Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
8. Kepanikan


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Sayup - sayup terdengar suara adzan subuh, dan tampak terlihat tubuh mungil itu masih meringkuk diatas sajadahnya itu. Tak lama berselang nampak seseorang menghampirinya.


" Mbak Tari" sambil mengoyangkan tubuh itu pelan.


" ehmz, " Tari tampak beringsut sedikit sambil meregangkan tubuhnya.


"Mbak sudah waktu subuh ini"


"MasyaAllah dek, apakah ini masih dimushola ?"


" Iya mbak, ayo sholat jamaahnya sudah mau dimulai "


" Ya udah sampean duluan dek, saya tak mandi dulu nanti saya menyusul"


" Enggeh mbak" sambil berlalu meninggalkan Tari, yang masih mencoba mengumpulkan kesadarannya.


Semalam Tari tertidur di mushola karena dya terlalu capek dan banyak hal lagi yang membuat fikiran dan hatinya berkecamuk. Matanya terlihat sembab dan suaranya terdengar serak menandakan seempunya tubuh telah menangis semalaman tadi sehingga tanpa dya sadari sampai tertidur di mushola.


Setelah kesadarannya terkumpul dya segera berjalan menuju kamarnya untuk segera bersih - bersih dan melanjutkan sholat subuh berjamaah di masjid.


Di asrama ini dya tinggal bersama 6 orang santriwati lainya dalam satu kamar. Yang semuanya masih duduk di bangku sekolah 4 santriwati yang duduk di bangku MTS dan 2 santriwati yang duduk di bangku Aliyah. Karena keadaan seperti itu mereka menganggap Tari sebagai kakak perempuan mereka.


" Dek, ambil kresek di lemari mbak ya. Terus dibagi rata "


" Ok mbak, haduh mbak Tari memang yang terbaik "


Serli berjalan menghampiri lemari dan mengambil plastik yang berisi Snack kecil dan dibagi ke semua penghuni kamar. Seketika mereka berhambur ke arah Tari dan memeluk bersamaan. Perasan yang seperti ini yang selalu membuat Tari nyaman walaupun jauh dari kedua orang tuanya.


" Yaudah wez dimakan, nanti keburu siang"


"Enggeh mbak jawab mereka kompak "


" Mbak berangkat jam berapa ? "


" Seperti biasa jam 7 nanti mbak berangkat Hanum, ada apa Hanum ?".


" Enggak mba, cuma mau bareng "


" Pasti ada maunya itu mbak " Dewi menyahut karena tau apa yang sedang difikirkan Hanum.


" Yaudah sana kalian turun dulu sarapan nanti sore mbak ngak ada kuliah, jadi kalian harus pulang cepat nanti sesi curhat di buka lebar. ayo cepat ".......


" Hore, janji ya mbak kata Hanum "


" lnsyaallah "


Akhirnya, mereka semua turun ke ruang makan di lantai satu asrama untuk sarapan pagi. Tapi Tari masih tinggal di kamar dan dya menyiapkan tas kerjanya, memasukkan beberapa buku dan laptopnya. Kemudian dya berganti baju dan memakai jilbabnya seragam yang sudah dya gunakan selama 2 tahun ini.


Kemudian dya turun menuju ruang makan di gedung itu, dan sedikit membantu disana. Dya tidak sarapan pagi ini, karena setiap hari Senin dya selalu melakukan puasa Sunnah.....


Satu persatu dari para santriwati mulai menyelesaikan makannya dan meninggalkan ruang makan untuk berangkat sekolah.Tari melihat jam tangannya, dilihatnya masih pukul 06 : 30 masih ada waktu untuk membantu sekedar membersihkan alat makan para santriwati.


" Sudah nduk, sampean tinggal saja sana cepat berangkat "


" Enggeh Mbah, masih pagi ini sebentar lagi"


Tari membantu membersihkan alat makan, dan mengelap meja serta sedikit menyapu dituangkan makan itu.


" Aduh bersih sekali nyapunya, biar suaminya nanti Nganteng ya nduk ? ....."


" Yang penting Sholeh mbah, Nganteng akhlaknya, Nganteng Budi pekertinya, kalau Nganteng rupanya itu Binus saja Mbah" ucah tari sambil tersenyum"

__ADS_1


" Mbah yakin nduk sampean mesti dapat yang seperti itu, semoga disegerakan Yo cah ayu "


" Amien, Mbah saya berangkat dulu ngeh ?"


