Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
68. Pengagum Rahasia


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Patutkah kita mempersalahkan seseorang apabila keputusan yang dia ambil tidak sesuai dengan keinginan kita. Haruskah semua keinginan kita terpenuhi, walaupun itu menyakiti orang lain. Ya begitulah manusia, dia akan selalu mengutamakan kepentingannya diatas segalanya. Bahkan kadang kala menghalalkan segala cara agar semua keinginannya terpenuhi.


" Sungguh saya tidak bermaksud menyakiti Mas Setyo,. "


" Apa kamu bilang tidak menyakiti Setyo, dengan kamu menolaknya itu sudah menyakitinya. " Jawab wanita itu dengan penuh penekanan pada setiap katanya.


Tari yang semula tertunduk, kini dia menatap wanita yang ada disebelahnya itu. Dia mulai memahami situasi yang dia hadapi sekarang, mengapa wanita paruh baya ini mengajaknya bicara.


" Yanguti, dulu kami memang pernah memiliki hubungan tapi itu dulu beberapa tahun yang lalu. Sekarang kenyataannya berbeda, semuanya sudah berubah begitu perasaan juga bisa berubah dengan seiring waktu. "


" Tapi Jah, Setyo masih sangat mencintaimu. Perasaannya padamu tidak berubah. "


" Benar apa kata Denti, dia tidak pernah melupakan perasaannya padamu. "


" Mbak, Yanguti saya sudah bilang kami tidak bisa lagi bersama apapun yang terjadi. "


Bagaimana mereka dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu setelah perlakuan mereka dulu. Dulu mereka sendiri yang menolak kehadiran Tari, tapi sekarang dengan egoisnya mereka meminta Tari kembali menerima Setyo. Tari berusaha memilih kata - kata yang halus untuk menolak keinginan wanita paruh baya itu.


" Bukankah kamu dulu sangat mencintainya, kenapa sekarang saat dia datang kamu malah menolaknya. Atau jangan - jangan cintamu dulu untuknya hanya sekedar kebohongan mu, atau sekarang kamu sudah memiliki laki - laki lain ???...... "


" Yanguti, saya sudah bilang waktu bisa merubah segalanya yang awalnya cinta pun akan bisa tidak cinta seiring dengan berjalannya waktu. Cinta lama pun akan digantikan dengan cinta yang baru. "


Suasana menjadi hening sejenak mereka sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Tari melihat kearah jam yang berada dipergelangan tangannya.


" Ngapunten ngeh Mbak Denti, Yanguti waktu sudah cukup sore saya permisi. Assalamualaikum. "


Tanpa menunggu jawaban dari salamnya Tari segera berdiri, dan berjalan menuju ke arah pintu. Dia berjalan menuju pintu gerbang komplek sekolah, yang masih terlihat ramai.


" Assalamualaikum Bu Tari, "


" Walaikumsalam Pak Mus. "


" Tumben Mbak jam segini masih dari luar sendiri ? "


" Enggeh Pak Mus tadi ada urusan sebentar, monggo pak. "


" Enggeh Bu Tari. "


****************


Wanita paruh baya itu masih duduk di tempatnya, sementara wanita di depannya membersihkan bekas makan putrinya.


" Sudah ku bilang kan Buk, tidak seharusnya kita disini. Ini seperti menjilat ludah kita sendiri. "


" Ibuk ngak peduli, yang terpenting Setyo tidak marah lagi. Kita hanya perlu sedikit memaksa dengan gadis seperti dia. "


" Buk, tidakkah semua ini keterlaluan. "


" Tidak, kamu hanya perlu mendukung ibuk saja, sisanya biar ibuk yang urus. "


" Terserah buk, tapi setelah ini aku tidak mau terlibat. Ayo Jasmine kita pulang. "


Wanita itu berdiri dari duduknya dan segera membayar ke kasir, sedangkan wanita paruh baya itu hanya mengekor dibelakangnya.


****************


Tari tiba di asrama suasana sore ini cukup sepi, karena sebagian dari mereka masih ada yang beraktifitas di sekolah. Apalagi untuk guru yang mengajar di tingkat Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah karena ada beberapa Yang masuk kelas sore. Dan sebagian dari mereka pasti sekarang di rumah singgah.


Tari masuk ke kamarnya, menaruh tas punggungnya di lantai bersandar pada nakas. Dia mendudukkan tubuhnya di kasurnya sembari melepas kaos kakinya. Pikirannya menerawang mengingat kata - kata yang diucapkan wanita paruh baya tadi.


Wajar bila Bu Romlah seperti itu, setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia. Tapi bukan berarti dia bisa memaksa kehendak anaknya kepada orang lain kan. Entahlah, tapi keputusan ku tetap sama. Ya Allah berikan jalan keluar untuk semua ini agar tiada yang tersakiti diantara kami.


