Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
19. Lamaran


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Nyanyian si ayam jago pagi ini begitu merdunya, bersamaan dengan hawa dingin yang menyapa setiap tubuh. Suasana pagi ini begitu nampak berbeda dirumah sederhana itu, dapur kecil itu nampak penuh hanya dengan kehadiran beberapa orang saja. Hari ini tepat 2 bulan setelah keberangkatan Pandu, dan hari dimana sebuah prosesi yang sering disebut dengan lamaran digelar.


Acara penting menuju sebuah janji suci pada sang Pencipta dalam menyempurnakan kehidupan. Nampak sekali binar bahagia di mata gadis mungil itu, karena senyumnya tak pernah beranjak dari wajah manisnya. Begitu juga dengan orang - orang disana yang tak henti - hentinya mengucap syukur atas kejadian ini.


Matanya yang berbinar, menatap handphone yang ada ditangannya seolah sedang menunggu seseorang untuk mengabarkan sebuah berita. Benar saja tak beberapa lama hand phone yang digenggamnya bergetar dengan cepat dia menggeser tombol hijau.


📞 Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


📞 Iya mbak. Sambil menghela nafas panjang , ternyata bukan telefon yang dia harapkan.


📞 Kenapa, kok nadanya seperti itu ? apakah kamu sedang menunggu telefon dari orang lain ?


📞 Enggak mbak, ada apa mbak ?


📞 Maaf ya Tar, sepertinya aku tidak bisa hadir dalam proses lamaran kali ini. Karena tiba - tiba saja Gus Reyhan ada sedikit keperluan. Dan keperluan ini tidak bisa diwakilkan, aku harap sampean ngak kecewa.


📞 Ouwh, ya sudah mbak kalau memang begitu mau bagaimana lagi


📞 Maaf ya, semoga acaranya lancar ya dan tanpa suatu halangan apapun.


📞 Iya mbak terimakasih.


📞 Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


" Aku kira dari sampean mas, ternyata bukan "


" Bicara dengan siapa nduk ? " yang tiba - tiba masuk ke kamar Tari dengan membawa sebuah Tas.


" Anu buk, Mba Rina sama Gus Reyhan ngak bisa hadir Beliau ada urusan mendadak "


" Oalah, ya wez gak papa memang mereka orang sibuk. Nduk ini baju yang sampean pakai untuk acara lamaran nanti dari Mbak Darmi. " Sambil memberikan tas yang dia bawa.


" Enggeh buk "


Diterimanya tas itu, kemudian dia mengeluarkan kebaya yang ada dalam tas itu. Kebaya warna pink dengan setelan kain batik yang senada dengan kemeja batik didalamnya. Dipandanginya kedua baju itu dan dia mengusapnya dengan berlahan, tanpa tersadar buliran bening itu jatuh begitu saja.


" Kenapa kok malah nangis nduk ?"


" Mboten buk, Ijah cuma merasa cepat sekali Ijah dalam proses ini. sedangkan Ijah belum bisa membahagiakan ayah dan ibuk "


" Ngomong apa to nduk, apakah ini bukan salah satu cara sampean membahagiakan kami berdua "


" Maaf nggeh buk, belum bisa membalas jasa ibuk, masih banyak sekali kekurangan Ijah "


" Nduk, sampean mau menikah itu berarti sampean mau melengkapi kekurangan sampean. Sudah jangan bersedih hari ini hari istimewa untuk mu" Sambil menghapus air mata di pipi putrinya itu.


" Insyaallah Bu, semoga ini jalan terbaik yang dipilihkan Allah untuk Ijah "


" Amien, sudah segera mandi sebentar lagi orang yang meriasmu akan datang "


" Buk, apakah harus dirias bukankah hanya begini saja "

__ADS_1


" Wez manut sama Mbak Darmi aja nduk, ibuk aja ya manut semua sudah diatur sama beliau. Sampean apa belum keruang tamu to nduk ? "


" Memangnya ada apa buk di ruang tamu ?"


" Ya wez sana mandi, ibuk tak ke dapur " sambil melangkah meninggalkan kamar Tari.


Karena lamaran ini lamaran yang pertama sekaligus yang terakhir Bu Darmi sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Mulai dari makanan, pakaian, dekorasi ruangan beliau yang mengaturnya dan Tari tak mengetahui hal itu. Dalam fikiran Tari hanya lamaran biasa yang hanya dihadiri kedua keluarga inti saja tanpa ada hal seperti ini.


Beberapa hari yang lalu, Pandu memberitahukan bahwa


dia berada di Indonesia karena kapalnya sedang sandar di Labuan Bajo. Karena hal itu dia menjanjikan akan hadir pada acara hari ini, hal itu membuat Tari bahagia. Hubungan mereka akhir - akhir ini berjalan dengan baik.


