Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
54. Bu Guru Jasmine


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Mentari sudah turun dari peraduannya, menyapa setiap mahluk hidup yang ada di bumi dengan sinarnya yang membawa kehangatan. Mengusir hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Membuat bulir - bulir embun mencair turun dari dedaunan jatuh membasahi tanah yang sudah basah sejak semalam. Hiruk pikuk kehidupan manusia pun dimulai dikala sinar matahari datang menyapa. Memulai hari dengan sebuah harapan bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin.


Tak terkecuali gadis bertubuh mungil itu, semenjak selepas subuh tadi dia sudah sibuk di dapur membantu wanita paruh baya bertubuh besar itu menyiapkan makanan untuk sarapan. Hal yang sudah biasa dia lakukan setiap harinya, menyibukkan diri di dapur adalah salah satu hal yang dia sukai.


" Astaghfirullah ........ !!!!!!!! "


" Kenapa nduk ? kok bisa to, basuh pakek air dingin dulu biar tak ambilkan salep dulu. "


" Enggeh Buk. " Tari melangkahkan kakinya ke wastafel dan segera membasuh tangannya yang tersiram air panas saat dia akan menuangkan air mendidih ke dalam gelas.


Setelah membasuh dengan air dingin di wastafel segera dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di dapur. Dilihat tangannya yang terkena air panas tadi, tangan itu memerah dan sedikit melepuh. Sekelebatan wajah yang dilihatnya tadi malam terlintas lagi dalam fikirannya. Dihirupnya udara dalam - dalam dan menghembuskan nafasnya secara berlahan berharap ketika nafas yang berhembus itu membawa pergi pula bayangan itu.


" Sedang berusaha melupakan sesuatu ya ? " Tanya wanita bertubuh gemuk itu sembari menepuk punggung Tari.


" Mbo.... mboten Buk, ..... " Jawab Tari terbata karena Bu Tini yang tiba - tiba menyentuh pundaknya.


" Masalah itu harus dihadapi nduk jangan ditinggal lari. Insyaallah semua ada jalan karena Allah itu memberi masalah dengan jalan keluarnya pula. "


" Enggeh Buk, "


" Ini salepnya cepat diobati nanti keburu melepuh. "


" Enggeh Buk, " Sambil menerima salep yang diberikan Bu Tini.


Bu Tini kembali menyelesaikan masakannya yang hanya tinggal memindahkan ke piring saja, dan menatanya di meja makan. Tari masih sibuk dengan salep yang dioleskan ke tangannya yang sedikit melepuh.


" Tar, kenapa tanganmu ..... ? "


" Eh, Mbak Lenni. Ini mbak tanpa sengaja tadi kesiram air panas. " Jawabnya sambil tersenyum.


" Kamu ini kenapa tidak hati - hati, sudah diobati apa belum ? "


" Sudah Mbak, "


" Oh iya Tar, hari ini sepertinya aku akan izin. "


" Ehmz, iya Mbak ....... Bagaimana kemarin lancarkan ? "


" Entahlah Tar, " Tiba - tiba pandangan wanita itu nampak sendu.


Kedua wanita itu tampak sibuk dengan pikiran masing - masing. Sampai beberapa saat mereka terdiam dan akhirnya menghembuskan nafas kasar secara bersamaan.


" Dia masih belum bisa melupakan masa lalunya Tar, sedangkan orang tua ku memintaku untuk segera membuat keputusan. Apabila dia belum ada keputusan dikepulangannya yang sekarang, orang tuaku akan menjodohkan ku. "


" Kenapa seperti itu mbak .... ? "


" Dia pernah meninggalkan seseorang dan melukai orang itu sangat dalam, dia masih merasa bersalah dengannya. Dan itu masih menjadi beban baginya. "


" Mbak yang sabar ya, yakinlah semua pasti ada jalan. "


" Iya Tar, aku pasrahkan semua pada yang Diatas kalau dia memang jodohku semua pasti ada jalan untuk kami berdua. Aku keatas dulu ya sebentar lagi dia menjemputku, nanti sekalian aku titip surat izinku. "


" Siap Mbak. "


Kedua wanita itu berjalan keluar dapur beriringan menaiki tangga menuju kamar mereka masing - masing. Setelah memasuki kamarnya dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya kemudian bersiap - siap untuk menunaikan tugasnya sebagai tenaga pengajar.


