berupa sayur mayur, dan bahan makanan lainnya. Tari menatap keluar jendela sepanjang perjalanan yang mereka lalui hingga mereka keluar dari pasar pagi yang telah mereka lewati dan sekarang mulai menyusuri jalan naik turun dengan pemandangan perkampungan yang cukup padat penduduk.
__ADS_1
Ya Allah, aku tahu ini salah aku tahu tindakan ku tidak benar aku tahu yang aku lakukan melanggar semua batasan ku. Berikanlah segenap kekuatan dan keyakinan padaku untuk melawan semua rasa ini. Tunjukkan siapa yang sebanar - benarnya memang Kau kirimkan untukku. Bukan aku meragukan apa yang telah Kau gariskan padaku namun biarkan aku jadi egois atas semua ini. Sungguh bukan kuasa ku melawan semua yang telah Kau gariskan karena aku bukan siapa - siapa yang mampu. Semoga ini menjadi jalanku menemukan sesuatu yang sedang aku cari Amien Amien Amien.
***************
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh mereka melakukan breaving terlebih dahulu, bagaimanapun hal seperti ini sudah bisa dikatakan sebagai penculikan. Ya membawa istri orang dengan paksaan tanpa seizin suami. Pagi ini mereka akan berangkat bersama dengan satu tim yang terdiri dari tujuh orang dari anggota kepolisian ditambah dua dirinya dan Gus Reyhan. Nono memberikan beberapa arahan sap saja yang harus dilakukan dan beberapa rencana cadangan yang di siapkan bila rencana utama mereka gagal.
" Saya harap semua sudah mengerti dengan tugas masing - masing. "
" Siap Ndan. "
" Mari Gus, Kita tidak punya banyak waktu. " Ucap Nono sembari berjalan kearah mobil yang akan mereka gunakan.
Mereka berangkat dengan dua mobil, tim Nono menjadi satu mobil sedang Gus Reyhan dan Gus Syam menjadi satu mobil yang mengikuti mobil Nono yang berada di depan mereka.
" Mas, tolong rahasiakan semua ini dari Abbah dan Ummi cukup kita berdua saja yang mengetahui hal ini. " Ucap Gus Syam sambil memainkan handphone milik istrinya.
" Kenapa ? "
" Aku tidak ingin hubungan keluarga akan terganggu karena hal ini. Dan yang paling aku takutkan jika mereka bisa saja memutar balikkan fakta yang ada. " Dia mengalihkan pandangannya ke jendela disampingnya menatap tepian jalanan yang melewati pasar pagi yang cukup ramai.
" Semenjak kejadian itu aku memang tidak pernah percaya pada keluarga itu. Tapi kali ini kita tidak akan tinggal diam bila terjadi sesuatu lagi. "
Mobil do depan mereka tampak mengurangi kecepatan, dan menyalakan lampu sein menandakan bahwa mereka sudah dekat dengan TKP yang menjadi tempat Tari berada. Nampak beberapa orang anggota tim Nono turun dari mobil dan menuju belakang bangunan tua, dengan dua lantai itu.
📞 Kami akan turun terlebih dahulu
📞 Tidak bisakah kami ikut ?
📞 Tunggu sampai kami memastikan TKP bersih terlalu bahaya kalau langsung ikut.
📞 Baiklah kami akan menunggu di mobil.
POV. GHASAN
Jangan ditanya bagaimana perasaanku, setelah kejadian kemarin dia hampir saja dilecehkan seseorang yang dulu menjadi tunangannya sekarang dia di bawa pergi oleh Setyo. Ya dia orang yang membawa lari istriku, ingin sekali ku bunuh dia kalau saja tidak mengingat hal itu sebuah dosa besar. Kenapa dia menjadi tidak bermoral seperti ini, dulu sekali dia pernah merebut gadis yang menjadi kekasihku. Namun hanya seorang kekasih, sekarang lain cerita yang dia bawa lari adalah istri ku.
Aku dihadapkan dalam dilema dalam menghadapi ini semua, mengingat dulu yang pernah aku alami. Mereka pandai sekali memutar balikkan fakta, dan hal itu yang cukup aku takutkan saat ini. Sehingga saat aku mengetahui bahwa Setyo yang membawa Tari dengan paksa aku lebih memilih tidak pulang ke rumah. Aku tidak akan sanggup berbohong kepada kedua orangtuaku jadi aku lebih memilih menghindar sampai aku bisa membawa pulang istriku.
