Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
105. Tetaplah Tersenyum


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dia mulai mengerjap - ngerjapkan kedua kelopak matanya, mencoba membuka matanya meskipun masih terasa berat. Saat matanya mulai terbuka sempurna, dia menutup matanya kembali karena lampu yang begitu terang masuk ke dalam retinanya. Membuatnya merasakan sedikit pusing, saat dia refleks mengangkat tangan kanannya namun tak bisa. Karena seseorang sedang menggenggam tangannya dengan erat, dia langsung tersenyum saat mengetahui siapa yang sedang menggenggam tangannya.


Sedetik kemudian dia mengangkat tangan kirinya, kemudian mengusap pelan puncak kepala sang suami yang tengah tertidur sembari menggenggam tangannya. Mengusap kepala sang suami dengan perlahan, hingga sang pemilik kepala itu mulai terbangun dari tidurnya.


Gus Syam mengangkat kepalanya, dengan berlahan mengusap wajahnya kasar mencoba mengembalikan kesadarannya. Setelah dirasa kesadarannya telah kembali, dia kembali menggenggam tangan dan istri lalu menciumnya. Kemudian dia berdiri dari duduknya mengucap kening sang istri dalam sambil mengusap pipi sang istri pelan.


" Terima kasih Dek ..... " Ucapnya sambil mengecup kening sang istri.


Tanpa sadar keduanya saling meneteskan air mata, dengan salah satu tangan mereka yang tetap bertautan.


" Maafkan aku Mas. "


" Tidak Dek seharusnya aku yang minta maaf, karena kelalainku sampean harus mengalami ini semua. "


" Maafkan atas kelalainku, Dek. " Ucapnya sembari menghapus air mata sang istri dengan jari jempolnya.


Mereka berdua cukup lama dalam posisi seperti itu, saling mencurahkan isi hati satu sama lain setelah peristiwa yang baru saja mereka alami yang cukup menguras emosi mereka. Melihat keadaan sang istri yang baik - baik saja, dan telah melewati masa krisisnya membuatnya tak berhenti mengucap syukur.


" Sebentar aku akan memanggil terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan Sampean. "


Setelah mendapatkan pertolongan pertama, dan selesai melakukan transfusi darah Gus Syam memindahkan perawatan sang istri ke rumah sakit Dr Soeprakoen yang berada di Kota Malang karena letaknya yang lebih dekat dengan rumah mereka. Dan tentunya ada hal lain yang menyebabkan Gus Syam untuk memindahkan perawatan sang istri dengan segera. Namun yang terpenting dari itu semua, sekarang istrinya sudah sadar setelah dua hari tidak sadarkan diri.


Selama dua hari inipun Gus Syam tidak beranjak dari kamar perawatan sang istri kecuali ada hal yang harus membuatnya pergi meninggalkan sang istri. Bahkan untuk beribadah pun dia hanya melakukan di dalam kamar, hal yang jarang dia lakukan karena dia jarang sekali melewatkan sholat berjamaah.


Gus Syam merasa takut apabila dia akan meninggalkan sang istri, takut bila dia kembali sang istri akan menghilang lagi. Cukup kejadian kemarin saja yang harus dia alami, yang membuat sang istri mengalami hal buruk seperti kemarin dan jangan sampai hal itu terulang kembali.


Dia memencet tombol yang berada di atas brankar sang istri untuk memanggil Dokter, atau Suster untuk keruangan. Dalam waktu yang cukup singkat dua orang suster datang ke kamar Tari membawa beberapa alat medis di tangan mereka.


" Assalamualaikum, dokter Syam. " Ucap mereka saat memasuki ruangan itu.


" Walaikumsalam Sus, " Jawab Gus Syam yang diiringi dengan gerakannya berdiri dari tempat duduknya.


Mempersilahkan kedua suster itu untuk melakukan tugasnya, memeriksa keadaan sang istri. Memeriksa tekanan darah dan detak jantung Tari, memeriksa mata Tari menggunakan senter yang diarahkan ke mata Tari memastikan bahwa matanya merespon dengan cahaya yang masuk. Dan menanyakan beberapa hal, tentang luka yang didapatnya apakah menimbulkan rasa sakit.


" Bu Tari apa merasa pusing ? " Ucap salah satu perawat yang membawa kertas sembari mencatat hasil pemeriksaan.


" Tidak Sus," Jawab Tari sambil menggeleng.


" Apa lukanya merasa nyeri, panas atau yang lain ? " Tanyanya lagi.


