Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
80. M. Ghasan Fariq As-Syammimi


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Namaku M. Ghasan Fariq As-Syammimi, menurut sebagian orang aku termasuk seseorang yang cenderung masa bodoh. Aku tidak memiliki tujuan hidup yang pasti atau cita - cita tidak ada hal yang ingin ku raih dalam hidup ini. Hidupku hanya mengalir sesuai apa yang Allah takdirkan padaku. Mencoba semua hal baru yang datang padaku, termasuk jalanku ketika mendaftar sebagai calon bintara yang pada akhirnya mengantarku pada posisiku sekarang.


Dan dari sanalah aku berkesempatan mendapat pendidikan di fakultas kedokteran di sebuah universitas negeri. Bagaimana seseorang yang bersifat masa bodoh sepertiku bisa menjadi seorang dokter.


Tidak pernah ada dalam bayanganku aku menyelesaikan pendidikan dokter ku sekarang. Bahkan pengajuan Koasku disebuah rumah sakit diluar negeri pun sudah disetujui. Yang artinya kurang satu minggu lagi hari keberangkatan ku. Semuanya masih diluar ekspektasi ku, hanya jalani saja jalan di depanmu itulah motto hidupku.


Sore itu aku ingin kembali ke rumahku, karena aku tidak membawa kendaraan sendiri. Aku memutuskan untuk menaiki bis saja, di dalamnya nanti aku bisa tidur, lumayan untuk mengusir lelahku. Beberapa hari ini aku membantu di sebuah rumah sakit milik kesatuan ku lumayan lah hitung - hitung bisa dibilang masa training bagiku.


Ku lihat bis yang bisa membawa ku ke kota tujuanku terparkir di depan terminal. Saat ku berjalan akan memasuki bus itu dari pintu belakang tanpa disengaja mataku menatap sosok kecil yang tengah mematung di depan pintu bis. Dengan mata tertutup sembari mulutnya yang nampak mengumumkan sesuatu yang tak begitu jelas ku dengar.


"Mbak, " Panggilku, sambil ku tepuk bahunya pelan.


Tapi gadis itu sama sekali tak bergeming, isakannya malah terdengar semakin keras dengan mulut yang masih beristighfar. Aku tertegun dengan apa yang terjadi pada gadis itu, tanpa pikir panjang ku genggam tangannya dan ku tuntun dia menaiki bis itu. Ada hal yang berbeda yang ku rasakan debaran jantung ku terasa bertalu - talu, dan hangat yang saat itu aku rasakan.


"Mba mari masuk, ayo saya bantu. " Ucap ku tegas.


Perasaan apa ini, yang membuatku nyaman sekali kehangatan yang sudah lama hilang dalam hidupku kini kembali memenuhi segenap hatiku yang kosong.


" Mbak, ini mbaknya minum dulu" ku sodorkan air mineral yang selalu ku bawa dalam tasku. Sama sekali tidak ada jawaban darinya.


" Ya sudah mbak kalau tidak mau, mbak tapi kali ini harus dijawab ya"


" Mbaknyamau turun dimana ?" Tanyaku lagi.


" Saya turun di kecamatan S maz, di pertigaan P"


"Ok, mbak nanti saya akan beritahu mbaknya kalau sudah dekat" sambil ku ulas senyum di wajahku.


Hari sudah cukup petang, namun bis ini masih saja belum bisa bergerak karena sedang terjebak kemacetan yang cukup panjang. Sampai bis yang sedang kami tumpangi tengah berhenti di sebelah sebuah masjid, sayup - sayup terdengar suara Adzan.


" astaghfirullah hal azzim, sudah isya" Ucapnya saat pertama membuka mata, dan menyadari bahwa tangannya sedang ku genggam.


"maaf mas, maaf sekali" ucapnya lirih,


Sejujurnya ketika dia melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, hatiku berdesir ada rasa kehilangan disana.


" Iya mbak gak papa, gimana mbaknya sudah enakan ?" tanyaku.


" Sampun maz, maaf ngeh"


" Gak papa mbak, sampean minum dulu biar keadaan sampean lebih baik lagi" ucapku sembari mengulurkan botol mineral kearahnya.


" Terimakasih maz,"


Jantungku berdetak kencang tiap kali ku alihkan pandanganku kearah samping dimana gadis itu sedang tertunduk diiringi mulut yang tak henti-hentinya beristighfar. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis ini, mengapa dia seperti ini jujur saja tingkahnya cukup menyayat hatiku.