" Iya ati "


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


Tari berjalan menyusuri jalan yah berada ditengah tengah gedung asrama santriwati, dya sampai di pintu belakang. Dya memilih berjalan kaki menuju tempat dya mengajar karena jaraknya tidak begitu jauh dari asrama yang dya tempati. Apalagi kalau dijalan melalu pintu belakang jaraknya menjadi sedikit lebih dekat karena tidak harus berputar Melawati gerbang asrama.


Sekolah tempat Tari mengajar adalah sebuah sekolah khusus untuk anak - anak berkebutuhan khusus, mulai dari tingkat TK, MI, MTS, dan Aliyah yang dijadikan satu pemisahanya hanya berdasarkan kelas saja. Karena memang jumlah anak dalam satu tingkatannya tidak banyak jadi model kelas dijadikan satu beberapa tingkatan menjadi satu kelas.


Disekolah ini Tari mengajar ditingkatan MI, dengan jumlah murid hanya 9 orang dalam satu kelas itu. Dya mengejar bersama mbak Rina dalam kelas itu, walaupun jumlah murid tidak begitu banyak tetapi dua guru yang ada kadang terasa kurang cukup apabila ada salah satu anak yang merajuk.


Setelah berjalan sekitar 15 menit akhirnya dya sampai di pintu gerbang, gedung sekolahan yang tidak begitu besar tapi terawat dengan asri. Nampak wajah wajah polos menyambut kedatangan Tari dan terlihat sangat antusias melihat gurunya datang.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" ucap ibu paruh baya yang terlihat sangat keibuan ibu Siti nama beliau, beliau adalah kepala sekolah disekolah ini.


Tari menghampirinya dan mencium tangan beliau, mbak Rina juga terlihat diantara anak - anak bermain diteras itu.


" Assalamualaikum mbak "


" Walaikumsalam "


" Sudah lama mba ? "


" Baru saja aku datang Tar, "


" Mbak aku kedalam kelas dulu ya " Tari melangkahkan kakinya meninggalkan mbak Rina yang masih diteras itu.


" Assalamualaikum, Hawa "


" Akuayam, utal " ucapnya sambil berhambur mencoba memeluk kaki Tari.


Tari pun memnsejejarkan tubuhnya untuk membalas pelukan Hawa salah satu muridnya.


" Canti sekali hari ini Hawa "


" atu ayu " menunjukkan kakinya yang tengah mempelai baru.


"Aduh bagusnya siapa yang beliin ?"


" Yayah, Agus utal ?


" Bagus sayang " mengangkat kedua jempolnya sambil tertawa lebar.


Dengan keadaan murid - murid yang istimewa perhatian kecil yang diberikan Tari disambut dengan perhatian yang lebih besar oleh murid - muridnya. Tak lama berselang belpun berbunyi, semua murid pun masuk kedalam kelasnya masing - masing


Nampak Tari di depan kelas dengan mbak Rina mengucapkan salam, berdoa dan sedikit bernyanyi untuk membangkitkan semngat murid - muridnya. komunikasi antara guru dan murid disini sangat berjalan lancar meskipun banyak diantara mereka memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang.


Pagi ini pembelajaran dimulai dengan, mengabsen satu persatu murid. selanjutnya mbak Rina nampak mengeluarkan beberapa kertas gambar dan cat air. mereka hari ini akan menggambar kaki menggunakan jari telunjuk yang dicelupkan dicat air. mungkin hal ini adalah hal mudah untuk anak - anak di usia mereka tapi tidak dengan muri - murid Tari.


Ternyata mereka menyelesaikannya tidak memperlukan waktu yang lama hanya sekitar 35 menit. Termasuk waktu yang bisa dibilang cepat karena biasanya bisa sampai berjam - jam hanya dalam melakukan satu tugas.


" Anak - anak, ayo kita cuci tangan setelah itu ambil kotak makannya masing - masing ya "


" Tar AQ keluar dulu ya menemani anak - anak cuci tangan "


" Iya mbak, sebentar lagi aku selesai mbak " Tari menata bangku yang ada dalam kelas itu untuk anak - anak makan.

__ADS_1


Setelah selesai menata bangku Tari berjalan keluar kelas menghampiri anak - anak yang berbaris rapi untuk mencuci tangan. Dengan bernyanyi mereka mencuci tangan sambil berbaris semua nampak ceria sekali dan mengikuti arahan dari dua ibu guru mereka.


Tiba - tiba hal yang tidak terduga terjadi,


BBrruuuukkkk!!!!!!!!


