Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
62. Ihklaskan


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Ilmu tidak selalu kita dapat ketika kita duduk dengan mendengarkan guru yang sedang menerangkan. Ilmu suatu hal yang bisa kita dapatkan di manapun dan kapan pun bahkan kadang dalam suasana yang tak terduga sekalipun. Bukankah pengalaman hidup juga sebuah ilmu, yang sangat berguna bagi kehidupan kita.


Sesuatu yang mampu menjadikan seseorang lebih baik dan terkadang juga bisa menjadikan seseorang menjadi buruk. Semuanya tergantung kita sebagai wadah dari hal yang dinamakan ilmu dalam menggunakannya.


" Yah apa tidak sebaiknya hal kemarin kita bicarakan dengan Tari. "


" Tidak perlu Buk, Seperti permintaan Gus Reyhan kita harus menyembunyikan hal ini sampai waktunya tiba. "


" Tapi Yah, bagaimana selama waktu itu Tari membuat kesalahan ? "


" Buk, Sampean harus yakin dengan putri kita. Dan Ayah rasa sampean yang paling mengenal putri kita. Dia tidak akan pernah membuat keputusan tanpa persetujuan kita. "


" Apa kita tidak terlalu memaksakan kehendak kita Yah ? "


" Karena kita ingin yang terbaik untuknya, Ayah rasa keputusan kita kemarin adalah keputusan yang terbaik untuk Ijah Buk. "


Masa liburan masih berlangsung kini Tari sudah kembali ke rumahnya, tempat ternyaman yang dia rasa. Tempatnya pulang ketika dia merasa sendiri di dunia ini, tempatnya merasa hangat ketika dia merasa dingin.


Kesibukannya tak jauh dari hal - hal yang berbau sawah, karena sawah yang digarap orang tuanya sedang musim panen. Seperti pagi ini dia membantu orang tuanya untuk membawa makanan ke sawah. Letak sawah yang dekat dengan rumah membuatnya ke sawah dengan hanya berjalan kaki.


Sesampainya di sawah, ternyata di sawah sudah ramai orang yang membantu Ayahnya memanen padi. Mereka membantu memanen padi karena sedang mencari batang padi yang digunakan sebagai makanan ternak mereka.


" Monggo Pak, sarapannya " Teriak Tari.


" Enggeh, mbak. " Jawab mereka serentak.


Mereka segera naik ke pematang sawah mencuci kaki mereka yang penuh dengan lumpur, kemudian pergi ke pondok. Tari membuka rantang makanan dan menatanya di pondok, serta menuangkan kopi ke dalam beberapa gelas plastik.


" Tumben Mbak Ijah dirumah ? "


" Enggeh Pak, masih libur semester. Monggo Pak lauknya di pakai ini kopinya. "


" Nduk, sampean ngak ikut sarapan ? "


" Sampun Yah, "


" Ouw, Monggo Pak makannya seadanya. "


" Enggeh Pak, " Jawab mereka serentak.


Semua orang selesai sarapan, kemudian Tari membersihkan alat makan dan menatanya kembali. Setelah ini dia berniat pulang karena Wardah akan datang mengunjunginya. Mereka membuat janji akan pergi ke suatu tempat.


" Yah, Ijah pulang terlebih dahulu. Assalamualaikum. "


" Iya, nduk. Walaikumsalam. "


Tari berjalan dengan tangan kanan kiri yang masing - masing menenteng rantang dan tas. Menyusuri pematang sawah kemudian jalan setapak yang mengarah ke jalan besar menuju rumahnya. Sesampainya di rumah dia sudah melihat motor sahabatnya itu sudah terparkir di den rumahnya. Dia lantas bergegas memasuki rumah melalui pintu samping berjalan menuju dapur menaruh semua barang bawaannya.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam, "


Gadis kurus itu sudah duduk diruang tamu rumahnya ditemani oleh ibunya.


" Sudah lama Dah ? "


" Baru saja mbak, "


" Dah aku mandi dulu ya, badan bau keringat. "

__ADS_1


" Iya Mbak tenang saja, ini juga masih terlalu pagi. Mandi yang bersih biar harum, biar tambah cantik. " Cibir Wardah.


