
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sujudnya kali ini lebih lama dari biasanya, hari ini dilaluinya dengan begitu berat. Dia tumpahkan segala kegundahan yang dia rasakan di dalam sujudnya. Satu - satunya tempat mengadu yang paling tepat saat hati terasa gundah. Hampir setengah hari merasakan kepalanya seakan - akan mau pecah, emosinya sudah berada di ubun - ubun namun dia harus bisa menyembunyikannya dari semua orang.
Ya Allah ampuni segala dosa - dosaku, berikanlah hamba keteguhan iman, cobaan yang hamba hadapi saat ini benar - benar berat hamba rasa. Teguhkanlah keimanan hamba agar senantiasa tetap dijalan-Mu, Engkau Maha pengasih lagi Maha penyayang. Engkau Maha kaya akan dunia dan seisinya tiada Tuhan selain Kau. Kuatkan lah hatinya jika dia sedang takut, berilah kesabaran jika dia sedang gundah, dan senantiasa lindungi dia dari hal - hal buruk.
Dia menyudahi sujudnya dengan air mata yang kembali basah, diusap wajahnya beberapa kali. Dia menoleh ke belakang tempat dimana biasa sang istri menjadi makmum sholatnya. Namun tempat itu sekarang kosong, sang istri tidak menjadi makmum sholatnya kali ini. Itu membuatnya merasakan kehilangan yang begitu luar biasa, belum ada satu hari istrinya pergi namun ini begitu berat dia jalani. Bagaimana bila sampai esok istrinya tidak ketemu, apa dia bisa melanjutkan hidupnya.
Ceklek .........
Bunyai Salamah masuk ke dalam kamarnya, kemudian beliau duduk di kasur miliknya. Bunyai Salamah memandangnya sambil tersenyum, menepuk sisi kaur di sebelahnya sebagai isyarat untuk dia duduk disana. Dia kemudian berdiri menghampiri sang ibu, kemudian menyium ntangan sang ibu dengan takzim. Yang dibalas dengan usapan pelan namun penuh ketenangan di kepalanya oleh sang ibu.
" Insyaallah Le, semuanya pasti ada jalannya. Allah tidak mungkin mendatangkan suatu musibah tanpa jalan keluarnya. "
" Insyaallah Mi, semoga semua segera ada titik ternganga. "
" Ujian datang dalam berbagai bentuk Le, kita hanya harus sabar dan ihklas dalam menghadapinya. "
" Enggeh Mi, Insyaallah Syam sabar dan ihklas. "
" Ayo kita makan dulu, sampean harus makan biarpun itu sedikit. Karena sampean harus memiliki tenaga ekstra untuk mencari istrimu. " Ucapnya sembari mengusap pipi putra sulungnya itu.
" Enggeh Mi. "
Mereka berdua pergi meninggalkan kamar miliknya, berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Semua orang sudah berada di sana karena mereka akan makan malam bersama. Rina sudah menyiapkan berbagai makanan, yang sudah tertata di atas meja.
" Makan yang banyak, karena sampean harus punya tenaga ekstra Le. " Ucap Kiyai Baharuddin saat sang putra bergabung dengannya.
" Enggeh Bah. " Jawabnya sembari menarik kursi yang akan diduduki oleh sang Ibu.
Semua orang makan tanpa adanya suara, hanya ada dentingan antar sendok dan piring yang terdengar. Saat semua orang sudah selesai dengan makan mereka tiba - tiba handphone miliknya berbunyi.
Dddrrttt ....... dddrrtt..........
Dengan segera dia mengambil handphone miliknya di dalam saku, dan segera menggeser tombol kearah tombol hijau.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
" Kami menemukan titik terangnya Gus, bisa ke kantor segera ? "
" Pasti, kami akan segera kesana. "
__ADS_1
Gus Reyhan menyampaikan kabar yang diterimanya Kepada Gus Syam dengan penuh semangat. Tanpa pikir panjang Mereka berdua segera bergegas menemui teman Gus Reyhan yang menelfon tadi. Sebuah kabar yang mampu membangkitkan harapan mereka, setelah tidak adanya petunjuk apapun yang ditinggalkan Tari mengenai kepergiannya. Mobil yang dikemudikan Gus Reyhan membelah jalanan yang cukup ramai itu, sampailah mereka di sebuah halaman cafe tempat Gus Reyhan membuat janji akan bertemu.
