Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
93. Tamu Tak Diharapkan


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Acara makan malam yang sudah sangat terlambat, namun nikmatnya terasa berlipat - lipat jika kita lakukan dengan orang terkasih. Setelah selesai makan mereka merebahkan diri menceritakan beberapa hal. Namun Gus Syam tidak mau menyinggung kejadian yang dialami istrinya tadi. Dia terus saja bercerita tentang hal - hal lucu yang dia alami selama di Rumah sakit.


" Sampean ngak cemburu Dek, kalau setiap hari aku selalu diberi makanan sama orang. "


Tari hanya menggeleng, dan menahan senyumnya. Bukannya dia tidak cemburu, namun dia lebih mempercayai suaminya dibanding harus cemburu dengan hal - hal seperti itu.


" Wah, sebentar ini patut dipertanyakan. Sebenarnya sampean itu cinta apa enggak sama aku hah ..... ? Kok aku jadi tahu sama sampean. " Ucapnya sambil merenggangkan pelukannya terhadap istrinya itu, untuk melihat wajah istrinya.


" Mas, tidak ada yang perlu sampean dari ku. Aku masih ingat ketika hanya mendengar suara Sampek saja hatiku sudah berdetak tak karuan, padahal aku tak pernah tahu itu suara siapa. Namun disana ada keyakinan dan ketenangan atas semua keresahan yang aku rasakan selama ini. " Jawabnya sembari melihat manik hitam milik sang suami.


" Ingatkan sampean dengan ini Dek. "


Tari terkejut ketika mendapati barang yang hilang beberapa tahun lalu itu berada di tangan sang suami.


" Jadi selama ini, dia bersama sampean mas ? "


" Iya, dan karena ini pula aku bisa menemukan Sampean. "


" Kadang aku masih belum percaya dengan takdir yang kita alami sekarang mas. Semuanya serasa seperti mimpi bagiku, Allah mengatur semuanya diluar jangkauan kita.


" Iya dek, aku sangat bersyukur karena semua di mudahkan untuk kita. " Ucapnya sembari mencium tangan istrinya dalam.


Berawal dari pertemuan tak sengaja di Bis, keyakinan akan jodoh, meminta kepada sang Pemilik kehidupan. Terpisah jarak dan waktu yang cukup lama, cobaan dan godaan datang silih berganti namun pada akhirnya apa yang tertulis di Lauhil Mahfudz itulah yang akan menjadi pelabuhan terakhir. Tak perduli awalnya seperti apa, yang penting proses dan hasil akhirnya.


" Mas, sampean tahu tidak siapa yang memberi tasbih itu kepadaku ? "


" Tahu, si itu kan mantan terindah. "


" Hehehehe, jangan bilang sampean cemburu ? "


" Enggak lah, siapa bilang aku cemburu. Dia boleh jadi mantan terindah, tapi aku kan suami paling dicintai. "


Bagi Gus Syam, Setyo adalah bagian dari masa lalu istrinya, seperti halnya dia yang juga pernah memiliki masa lalu. Yang terpenting sekarang dia adalah pemilik, dari wanita istimewa yang sedang di peluknya kini.


" Dek, hari Senin kita harus sidang nikah, Alhamdulillah ya akhirnya sampai di masa ini. Untuk pencatatan sipilnya, insyaallah akan diurus Mas Reyhan setelah selesai kita sidang nikah di kesatuan. "


Tari berbinar ketika suaminya mengatakan itu semua, kemarin mereka hanya menikah secara siri karena keadaan. Pengurusannya sempat terhenti karena Tari yang sakit, namun berkas persyaratannya sudah dimasukkan ke kesatuan. Dan sesuai jadwal mereka hari Senin akan melakukan sidang nikah di kesatuan.


" Alhamdulillah Mas, tapi kenapa aku menjadi gugup. Seperti apa sidangnya Mas, aku takut jika aku sampai mengacaukan semua. "


" Santai saja, Dek hanya pertanyaan setandar saja. Jangan khawatir kan hal itu. "


Suasana malam semakin larut bahkan ini sudah menjelang pukul 01:00 dan belum ada tanda - tanda mereka akan menyudahi obrolan mereka. Ini baru pertama kalinya mereka berdua bisa menghabiskan waktu yang lama untuk membicarakan mengenai semua hal tentang mereka.


