Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
6. Kembali


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Tampak ibu Fatma sedang membuka pintu kamar itu dengan hati - hati, untuk memastikan siempunya kamar apa benar seperti dugaannya. Setelah pintu terbuka sedikit nampak tubuh gadis itu meringkuk memeluk guling.


Dengan hati - hati beliau kembali menutup pintu kamar tersebut, sambil mengulas senyum penuh arti dan pandangan yang penuh dengan rasa iba.


N**duk, seberapa kuat pun sampun menutupi luka itu dihadapan ibuk nyatanya ibuk masih bisa melihat semua itu dengan jelas di matamu. Ibuk tau sampean pasti bisa nduk, Sampean anak ibuk yang kuat, jangan kalah hanya dengan keadaan ini batin Bu Fatma.


"buk, ada yang difikirkan ?"suara ayah yang tiba - tiba datang mengejutkan ibu.


"ssstttttt, jangan keras - keras yah"


Kedua orang tua tersebut berjalan menjauh dari kamar putrinya itu, nampak ibuk yang berjalan didepan diikuti ayah dibelakang.


"kenapa, ibuk kok kelihatan gelisah sekali ?"


"Tadi yah, pas di sawah ada nak Pandu dan reaksi Ijah sama sekali tidak baik"


"Oalah itu to, jangan dipaksa buk biar dya mengikuti hatinya dulu"


"kok ibuk ngerasa Gusti Allah ngak adil to pak sama anak kita itu" wajahnya begitu terlihat murung.


"sampean Kuwi ngomong opo to buk, mbok Yo lek ngomong difikir"


"kenapa nasib anak kita ngak seperti bocah liane, teman sepermainannya Lo wez Podo nikah, banyak malahan seng wez punya anak"


"buk, kalau anak kita belum menikah bukan berarti nasibnya buruk tapi Gusti Allah masih memantaskan jodoh anak kita"


"semenjak kejadian itu dya seperti ini Lo yah"


"biarkan buk, biar dya menemukan jati dirinya terlebih dahulu biar dya mempelajari semua pelajaran hidup yang Allah berikan"


"Dya selalu menyembunyikan semua rasa sakitnya, dalam senyumnya itu yah yang membuat hati ibuk semakin sakit"


"Makanya buk, sampean jangan sekali - kali menampakkan kesedihan sampean di depan dya. Kita harus percaya kalau kehendak Gusti Allah itu yang terbaik buk"


"semoga pak" kata ibuk sambil menghela nafas panjang ......


Bagaimanapun hati ibu akan selalu tau apa yang dirasakan oleh anaknya itu memang sudah jadi kodrat alam yang tidak bisa disanggah.


Terdengar samar - samar suara adzan ashar memecah kesunyian sore itu. Tubuh kecil yang terlelap dengan pulasnya itu mulai menggeliat seakan ada panggilan alam yang tertuju padanya. Dengan kasar dya menyeka wajahnya, mencoba mengembalikan kesadarannya yang hilang ......


Segera dya menoleh dan dilihatnya jam dinding, dya langsung bergegas bangun dan keluar membuka pintu kamarnya. Dengan cepat dya mencari keberadaan ibunya, karena masih sedikit mengantuk tak sadar dya menabrak pintu dapur rumahnya.


Bbrruuukkkkkk


"aawwww" terdengar teriakannya, dan itu membuat kesadarannya pulih sekitika.


Lalu dya melangkah keluar dan benar saja didapati ibunya di kebun belakang bersama ayahnya sedang mengisi tanah dalam plastik polibag. Senyum di sudut bibirnya langsung tersungging begitu saja mendapati kedua orang tuanya berada disana.


"buk, Ijah cariin"


"wez bangun nduk ?"


"Ibuk kok ngak bangunin Ijah to ?"


"wong sampean istirahat kok dibangunin to ndok" ayah menjawab pertanyaan Tari.

__ADS_1


"Buk, mbak Rina mau mampir kesini sekalian jemput Ijah"


"la dalah piye to nduk, kok GK bilang dari tadi, wez yah sampean ambilkan lele di kolam itu sekalian dibersihkan" nampak kompak sekali kedua orang tua itu mengerjakan tugasnya masing-masing


"la habisnya, Ijah ketiduran buk. Mari buk Ijah bantu"


Ketiga orang itu berkutat di dapur kecil yang masih mengunakan tungku kayu bakar itu, sebarnya ada kompor gas dirumah ini tapi mereka lebih suka menggunakan tungku kayu bakar kompor gas hanya digunakan sekali - kali kalau keadaannya mendesak.


Tepat pukul 16:00 semua masakan selesai, Tari menata semua masakan kedalam piring dan mangkok besar. Lalu dya pergi ke kamarnya untuk melihat handphone nya.


Nampak beberapa pesan berjajar rapi, dilihatnya satu - satu dan dya membuka satu chat yang memang sedang dicarinya.


✉️Tari, aku nanti ke rumahmu sekitar jam 16:00 lebih ya. Ini aku masih di Blitar kota .....


✉️Tari aku sudah OTW ni sudah mau sampai


"waduh, mana handukku"


Dengan langkah cepat dya menuju kamar mandi dan sekalian berwudhu karena dya belum menunaikan kewajibannya diwaktu ashar ini.


Tak lama berselang dya selesai mandi dan menuju kamarnya dengan segera lalu mengambil mukenanya.


*******


Sementara diluar rumah Tari, bapak mobil Honda Ja*z nampak mencoba parkir dihalaman rumah itu meskipun halaman tak begitu luas tapi cukuplah untuk memarkirkan kendaraan itu.


