Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
50. Tidak Meminta Jawaban


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Setiap yang pergi akan selalu digantikan yang datang begitulah kehidupan.


" Saya tidak tahu harus menjawab apa Mas, sedangkan saya sendiri masih harus mengobati luka yang kembali menoreh pada hati saya. "


" Saya tidak minta kamu menjawab iya atau tidak atas pertanyaan saya. Hanya saya ingin kamu mengetahui kalau saya memiliki satu rasa untukmu, dan saya sedang mencoba melawan rasa takut yang ada dalam diri saya. Saya mengungkapkan ini karena saya tidak ingin ada kesalah pahaman diantara kita berdua. Saya tidak ingin kamu merubah sikap dan perhatian kamu ke Hawa. "


" Biakan semuanya seperti ini, saya tidak akan pernah merubah sikap dan perhatian saya terhadap Hawa. " Jawab Tari sembari menoleh ke belakang menatap gadis kecil yang tertidur pulas di jok bagian tengah itu.


Setelah itu tiada lagi obrolan diantara mereka, kecanggungan semakin terasa diantara mereka berdua. Tari memejamkan matanya mulutnya tak henti - hentinya memorojoah Kalam - Kolam Ilahi yang membawa sedikit ketenangan padanya. Perkataan Fahmi cukup membuat jantungnya berdebar kembali. Entah debaran karena rasa senang atau malah justru rasa sakit yang dia rasakan.


" Tar, kita mampir untuk sholat Maghrib dan makan terlebih dahulu ya. "


" Iya Mas, terserah sampean. "


Mobil itu berhenti di sebuah masjid besar yang terletak dipinggir jalan, dengan pelan Tari membangunkan Hawa yang sedang tertidur di jok belakang. Diusapnya pelan kepala gadis kecil itu, sembari memanggil namanya.


" Hawa ayo bangun sayang, ayo kita sholat Maghrib dulu sayang. "


" Bagaimana Tar, apa belum bangun juga. " Ucap Pak Fahmi saat mengetahui putri kesayangannya itu tak juga bangun meskipun sudah berusaha dibangunkan oleh Tari.


Laki-laki bertubuh tegap itu berjalan menuju pintu samping mobil bagian belakang. Menghampiri putrinya yang tengah tertidur pulas,


" Coba saya yang membangunkan. " Sembari mendekat kearah pintu.


" Monggo Mas, pelan - pelan saja jangan terlalu kencang."


" Hawa, sayang ayo bangun. " Sembari menggoyangkan tubuh gadis kecil itu pelan.


Gadis itu mulai mengeliat, menaikkan kedua tangannya keatas dan menguap. Seolah - olah mengembalikan kesadarannya kembali.


" Ayo kita sholat Maghrib dulu. " Sembari meraih tubuh gadis kecil itu dalam gendongannya.


Setelah beberapa saat mereka menyelesaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Dan kembali meneruskan perjalanan mereka, yang masih separuh jalan. Suasana mobil saat ini tidak seperti sebelumnya tadi celotehan Hawa dan beberapa pertanyaan menemani perjalanan mereka. Dan sampailah mereka di depan rumah sederhana yang di penuhi banyak tanaman di halamannya.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " Jawab sepasang paruh baya dari dalam rumah.


" Ayo masuk dulu Pak, " Pak Rahmat mempersilahkan tamunya itu untuk masuk kedalam rumahnya.


" Iya Pak, Maaf pulangnya agak kemalaman tadi soalnya sowan dulu ke ndalem Pak Kyai. "


" Tidak apa-apa Pak, masih belum terlalu malam juga. "


Kedua laki-laki beda generasi itu mengobrol di ruang tamu, sedangkan Bu Fatma membuatkan kopi untuk tamunya. Sedangkan Tari masuk kedalam kamarnya yang diikuti dengan Hawa.


Dia kaget ketika masuk kedalam kamar, karena dalam kamarnya itu dia mendapati dua sosok yang selalu merepotkannya. Dan keduanya tengah asik berbaring di atas kasur Tari dengan keduanya yang asik menatap benda pipih yang berada di tangannya. Yang membuat perhatian mereka hanya tertuju pada benda itu dan tidak menyadari si pemilik kamar telah datang.


" Assalamualaikum "

__ADS_1


" Walaikumsalam " ucap mereka serentak dan menoleh kearah pintu.


Mereka segera bangun dari tidurnya dan bergantian menyalami kakak sepupunya itu yang mereka anggap seperti kakak kandungnya. Pandangan mereka beralih pada Gadis kecil yang ada di belakang Tari, yang menggenggam erat ujung gamis yang dikenakan Tari.


