
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Harapan baru akan datang seiring dengan langkah kita meninggalkan, masa lalu dibelakang. Tanpa perlu mambawanya dalam langkah kita, memang sepatutnya jika masa lalu harus kita tinggalkan. Karena hidup kita terus berjalan ke depan, bukan berhenti di masa lalu.
Didudukannya kembali tubuh mungilnya di kursi kayu itu, ditatapnya amplop yang ada ditangannya. Dia menghela nafas panjang, rasa was - wasnya kian terasa.
" Mbak sampean tidak berniat membukanya ? "
" Saya akan buka dirumah mbak, bagaimana dengan sampean ? "
" Saya juga akan membukanya dirumah, didepan keluarga saya mbak. Oiya mbak bolehkah saya meminta nomer handphone sampean, barangkali nanti kita satu sekolah. " Ucap gadis berbadan kurus itu.
" Semoga ya mbak, ini sampean simpan. " Sembari memberikan kertas yang berisi catatan nomer handphonenya.
Waktu sudah mulai beranjak siang, dan kegiatan itupun ditutup dan satu persatu orang dalam ruangan itu mulai meninggalkan ruangan. Dua gadis itu berpisah diparkiran karena Wardah melanjutkan perjalanannya menggunakan sepeda motor. Sedangkan Tari akan pergi ke rumah sakit dengan angkot.
Tari melangkahkan kakinya meninggalkan gedung itu dan berjalan menuju pintu gerbang. Matahari siang ini begitu terik hingga peluhnya menetes dari dahinya, angkot yang ditunggu sedari tadi juga tak kunjung datang. Nampak sebuah mobil berhenti di depannya, secara bersamaan nampak turun seseorang dari pintu pengemudi.
" Assalamualaikum, Bu Nyimas Khodijah Bramastari " Ucap laki - laki berjambang itu.
" Walaikumsalam, Enggeh saya ada perlu apa ya pak ? "
" Apa yang sedang anda lakukan disini, perkenalkan saya Rizki " Sambil menautkan tangannya di dada seraya mengulas senyum di wajah putihnya.
" Iya pak, Apakah bapak mengenal saya ? "
" Apakah anda lupa Bu Nyimas ?, saya orang yang memberikan amplop kepada anda tadi. "
" Maafkan saya pak tidak mengenali anda. "
" Tidak masalah ibu, yang terpenting selanjutnya anda harus mengenali saya karena kita akan lebih sering bertemu. Apakah Bu Nyimas sedang menunggu angkot ?
" Iya pak, Panggil saya Tari saja Pak seperti yang lain. "
" Bu Tari, kemana lagi tujuan anda setelah ini ? "
" Saya akan kerumah sakit terlebih dahulu Pak, "
" Ouwh, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Bu. Assalamualaikum "
" Mari pak, waalaikumsalam. "
Angkot yang ditunggunya sedari tadi pun akhirnya datang juga, membawa gadis itu ke rumah sakit dimana dia dulu pernah dirawat. Dia tidak perlu mengantri karena sebelum sampai dia terlebih dahulu mendaftar menggunakan layanan aplikasi yang disediakan pihak rumah sakit untuk mempermudahkan pelayanan pasien.
Tak berapa lama menunggu diruang tunggu, namanya dipanggil. Masuklah gadis itu keruangan dokter yang akan memeriksanya. Dokter paruh baya itu memeriksanya dengan teliti, menanyakan apa saja keluhan yang dirasakan oleh pasiennya itu.
" Sebenarnya untuk luka operasinya tidak ada masalah, dan saya rasa kondisinya baik. Tapi kalau menurut saya yang menjadi masalah sekarang adalah psikis anda Bu Tari. "
" Maksut dokter ? "
" Anda memiliki trauma terhadap suatu hal yang menimbulkan rasa sakit pada kepala anda bila anda memikirkan suatu hal yang sudah berlalu. Sakit yang sampean rasakan akan tambah terasa sakit apabila itu kenangan yang buruk."
__ADS_1
" Apakah keadaan ini membahayakan bagi saya dok ? "
" Tidak selama tidak ada pemicunya, jadi sebisa mungkin sekarang sampean harus hidup bahagia. "
" Baik dok, "
" Sayang Bu Tari anak saya itu perempuan semua kalau tidak, anda sudah saya jadikan mantu. hehehehe....... Karana tidak ada yang lain saya hanya menuliskan vitamin dan pereda nyeri saja, untuk pereda nyerinya apabila tidak terasa tidak usah diminum ya Bu Tari. Silahkan tebus obatnya di apotik, dan semoga lekas sembuh." Ucap Dokter Hasan mencoba menggoda Tari.