" Sedikit terasa panas Sus, tapi tidak nyeri. " Jawab Tari lagi.

__ADS_1


" Iya Bu, ada lagi mungkin hal yang lain yang Bu Tari keluhkan ? "


" Tidak Sus. "


" Baiklah kalau begitu, satu jam lagi Dokter Handoko akan visit nanti mengenai perkembangan Bu Tari akan dijelaskan Dokter Handoko secara langsung. Mari Dokter Syam Bu Tari kami permisi terlebih dahulu, Assalamualaikum. "


" Terimakasih Sus, Walaikumsalam " Jawab Gus Syam sembari mencatat kedua suster itu keluar dan Kemabli menutup pintu raungan dimana Tari sedang dirawat.


Selama dua hari ini Gus Syam menunggu Tari sendirian, karena dia memang menginginkan hal itu. Bu Fatma hanya sekali berkunjung saat Tari baru saja di pindahkan, Gus Syam segera meminta sang mertua itu segera pulang ke rumah. Keadaan wanita paruh baya itu sendiri juga tidak baik - baik saja apalagi peristiwa kemarin membuat hipertensinya kambuh. Meskipun mematuhi perintah sang menantu, wanita paruh baya itu satu jam sekali akan menghubungi sang menantu untuk menanyakan keadaan sang anak.


" Adakah yang ingin sampean makan Dek ? " Tanya Gus Syam saat merapikan bantal tempat sang istri bersandar.


" Tidak Mas, "


" Makan sedikit saja ya, dan tidak ada penolakan. " Ucap Gus Syam sembari mengecup keningnya singkat sambil berlalu.


Dia menyiapkan makanan untuk sang istri, bubur dengan kuah kuning dan beberapa makanan yang lain jatah makan dari rumah sakit masih tersimpan rapi diatas nakas. Gus Syam mulai memasukan kuah kuning ke dalam bubur, dan menambahkan beberapa potongan tahu dan telur puyuh dengan bumbu semur ke dalam mangkok.


" Harus makan walau hanya sedikit. " Ucapnya sambil mengangsurkan sesendok penuh bubur dengan telur puyuh di sana.


Yang membuat Tari segera membuka mulutnya lebar, karena tidak ingin mengecewakan sang suami meskipun bibirnya masih terasa pahit. Melihat kegigihan sang suami merawatnya membuat rasa sakit di bekas luka jahitan di lehernya tidak terasa sakit. Padahal semula dia merasa sakit pada luka jahitan di lehernya, hanya dengan menggerakkan bibirnya. Namun rasa itu tiba - tiba sirna begitu saja, melihat senyum sang suami yang sedari tadi tidak hilang dari wajah tampan itu.


" Nah gitu pinter, kalau begini pasti besuk sudah boleh pulang. Karena rumah sakitnya takut bangkrut karena sampean makanya banyak sekali. " Goda Gus Syam kepada sang istri karena sedari tadi Tari tidak banyak protes, dan makam dengan cukup lahap.


Dan keduanya kemudian tertawa bersamaan, dan membuat Gus Syam mengacak kepala sang istri. Tari meringis saat dia tertawa sedikit keras karena luka dilehernya terasa perih. Saat mengetahui hal itu,Gus Syam menyikap kerudung Tari di bagian leher dan kemudian melihat luka itu dengan seksama.


" Jangan terlalu keras, dan banyak bergerak lukanya masih belum kering. " Ucapnya sembari menangkap pipi sang istri dengan tangan kirinya.


Tari mengangguk pelan, namun hal itu membuat rasa sakitnya itu kembali lagi.


" Sudah dibilang jangan dibuat gerak dulu Sayang. " Ucap Gus Syam dengan mendekatkan wajahnya kepada sang istri.


Jarak wajah diantara keduanya sekarang hanya tinggal beberapa senti, suasana tiba tiba hening. Dengan segenap keberanian Tari mengukis jarak keduanya menyatukan keduanya dalam sapuan halus nan melenakan yang mampu. membuat keduanya merasakan sesuatu hal yang manis. Yang mampu membuat sesuatu gelenjar aneh yang memenuhi rongga perut keduanya, sehingga memicu untuk melakukan sesuatu hal yang lebih. Saat keduanya semakin dalam dan semakin terseret dalam pusaran yang bertepi, Tari mulai tersadar dengan situasi dan kondisi mereka saat ini. Dengan perlahan dia melepaskan panggutan sang suami yang lembut dirasa namun membuat keduanya mampu merasakan seolah sedang dibuai.