Setelah selesai mandi dan mengerjakan kewajibannya, yang mengembalikan ketenangan jiwanya. Tari mendudukkan tubuhnya di kasur bersender tumpukan bantal. Diambilnya buku yang beberapa hari lalu datang, seperti biasa dari orang tak pernah dia tahu. Buku yang baru akan dibacanya karena kesibukannya beberapa hari ini belum sempat membacanya.

__ADS_1


*Biarkan aku memantaskan diriku terlebih dahulu sebelum aku bersanding dengan mu.


Yang bisa ku lakukan hanya meminta kepada - Nya agar engkau dijadikan jodohku.


Serahkanlah semua kepada - Nya saat keraguan datang menyapamu.


Sampai hari itu tiba, akan selalu ku sebut namamu di sepertiga malam ku*.


^^^Tertanda GS^^^


Tiba - tiba terlihat semburat merah di kedua pipi gadis manis itu, hatinya menghangat seketika. Bolehkah dia berbahagia dengan hal ini, sesuatu yang dapat melambungkan siapa saja. Namun bukankah sebuah kejalasan yang diharapkan oleh semua wanita termasuk dia. Teringat dengan hal itu senyum di wajah gadis manis itu sirna seketika.


Sejenak kemudian dia menutup buku itu dan mengembalikannya ke dalam nakas. Dia takut ketika perasaanya inin akan hanya menjadi semu baginya Sepertinya dia tidak akan membuka kembali hatinya tanpa adanya kejelasan. Hanya satu hal yang bisa dia lakukan memasrahkan ini semua kepada sang pemilik kehidupan.


Ceklek .........


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


" Melamun saja mbak ? "


" Enggak Dah, hanya saja ...... "


" Memikirkan Mas GS ya, buku yang terakhir sudah di buka mbak ? "


Tari menoleh ke nakas dimana dia meletakkan buku yang baru saja dibacanya. Teringat semua kata - kata dalam halaman pertama yang tertulis oleh tulisan tangan yang mungkin saja milik sang pengirim.


" Bagaimana mbak rasanya punya pengagum rahasia yang seperti itu ? "


" Tidak ada yang istimewa Dah. "


" Kenapa ? "


" Karena hidup butuh kepastian, begitu pula dengan sebuah hubungan. "


" Ngomong apa sampean itu, Bagaimana tadi kegiatan dirumah singgah ? "


" Cukup menguras tenaga mbak, besuk mbak Tari ngak boleh ngak datang. "


" Insyaallah aku besuk datang. "


" Sebenarnya tadi mbak Tari ada urusan apa, eh jangan di jawab dulu aku mau mandi dulu setelah mandi aku berharap mbak Tari mau menceritakan semua. "


Gadis kurus itu segera, menyambar handuk yang berada di gantungan, lalu membawanya ke kamar mandi. Tidak biasanya gadis itu mandi dalam waktu yang cukup lama, sepanjang gadis kurus itu mandi sayup - sayup terdengar nyanyian. Tari hanya bisa menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu, karena beberapa hari kemarin dia nampak murung tapi satu hari ini matahari bersinar cerah diwajahnya.


" Alhamdulillah Mbak akhirnya selesai juga. Jadi tadi kemana ngak biasanya ada urusan penting ? "


Mereka sudah berada di kasur masing - masing namun memposisikan tubuh mereka berhadap - hadapan.


" Ibunya Mas Setyo mengajakku bicara ? "


" Terus Mbak mau ? " Gadis itu merubah posisinya, bangun dari tidurnya kemudian berjalan menghampiri Tari.


" Apa boleh buat, aku tidak tega menolaknya terus menerus. "


" Apa yang dia katakan ? "


" Apa lagi, sama seperti yang dikatakan oleh putranya. Memintaku kembali ......... " Sambil menghela nafas panjang.


Dddrrrtttt......... dddrrrttttt....... dddrtttttttt


Handphone Wardah yang berada diatas nakasnya nampak menyala dengan deringan khas suara panggilan masuk, gadis kurus itu segera mengambilnya kemudian menggeser ke tombol warna hijau.


📞 Assalamualaikum

__ADS_1


📞 Walaikumsalam


📞 Akhir Minggu kita harus pulang, orang tuaku akan datang ke rumah mu. Segera kabari orang tuamu, persiapkan semuanya.


📞 Hah, secepat ini. Kenapa buat keputusan secara sepihak, aku juga perlu berbicara kepada orang tuaku. Heran selalu membuat keputusan sendiri, tanpa ada diskusi.