" Terimakasih Dok, Assalamualaikum "
" Sama - sama Bu Tari, Walaikumsalam. "
Semua perkataan Dokter paruh baya itu terngiang di telinganya, bagaimana bisa dia sekarang mengalami hal seperti ini. Yang menjadi bebannya bagaimana dia harus menjelaskan keadaannya pada kedua orangtuanya. Gadis itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu menuju apotik yang berada di bagian depan gedung rumah sakit itu.
Brukh ...........
Tubuh mungil itu, menabrak sesosok tubuh gempal di depannya karena dia berjalan dengan wajah tertunduk, sehingga tidak mengetahui bahwa ada seseorang di depannya.
" Maaf saya tidak sengaja. " Ucapnya tanpa mau mengangkat wajahnya.
" Bu Tari, apa benar ini anda ? " Tanyanya dengan heran.
Tari seperti tidak asing ketika mendengar seseorang yang dia tabrak tadi, apalagi setelah orang tersebut menyebut namanya. Lantas dia mengankat wajahnya, dan mendapati laki - laki yang dia kenal.
" Pak Fahmi ? "
" Bu Tari sedang apa disini ? kenapa anda sendiri, dimana suami anda Bu ?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut laki - laki itu. Karena setahu Pak Fahmi, Tari sudah menikah beberapa bulan yang lalu.
" Saya sedang ingin ke apotik pak, " Diiringi senyumnya yang hambar sembari menundukkan wajahnya.
" U tal " Terdengar panggilan gadis kecil itu, berjalan dengan menyerat kakinya yang sebelah kanan namapak sekali dia kesulitan.
" Hawa. " Gadis itu segera meraih tubuh gadis kecil itu masuk kedalam pelukannya.
" U Tal, Wawa angen, U Tal dak ateng - ateng. Wawa angis, tata yayah U Tal puna olang. " Ucapnya sambil terbata - bata diiringi air mata yang sudah tumpah dari tempatnya.
" Bu Tari ngak kemana - mana sayang, Bu Tari ada hanya saja Bu Tari sedikit lelah jadi Bu Tari istirahat di rumah. "
Gadis kecil itu tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Tari, dia begitu erat memeluk tubuh Mantan Ibu gurunya. Pak Fahmi dengan susah payah membujuk putri kecilnya itu, untuk mau melepaskan pelukannya. Tapi usaha yang dilakukan pak Fahmi hanya dia - sia karena semakin dia membuat banyak alasan, semakin erat pula Hawa memeluk tubuh Tari.
" Sayang, Bu Tari susah bernafas kalau Hawa peluknya terlalu kencang. Hawa kan badannya besar kasian Bu Tarinya sayang. "
" Dak, Wawa dak au epas ti U Tal lang agi. " Jawabnya polos.
Gadis kecil itu sungguh menyayangi Tari, entah mengapa dia sangat menyayangi Tari. Beberapa bulan ditinggal Tari Hawa tidak bersemangat menjalani hari - harinya. Gadis kecil itu menjadi gadis yang pendiam tidak seceria dulu, dia begitu kehilangan sosok Tari.
" Bu Tari maaf bila Hawa sudah merepotkan Anda, ouw iya anda tadi bilang mau ke apotik. Mari Bu saya antar, Hawa gendong Yayah dulu kasian Bu Tari kalau harus gendong Hawa. "
" Dak au Yayah, U Tal lang agi. "
" Sayang Bu Tari tidak akan kemana - mana, Hawa sekarang sudah besar Bu Tari tidak bisa berjalan kalau sambil mengendong Hawa. Hawa sama Ayah dulu dan Bu Tari berjalan disebelah kalian ya. "
__ADS_1
Gadis kecil itu nampak berfikir, mempertimbangkan perkataan Tari. Dia mulai mengundurkan pelukannya, dan turun dari pangkuan Tari, mengangkat tangannya yang langsung disambut uluran tangan ayahnya.