__ADS_1
Aku tahu, kalau istriku pernah menjalin sebuah hubungan dengan sepupuku itu dan akhir - akhir ini mereka bertemu kembali. Namun di pertemuan terakhir mereka istriku sudah menolaknya, dan sepertinya Setyo tidak bisa menerima keputusan itu.
Aku menunggu dengan was - was di dalam mobil sampai salah satu orang anggota tim Nono memanggil kami. Kami masuk ke sebuah ruko tua yang tidak terawat seperti lama tidak ditinggali. Karena sudah tidak sabar aku segera berlari dan masuk ke dalam, di ruangan bawah itu tidak bisa kita temukan sesuatu. Aku beranjak menaiki tangga karena bisa ku dengar suara Nono diatas.
" Tenang Shan jangan terburu - buru. " Ucap Mas Reyhan yang menangkap raut cemas ku.
Tanpa mendengar ucapan Mas Reyhan aku melangkahkan kaki ku lebar, menyusuri lantai dua bangunan itu. Di lantai dua Hanaya ada sebuah ruangan kosong dan sebuah kamar. Ku masuki kamar yang disana juga ada Nono yang sedang mencari suatu hal yang bisa di jadikan petunjuk. Di sana aku melihat sebuah bungkus nasi dan beberapa botol minuman dan juga satu botol minuman alkohol yang sudah pasti dikonsumsi Setyo. Ruangan ini sangat lembab dan pengap, membayangkan Tari disini membauat dadaku sesak.
Dan yang membuat hatiku mencelos tidak ku dapati sosok seseorang yang sedang aku cari. Kaki ku seakan tidak bertulang dengan kenyataan itu, bagaimana tidak harapanku sudah membumbung tinggi saat Nono bilang sudah menemukan tempat Tari berada.
" Sabar, " Hanya itu yang Mas Reyhan katakan sambil menepuk bahuku.
Seperti dihempaskan dari gedung yang tinggi, itu sekarang yang aku rasakan. Aku sudah tidak bisa berfikir jernih, emosi benar - benar menguasi ku. Tanpa sadar aku meremas sebuah gelas di sampingku hingga pecah berkeping - keping. Darah langsung mengucur ditangani, namun itu tidak terasa perih untukku.
" Kami menemukan sesuatu Ndan " Teriak salah seorang anggota tim Nono yang berada di kamar mandi.
" Cepat bawa kesini. " Teriak Nono dengan kencang.
Anggota itu membawa sebuah baju yang aku tahu itu milik istriku, aku langsung berlari tanpa memperhatikan tangan ku yang mengeluarkan darah semakin banyak. Ku ambil baju Tari darinya, dan langsung ku ciumnya. Benar saja bau ini adalah bau istriku, bau yang selalu bisa menenangkan ku. Namun pikiran ku semakin tak karuan bagaimana bisa dia meninggalkan baju miliknya, beberapa pikiran bodoh datang menghampiriku. Menimbulkan banyak pertanyaan dalam benakku, apakah dia baik - baik saja itu pertanyaan yang paling mendominasi diantara pertanyaan lain yang muncul.
" Tangan mu Shan, arek kok dikandani ngak kenek seneng gawe grusa grusu. " Ucap Mas Reyhan saat melihat tangan ku yang terluka.
" Ra Popo. " Jawabku singkat.
Mas Reyhan membersihkan lukaku karena banyak pecahan beling yang masih menancap, dan setelah itu membalutnya dengan sorban yang selalu ada di tas kecil miliknya.
Tanpa sadar ada secarik kertas yang terjatuh saat aku tadi mengambil baju milik Tari. Dan itu menjadi perhatian bagi Nono, memang insting seorang Bintek tidak perlu diragukan. Nono menunjukkan ke arah ku dan Mas Reyhan, nampak tulisan tangan Tari di sana.
...Siapapun saja yang menemukan ini...
...Juanda, penerbangan pertama tujuan Balikpapan...
...Tolong aku...
Saat kami membaca itu kami segera bergegas turun kebawah dan kembali ke mobil kami. Kami memacu mobil kami dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Mengingat sekarang sudah pukul 05:30 dan perjalanan dari sini ke bandara cukup memakan banyak waktu.
Ya Allah terimakasih telah Engkau beri hamba sebuah petunjuk, tidak adaasalh yang kau turunkan tanpa jalan keluar. Semoga hamba belum terlambat memperbaiki semua ini Ya Allah.
__ADS_1
Bersambung .........