" Selalu saja curang. " Ucap Gus Syam sembari menempelkan kedua kening mereka sembari menahan tengkuk sang istri.


" Bagaimana bila tiba - tiba ada yang masuk ? "


" Apa perlu Mas kunci pintunya ? "


Mereka tertawa bersamaan dengan kening yang saling menempel, Gus Syam mengusap bibir Tari dengan jari jempolnya lalu mengucurnya singkat.


" Berjanjilah Dek, senyum ini tak akan pernah hilang dari pandanganku. " Ucapnya sambil mengelus pelan bibir milik sang istri.

__ADS_1


" Insyaallah Mas, " Jawab Tari yakin.


*************


Beberapa saat lalu Gus Reyhan mendapat kabar dari sang adik bahwa istrinya sudah sadar dalam keadaan yang baik - baik saja. Gus Reyhan adalah orang yang paling disibukkan dalam peristiwa kemarin, mulai dia yang dengan setia mendampingi sang adik mencari keberadaan sang istri, membantu mengurus administrasi Tari saat dirawat di rumah sakit dan pemindahan Tari. Dan satu lagi dia bersedia menjadi saksi yang keterangannya diperlukan untuk menyusun BAP untuk Setyo, yang membuatnya harus bolak balik ke Polres.


" Ami, Akhirnya Tari sadar " Ucapnya saat sudah selesai makan, namun masih duduk di meja makan.


Yang langsung disambut, dengan rasa bersyukur berkali-kali oleh sang istri.


" Alhamdulillah ya Allah, kapan Bi ? "


" Baru saja, Ghasan mengirimi aku pesan "


" Alhamdulillah ya Allah, apakah setelah ini sampean ke rumah sakit Bi ? " Tanya kepada sang suami.


Gus Reyhan tidak menjawab pertanyaan sang istri, karena perhatiannya tengah terpusat pada handphone yang ada dalam genggaman tangannya.


" Bi, Abi "


" Iya, ada apa Mi ? "


" Kalau sudah pegang handphone yang lain dianggap tidak ada, kalau diajak bicara pun suka tidak fokus. " Ucap Rini kesal, dengan kebiasaan sang suami.


Namun sang suaminya tidak menanggapi apa yang dia ucapkan, karena Gus Reyhan tidak mengalihkan pandangannya dari layar handphone di tangannya. Dengan hati yang sebal dia berdiri dari duduknya, membersihkan alat makan yang baru saja dia pakai dan milik sang suami lalu membawanya ke tempat cuci piring.


" Heran aku, kalau sudah pegang handphone itu lo biarpun pecah perang dunia ke tiga tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari istri keduanya itu. Tapi waktu ada maunya, hem ngak bisa ditolak maunya sekarang ya harus sekarang ditunda sebentar saja tidak bisa. " Rina mencuci piring namun mulutnya tak henti - hentinya mendumel dengan kebiasaan sang suami.


Gus Reyhan yang mendengar hal itu hanya bisa menghela sambil tersenyum, saat selesai berkirim pesan yang terakhir dia segera meletakkan handphone keatas meja. Kemudian berdiri dan menghampiri sang istri yang sedang mencuci piring, dia langsung melingkarkan tangannya di perut sang istri dan meletakkan dagunya diatas pundak sang istri mencium dalam - dalam aroma sang istri yang selalu memabukkan baginya.


" Bi, Sampean minggir dulu aku masih mencuci piring. " Ucap Rini kesal dengan ulah sang suami.


Namun perkataan Rini hanya dianggap angin lalu Gus Reyhan, dia tidak bergeming dari posisinya sekarang malah yang ada dia semakin mengeratkan tangannya di perut sang istri dan semakin dalam mencium leher sang istri walaupun tertutup kerudung.


" Abi ....... "


Dengan satu gerakan, Gus Syam membalik tubuh sang istri. Kemudian menangkap wajah sang istri dengan kedua tangannya yang besar, lalu mengusap bibir sang istri pelan dengan menatap manik sang istri penuh damba.


" Apa lagi, pasti sekarang sedang ada maunya. " Ucap Rini ketus karena ulang sang suami.


" Memang istriku ini paling mengerti aku, tanpa aku mengucapkannya pun dia tahu yang aku mau. " Jawab Gus Reyhan dengan senyuman misterius.


Dengan secepat kilat Gus Reyhan mengendong tubuh sang istri, melangkahkan kakinya lebar.

__ADS_1


Bersambung ..........


__ADS_2