Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
28. Pantai


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Ih ribetnya orang mau nikah itu "


" Ribet hanya diawalnya saja tapi surga imbalannya apa bila kita menjalani semua nya berdasarkan landasan semata - mata hanya karena-Nya. "


" Iya sih mbak, surga dobel malahan "


" Maksutnya dek ? "


" Surga dunia sama surganya Allah "


" Bang sudah mikir surga dunia, noh hafalannya kelarin dulu. Sini tak jitak biar otak kotormu itu bersih biar kotorannya pada rontok. " Ucap Irsyad, yang kemudian benar - benar menjitak kepala saudara kembarnya itu.


Suasana di bangku tengah mobil itu benar - benar panas dengan adu duel diantara kedua saudara kembar itu. Hal ini sudah setiap hari terjadi, selalu bertengkar apa bila bertengkar dan selalu saling mencari apabila berjauhan. Padahal usia mereka sudah menginjak 17 tahun tapi sifat mereka tetap seperti anak berusia 7 tahun. Kadang ibu mereka pun sedikit kuwalahan dengan sifat mereka yang begini. Sementara Pandu yang duduk dibalik kemudi hanya tersenyum saat melihat tingkah mereka dari sepion depan mobilnya.


" Bang Irhas, Bang Irsyad. " Suara Tari menghentikan pertengkaran mereka.


" Dia duluan Mbak yang mulai "


" Aku, "


" Ayo saling minta maaf atau kalian mbak, turunkan disini. Kenapa sih tidak pernah akur sebentar saja. "


" Maaf bang " Ucap Irsyad, sambil mengulurkan tangannya.


" Maafin Abang juga dek. Membalas uluran tangan Irsyad.


" Mas kita mau kemana ? "


" Kita mau jalan dulu Mbak sebentar mau cari udara yang seger - seger. " Jawab Irhas.


" Itu dek mereka ngajak kita ke ...... "


" Jangan dijawab Mas biar jadi kejutan "


" Terserah kalian saja " Ucap Tari malas, dia melemparkan pandangannya ke arah luar jendela.


Tari memejamkan matanya dinikmati perjalanan ini dengan mengumumkan Kalam Ilahi dengan suara sekecil mungkin. Dia menikmati sekali hal seperti ini, hal yang membuatnya benar - benar lupa akan dunia. Pandu mencoba menajamkan pendengarannya agar suara Tari bisa di dengarnya dengan jelas, bibirnya pun tersungging ketika dia mendengar apa yang dilafadzkan calon istrinya itu.


Sementara itu, duo kembar yang super rese itu telah hanyut dengan handphone mereka masing - masing sehingga tercipta suasana hening. Perjalan ini masih sekitar satu jam lagi untuk sampai ketempat yang mereka tuju. Jalanan yang mereka lalui pun tak semulus jalan biasanya banyak aspal - aspal yang bolong. Ditambah lagi kontur jalan yang naik, turun serta banyaknya tikungan tajam menambah warna diperjalanan siang ini.


Setelah satu jam perjalanan terlalui dengan mulus, karena Pandu mengemudikan mobilnya dengan baik. Sampailah mereka disebuah pantai yang berada di pesisir selatan pulau Jawa, pantai yang langsung menghadap samudera Hindia. Deburan ombak sudah terdengar dari pintu masuk yang katanya masih sekitar 200 meter dari bibir pantai. Yang mampu membangunkan Tari yang tengah terbuai dalam alam mimpinya.


" Akhirnya setelah sekian purnama kita kesini juga bang. "


" Iya dek, huft hah....... perjalanan yang lumayan menguras tenaga "


" Kita di mana ini Mas, ? " Tari mengerjakan matanya mencoba mengepulkan kembali kesadarannya.


" Tempat yang selalu membuat sampean seneng dek, maaf ya tidak memberitahu dulu. Ini ulah mereka berdua tu " sambil menunjuk duo kembar yang duduk di kursi tengah mobil itu.


" Gimana mbak surprisenya mbak, mbak kan paling seneng kalau disini. " ucap Irsyad.


" Terimakasih ya dek " Tari menghela nafas panjang, dia mencoba menekan sesuatu yang terngiang di benaknya yang membuka luka lamanya.


"Dek, kenapa mukanya berubah gitu ? "

__ADS_1


" Tidak Mas, mari kita turun Mas. " Dia membuka sealtbelt yang melingkar diperutnya dan membuka pintu mobil itu.


Sementara duo kembar itu sudah berlari menuju bibir pantai dengan riangnya. Sampai - sampai semua pengunjung pantai itu tak memutuskan pandangan mereka kepada dua sosok itu. Pandu keluar dari mobilnya dan menghampiri Tari yang masih terpaku dengan pikirannya sendiri. Helaan nafas dan pandangan menerawang menjadi pemandangan yang disaksikan oleh Pandu pada calon istrinya itu.