Salah satu dari muridnya terjungkal, dengan keadaan kejang. Anak - anak lain yang mengetahui hal itu terlihat menangis dan berteriak - teriak keadaan berubah menjadi mencekam. Dengan sigap Tari mengendong anak itu dan berlari ke arah UKS yang terletak tak begitu jauh dari tempatnya semula. Sementara Mbak Rani mencoba menenangkan anak - anak lain yang terlihat masih shock.


Setibanya di UKS keadaan Hawa tidak berangsur membaik, dya masih kejang. Tak berapa lama guru - guru lain datang dan melihat keadaan Hawa, Tari masih memeluknya dengan erat.


Melihat hal tersebut Bu Siti berinisiatif menelepon orang tua Hawa. Setelah mendapatkan sedikit perawatan dari gurunya kejang yang Hawa alami berhenti. Tapi matanya masih tertutup dan badannya masih panas


" Bagaimana ini bu, kenapa dya juga belum membuka mata ?" tanya salah satu guru.


" Kita tunggu Bu Siti dulu, beliau sedang menelefon orang tua Hawa"


" Hawa sayang, ayo bangu nak " Tari masih saja menggenggam tangan Hawa dan memanggil namanya.


Tak berapa lama Bu Siti masuk dengan sopir keluarga Hawa yang ditugaskan oleh ayah Hawa. Sebenarnya sopir itu tidak pulang kerumah setelah mengantarkan Hawa, pak Joko nama sopir itu dya selalu menunggu di sekitar sekolah selama Hawa dalam jam pelajaran.


" Bu, Hawa harus segera dibawa ke rumah sakit. Tolang temani saya untuk mengantarkan Hawa kerumah sakit"


" Saya saja Bu yang menemani, saya tidak tega harus meninggalkan Hawa seperti ini" jawab Tari yang masih menggenggam tangan kecil itu.


Mobil melaju dengan keadaan kencang untung saja jalanan sepi karena memang ini bukan jam sibuk, tak membutuhkan waktu lama mobil pun sampai di sebuah rumah sakit militer sesuai permintaan ayah Hawa.


Dengan cepat Tarip mengendong tubuh Hawa yang tak sadarkan diri menuju ruang UGD yang langsung disambut perawat dan dokter jaga. Langsung dibaringkan tubuh gadis itu keatas brankar yang ada didekatnya,


"Mohon anda menunggu diluar ruangan dulu, dokter akan memeriksa pasien dulu" ucap seorang perawat sambil menyuruh Tari dan Bu Siti untuk keluar dari ruangan itu.


" Bu semoga tidak terjadi apa - apa ya " Tampak bulir - bulir bening sudah jatuh di pipi mulus Tari.


" insyaallah Bu, semoga saja Hawa baik - baik saja. Sebentar Bu saya akan menelefon ayah Hawa terlebih dahulu "


" Enggeh Bu "


ya Allah sungguh jangan engkau beri rasa sakit yang seperti itu kepada tubuh sekecil itu. Segera beri obat untuknya ya Allah karena engkau adalah sebaik - baiknya obat tiada Tuhan selain Engkau batin Tari


Bu Siti datang dengan seorang laki - laki yang berseragam doreng yang ternyata ayah Hawa. Mereka berdu berjalan menuju Tari yang sedang duduk di atas bangku panjang dengan tatapan mata yang kosong.


" Bua Tari "


Panggilan Bu Siti sontak saja membuat Tari tersadar dari lamunannya, danelihat kearah Bu Siti yang berdi didepannya dengan sosok laki - laki gagah di dekatnya.


"enggeh Bu"


" Bu ini pak Fahmi ayah Hawa" Bu Fatimah mengenalkan laki - laki gagah dibelakangnya.


" Assalamualaikum pak Fahmi, saya Tari ibu guru Hawa "


" walaikumsalam " pak Fahmi seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Tari.


" Maaf pak" nampak Tari menangkupkan tangannya di dada.


" Iya tidak apa - apa Bu Tari, Bagaimana tadi Bu kejadiannya sampai Hawa bisa kejang" kata pak Fahmi mencoba mengalihkan keadaan yang sedikit canggung.


" Begini pak tadi kami sedang berbaris akan mencuci tangan, tiba - tiba saja Hawa terjatuh dan langsung kejang"


" Maafkan pak kami sedikit lalai dalam menjaga Hawa " Nampak wajah Bu Siti yang sedikit kecewa karena menyesali kejadian seperti ini harus terjadi dan menimpa salah satu muridnya.


" keluarga pasien Hawa "


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2