Tak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk merias diri, karena gadis itu tidak pernah memakai riasan diwajahnya. Hanya menyapukan bedak bayi dan memoles bibirnya dengan lip balm agar bibirnya yang merah alami itu tidak kering.

__ADS_1


Memakai seragam dan menggunakan kerudung lebar yang menutupi dadanya dan menggunakan Bros berbentuk bunga di ujung pundaknya. Senyumnya merekah saat menatap bayangan dirinya di cermin.


" Aduh - aduh cantik bener, tapi sayang masih jomblo terus. "


" Kayak yang ngatain sudah laku aja. " Jawab Tari asal.


" Eh kalau aku emang sengaja ngak pacaran dulu mbak sebelum kreditan motorku lunas. Kalau Mbak Tari nunggu apa cobak, Kasin itu yang pada ngantri. Ayolah mbak masak dari sekian banyak belum ada yang nyantol sama sekali ? "


" Emang sampean kita apa pakek dicantolin segala ?"


" Mbak serius aku ini tanyanya. "


" Aku jawabnya dua rius malahan. " Jawab Tari sekenanya sambil mengambil Tas ranselnya dan berjalan ke arah Wardah yang sudah menunggunya di depan pintu.


Mereka berjalan keluar kamar dan Wardah menutup pintu kamar mereka lalu mengincinya. Berjalan menyusuri lorong dengan pintu dikanan dan kirinya menuju Tangga yang berada diujung lorong.


Dddrrrrtttttttttt ...........


📞 Hallo Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


📞 Bagaimana apakah tidak jadi pulang ?.


📞 Iya, maaf mas karena Minggu ini sangat sibuk. Apakah Hawa menanyakan ku ?


📞 Dia tidak pernah seharipun tidak menanyakan mu, berhati - hatilah dan jaga selalu kesehatanmu.


📞 Iya terimakasih atas perhatiannya, salamku untuk Hawa.


📞 Semoga hari mu menyenangkan, Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


Tari kembali menyimpan benda pipih itu di saku tas ranselnya. Berjalan kembali menuruni tangga menyusul Wardah yang sudah berjalan duluan karena dia yang harus mengangkat telefon dari Pak Fahmi.


Suasana pagi di asrama itu kembali ramai dengan semua penghuni yang bersiap akan menunaikan tugas mereka. Tugas yang sangat mulai, membagikan ilmu yang mereka miliki dengan anak didik mereka. Semua sibuk dengan sarapan mereka masing - masing disertai obrolan yang selalu menjadi hal penting disetiap waktu bersama.


" Mbak Tari Pak komandan apa ngak datang Minggu ini ? "


" Tidak Mbak saya Minggu ini tidak pulang, Terus Pak Fahmi juga sibuk dengan pekerjaan Beliau. "


" Biasanya kan Kalau Mbak Tari ngak pulang kan mengantarkan Hawa ke sini Mbak. "


" Saya masih sibuk dengan laporan akhir semester Mbak Rin, jadi nanti tidak bisa menjaga Hawa dengan baik. "


Kedekatan antara Hawa dan Tari sudah selayaknya anak dan ibunya. Setiap kali akhir pekan Fahmi akan mengantar anak semata wayangnya itu ke asrama, apabila Tari tidak pulang. Dan hal itu membuat semua orang asrama mengenal dengan baik sosok Fahmi dan Hawa. Karena setiap Minggunya mereka akan datang untuk menjemput atau mengantar Tari.


" Hayo Mbak Rin kenapa nanyain Pak Komandan terus ? " Tanya Wardah yang baru saja datang dari arah Ruang makan.


" Seneng kali Dah kalau ada Pak Komandan, cuci metong gretong. "


" hahahaha, pinter juga Mbak Rin tau barang bagus. "


Suasana pagi itu benar - benar ramai dengan berbagai canda tawa diantara mereka. Jarum jam menunjukkan pukul 06 : 45 satu persatu dari mereka mulai berangkat hanya menyisakan beberapa orang saja termasuk Tari dan Wardah. Tari akan berangkat dikala jam menunjukkan pukul 07 : 00 karena jam masuknya agak siang, sedangkan Wardah hari ini tidak ada jam pagi dia sedikit bersantai.


" Tar, tolong ini surat izinku ya. " Ucap Lenni yang baru saja menuruni tangga, dan memberikan amplop putih kepada Tari


" Iya Mbak, semangat ya mbak semoga cepat mendapat jalan keluar. "

__ADS_1


" Semoga Tar. " Sambil melangkahkan kakinya kearah ruang makan.