" Dek, ....... "


Tiba - tiba Gus Syam menggeser tubuhnya untuk menghadap kepadanya, dipegangnya dagu sang istri sedangkan tangan yang lain mengelus wajahnya pelan. Seketika ruangan yang sunyi itu menjadi panas hanya dengan pandangan mereka yang saling bertautan. Gus Syam mendekatkan wajahnya Sampai nafasnya yang hangat menyapu wajahnya, pelan menghantarkan gelenyar - gelenyar yang aneh. Dengan pelan Gus Syam menautkan keduanya, pelan lembut mengalir tanpa ada tuntutan menenggelamkan mereka dalam madu dunia yang terasa amat manis.


Cukup lama, mereka meneguk manisnya madu dunia yang baru dirasakan pertama kalinya oleh mereka berdua. Gus Syam mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya, bibir yang mampu membawanya merasakan hal semanis itu untuk pertama kalinya. Dan kemudian dia mengecup kening istrinya dalam, menyalurkan rasa yang membuncah karena penyatuan tadi.


" Cukup seperti ini untuk malam ini, terimakasih bidadari surgaku. "

__ADS_1


Yang langsung di sambut pelukan erat oleh Tari, kepada laki - laki yang menerimanya tanpa syarat


apapun.


" Mas, aku sudah siap untuk memenuhi kewajiban ku. "


" Tidak Dek, biarkan aku menepati janjiku. Sudah ayo kita tidur, ini sudah hampir pagi. "


Bukannya dia tidak menginginkan haknya sebagai seorang suami. Namun baginya menepati janjinya, itu lebih penting karena dia tidak ingin menjadi laki - laki yang ingkar dengan janji yang dia buat sendiri. Setelah ijab Qobul kemarin dia berjanji tidak akan meminta haknya. Sebelum ada kepastian setatus pernikahannya di mata hukum negara, dan kesatuannya, walaupun sudah sah secara agama. Hal ini dia lakukan semata - mata untuk melindungi istrinya.


Mencintai dengan diam pun sanggup dia lakukan kurang lebih dua tahun, jadi baginya menunggu yang hanya menghitung hari bukaan hal yang sulit. Dengan wanita yang dicintainya yang sudah berada disisinya, itu lebih dari cukup. Kebahagiannya bagaikan menggenggam seluruh semesta ditangannya.


Seperti sedang dibuai oleh semesta keduanya tak juga terbangun meskipun adzan subuh sudah berkumandang. Alarm di handphonenya sudah deringan kedua, namun juga tak mampu membawa mereka bangun dari alam mimpi. Dan benar saja mereka terbangun ketika matahari sudah cukup tinggi.


aagghhhhh.......


" Astaghfirullah, Mas ...... " Tari terbangun, dan langsung terkejut ketika melihat cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela.


aaaagghhhh .......


Gus Syam hanya menggeliat, dan tambah mempererat pelukannya kepada sang istri. Menciumi puncak kepala sang istri, untuk memenuhi indera penciumannya dengan harum khas sang istri. Kebiasaan barunya ketika pagi, yang akan menaikkan semangatnya untuk beraktifitas.


" Sebentar lagi Dek, "


" Tapi ini sudah siang Mas. "


Cup .......


" Aku rasa mulai saat ini jangan melewatkan ini di pagi hari ya Dek. "


Cup ......


Dan sekali lagi, kecupan ringan itu mendarat di tempat yang sama.


" Ingat Dek, jangan sampai dilewatkan ya Mas mu ini sekarang tak sanggup kalau melewatkan ini. "


Cup ....


Dan sekali lagi, Tari hanya bisa melongo dengan wajah memerah namun masih mencoba mengembalikan dirinya dari keterkejutan.


" Kenapa wajahnya seperti itu, masih kurang ? " Ucapnya sembari mengelus pipi istrinya pelan.


" Su ..... sudah Mas, ini sudah siang. "


Dia pergi meninggalkan sang suami, dan segera berlari ke arah kamar mandi, dengan jantung yang berdetak karuan seakan akan keluar dari tempatnya. Dengan cepat dia membersihkan diri, mencoba mendinginkan diri yang mulai panas karena ulah suaminya pagi ini.


Saat dia keluar dia tidak mendapati suami di ranjang mereka, kemudian membuka balkon namun sang suami tak juga ada disana. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil handphone miliknya, untuk menghubungi sang suami.


📞 Assalamualaikum Mas, sampean dimana ?


📞 Walaikumsalam Dek, aku sedang di lobby sebentar lagi aku kembali. Sampean ingin sarapan apa Dek ?


📞 Ya sudah Mas, sampean membuatku khawatir saja. Terserah Mas aku bisa sarapan apa saja.