" Adek, ayo mari kita kesana " Sambil menarik tangan Tari agar mengikutinya.


" Eh mas, ......... "


" Ayo, sudah jangan banyak berfikir. Tadi aku sudah ijin sama ibuk untuk membawamu kesini dan ibuk mengijinkan. Jadi tak perlu khawatir. "


Tari hanya bisa diam mengikuti Pandu, mereka berjalan beriringan dengan Pandu yang menggenggam tangannya. Tangan Tari terasa dingin, entah apa yang sebenarnya terjadi kenapa sejak kedatangannya tadi hanya wajah cemas yang dia tampakkan. Padahal menurut cerita Irsyad dan Irhas ini adalah tempat favorit dari kakak sepupunya itu.


Sebuah pantai yang berada di daerah Malang Selatan, pantai dengan pasir putihnya. Dengan beberapa pantai yang terpisah dengan batu karang tapi menyatu di sisi lainya. Suasana yang masih asri ditambah suasana pantai yang masih bersih dengan beberapa gazebo di bibir pantainya menambah keelokan pantai ini. Tak lupa juga ada beberapa spot foto yang disediakan di sana yang sangat digemari pengunjung.


Pandu menyadari kejanggalan yang terjadi pada calon istrinya itu, dituntunnya tubuh kecil itu sampai pada gazebo yang ada tidak jauh dibibir pantai. Sedangkan duo kembar itu, sudah tidak sabar ingin segera masuk ke dalam air untuk menyegarkan tubuh mereka karena cuaca hari ini memang sedikit agak panas.


" Dek, "


" Iya Mas, "


" Entah apa yang sampean fikirkan, tapi aku rasa tak sepatutnya sampean memikirkan suatu hal yang sudah berlalu. "


" Maaf Mas, "


" Saya tidak tahu sedalam apa luka sampean tapi yang jelas, saat sampean sudah melangkah ke depan seharusnya sampean sudah meninggalkan luka lama sampean. "


Tari tak menjawab sepatah katapun, pandangannya lurus menatap kedua sepupunya dengan senyuman hambar yang disunggingkan dibibirnya. Bayangan masa lalu merasuk difikirannya, kenapa dia selemah ini apa bila menyangkut semua hal tentang masa lalunya. Tanpa menoleh ke arah Pandu mulai berbicara mengungkapkan isi hatinya.


" Mas kalau boleh memilih aku ingin mengubur semua kenangan ku, tapi apalah dayaku aku hanyalah manusia biasa, setiap peristiwa dan tempat yang mengingatkan dengan hal itu selalu membuat Fikiran ku mengingatnya. Bukannya aku tidak ihklas dengan hal itu tapi lebih ke penyesalan terhadap saya sendiri. Cinta memang suatu fondasi dalam sebuah ikatan tapi masih banyak hal lain lagi yang menunjang ikatan itu termasuk ridho orang tua. Karena tanpa ridho orangtua sebuah ikatan tiada artinya. "


" Maka dari itu dek sudah lupakan hal itu, "


" Maksut adek ? "


" Pada saat itu aku mencintainya melebihi apapun di dunia, seolah dia itu sumber dari kehidupan ku. Tanpa aku sadari itu menjadi boomerang yang akan menghancurkan aku sendiri. "


" Jujur aku bersyukur dengan kejadian itu dek, karena hal itu sampean sekarang disini dengan ku bukan dengannya. "


" Insyaallah mas, semoga takdir ini memang begini adanya. Semoga nama sampean yang benar - benar ditulis- Nya di Lauhil Mahfudzku. "


Tari melangkah menuju bibir pantai menghampiri kedua pasang kembar itu. Senyum tersungging di wajah mungilnya, dengan sesekali menundukkan wajahnya.


" Mbak ayo turun sini "


" Enggak dek, mbak ngak bawa baju ganti. Lagian sebentar lagi masuk waktu dhuhur. "


" Baiklah jangan sampai mbak Tari nanti nyesel Lo ya jauh - jauh kesini tapi tidak main air. " Timpal irhas.


" Main airnya mbak wakilkan sama kalian saja. "


Tari berjalan menyusuri pasir pantai yang baru saja tersapu ombak, gamis syar'i yang dipakainya nampak melambai - lambai diterpa angin pantai. Dengan senyum yang merekah dia berjalan terus tanpa mengetahui Pandu sudah mengikuti dibelakangnya. Pandu mempercepat langkahnya dan ketika sudah dekat dengan Tari, disahutnya tangan gadis itu dan dia berjalan disampingnya.


" Jangan pernah berjalan sendiri lagi, dan jangan pernah pula melepaskan genggaman ini. " Sembari mencium punggung tangan Tari.


