
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Kedua laki - laki itu tak lantas pulang setelah pertemuanya dengan laki - laki berambut gondrong tadi. Mereka lebih memilih melajukan mobil yang mereka kendarai meninggalkan kota Malang ke arah barat daya menuju Malang sebelah selatan. Entah apa yang mereka cari di sana yang jelas saat ini pulang kembali ke rumah bukanlah pilihan yang tepat. Bukan karena apa, karena di rumahnya sedang ada ke dua orang tuanya dan ibu mertuanya mereka tidak ingin membuat mereka khawatir jika mengetahui keadaan Tari yang sesungguhnya.
" Enek pandangan pora ? "
" Gak enek Mas, tapi cobak aku telpon arek - arek rumah singgah cobak tak kon ngawasi omahe Kediri, utowo takon Mbak Ju.
" Iyo cobak. "
Sejurus kemudian, dia mengambil handphone miliknya di saku jaket yang dia kenakan. Dia segera mendial nomer seseorang yang merupakan salah satu temannya yang juga mengajar dirumah singgah. Satu dua kali dia menghubungi nomer temannya di rumah singgah namun tetap saja tidak ada jawaban.
Kemudian teringat pada Mabuk Juriah Santriwati kepercayaan Bunyai Salamah untuk mengurus urusan nadalem. Beberapa hari lalu Bu Nyai Salamah mengatakan kalau beliau pergi ke rumah Bulik Romlah bersama Mbak Ju. Mungkin saja dia bisa mendapatkan informasi dari Mbak santri itu. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Mbak Juriah barangkali, setelah mencari namanya di kontak handphone miliknya akhirnya dia menemukannya.
Untung saja dia masih menyimpan nomer orang - orang yang bekerja di ndalem bila ada hal penting yang menyangkut keluarganya dia bisa menghubungi mereka. Dalam panggilan pertama deringan kedua panggilannya pun langsung di jawab.
π Assalamualaikum Gus.
π Walaikumsalam Mbak.
π Mbak Ju sedang di mana ?
π Sedang di ndalem Gus, wonten nopo Gus ?
π Saya ingin minta tolong sama Mbak Ju, Mbak keberatan atau tidak bila saya sedikit merepotkan sampean ?
πTentu tidak Gus, saya pasti akan membantu.
Gus Syam menceritakan semua kejadian yang dia alami selama seharian ini mulai hilangnya sang istri dan dugaan yang muncul. Karena adanya sebuah rekaman CCTV di tempat parkir sebuah mini market di dekat rumah Wardah.
π Saya masih berharap bukan dia Mbak Ju.
π Saya mengerti Gus, apa yang harus saya lakukan.
π Sebisa mungkin jangan sampai keluarga Bulik Romlah curiga ya Mbak Ju.
π Jangan khawatir Gus, teman baik saya ini bisa dipercaya.
π Baiklah kalau begitu.
Dia kemudian menutup panggilannya itu, kembali memasukkan handphone miliknya ke dalam saku jaketnya kembali. Hawa malam mulai merasuk, ketika Gus Reyhan menghentikan mobil yang mereka tumpangi di sebuah taman yang sudah sepi karena sudah cukup malam.
Gus Syam membuka kaca jendela di sampingnya, lantas mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong jaketnya mengambil sebatang lalu menyulutnya menggunakan korek miliknya. Dia menghirup dalam - dalam rokok itu berusaha mengalihkan rasa gelisahnya itu dengan lintingan tembakau. Seperti biasanya hal yang selalu dia lakukan jika dia merasa banyak pikiran dan gelisah.
Ini sudah batang rokok ke tiga, alih - alih dapat menghilangkan rasa gelisahnya, sekedar untuk mengalihkan saja pun tidak. Yang ada setiap dia menatap arloji yang berada ditangan kirinya perasaan khawatirnya malah semakin menjadi. Tangan kirinya memijat pelipisnya sedangkan tangan kirinya masih memegang rokok dengan asap yang mengepul memenuhi udara di sekelilingnya.
__ADS_1
" Yak apa mulih saiki tah ? " Tanya Gus Reyhan setelah sekian lama hanya diam dan larut dalam pikirannya sendiri memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi.