Sementara itu Tari masih duduk diruang tamu asrama dengan Wardah di sampingnya sembari memainkan handphonenya. Tiba - tiba saja jantungnya berdebar tak karuan sampai - sampai dia memegang dadanya untuk menetralisir kan jantungnya.


Terdengar derapan kaki sepatu yang beradu dengan lantai beriringan, yang terdengar nyaring ditelinga kerena suasana di ruang itu yang sedang sepi. Langkah kaki yang terdengar semakin mendekat beriringan dengan sebuah ketukan di pintu. Padahal pintu itu selalu terbuka tetapi kenapa masih diketuk oleh si pemilik langkah kaki.


Tari dan Wardah masih sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing. Tetapi debaran jantung Tari masih sama saja bahkan kini dia rasakan teramat sangat terasa. Sampai suara bariton seseorang terdengar begitu nyaring ditelinganya yang tertutup kerudung itu.


" Assalamualaikum "


Deg ............


Tari mendongakkan kepalanya, berusaha mendengar dengan seksama mencerna suara yang baru saja masuk dalam indera pendengarannya. Seraya menetralisir debaran jantungnya yang semakin menjadi.


Karena tidak ada jawaban dari dalam sang pemilik suara kembali mengucapkan salam.


" Assalamualaikum "


" Kok ngak ada jawaban om ? " Terdengar suara anak kecil perempuan.


" Kita tunggu sebentar ya. "


Sementara itu Kedua wanita yang duduk di ruang tamu itu sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Wardah yang sibuk dengan kertas - kertas di tangannya sehingga tidak mendengar jelas. Sedangkan Tari merasa dirinya sedang berhalusinasi.


Bu Tini yang datang dari arah samping asrama melihat seseorang yang sedang berdiri di depan pintu asrama segera bergegas mendekatinya.


" Assalamualaikum, Maaf mas mencari siapa ? "


" Walaikumsalam Bu, saya mencari Lenni. "


" Oh ...... Monggo masuk biar saya panggilkan. Sampean duduk disini dulu. " Ucap Bu Tini sembari mempersilahkan laki - laki itu duduk.


Wardah dan Tari masih belum melihat siapa tamu yang datang, karena meskipun mereka duduk di ruang tamu tapi letak sofa yang mereka duduki membelakangi tempat duduk laki - laki itu.


" Kenapa Buk kok tergesa-gesa ? " Tanya Tari karena melihat Bu Tini yang berjalan cepat ke dapur.


" Ada tamunya Mbak Lenni nduk, Lenni sedang di dapur ya ? "


" Enggeh Buk, "


" Ya sudah tak panggile dulu, kalian cepat berangkat sudah siang lo. " Ucap wanita paruh baya itu sambil berlalu menuju dapur.


Wardah melihat jam yang berada di dinding dan benar saja ternyata jam sudah menunjukkan jam 07 : 10 sudah cukup siang untuk mereka berangkat. Mengingat jarak antara asrama dan tempat mereka yang cukup memakan waktu beberapa menit untuk sampai.


" Ayo Mbak Tar berangkat. " Sambil berdiri dari duduknya dan menyampaikan tas ransel ke pundaknya.


" Iya ayo. " Tari pun ikut berdiri berusaha menetralisir debaran jantungnya.


Kedua wanita itu berdiri membalikkan badan melangkah beriringan sembari menunduk hal yang selalu mereka lakukan. Berjalan melewati laki - laki yang duduk di sofa dengan seorang anak kecil hanya mengangguk sekilas tanpa berani menatap siapa laki - laki itu.


Sampai suara anak yang duduk di sofa itu menghentikan langkah kedua gadis itu yang sudah mencapai pintu.


" Bu Tari ....... ? "


Sontak saja sang pemilik nama menoleh dengan segera karena merasa namanya di panggil oleh seseorang.


Tanpa sengaja pandangan Tari tertuju pada sosok laki - laki yang sedang duduk bersama anak itu. Kemudian pandangan mereka terkunci sampai beberapa detik dan hanya keheningan yang terasa.


" Om itu Bu gurunya Jasmine, Jasmine ikut berangkat bersama Bu Tari ya. ? " Ucap gadis kecil itu yang sudah berjalan menuju arah Tari.

__ADS_1


Laki - laki itu masih terdiam dengan fikirannya entah dia sedang berhalusinasi Atua apa. Sampai - sampai perkataan anak kecil perempuan itu tidak terdengar jelas olehnya.


Bersambung ...........


__ADS_2