" Aduh beratnya anak gadis ayah ini, " Digendongnya gadis kecil itu sambil sesekali mencium pucuk kepala gadis itu.
Tiga orang itu berjalan menyusuri koridor menuju apotik, diiringi dengan senyum yang berkembang di wajah ketiganya. Setiap orang yang berpapasan dengan mereka terlihat tersenyum dengan pemandangan yang diciptakan ketiga orang itu. Seorang pria bertubuh tegap dengan seragam lorengnya, mengendong seorang anak manis dengan keistimewaan yang luar biasa. Diiringi dengan langkah gadis berbalut busana syar'i, yang sesekali menghapus liur yang keluar dari gadis manis yang digendong ayahnya. Sungguh potret keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia.
" U Tal, Wawa dak mau U Tal lang gi. Wawa kut U Tal, Wawa ayang U Tal. " Gadis kecil itu turun dari gendongan ayahnya, dan berjalan menghampiri Tari. Memegang ujung gamis Tari dengan erat, air matanya sudah membasahi kedua pipinya.
" Sayang Bu Tari, tidak akan kemana - mana " Hatinya begitu sakit melihat tangisan Hawa, dia tidak tega meninggalkan gadis itu.
" Sayang Bu Tari harus pulang kerumah, nanti Ayah dan Ibu Bu Tari akan binggung mencari Bu Tari. "
" Wawa kut U Tal, Wawa anji dak akal Yayah. " Gadis itu masih saja tidak beranjak dari kaki Tari.
" Ya sudah mari kita antar Bu Tari pulang ya sayang, Hawa diam ya. "
" Pak Fahmi, apakah akan tidak merepotkan Anda kalau harus mengantarkan saya ? "
" Tidak Bu, Mari silahkan masuk " Sembari membuka pintu mobilnya.
Tari pun segera masuk kedalam mobil itu, diraihnya tubuh gadis kecil itu dan di dudukannya di atas pangkuannya. Mobil itu segera melaju menuju jalan raya meninggalkan parkiran rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Hawa tak henti - hentinya bernyanyi dan sesekali berceloteh dengan riang. Mulut kecilnya itu tak henti - hentinya bercerita tentang semua hal yang dia alami.
" U Tal dak oleh iyang agi ya " Menatap Tari dengan serius.
" Bu Tari ngak kemana - mana sayang. membelai pelan pucuk kepala gadis kecil itu.
" Yayah, U Tal adi Unda Wawa yah .... ? " Tangannya kecilnya menggoyangkan tangan kekar Ayahnya yang sedang mengemudi.
Seketika suasana menjadi hening, dan kebetulan mobil itu berada di lampu merah. Kedua orang dewasa itu terlihat saling menatap, bingung dengan keadaan dan entah jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan Hawa.
" Sayang Bu Tari itu sudah punya om, Jadi tidak bisa jadi bunda Hawa. "
" U Tal dak ayang Wawa ? "
" Bukan seperti itu sayang, Bu Tari sayang sekali sama Hawa. "
" Wawa ngil U Tal unda ya ? "
Tari menatap Pak Fahmi, yang mulai menginjak pedal gas karena lampu lintas yang sudah berubah menjadi hijau. Pak Fahmii yang ditatap Tari pun mengangguk sambil tersenyum seakan mengetahui maksut Tari meskipun tanpa suara.
" Iya sayang boleh. "
" Acih unda, Wawa yayang unda. "
Tari mengelus pucuk kepala gadis kecil itu dengan perlahan, diiringi lantunan sholawat dari mulutnya. Gadis yang berada di pangkuannya itu sangat menikmati sentuhan itu, tak lama berselang nafasnya mulai teratur dan matanya mulai terpejam.
" Maafkan tingkah Hawa Bu Tari, Dia begitu kehilangan saat tau Bu Tari berhenti mengajar . Bahkan selama beberapa hari dia tidak mau ke sekolah Bu. "
" Tidak usah minta maaf Pak, saya senang bila dekat dengan Hawa. Mbak Rina juga menceritakan hal itu kepada saya." sambil mengulas senyum di wajahnya.
" Maaf Bu, bagaimana dengan pernikahan Anda ? "
__ADS_1
" Ternyata kami belum berjodoh Pak, " Ucap Tari dengan menghela nafas panjang sembari mengecup pucuk kepala gadis kecil yang ada di pangkuannya.
Bersambung..........