" Sek, Mas. Aku sek gak percoyo Setyo sampek nekat koyok ngene. "
" Iyo se, aku yo koyok gak percoyo. Lah tapi jenenge uwong mergo cinta iso berbuat nekat. "
Pikirannya semakin nyalang, bayangan ketika saudara sepupunya itu akan melakukan hal - hal buruk kepada istrinya terbayang begitu saja pada sang istri.
" Lah aku krungu kabar jare arek iku Kate tunangan se Shan ? "
" Iyo Mas, lah Jumat iki areke tunangan. mau Mbak Ju yo cerito areke durung iso mulih saiki, makane tunangane di undur padahal Bulik Romlah iku wes mari persiapan gawe acara iku. "
" Tak roso karna kedadean ki mau, arek iku ngundur acara tunangan. " Jawab Gus Reyhan sembari menatap layarnya yang sedang menampilkan sebuah pesan.
" Iyo, bener jare sampean Mas. " Ucapnya sembari menghisap rokok yang ada diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
" Dunia ini benar - benar sempit Shan, kok bisa kalian terlibat dengan wanita yang sama lagi. Tapi kali ini aku kecewa dengan sikap Setyo, sampean sama Tari sudah sah menjadi suami istri seharusnya dia bisa menghormati ikatan diantara kalian. "
" Itu juga Mas yang membuat ku lebih kecewa lagi, dulu aku akan diam saja karena diantara kami belum ada ikatan. Tapi sekarang posisinya beda Mas, aku sudah pasti tidak bisa memaafkan apa yang dia lakukan saat ini. "
" Jangan mengedepankan emosi mu terlepas posisimu benar atau salah hadapi semua ini dengan kepala dingin serta hati yang tenang. Anggaplah semua ini cobaan untuk kalian berdua, cobaan yang menguatkan kalian berdua. "
" Insyaallah Mas. "
***********
" Kenapa kamu tidak pernah mau menungguku, kenapa kamu tidak mau memperjuangkan cinta kita ? " Tanyanya
" Aku sudah pernah berjuang, untuk itu semua, selam 5 tahun lebih aku masih percaya suatu saat sampean pasti akan datang untukku tapi nyatanya. Setidaknya bisakan memberi kabar, atau tanda bahwa sampean masih ada untukku. Bukan meninggalkan ku tanpa kabar dan tanpa suatu hal yang bisa menjadi sebuah keyakinan untukku agar tetap menunggu. " Ucapnya penuh emosi dengan air mata yang masih saja menetes.
" Aku pergi karena aku yakin dengan cinta kita, aku tau kamu tidak akan pernah menghianatiku. "
Setyo mendekat kearahnya berjongkok di depannya, wajahnya di penuhi dengan air mata sama seperti dirinya. Matanya menggambarkan luka yang begitu dalam, bahkan tangisnya yang tersedu begitu miris bila di dengar. Ditangkup kedua wajah Tari dengan tangan besar miliknya, wajah yang selalu mengisi mimpi - mimpi dalam malam - malamnya.
Mereka dahulu pernah bermimpi tentang menjalin sebuah hubungan ikatan suci berdasarkan atas dasar rasa saling menyayangi dan mencintai diantara keduanya. Hubungan mereka sejak awal sudah mendapatkan penolakan dari orang tuan Setyo, tapi mereka tetap saja memiliki keyakinan pada satu sama lain. Sampai pada suatu hari itu, yang membuat mereka harus memutuskan hubungan mereka, meskipun hal itu berat dilakukan oleh keduanya.
Dua - duanya sama - sama hancur, bukan hanya Tari Setyo juga bahkan dia hancur sekali setelah di hadapkan atas rasa baktinya pada orangtua atau pada gadis yang dicintainya. Pada akhirnya dia lebih memilih orang tua, tapi di balik keputusannya dia memiliki sebuah rencana.
Pada saat itu dia belum memiliki pekerjaan seperti sekarang dia hanya pegawai kontrak dengan gaji yang kecil, dengan ketekunan yang dia miliki dia bisa meraih posisinya sekarang. Dan hal yang memotivasinya sampai pada titik ini adalah gadis yang saat ini sedang menangis di depannya. Dia berpikir jika dia bisa sukses pasti dia bisa meraih kembali gadis yang dicintainya itu.