" Kita nanti bergerak sesuai arahan Nono saja Shan, ojok grusa grusu. " Ucap Gus Reyhan memperingatkan. ,
" Insyaallah Mas. "
" Ojok Insyaallah, pko.e kudu manut karo arahanne Nono. "
Gus Reyhan mengingat perjalanan mereka pulang dari rumah Wardah tadi, Gus Syam meluapkan emosinya yang cukup membuat dirinya kaget. Mengingat hal itu dia tidak ingin Gus Syam bertindak tanpa ada perhitungan dan cenderung mengedepankan emosinya. Namun tidak salah juga jika Gus Syam se emosi itu karena sang istri entah kemana perginya.
" Iyo - Iyo Mas. " Jawabnya sembari menekan keningnya.
" Aku percoyo Nono mesti nduwe informasi penting, Sampek awak dhewe dikongkon teko. " Membuka sealt beltnya kemudian membuka pintu mobilnya.
Mereka berdua berjalan beriringan, menyusuri cafe yang cukup ramai oleh pengunjung itu. Mereka menghampiri seseorang berambut gondrong yang duduk di pojok cafe yang sedang menatap layar lap top di depannya.
" Assalamualaikum " Ucap Gus Reyhan.
" Walaikumsalam, Monggo Gus silahkan duduk. " Jawabnya sembari berdiri dan menyalami kedua orang itu dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
Gus Reyhan dan Gus Syam duduk di depan orang berambut gondrong itu, tak lama ada seorang waiters mendatangi mereka. Setelah mencatat pesanan keduanya satu coffe amiricano dan capuccino late, waiters itu pergi meninggalkan mereka.
" Bagaimana ada titik terang ? "
" Saya rasa ada Gus, tapi sebelumnya saya rasa sampean berdua harus melihat ini. " Sambil menyodorkan lap top yang sedari tadi mereka lihat kearah Gus Reyhan dan Gus Syam.
" Selanjutnya apa yang bisa kita lakukan ? " Tanya Gus Reyhan pada laki - laki gondrong di depannya itu.
" Anak buahku sedang melacak keberadaan mobil ini, secepatnya saya akan mengabari. Atau kalian kenal dengan laki - laki dalam video itu ? "
" Ya kami kenal. "
***********
POV. TARI
Aku keluar dari kamar mandi, tapi suasana rumah belakang Wardah yang semula ramai sekarang menjadi sepi. Ku dengar suara sound cukup kencang dari yang aku dengar terdengar suara penyayi orgent tunggal yang menyanyikan lagu yang cukup populer saat ini. Dan sudah pasti semua orang sedang di depan menikmati hiburan yang di sediakan tuan rumah.
Entah mengapa perasaanku jadi tak enak, ada rasa was - was dan sejurus kemudian jantungku berdebar tak karuan. Ku coba lebih cepat melangkahkan kaki ku karena entah mengapa aku merasa ada seseorang di belakangku. Saat aku hampir sampai di pintu belakang rumah Wardah yang langsung menuju dapur di rumah Wardah ada yang menarik lenganku kencang.
Dan tubuhku terhuyung sehingga menabrak sebuah dada kokoh dengan aroma tubuh yang menguar memenuhi seluruh indera penciumanku dan aku tahu siapa pemilik aroma ini. Tanpa berkata apapun dia membekap mulutku dari belakang, sehingga aku tak mampu bersuara sedikitpun, dia menyeretku melewati lorong - lorong gang. Sampailah kami di penghujung gang, dan dia melepaskan bekapan tangannya pada mulutku.
Suasana di sekitaran rumah Wardah benar - benar sepi tidak ada orang yang hilir mudik, atau anak - anak bercengkrama dan bermain di sepanjang gang yang biasanya umum terjadi. Hal pasti terjadi karena adanya orgent tunggal yang pasti membuat mereka semua tertarik untuk melihatnya.
__ADS_1
Dia menatapku dengan pandangan yang sama seperti pandangannya saat meninggalkanku, saat aku mulai membuka mulutku. Tangannya mengisyaratkan aku untuk diam, dan itu membuatku urung untuk mengeluarkan suara. Dituntunnya tanganku lembut, dan entah mengapa aku mengikutinya begitu saja.
" Pakai sealt beltnya " Perintahnya padaku.
Dan entah mengapa aku begitu saja mengikuti apa yang dia perintahkan padaku. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh tanpa bicara apapun, hanya sesekali menoleh padaku dan mengelus kepalaku pelan. Aku terus tertunduk selama perjalanan itu, saat aku menatap gelang yang tersemat di tangan kiri ku aku menyadari suatu hal.