Tapi entah mengapa tiba - tiba tadi malam Pandu mengabarkan bahwa dia tidak bisa pulang. Karena dia tidak dapat tiket penerbangan ke Surabaya, kalau menggunakan perjalanan darat jelas saja waktunya tidak cukup. Kecewa sebenarnya yang dirasakan Ijah bagaimanapun kehadiran Pandu dalam acara ini sebenarnya sangat dia harapkan.


📞 Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


📞 Adek, sekali lagi maaf ya.


📞 Ngak papa mas, sudah jangan bahas itu. Mas sedang apa ?


📞 Sedang menatap fotomu.


📞Mas tadi Bude memberikan kebaya beserta kemeja yang akan kita pakai untuk hati ini.


📞 Kamu suka ?, aku harap kamu suka sendiri yang memilihnya.


📞 Suka mas, itu bagus sekali. Mas terimakasih untuk semuanya.


📞 Ngomong apa sih dek, sebentar lagi kamu menjadi milik mas seutuhnya. Sungguh mas sangat bahagia keinginan mas selama ini akhirnya akan segera terwujud. Tetaplah di sisi mas walaupun seperti apa keadaannya, tiada yang lain yang mas harapkan menemani sisa hidup mas.


📞 Sudah jangan terlalu banyak fikiran, segeralah bersiap anak gadis jam segini masih dikamar saja. Kecuali kalau ada aku, akan aku sekap kamu berhari - hari dalam kamar.


📞 Ya sudah mas aku mau mandi, sebentar lagi periasnya akan datang.


📞 Aduh, awas nanti jangan dandan terlalu cantik.


📞 Mas itu apaan sih, hari istimewa ya harus cantik dong.


📞 Salah sendiri kenapa tidak pulang.


📞 Andai saja aku punya sayap aku sudah pasti terbang kesana. Asal adek tau aku begitu rindu, 2 bulan ini terasa 2 tahun dek.


📞 Iya - iya mas, ya sudah aku mau bersiap untuk mandi dulu. Assalamualaikum.


📞 Ngak usah dandan terlalu cantik awas ya, Waalaikumsalam.


Tari tersenyum sambil memandang handphone ditangannya, tubuh mungilnya berguling ke kanan dan ke kiri diatas kasur kemudian berhenti menatap langit - langit kamarnya. Entah karena apa matanya terpejam menyusuri pulai kapuk dengan tenangnya, wajahnya memancarkan kebahagian.


" insyaallah mba, aku akan menghalalkanmu"


Dengan segera Tari terbangkan dari tidurnya, nafasnya tersengal - dengan ketika mencoba menemukan kesadaran dalam dirinya. Kenapa itu datang kembali, kenapa suaranya sejelas itu begitu banyak pertanyaan dalam benaknya. Tapi ini seolah - olah nyata tak seperti mimpi yang aku alami biasanya, sehingga butiran keringat dingin mengucur di dahinya.


" Nduk bagaimana to ini, ibu suruh mandi Lo kok masih bengong saja di kamar. Itu mbak periasnya susah datang " ucap ibu yang baru saja masuk ke kamar Tari.


" Enggeh buk, Ijah tadi ditelepon mas Pandu dan tau - taunya Ijah sudah tertidur "

__ADS_1


" Ya sudah cepatlah mandi, kasihan mbak periasnya mesti nunggu lama "


Tari segera beranjak ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Dhuha. Setelah selesai sholat Dhuha dia bergegas mengenakan gamis hariannya, dan berjalan ke ruang tamu menemui perias yang akan meriasnya. Tari terkejut dengan dekorasi yang ada pada ruang tamu itu, ruangan kecil itu sekarang sudah disulap menjadi ruangan yang dipenuhi dengan bunga dan kain yang menutupi semua are tembok. Serta dekorasi foto boot yang bertuliskan inisial P & I di sudut ruangan.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


" Maaf mbak menunggu lama, saya tadi ketiduran "


" Tidak apa - apa mbak, kami juga belum terlalu lama. Sebaiknya kita harus segera merias mbak Ijah karena waktu sudah cukup siang. Nanti takutnya kita kehabisan waktu "


" Baiklah mbak, mari ikut saya ke kamar saya "


Kedua belah pihak keluarga menentukan hari Jum'at untuk hari lamaran ini karena mereka masih berpedoman tentang itungan hari pada penanggalan Jawa. Kata mereka orang Jawa jangan sampai ilang jawane, itulah faham yang dianut kedua orang tua itu, jadi semua persiapan dilakukan dengan hati - hati dan dipilih dengan perhitungan yang matang. Jadi dipilihlah pada hari ini hari Jum'at Pahing pada waktu setelah sholat Jum'at.