" Mbak Wardah ayo diminum tehnya, "


" Enggeh buk, "


Mereka pergi berdua dengan menaiki sepeda motor milik Wardah, menuju sebuah Mall di kota Malang. Pagi ini jalanan di kota yang terkenal dengan hawa dinginnya itu cukup ramai. Mereka memarkirkan sepeda motor di parkir khusus untuk sepeda motor, kemudian masuk menuju lantai dua. Tari tampak mulai gugup dia memegang ujung pashmina yang dikenakannya.


Saat mereka sampai ternyata suasana restoran cepat saji cukup ramai, mereka memilih tempat duduk di area depan dengan tempat duduk sofa yang saling berhadapan. Di ambilnya handphone dalam sling backnya kemudian membuka ikon berwarna gagang telefon berwarna hijau. Membuka room chat yang sedari tadi tanpa henti mengirimkan pesan padanya.


✉️ jangan lupa dengan janji kita.


✉️ aku harap kali ini kamu tidak menghindari ku.


✉️ aku berangkat.


✉️ sebentar lagi aku sampai.


Dia mengembalikannya hanphonenya kembali ke dalam tasnya, dia mencoba mengatasi kegugupannya dengan terus membaca istighfar.


" Mbak, " Wardah menyentuh jarinya pelan yang sedari tadi terus dia eratkan satu sama lain menandakan dia sedang gugup.


" Eh, ........ Iya Dah. " seketika dia tersadar dan menoleh ke arah Wardah.


" Insyaallah Mbak ini jalan terbaik, yang penting Mbak Tari melakukan ini dengan niatan untuk meluruskan hal ini agar membawa kebaikan untuk semua. Jangan gugup Mbak, ingat Mbak Tari harus tenang ya. "


" Insyaallah Dah. "


" Tetap tenang mbak, jangan goyah harus sesuai dengan keputusan awal. Fighting eonni. "


" Insyaallah, ....... " jawabnya sambil menyunggingkan bibir di wajahnya.


Ddrtttt....... dddrrrtttt.......


📞 Assalamualaikum


📞 Walaikumsalam


📞 Aku sudah sampai, kamu dimana sekarang ?


📞 Saya di lantai dua, di restauran KFJ di dekat eskalator.


📞 Baiklah saya akan segera kesana.


Tut ...... Tut .... Tut .....


Panggilan diputuskan dengan sepihak oleh si penelefon, Tari masih melihat layar handphonenya dibuka Sebuah room chat dengan Nama kontak AL- Azz*r Leni. Tangannya sudah mengetikkan beberapa kata di room chat itu lalu dia menekan tombol kirim.


✉️ Maaf Mbak, hari ini saya akan meyelesaikan semua , saya harap setelah ini sudah tidak ada salah faham diantara kita berdua.


Dia meletakkan handphonenya keatas meja,


" Mbak sudah datang ? "


" Sudah, sebentar lagi sampai masih dilantai satu. "


" Tenang ya tanang. " Ucap gadis itu sambil meniup - niup wajah Tari. "


" Ada yang salah Dah, kenapa meniup ku seperti itu ? "


" Hehehehe, biar mbak Tari adem jadi bisa tenang. "

__ADS_1


Sungguh kelakuan gadis bertubuh kurus itu, kadang di luar dari gadis sebayanya cenderung pecicilan dan semaunya sendiri. Tapi dibalik sikapnya yang seperti dia gadis yang baik dan penuh perhatian.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam. "


" Sudah lama menunggu ? Maaf tadi harus mencari ini terlebih dahulu. " Setyo menganggsurkan seikat bunga mawar putih kepada Tari.


" Tidak apa - apa Mas, kami juga baru saja tiba. " sambil menerima bunga yang diangsurkan Setyo.


" Kita pesan terlebih dahulu ? "


" Tidak perlu Mas, kita bicara saja langsung ke intinya. kami masih punya janji yang lain. "


Tari tidak ingin berbasa - basi karena menurutnya antara dirinya dan Setyo itu sudah tidak ada hal yang perlu dijelaskan kembali. Hari ini mereka bertemu karena akhir - akhir ini Setyo terus menemuinya dan itu cukup menyulitkan untuknya. Maka dia memutuskan untuk segera menyelesaikan masalah ini dan meminta Wardah untuk menemaninya.


" Aku harap kita bisa kembali seperti dahulu, karena perasaanku padamu masih tetap sama tidak berubah bahkan berkurang. "


" Maaf aku tidak bisa Mas. "


" Kenapa tidak bisa, aku yakin kamu masih menyimpan perasaan yang sama kepadaku.