" Hai adek kecil namanya siapa, ayo Salim dulu sama Abang? " Ucap Irsyad memukul tubuhnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.


Hawa semakin menyembunyikan tubuhnya di balik kaki Tari. Dia memang tidak begitu mudah akrab dengan orang yang baru ditemuinya.


" Ayo Hawa Salim dulu sama Abang, tidak apa - apa ini adeknya Bunda. " Sambil menarik tangan gadis kecil itu dan mengarahkannya untuk menyalami tangan Irsyad yang sedari tadi diulurkan kearahnya.


" Panggil Bang Irsyad,"


" Kalau aku Bang Irhas, diingat - ingat nanti jangan sampai ketuker ya manggilnya. Hehehehe ..... "


" Unda kok mukana tama ? "


" Iya mereka kembar sayang, makanya mukanya sama. " Ucap Tari menjelaskan kepada gadis kecil itu.


" Bang Irhas dan Irsyad tumben kok pulang kan ini belum akhir semester ? Kalian tidak sedang membuat kesalahan kan ? " Tanya Tari penuh selidik kepada kedua sepupunya itu.


" Enggak mbak, kami pulang karena membutuhkan tanda tangan Ayah dan Ibuk. Kami sudah akan mulai magang mbak dan kebutulan itu membutuhkan surat izin yang harus ditandatangani orang tua. Jadi kami meminta izin untuk pulang, besuk kami sudah kembali ke pondok mbak. "


" Ohh, tak kira. Jadinya kalian sudah dapat tempat untuk magang ? Ayo sayang sudah dimasukkan semua bajunya ? "


" Alhamdulillah Mbak, di bengkel pusat Ah**s Hon** di kota Kediri. Sudah nyari kontrakan juga di sekitar tempat kita praktek. "


" Dah Unda, Oneka Wawa tindal cini ja. " Sambil menaruh boneka gajah besar ditempat tidur Tari.


" Hawa tidak akan mencarinya kalau bonekanya ditinggal disini ? "


" Ya sudah ayo kita kedepan, Ayah sudah menunggu. Hawa jadi anak yang sholeha jangan merepotkan ayah ya. " Ucap Tari sembari mengusap pelan kepala gadis itu.


" Bang syad, Bang has Wawa puwang duyu ya, acalamuaikum "


" Kok cepat sekali Hawa sudah mau pulang sih, hati - hati ya. Waalaikumsalam "


Gadis kecil itu menyalami dua pasang kembar itu dan meninggalkan kamar Tari menuju ruang tamu di mana Ayahnya sedang menunggunya. Dua kembar itupun mengikuti Hawa dan Tari yang jalan terlebih dahulu. Sedangkan di ruang tamu itu Pak Rahmat dan Bu Fatma sedang menemani tamunya itu mengobrol. Mereka sudah akrab karena ini bukan kunjungan pertama bagi Pak Fahmi ke rumah Tari selain itu kedua orang tua Tari termasuk orang yang ramah.


" Tidak ada barang yang tertinggal sayang ? " Sambil meraih tas yang di bawa Tari.


" Dah Yah, cemuana cudah Wawa pelikca. Yah dicana da bang Syad an bang Has mukana cama Yah. Tu oyangna Yah, iyatan mutana cama ..... "


Fahmi pun mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk putrinya itu. Disana nampak dua laki - laki usia belasan yang memiliki tinggi, warna kulit, bentuk rambut, dan wajah yang sama.


" Irhas Pak, dan ini adik saya Irsyad " Ucap Irhas memperkenalkan dirinya dan sang adik yang diiringi uluran tangan keduanya kepada Fahmi.


" Saya Fahmi, Ayahnya Hawa. " Sambil meraih tangan Irhas dan Irsyad bergantian.


Kedua ayah dan anak itu berpamitan lantas meninggalkan rumah sederhana itu. Membawa mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan menuju Kota Malang.


Pak Rahmat dan Bu Fatma kembali masuk rumah terlebih dahulu sedangkan Tari Irsyad dan Irhas masih berada di teras rumah sederhana itu. Dua pasang kembar itu asik mengotak atik sepeda motor mereka berdua yang terparkir di teras sedangkan Tari duduk di depan mereka, memperhatikan kedua saudara sepupunya itu.

__ADS_1


" Mbak, yang tadi itu siapa lagi ? Kok mukanya garang gitu ? "


" Mas Fahmi ? "


" Iya, berkharisma sekali orangnya ? "


" Ayahnya Hawa tadi bang, "


" Ehms, calon yang baru ya mbak ? "


" Entahlah Bang, kami hanya berteman tidak lebih. "


Tari sejenak teringat perkataan Fahmi tadi, tentang perasaan lelaki itu kepadanya. Sebenarnya apa yang di inginkan laki - laki itu kurang dia mengerti. Melangkah dari luka bersama dirinya kata - kata itu dari tadi terus terngiang difikirannya.