Kalau bagi Tari hal seperti ini bukan hal terlalu penting karena bagi dia apa yang ditentukan kedua orang tuanya adalah yang terbaik baginya. Jadi dia tidak mempermasalahkan waktunya, toh dia hanya tinggal mempersiapkan dirinya sendiri karena Bu Darmi sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.


Sementara itu di dalam kamar Tari, perias itu dibantu asistennya untuk merias Tari. Tari sudah mewanti - wanti mbak perias agas memberi riasan yang natural saja, karena dia kurang begitu suka dengan riasan yang tebal.


Waktu berjalan begitu cepat siang ini, nampak di rumah kecil itu kesibukan yang luar biasa pada setiap sudutnya. Tetangga dan sanak saudaranya berkumpul untuk membantu kelancaran acara ini. Mereka mempersiapkan berbagai macam hidangan, sementara teras samping rumah Tari sudah disulap menjadi ruang prasmanan, sedangkan teras depan diisi dengan tempat duduk kalau - kalau ruang tamu tidak cukup menampung para tamu yang datang.


" Aduh Mbaknya cantik banget " puji mbak perias kepada Tari.


" Iya mbak, padahal kita make upnya hanya natural Lo ya, tapi kok malah buat mbaknya cantik " ucap asisten mbak perias.


Tari menatap dirinya di cermin, dia tersenyum melihat bayangannya di cermin. Sungguh pemandangan yang langka, dirinya berbalut kebaya yang terlihat longgar yang sama sekali tidak menonjolkan lekuk tubuhnya dengan rok batik serta jilbab warna senada yang menambahkan aura kecantikannya.


Bu Fatma masuk ke kamar Tari untuk melihat keadaan anak gadisnya itu, dia tersenyum ketika melihat anak gadisnya yang terlihat begitu cantik itu menundukkan kepala. Tanpa dikomando butiran bening meluncur secara perlahan di pipi yang mulai keriput itu, matanya berbinar walaupun sesekali buliran bening itu masih jatuh. Sungguh melihat putrinya dalam keadaan begin membuat beliau tak henti - hentinya bersyukur, setelah semua yang dialami putrinya itu.


Tari dengan cepat memeluk tubuh wanita kesayangannya itu, yang dibalas juga dengan pelukan erat dari sang ibu. Kedua wanita itu sibuk dengan fikiran mereka masing - masing dalam pelukan berusaha menguatkan satu sama lain setelah yang dialami selama ini. Hari ini bagaikan buah yang dipetik setelah menanam pohon yang begitu banyak rintangan untuk pohon itu hidup dan pada akhirnya berbuah juga.


" Nduk, terimakasih sudah memberi ibuk dengan banyak kebahagian "


" Terimakasih juga Buk, sudah melahirkan Ijah, maaf bila Ijah masih banyak salah, masih belum menjadi anak yang baik "


" Sudah jangan nangis, mau dilamar kok malah nangis to " sambil mengusap air mata di pipi putrinya.


" Ijah hanya terharu saja buk, ini tangis kebahagian buk "


" Ayo Mbak sini tak benerin lagi make upnya, biar nanti tampilannya pari purna ya mbak "


" Maaf ya mbak, saya terbawa suasana "


" Tidak apa - apa mbak, rata - rata memang seperti itu mbak mesti ada tangis haru. Saya selalu mensiasatinya dengan make up waterproof mbak. Jadi tidak berpengaruh meskipun dibuat nangis seperti apapun sekalipun dibasuh dengan air pun tak akan melunturkan make up saya. " ucap Mbak perias dengan keyakinan tinggi.


" Lah terus nanti saya mau ngebersihannya gimana mbak ? " ucap Tari dengan polosnya.


" Ya pakek makeup remover to mbak, seperti ini " sambil menyodorkan sebotol makeup remover yang digenggamnya kearah Tari.


" Owh seperti ini ya mbak, maaf saya kurang tau "


" Mbak Ijah ini tidak pernah bermake-up ?"


" Saya cuma pakai bedak bayi saja mbak, sama sedikit lip Balm agar bibir saya tidak kering, kurang tahu menahu tentang make up "


" Tapi mbak Ijah sudah cantik meskipun tanpa make up, tapi sekarang tambah cantik dengan make up natural seperti ini. Auranya keluar sekali, sayang masnya GK jadi hadir mbak coba kalau hadir tak jamin matanya gak akan berkedip "

__ADS_1


" Sampean terlalu mbak memuji saya "


Bersambung .....


__ADS_2