Sejenak mereka terdiam, wajah Setyo yang semula nampak ceria sekarang menjadi muram. Berapa kali dia mengusap wajahnya kasar, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.


" Tidak kah kamu merasa bahwa kita ditakdirkan untuk bersama. Lihatlah kita dipisahkan kemudian dipertemukan kembali lagi sekarang. "


" Ya Mas takdir memang mempertemukan kita kembali, tapi juga bukan berarti takdir akan menyatukan kita kembali. Aku tidak ingin membuat mu menentang orang tuamu mas, aku tidak ingin kamu menjadi anak durhaka. "


" Aku yakin mereka sekarang bisa menerimamu. "


" Aku rasa tidak Mas, mereka sudah memiliki pilihan. "


" Aku tidak mencintainya Khodijah, kamulah satu - satunya wanita yang aku cintai sampai kapanpun. "


" jangan membelungu hatimu dengan cinta tanpa ikatan mas, karena yang seperti itu hanya cinta atas nafsu dan syahwat saja. "


" Maka dari itu terimalah aku. " Dan wajah Setyo saat ini benar - benar terlihat frustasi.


" Maaf mas aku tidak bisa, Aku tidak mungkin membina hubungan tanpa adanya ridho dari kedua orang tuamu. Dulu aku pernah berkata tidak akan pernah ihklas ketika kamu meminang gadis selain ku. Tapi sekarang, aku ihklas mas ketika kamu bisa bahagia mesti itu bukan denganku, pinang lah gadis yang dipilihkan orang tuamu untukmu. " Sambil menyunggingkan senyum diwajahnya


" Lihat lah aku Jah, tatap mataku. " Setyo segera menggenggam tangan Tari yang berada dihadapannya sambil menatap matanya dalam.


Tari dengan bersusah payah mencoba lepas dari genggaman Setyo, tapi tenaganya kalah kuat dengan Setyo. Laki - laki itu sekarang nampak kacau sekali matanya memerah nampak sekali menahan amarah. Sedangkan Tari dengan susah payah dia menahan butiran kristal bening yang sedari tadi sudah menumpuk di pelupuk matanya.


" Aku dulu memang bodoh, seharusnya aku memperjuangkan mu sampai akhir bukan meninggalkanmu ditengah jalan. "


" Jangan pernah menyalahkan diri sendiri mas. "


" Maafkan lah aku Khodijah, tolong terima aku kembali. " Ucapnya diiringi dengan derai air mata yang tak sanggup dia tahan.


Tari yang melihat hal itu pun sudah tak sanggup lagi butiran kristal bening itupun jatuh membasahi kedua pipinya. Sebenarnya hatinya sakit melihat Setyo seperti ini, bagaimanapun laki - laki itu pernah mengisi hari - harinya. Perpisahan mereka bukan karena suatu penghianatan melainkan karena terhalang oleh restu orang tua.


Wardah yang melihat hal itu juga sampai ikut meneteskan air mata. Dia tahu betapa Tari sangat sakit dengan kenyataan ini, sampai - sampai penyakitnya bisa kambuh hanya dengan bertemu dengan Setyo kembali. Belum lagi dengan perlakuan Lenni akhir - akhir ini bisa di bilang cukup keterlaluan. Bagi Wardah tidak seharusnya Tari dipersalahkan dalam kejadian ini.


Bayangkan siapa yang mau dipertemukan dengan mantan, saat kita sudah bisa move-on. Belum lagi mantan itu menorehkan luka yang cukup dalam untuk kita bahkan juga untuk kedua orang tau kita. Tidak cukup dengan itu wanita yang sekarang dekat dengan mantan memusuhi kita. Satu kata untuk mu Mbak Tar Sudah jatuh tertimpa Tangga pula. batin Wardah.


" Ya sudah Mas, saya rasa semua sudah jelas. Saya ingin mas bahagia dan mas bisa segera melupakanku, ihklaskan semua ini mungkin ini jalan terbaik untuk kita. Aku sudah ihklaskan mas dengan semua ini, aku akan selalu mendoakan kebaikan dan kebahagian untukmu. "


" Kebahagiaanku hanya dengan mu Jah, biarkan kali ini aku memperjuangkan mu. "


" Mas, jangan seperti ini. Hal ini akan menyulitkan mu dan juga orang - orang yang kamu sayangi. "

__ADS_1


Bersambung ........


__ADS_2