Setelah agak lama keluarlah pengendara dan penumpang mobil itu nampak seorang wanita cantik berpakaian syar'i dan laki - laki gagah menggunakan baju Koko dan sarungnya senyuman nampak selalu mengembang dari pasangan itu.


"assalamualaikum yah"


"walaikumsalam, mba Rina Gus Reyhan Monggo masuk"


"assalamualaikum buk"


"walaikumsalam, mba Rina Gus Reyhan pengantin baru itu aurane beda ya mba Rina" ibu mencoba menggoda pasangan baru itu.


Karena mendengar ada percakapan diruang tamu, dengan segera Tari pergi keruang tamu menemui temannya itu.


"assalamualaikum, mba Rina Gus rehan"


"walaikumsalam" ucap mereka bersama ....


"dugi pundi Gus ?


"Dari Makam Bung Karno mba Tari, ziarah sudah lama saya tidak kesana"


"Nduk, bikinkan minum dulu sana dibelakang"


"enggeh buk"


Lalu Tari berlalu meninggalkan tamunya itu yang ditemani kedua orang tuanya untuk membuat minum, sementara diruang tamu Meraka mengobrol dan sesekali bercanda karena ini bukan pertama kalinya mba Rina ke rumah Tari jadi mereka sudah akrab satu sama lain


"mba Rina setelah nikah beda sekali"


"nopo to buk seng beda"


"tambah cantik mba, tambah dewasa"

__ADS_1


"matur nuwun Lo buk, istri saya sampun dipuji" jawab Gus Reyhan enteng.


Tak lama Tari Dateng membawa minum dan sedikit camilan yang dibuat oleh ibunya.


"Monggo Gus, diminum" ayah mempersilahkan tamunya untuk minum.


"enggeh yah"


Mereka semua masih mengobrol dengan adiknya para wanita itu mengobrolkan masalah urusan belakang atau urusan dapur, sedangkan ayah dan Gus Reyhan membicarakan bagaimana cara mengatasi hama wereng maklum saja Gus Reyhan juga mengurusi sawah milik keluarganya meskipun dya tidak terjun langsung setidaknya dya tahu cara menanggulangi hama itu.


"sebentar ya mba Rina, ayo nduk bantu ibuk membawa kedepan"


"enggeh buk"


Kedua wanita itu beranjak dari duduknya menuju dapur untuk mengambil makanan yg dimasak tadi untuk dihidangkan, karena dirumah itu tidak ada ruang makan jadi setiap ada tamu selalu makan diruang tamu. Dengan sigap Tari membawa semua makanan ke depan dan menata di meja ruang tamu. Setelah semua makanan sudah dikeluarkan semua beserta alat makannya ayah lalu mempersilahkan tamunya untuk menyantap makanan itu.


"Monggo Gus, mba dimakan seadanya"


"enggeh yah"


"Oalah buk, kok repot - repot se buk"


"mboten Gus, seadanya ngeh. hasil kebun sendiri Gus"


"Monggo sekalian ayah dan ibuk makan, Ndak enak kalau kami makan berdua makanan sebanyak ini buk"


Mereka pun makan dengan lahapnya tanpa disadari makanan yang dihidangkan pun tandas dalam hitungan beberapa menit saja. Dengan sigap Tari membersihkan alat makan dimeja ruang tamu itu dan membawanya kebelakang.


Tak lama berselang adzan Maghrib berkumandang, dengan bergegas ayah akan segera ke masjid diikuti Gus Reyhan yang akan ikut bersama ayah. Sementara para wanita sholat dirumah dan masih melanjutkan obrolan mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30 karena sudah malam mereka berdu berpamitan pada ayah dan ibu untuk pulang kembali ke Malang.


"yah, karena waktu sudah malam kami pamit pulang ngeh takutnya jalanan macet soalnya malam Senin" Gus Reyhan berpamitan pada ayah karena sudah malam.


"enggeh Gus, sampun kapok ngeh dolan Ten mriki Gus. sekalian saya titip Tari ngeh Gus kalau dalam menuntut ilmu kurang bersungguh - sungguh tolong dibimbing"


"Enggeh, insyaallah yah. njenengan beruntung yah punya anak seperti beliau banyak keistimewaan yang tak ditampakkannya"


"Dya adik saya yah kalau disana, jadi saya akan selalu menjaganya" sahut mba Rina sambil menggandeng lengan Tari.


"Alhamdulillah, nduk kamu beruntung dikelilingi orang-orang yang peduli sama sampean"


"enggeh pak, sampun ngeh pak Ijah berangkat" sambil mencium tangan ayahnya dan memeluk ayahnya dalam


"buk, Ijah berangkat ngeh" Tari memeluk ibunya dan mencium kedua pipi orang terkasihnya itu lalu mencium tangan ibunya dengan hikmat.


"ati -ati nduk disana jaga diri, jaga hati dan jaga pandanganmu"


"enggeh buk"


"assalamualaikum"


"walaikumsalam" jawab kedua orang tua itu.


Mereka semua masuk kedalam mobil, dengan segera Gus reyhan memacu mobilnya. Tari Duduk dibelakang dya mulai berdzikir dan membuang pandangannya keluar cendekia, Dya menghembuskan nafasnya kasar dan mulai tertunduk menyelami dzikir yang dya ucapkan memasukan dalam hati dan mematri dalam hatinya.


"Loh Tar, tumben pakai tasbih itu kemana tasbihmu biasanya ??"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2