" Mbak, malah ngelamun " Kata Irhas seraya menepuk pelan bahu kakaknya itu.


" Tidak Bang Irhas, hanya sedikit berfikir tentang ......." Tari menjeda kalimatnya.


" Mbak, aku berharap sampean jangan terlalu menutup diri lagi. Karena menutup diri itu bukan satu - satunya jalan keluar dari masalah yang sampean hadapi. Meskipun aku tahu dalam keyakinan kita memang di larang untuk kita berpacaran, tapi kan kita bisa Ta'aruf "


" Bener mbak kata Bang Irhas, jangan lagi menutup hati mbak Tari aku yakin Allah sedang mempersiapkan jodoh sampean. "


" Idih tumben bener kalian ngomongnya. Apa cobak beli montor kayak gini Bang keenakan yang bonceng yang dibonceng rugi banyak. "


" Mana ada kayak gitu mbak, yang ada yang diboncengi tambah seneng nemplok sama cowok ganteng kayak aku. " Jawab Isyad membela diri.


" Dari dulu itu udah benar mbak cuman kami ngak nunjukin kedewasaan kami sembarangan. "


" Halah alasan, Ayo masuk Bang sudah malam sekalian motornya dimasukin. "


Tari masuk terlebih dahulu diikuti Irsyad dibelakangnya sembari menuntun motornya dan Irhas dibelakang Irsyad. Kedua pasangan kembara itu memang selalu memiliki barang - barang yang sama sejak mereka kecil dan kebiasaan itupun terbawa sampai mereka besar. Di rumah Tari tidak memiliki garasi maklum saja karena mereka juga tidak mempunyai kendaraan bermotor yang membutuhkan garasi untuk tempat menyimpannya.


Mereka melewati malam ini dengan masih bercanda gurau hingga sampai malam. Karena jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti ini karena disibukkan dengan kesibukkan mereka masing-masing. Banyak hal yang mereka obrolkan mulai tentang masa kecil mereka bertiga mengingat - ingat kecanduan lucu yang pernah mereka alami. Tanpa mereka sadari waktu sudah cukup malam dan mereka pun akhirnya terlelap dalam keadaan tidak berpindah dari tempatnya.


**********


Sementara di tempat lain seorang laki - laki menatap benda pipih yang ada di tangannya. Tatapannya tajam seolah menyiratkan betapa banyak hal yang sedang dalam benaknya. Beberapa kali dia tersenyum samar yang diikuti dengan helaan nafas panjang. Tatapannya beralih ke sebuah foto pernikahan yang terletak didinding, tanpa terasa butiran kristal bening jatuh begitu saja dari ujung matanya. Sebuah rasa sakit yang sudah dia pendam bertahun-tahun mulai terasa kembali.


" Aku harap yang aku lakukan sudah benar dengan berterus terang padamu, untuk hasilnya biar Allah saja yang menentukan "


"Ya Allah hanya Engkaulah Maha pemilik hati para Umat- Mu, jadikanlah dia halal untukku apabila dia memang benar - benar yang Engkau takdirkan dia sebagai penyembuh lukaku. Dan apabila memang bukan dia orangnya jauhkanlah kami dengan cara-Mu pula agar diantara kami tidak ada yang tersakiti. Biarkanlah hamba memperbaiki kesalahan yang pernah hamba lakukan dimasa lalu, Ya Allah aku mohon tuntunlah hamba dalam hal ini. "


" Yayah tok beyum ubuk. "


" Sebentar sayang, " Sambil meraih tubuh putri kecilnya itu kepelukannya.


" Yayah pa, tok Yayah anyis " Gadis kecil itu merasakan tubuh Ayahnya bergetar saat memeluknya.


Laki - Laki itu melepaskan pelukannya dari tubuh putrinya, ditatapnya lekat sumber kebahagiaannya di dunia itu. Ditangkupkan kedua tangannya ke wajah putrinya itu, sembari menghujani gadis kecil itu dengan beberapa ciuman. Dan kembali memeluk tubuh kecil itu.


" Maafkan Ayah ya nak "

__ADS_1


" Yayah Wawa yayang Yayah. Cudah dak ucah anyis adi anti mayu yo Yayah Tan tuat, Yayahnya Wawa dak boyeh anyis." Sembari mengusap - usap punggung Ayahnya mencoba menenangkan laki - laki yang juga berperan sebagai ibu baginya itu.


Bersambung ...........


__ADS_2