📞 Sudah jangan mengeluh, niat baik tidak boleh ditunda. Oiya segera kirim nomor rekening mu.


📞 Bukannya mengeluh tapi ini namanya keterlaluan, buat apa nomer rekening ?


📞 Kita butuh mempersiapkan semuanya, jadi setelah ini kirimkan nomer rekening mu. Ya sudah aku masih ada urusan Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


Wardah menutup panggilannya, menaruh kembali handphonenya keatas nakas. Kemudian kembali duduk di kasur milik Tari.


" Cie cie yang mau dilamar. "


" Apa sih Mbak Tar, dia selalu memutuskan apapun tanpa bertanya dan keputusannya selalu mutlak tanpa bisa ditorelir. "


" Bagus dong itu namanya laki - laki yang punya prinsip. Dan yang jelas, dia bertanggung jawab dengan apa yang menjadi keputusannya. "


" Tapi kan masalahnya keluarganya akan datang akhir minggu, sedangkan aku belum membicarakan ini kepada keluargaku. " Gadis kurus itu menunduk dia sedikit ragu dengan keputusannya.


Wardah adalah anak pertama dalam keluarganya, dia masih memiliki 2 adik yang bersekolah. Kedua orangtuanya sudah cukup tua, dan mereka hanya bekerja sebagai buruh di toko kelontong. Jadi selama ini dia membantu kedua orang tuanya membiayai sekolah kedua adiknya.


Gadis itu berfikir apabila dia menikah apakah dia masih bisa bekerja untuk membantu membiayai sekolah kedua adiknya. Dia tidak ingin membebankan keluarganya kepada suaminya kelak. Namun tanpa bantuan biaya dari Wardah mungkin saja kedua adiknya bisa terancam putus sekolah.


" Segera beri tahu keluargamu, dan aku rasa keluargamu pasti akan setuju. "


" Tapi Mbak ada satu hal yang mengganjal dalam pikiranku, bagaimana nasib kedua adikku bila aku menikah ?, Mbak Tari tahu bagaimana keadaan keluargaku. " Gadis itu tertunduk lesu.


" Jujur ya aku sempat kaget saat Pak Rizki mengatakan kalau dia ingin melamar sampean. "


" Jadi Mbak Tari sudah tahu ? "


" Iya, aku yang menyuruhnya untuk segera mengutarakan niatnya. "


" Mbak Tari. "


" Tapi seneng kan ?..... Kalau bersama kelakuannya kayak kucing dan anjing. Tapi nyatanya saling ........ Sampean bicarakan semuanya sama Pak Rizki beliau pasti akan mengerti. "


" Aku takut Mbak, dia akan melarang bekerja, sedangkan aku juga tidak mau membebaninya dengan harus membiayai kedua adikku. "


" Dah, apabila kita sudah menikah keputusan suami kita itu sifatnya mutlak untuk kita sampean faham kan ? sampaikan semua hal yang perlu disampaikan aku rasa dia akan bisa mengerti bahkan menerima. "


Ddrrtt...... dddrrrttt .......


Hanphonenya kembali berbunyi, dengan malas dia berjalan kearah nakas dan segera menggeser kearah tombol hijau tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelfonnya.


📞 Assalamualaikum..


📞 Walaikumsalam, mana nomer rekeningnya. cepat kirimkan mumpung aku diluar sekalian aku transfernya.


📞 Aku punya uang untuk itu, sudah ngak usah.


📞 Heh siapa yang bilang sampean ngak punya uang, sudah jangan banyak membantah.


📞 kalau dibilang ngak usah ya ngak usah, jangan ngeyel. Assalamualaikum. "


Dia memutuskan panggilan sepihak tanpa mendengarkan jawaban salam yang dia ucapkan. Tari hanya menggeleng seraya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu. Bagaimana bisa orang yang setiap ketemu bertengkar, sekarang akan menikah. Semua bisa terjadi dengan kuasa-Nya apa yang tak mungkin akan menjadi mungkin untuk- Nya.


" Dah, rumah tangga itu penyatuan dua pribadi yang berbeda, dua sifat yang berbeda, dua hati yang berbeda, dua pikiran yang berbeda. Yang harus menjadi satu, hal itu tidak akan pernah ada titik temu apabila kita tidak bisa saling menerima dan memahami. Kalau semua mau menjadi Api tanpa ada yang menjadi air bagaimana jadinya. "


Gadis kurus itu hanya tertunduk, mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Tari.

__ADS_1


" Mengalah itu adalah kodratnya wanita, apalagi dalam keyakinan kita, kita dianjurkan selalu mematuhi setiap ucapan suami dan itu surga balasannya. "


Bersambung ...........


__ADS_2