Mereka berdua saling menatap, saling menyelami satu sama lain lewat pandangan mata yang saling bertaut. Mencoba mengurai benang kusut diantara keduanya, agar semua tidak tersakiti dengan kenyataan yang ada. Lama mereka tetap saling menatap satu sama lain, dan di sana keyakinan akan ikatan suci dengan sang suami mulai goyah. Secara tidak sadar alam bawah sadarnya menikmati kerinduan yang dirasa beberap tahun yang lalu. Bagaimanapun dia pernah mendamba Setyo datang dan menggenggam tangannya kembali.
" Aku masih selalu mencintaimu, dan itu tidak akan pernah berubah. " Ucap Setyo sembari mencium tangannya dalam.
Tari tidak bisa merespon apapun, atas hal yang dilakukan Setyo dia hanya terdiam alam bawah sadar dan alam nyatanya benar - benar tidak bisa membuatnya berpikir jernih.
__ADS_1
" Ayo, kamu makan dulu. " Setyo kembali menyodorkan bungkusan nasi yang beberapa jam lalu dia sodorkan.
Dia tidak menjawab, namun dia menerima bungkusan nasi yang diberikan oleh Setyo dan segera memakannya. Tenggorokannya sulit sekali untuk menelan nasi yang dikunyahnya, namun dengan bantuan air mineral dia baru bisa menelan nasi itu.
*************
Saat mobil yang di tumpangi Gus Reyhan dan Gus Syam mulai memasuki pintu masuk rumah Gus Syam tiba - tiba handphone milik Gus Reyhan berbunyi.
π Assalamualaikum
π Walaikumsalam enek kabar opo No ?
Panggilan itu dari Nono Intel yang dimintainya bantuan untuk membantu mencari Tari.
π Ada perkembangan lagi Gus,
π Benarkah, ada kabar apa ?
π Mobil dengan nomer polisi ada dalam rekaman CCTV kemarin kami sudah mengetahui keberadaanya.
π Dimana ?
Seulas senyum terbit di bibir Gus Reyhan setidaknya keberadaan Tari sudah bisa di pastikan. Gus Syam yang melihat hal itu segera melemparkan pandangan yang mengisyaratkan sebuah pertanyaan.
" Nono, wes eruh mobile Setyo nang ngendi. " Ucapnya sambil berbisik ke arah Gus Syam. Namun sambil memberi kode jari telunjuk yang dia letakkan di mulut.
π Baiklah kami akan segera kesana, tunggu kami di sana kita nanti akan kesana bersama - sama.
Dia segera menutup panggilannya, dilihatnya arloji di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 04:00 pagi sebentar lagi pasti adzan subuh berkumandang.
" Yak apa Mas ? "
" Langsung nyusul Nono Kate ngrebek TKP. "
" Bener jare Mbak Ju, beberapa bulan lalu dia memang membeli sebuah ruko di sana Mas. "
Beberapa waktu yang lalu Mbak Juriah kembali menghubunginya dan memberikan banyak informasi tentang Setyo, yang beberapa hari lalu sudah pulang namun kembali pergi dengan membawa mobil miliknya. Pajero sport berwarna putih sesuai dengan rekaman CCTV di depan mini market di dekat rumah Wardah. Dan baru dua hari ini dia membatalkan acara tunangannya, dengan alasan jika dia dipanggil kembali oleh perusahaan tempatnya bekerja karena ada urusan mendadak yang sifatnya urgent.
Gus Syam kembali memutar kemudi meninggalkan perumahannya, kembali bergelut dengan lalu lintas jalan raya. Samar - samar adzan subuh berkumandang kota Malang masih lengang pada jam seperti ini membuatnya cepat sampai ke tempat dimana dia berjanji bertemu dengan Nono. Perasaanya sedikit tenang, tinggal selangkah lagi dia bisa menyelamatkan istrinya itu dari sepupunya.
" Dua rakaat dulu Shan sebelum kita berangkat Ke TKP " Ucapnya sembari berjalan mendahului Gus Syam.
" Iya Mas. " Jawabnya sembari melangkahkan kaki lebar mengikuti kakaknya yang sudah berada jauh di depannya.
Bersambung ............
__ADS_1