" Mas, ....... " Tari tertegun dengan perlakuan Pandu yang sudah menggenggam dan mencium punggung tangannya.


Dengan santainya Pandu menggenggam tangan Tari dan melanjutkan langkah kakinya menyusuri pantai. Kedua pasangan yang akan mengikat janji suci itu nampak bahagia dengan sesekali saling menatap dan melemparkan senyum satu sama lain. Tanpa mereka sadari mereka bemerjalan sampai diujung pantai itu.

__ADS_1


Sampai terdengar suar adzan dhuhur yang berkumandang dari mushola kecil yang terletak disebelah parkiran mobil. Mereka berjalan melewati sisi lain pantai itu untuk segera sampai di mushola itu. Tak lama berselang mereka sudah menyelesaikan kewajiban mereka, mereka melangkah bersama menuju mobil yang bercat putih itu.


" Bagaimana ini, kita nyari makan disini atau ditempat lain "


" Terserah Mas saja, kami mah ngikut aja yang penting dibayarin hehehehe. " Ucap Irsyad.


" Aduh dek jujurnya jangan kebangetan gitu napa, Tapi aku nanti dua porsi ya Mas soalnya lapar banget. " ucap Irhas dengan santainya.


" Iya tenang saja, double berapapun ok. Yasudah kita makan di perjalanan saja. Dek sampean ngak lagi puasa kan ? "


" Enggak mas, "


" Tumben ngak puasa hari ini dek, mas pikir adek puasa jadi mas tidak menawarkan minum. "


" Iya jahat banget Mas ini, sudah diculik sampai sini. Eh dibeliin es degan saja tidak, padahal kalau ke pantai kan paling enak minum es degan. "


" Mas Pandu sih ngak peka, kasihan sekali nasibnya mbak ku ini. Trus gimana kalau anaknya sampai ngiler, aduh ngak kepayang punya ponakan ngiler. "


" Ya sudah tunggu disini. " Pandu segera melangkahkan kakinya meninggalkan parkiran mobil menuju warung yang menjajakan kelapa muda.


" Bang Irhas ngomong apa sih keponakan apa, suka ngawur. Lihat kasihan Mas Pandu itu cepat bantu dia. "


Pandu berjalan ke arah mereka dengan membawa dua kelapa muda dengan susah payah. Irhas menyusulnya diikuti dengan Irsyad dibelakangnya.


" Dek ambil lagi di mbak yang jual itu masih ada dua disana. "


" Siap mas, eh tapi sudah dibayarkan ?. "


" Sudah tinggal ngambil aja. "


Pandu berjalan menghampiri Tari yang sedang duduk di jok depan mobilnya dengan pintu yang terbuka. Tari yang melihat hal itu segera turun dari duduknya dan menghampiri Pandu.


" Ini dek buat sampean. "


" Terimakasih mas, " sambil menerima kelapa muda dari tangan Pandu.


" Maaf ya dek, beneran tadi mas tidak tahu kalau adek tidak puasa jadi tidak menawarkan apapun. "


" Iya mas tidak apa - apa, "


Duo kembar itu tampak berlari tergesa - gesa kearah mereka, sampai batas mereka ngos - ngosan.


" Aduh susahnya kalau wajah kelewat ganteng kayak gini itu "


" Kenapa Bang, kok sampek lari ngos - ngosan gitu ?, kalian tidak berbuat salah kan ? ".....


" Ya enggaklah Mbak, malahan kami yang jadi korban. " ucap Irsyad.


" Maksudnya ? "


" Masak ibuk - ibuk disitu towel - towel aku mbak, kan aku ini masih suci. " ucap Irhas.


" Apaan sih kalian itu, amal dek nyenengin orang. "


" Ayo sebaiknya kita minum di mobil saja, sepertinya akan turun hujan. jangan sampai kita terjebak disini. " Ucap Pandu memperingatkan.


Kemudian mereka semua masuk kedalam mobil, sejalan kemudian Pandu menyalakan mesin mobilnya. Kemudian mobil bercat putih melaju meninggalkan pantai yang menyimpan kenangan indah baginya. Menyusuri jalan berkelok yang sama dilalui ketika dia berangkat tadi.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan itu, terdengar candaan yang tiada henti - hentinya yang dilakukan oleh duo kembar yang sukses membuat tawa seisi mobil. Sampai terdengar deringan telefon dari handphone Pandu, dengan sigap dia mengambilnya dan melihat layar handphonenya. Dengan segera dia menepikan mobilny dan keluar mobil untuk menerima telefon itu. Dari mobil nampak Pandu sedikit beradu argumen dengan sang penelepon, sesekali dia mengusap wajahnya kasar dan raut wajahnya berganti menjadi gelisah ....


Bersambung..........


__ADS_2