__ADS_1


Dia bernafas lega ketika dia mengetahui dimana sang suami berada. Kembali dia memeriksa beberapa pesan chat yang masuk ke handphonenya.


✉️ Pengantin baru bawaannya kabur melulu ya, pas tahu mau di gerecokin Mikha.


✉️ Bukan begitu Mbak, hanya saja ada suatu kejadian yang kurang mengenakan.


Dia tersenyum ketika membaca pesan dari sahabatnya itu, sebenarnya bukan niatnya semalam untuk kabur kesini. Namun karena kejadian yang dialaminya tadi malam membuat sang suami membawanya kesini. Yang membuat ingatannya kembali ke peristiwa naas yang dia alami tadi malam. Dia tidak menyangka bahwa Laki - laki itu akan melakukan hal senekat itu.


" Assalamualaikum "


Karena tidak ada jawaban dari dalam, Gus Syam segera masuk ke dalam cottegenya. Di dapati sang istri yang duduk melamun di sofa, sembari memegang handphone miliknya. Dihampirinya sang istri kemudian dia mengelus pundak sang istri pelan..


" Dek ...... "


" Ii..... ya Mas, sampan sudah datang. "


" Ngelamunin apa ? "


Ditatapnya mata sang istri yang nampak berkaca - kaca, wajahnya pun terlihat muram. Segera dia merengkuh tubuh istrinya yang mulai bergetar itu ke dalam rengkuhannya.


" Menangislah Dek, bila itu bisa meringankan beban sampean. " Ucapnya sembari mengelus punggung istrinya pelan.


" Mas ..... maafkan aku. Aku tak bisa menjaga diri. " Ucapnya dengan terbata.


" Sudah Dek, jangan dipikirkan ini bukan salah sampean. Maafkan Mas juga belum mampu menjaga sampean sesuai amanah Ayah. "


Tari menangis di pelukan sang suami yang dengan setia mengusap punggungnya. Mencoba meringankan rasa sesak yang dialami sang istri. Masalah semalam bukan seratus persen salah sang istri, yang patut disalahkan tak lain dan tak bukan adalah laki - laki tak tahu diri itu. Bisa - bisanya laki - laki yang sudah berkeluarga melakukan hal tak pentas seperti tadi malam pada seorang wanita yang juga sudah berkeluarga. Suaminya itu hanya menunggu waktu yang tempat untuk membuat perhitungan pada laki - laki tak tahu diri itu.


" Dek, Bagaimana kalau siang ini kita pergi ke tempat wisata sekitar sini masak seharian kita disini saja dek. " Ucapnya yang sedang tidur dipangkuan Tari.


" input dataku belum selesai Mas, belum lagi untuk hari ini. Apalagi kalau sampean terus begini. Bisa - bisa besuk pagi juga beluk kelar Mas. "


Saat ini Tari duduk di sofa dengan laptop yang menyala, dia sedang menginput data. Sedangkan sang suami sedari tadi tidur di pangkuannya, menghadap perutnya dengan tangan yang tak henti - henti bermain di perutnya. Dan sesekali akan menciumi perutnya, yang akan membaut Tari menggeliat karena geli.


" Ampun Mas, sungguh biarkan aku menyelesaikan ini setelahnya aku akan ikut apa yang sampean mau. "


" Ngak bisa Dek, sudah sampean fokus saja pada itu. Dan biarkan aku juga fokus dengan hal yang aku suka. " Jawabnya tak mau kalah.


" Sampai besok pun ngak akan selesai Mas. " Tari menghentikan kegiatannya, tangannya beralih mengelus rambut sang suami.


Yang langsung disambut senyum lebar oleh sang suami, yang langsung mengeratkan tangannya memeluk perut sang istri. Tari terus mengelus rambut sang suami, sedangkan sang suami nafasnya mulai teratur, matanya mulai tertutup. Gus Syam sudah terlelap di pangkuannya dengan mulut yang sedikit terbuka. Sampai pada akhirnya Tari pun ikut tertidur dengan posisi duduk sembari sang suami yang juga terlelap di pangkuannya.


Tok ..... tok .... tok .....


" Assalamualaikum. "


Ketikan pintu, dan ucapan salam membuat tidur mereka terganggu. Gus Syam mengucek matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya dan berjalan menghampiri pintu.


Ceklek .........


Gus Syam langsung mengusap wajahnya kasar saat mengetahui siapa yang tengah berdiri di balik pintu.


Bersambung ........

__ADS_1


__ADS_2