" Mba sudah, jangan dipaksakan" ucapku sembari mencoba menggenggam tangan itu kembali, tapi dengan cepat dia menolaknya.

__ADS_1


" Maaf maz, kita bukan mahram" ucapnya lirih


" Insyaallah mba, aku akan menghalalkan sampean. "


kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa aku sadari.


Benar saja gadis itu, nampak terkejut yang nampak dari gestur tubuhnya.


" Sesungguhnya saya tidak pantas mas untuk dihalalkan" diiringi isakan yg begitu menyayat hati.


" Mbak bukannya pantas tidak pantas itu urusan yg diatas, bukankah jodoh itu cerminan diri kita ?" tanyaku


" Sungguh maz saya tidak sebaik yang sampean kira"


" Biarkanlah Allah yg menjadi saksi atas janji saya mba"


Entah mengapa aku bisa mengucapkan kata - kata itu dengan begitu saja, tanpa aku sadari. Namun dari relung hatiku yang terdalam aku berharap Allah akan mengabulkan keinginanku itu. Tak berapa lama dia turun karena dia telah sampai ditujuan ya.


Aku menemukan sesuatu yang aku rasa miliknya, sebuah gelas tasbih kayu dengan bandul yang bertuliskan inisial NKB. Benar saja buktinya Allah meninggalkan sesuatu untukku, yang membuat senyumku terus merekah sampai tiba dikediaman ku.


" Ada apa Le ? tumben senyummu itu begitu merekah. " Tanya Ummiku ketika dia melihat hal yang aneh terjadi padaku.


" Baru bertemu bidadari surgaku Mi. " Jawabku santai.


" Jangan ngawur sampean. "


" Ummi kapan Syam bohong sama Ummi. " Ku pegang tangan yang telah menjadi sumber kehidupanku lalu kucium. Hal yang selalu aku lakukan, yang membuat hatiku tenang.


" Enggeh Mi. "


Aku adalah seorang putra dari seorang kiyai yang namanya cukup dikenal. Ya bila di luaran aku seorang prajurit, namun disini aku berubah menjadi seorang Gus. Sejak kecil orang tuaku membekali ku dengan berbagai ilmu agama. Sejak kecil sampai masuk ke Akmil waktuku ku habiskan dengan mondok, bukan di ponpes milik Abbah namun ke ponpes lain. Demi mendapatkan ilmu yang mumpuni sebagai bekalku mengarungi kehidupan seperti alasan Abbah ketika mengirim ku mondok.


Aku sudah selesai bersih - bersih dan sudah memakai baju kebanggaan yang selalu aku pakai bila dirumah. Baju kemeja Koko dengan sarung tak lupa peci yang menutupi rambut pendekku kas seorang prajurit. Ku lihat tasbih yang berada diatas meja belajarku, ku ambil kemudian ku kenakan sebagai gelang.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam. "


Ku masuki ruangan perpustakaan milik Abbah disana keluraga ku sedang berkumpul, Abbah, Ummi, dan Nafisa adik semata wayang ku. Di usiaku sekarang lucu sekali ketika aku masih memiliki seorang adik yang masih berumur 8 tahun. Jarak usia kami 22 tahun, kadang saat kami keluar berdua orang - orang akan mengira bahwa dia adalah putriku lucu sekali.


" Mas Syam. " Ucapnya sembari berlari kearah ku.


" Pica. " Teriakku untuk membalasnya, dia pasti akan marah jika aku memanggilnya seperti itu. Dan benar saja mulutnya itu sudah mengerucut, gemas sekali aku ingin aku mengikat mulutnya itu.


" Syam jangan seperti itu. "


" Ayo sini, ngak jadi ni meluk Mas. " Ucap ku sembari menaik turunkan alisku.


" Males, sukanya bikin Fisa marah terus. "

__ADS_1


" Cobak gimana marahnya, Mas pengen lihat. " Arsenal apapun dia padaku, itu tidak akan berlangsung lama


Menggodanya adalah hal yang paling aku sukai, karena dia akan selalu menanggapinya. Sikapnya yang manja padaku seolah aku orang yang sepesial baginya. Dibalik sifat ku yang sangat usil padanya, sebenarnya aku sangat menyayanginya. Fisa pun tidak bisa jauh dari ku, bila aku dirumah dia akan selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi seperti bayangan. Buktinya sekarang dia sudah duduk di sebelahku, padahal sebelumnya dia nampak marah padaku.