Segera ku ambil handphone yang berada di sling backku, namun setelah ku cari dari satu ruang ke ruang lain aku tak bisa menemukannya. Dan saat itu aku mulai panik, bagaimana aku bisa memberi kabar pada suamiku tentang keadaanku sekarang.
" Tolong berhenti, aku harus kembali. " Ucapku lirih.
Namun tak ada jawaban darinya, malah dia semakin menambah kecepatan mobil yang sedang dikendarainya. Aku tak mengerti apa yang dia inginkan sekarang, yang jelas dia sekarang membawaku entah kemana. Kami sudah cukup lama berkendara, aku yakin kami sekarang sudah keluar wilayah Malang, aku tak tau dia kemana membawaku. Selama itu, aku memohon padanya untuk menghentikan mobil yang sedang kami tumpangi
" Tolong hentikan, aku ingin kembali pada suamiku. " Ucapku sembari menguncang lengannya yang sedang mengemudikan mobil miliknya.
Tiba - tiba dia menepikan mobil, dan mematikan mesin mobilnya yang langsung ku sambut dengan nafas lega. Semoga dia mengabulkan apa yang aku pinta, namun nyatanya tidak.
" Sabarlah sebentar, kita akan segera sampai dan satu lagi jangan katakan tentang suamimu di depanku. " Ucapnya sembari menangkup pipiku dan menghapus air mataku dengan jarinya.
" Aku ingin pulang. " Jawabku.
" Iya kita akan pulang. "
Dia kembali menghidupkan mesin mobilnya, kembali menelusuri jalanan dengan kecepatan tinggi. Sampailah kami di sebuah parkiran pertokoan yang lama tidak terpakai. Dia memarkirkan mobilnya ke dalam salah satu ruko disana yang sudah terbuka. Dia turun terlebih dahulu dan menutup rolling door yang semula terbuka. Kemudian dia membuka pintu di sampingku, kemudian membuka sealt bealt ku dan menyuruhku untuk mengikutinya.
" Ayo cepat turun, sementara kita di sini sebelum besuk kita memulai semuanya besuk. "
" Aku hanya ingin pulang. "
" Besok kita akan pulang, ke tempat yang pernah kamu impikan. "
Dia menarikku paksa, menyusuri tangga menuju lantai atas ruko ini. Dia memasukkan ku ke sebuah ruangan yang cukup pengap karena sudah lama tidak digunakan yang membuat aku cukup sesak ketika memasukinya. Dia begitu saja meninggalkan ku, di dalam ruangan yang gelap dan pengap itu. Seketika air mataku kembali mengalir, ku peluk tubuh ku erat mencoba mencari kekuatan yang tersisa dalam diriku.
" Sebenarnya apa yang sampean inginkan dari ku. " Tanya ku ketika dia kembali masuk ke dalam ruangan itu.
" Aku tidak pernah ihklas jika kamu sampai di miliki orang lain, kenapa disaat keluargaku bisa menerima kamu malah menolak ku. Dan yang tidak bisa ku terima kenapa mesti dia. "
" Semua ini adalah takdir yang telah digariskan untuk ku, dan sampean. Kita tidak punya sedikitpun untuk menolaknya. "
" Setidaknya, juga bukan dia ......... " Ucapnya dengan sedikit berteriak.
" Bisakah kita menolak sesuatu yang sudah dipastikan semenjak perjalanan hidup kita mulai di tulis ? " Tanyanya pada sosok laki - laki yang duduk di depannya. Wajahnya sudah sembab dengan bekas air mata yang mengering.
" Sudah jangan bicara apapun, karena itu tidak akan merubah keputusanku. Kamu makan dulu aku tidak mau kalau kamu sakit karena perjalanan kita baru di mulai esok pagi. " Ucapnya sembari menyodorkan sekotak makanan ke arahku.
__ADS_1
Perutku sama sekali tidak terasa lapar, karena rasa takut ini begitu mengisi seluruh pikiranku. Aku menangis dan terus menangis hanya hal itu yang bisa aku lakukan, sampai - sampai aku tertidur cukup lama. Dan dalam tidur ku, aku bermimpi Mas Syam melepaskan tangannya yang semula menggenggam tanganku. Kemudian dia mulai berjalan menjauhiku, dengan sekuat tenaga aku mengejar sambil memanggil namanya namun sedikit pun dia tidak mendengar panggilanku.
Bersambung ...........