" Le, sampean jadi berangkat kapan ? "


" Insyaallah Kamis Bah. "


" Alhamdulillah, semoga semua dimudahkan ya Le. Ingat tujuanmu ke sana untuk apa, manfaatkan waktu sampean dengan sebaik-baiknya. Peroleh ilmu sebanyak - banyaknya, dan kelak gunakan untuk membantu banyak orang. Dan jangan sampai kau lupa dari mana asal usul sampean, selagi sampean di negeri orang. "


" Insyaallah Bah, Syam akan selalu mengingat perkataan Abbah. "


" Sebenarnya ada sesuatu hal yang enggan Syam tinggalkan Bah. "


" Apa Le. "


Ku ceritakan semua yang ku alami tadi, sampai hatiku yang merasa hangat tidak ada satupun yang aku tutupi dari keluraga ku. Entah mengapa yang awalnya aku yakin dengan ke pergian ku, sekarang aku merasa gamang untuk pergi. Mungkinkah pertemuan seperti itu mampu membuat ku tak karuan seperti ini.


" Pintalah kepada pemilik semua semesta Le, jikalau sampean memang sungguh-sungguh memintanya Insyaallah Beliau akan mengabulkannya. "


Kata - kata yang terus terbayang di pikiranku, saat aku menatap langit-langit kamarku. Bayangannya kembali muncul, memenuhi seisi kepalaku yang mampu membuat senyumku terus terkembang. Ku tatap tasbih yang berada di pergelangan tangan ku.


Insyaallah atas izin dari -Nya aku akan menjadikanmu halal untukku. Ya Allah bimbinglah hamba sampai pada masa itu. Jadikanlah dia pelengkap hamba di dunia ini.


Aku berharap besuk aku segera menemukan sebuah titik terang sebelum keberangkatan ku ke Jepang. Bukannya aku tidak yakin dengan kuasa-Nya namun alangkah tenangnya hati ini bila ada sebuah hal yang bisa meyakinkanku. Dan entah pikiran dari mana semenjak kejadian petang itu jantung ku akan berdetak tak karuan ketika aku hanya membayangkan saja wajahnya.


Beberapa hari berlalu aku sudah kembali ke rutinitas ku, selama menunggu keberangkatan ku tiba aku ikut dokter seniorku yang bertugas di sebuah rumah sakit milik kesatuan kami di kota apel. Cukup melelahkan ya karena pasien seniorku itu cukup lumayan banyak ternyata. Setiap waktu sholat tiba selalu ku hentikan segala aktivitas ku, dan segera melakukan kewajiban ku.


Seperti siang ini, setelah membersihkan diri aku mengganti pakaian ku dengan kemeja Koko dan sarung yang selalu aku bawa dalam tasku. Saat aku tiba di masjid rumah sakit seperti biasa semua orang yang sudah tahu aku, selalu menyuruhku menjadi imam.


" Monggo Gus dados imam mawon. Saya jadi ngak ada suara kalau ngimamin sampean. " Itu candaan yang selalu mereka lemparkan ketika memaksaku untuk menjadi imam mereka.


Entah mengapa siang ini ada rasa yang berbeda, saat tiba - tiba debaran jantung ku terasa begitu berdebar. Sama rasanya seperti saat aku memikirkannya.


" Astaghfirullah. " Ucapku lirih, saat ku rasa jantung ini kian menggila debarannya.


Ku lantunkan sebuah surat yang bisa membuat hatiku tenang, surat AL-Kahfi menjadi pilihanku. Dan benar saja setelah selesai ku baca hatiku sedikit tenang. Segera ku tinggalkan masjid itu dengan langkah lebar.


Tiba - tiba saja ada tugas mendadak sebuah panggilan operasi didapat oleh seniorku, yang otomatis aku juga harus mengikutinya. Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang operasi tanpa tersadar aku menabrak seseorang yang tengah berdiri mematung.


" Maaf saya terburu - buru. " Ucapku menjelaskan.


Anehnya jantung sialan ini kembali berdebar tak karuan, sampai - sampai membuatku tidak fokus.


" Mbak sekali lagi saya minta maaf, saya terburu - buru " Ucapku lagi, karena wanita itu tak bergeming.


" Mari dok, kita tidak punya banyak waktu" Ucapku memperingatkan seniorku yang terdiam.


Dan setelah aku melangkah beberapa langkah aku baru tersadar ternyata benar itu dia.

__ADS_1


Bersambung .......


__ADS_2